NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Warisan Nama Aksara Handini

Tiga bulan telah berlalu sejak fajar kedamaian menyapa keluarga kecil di distrik utara. Musim berganti, dan udara September kini membawa kesejukan yang menenangkan ke seluruh sudut kota metropolitan. Di dalam sebuah ruangan kerja minimalis yang terletak di lantai dua sebuah bangunan ruko modern di kawasan komersial, suasana tampak begitu tenang, jauh berbeda dari hiruk-pikuk dunia korporat Lu Group yang megah namun dingin.

Lin Meiying duduk di depan meja kerja kayu berwarna putih bersih. Di hadapannya, sebuah komputer jinjing menyala terang menampilkan lembaran dokumen naskah digital dengan barisan kalimat yang tersusun rapi. Mengenakan kemeja katun abu-abu muda berpotongan longgar, rambutnya disanggul rapi ke belakang, memperlihatkan garis wajah yang kini tampak jauh lebih segar, tenang, dan memancarkan kepercayaan diri yang baru.

Di samping mejanya, sebuah cangkir keramik berisi teh herbal hangat mengepulkan uap tipis. Tangannya menari lincah di atas papan ketik, merangkai kata demi kata ke dalam bab terakhir dari sebuah kisah fiksi yang sudah ia garap selama berbulan-bulan.

Bagi orang-orang di luar sana, Meiying mungkin dikenal sebagai seorang wanita biasa yang bertahan hidup dari tunjangan perwalian independen dan bantuan sosial korporat. Namun, sedikit sekali yang tahu bahwa di balik nama pena rahasia—Aksara Handini—ia telah menjelma menjadi salah satu penulis web fiksi paling diperhatikan di berbagai platform digital terkemuka seperti Quartall, Fizzo Novel, dan KaryaKarsa.

Menulis bukan lagi sekadar pelarian dari kepedihan hidup bagi Meiying; menulis adalah medium abadi di mana ia dapat merajut kembali seluruh kenangan, rasa kehilangan, dan cinta mendalam yang pernah ia bagikan bersama mendiang suaminya, Chen Guowei. Setiap karakter fiksi yang ia ciptakan—mulai dari pahlawan korporat yang dingin namun berhati lembut, hingga para pejuang keadilan di tengah rimba kota—diambil langsung dari serpihan jiwa dan pelajaran hidup yang ia saksikan selama setahun terakhir.

Pintu ruangan kerja diketuk pelan dari luar, lalu terbuka setengah.

"Ibu..." suara kecil Chen Anqi menyembul dari balik daun pintu. Bocah perempuan berusia enam tahun itu mengenakan seragam sekolah dasar rapi dengan tas ransel kecil tersampir di pundaknya. "Anqi sudah siap berangkat diantar Paman Han."

Meiying menghentikan ketikannya, mendongak dan tersenyum lebar menyambut putri tercintanya. "Wah, anak Ibu cantik sekali hari ini. Masuklah, Sayang."

Anqi melangkah masuk mendekati meja kerja ibunya, lalu menunjuk ke arah layar laptop dengan mata berbinar penasaran. "Ibu sedang menulis cerita tentang pahlawan berjas hitam lagi ya? Apakah tokoh pahlawan itu akan menyelamatkan dunia lagi seperti di cerita kemarin?"

Meiying tertawa kecil. Ia merapikan kerah seragam Anqi, lalu mencium pipi putrinya penuh kasih sayang. "Ibu sedang menulis tentang seseorang yang berani memperjuangkan kebenaran, Anqi. Karena di dunia ini, kebaikan kecil yang dilakukan dengan tulus selalu menemukan jalannya untuk menang."

Tak lama kemudian, suara ketukan kaki tegas terdengar di ambang pintu luar. Sekretaris Han—pria paruh baya berjas rapi yang kini kerap bertindak sebagai wali pelindung dan pengurus harian urusan logistik keluarga mereka atas amanat terakhir sang atasan—muncul dengan senyum ramah di wajahnya.

"Selamat pagi, Nyonya Meiying. Mobil jemputan sekolah untuk Anqi sudah menunggu di depan," sapa Sekretaris Han sopan sambil membungkuk hormat secukupnya.

"Terima kasih banyak, Pak Han. Anda selalu tepat waktu," balas Meiying tersenyum menyambut kehadiran pria paruh baya itu.

Sejak kepergian Lu Jingyan secara misterius ke luar negeri—begitulah narasi resmi yang disebarkan oleh internal manajemen Lu Group untuk menutupi transisi takdir sang direktur—Sekretaris Han secara konsisten memastikan keselamatan, kenyamanan, dan kelancaraan hidup Meiying beserta keluarganya tanpa pernah melewati batas privasi. Pria tua itu tahu persis rahasia besar apa yang terkubur di balik hubungan tak kasat mata antara sang pewaris korporasi dan wanita di hadapannya ini.

Setelah Anqi berpamitan dan melangkah pergi bersama Sekretaris Han menuju kendaraan yang menunggu di bawah, ruangan kerja itu kembali jatuh dalam keheningan yang produktif.

Meiying menarik napas panjang, meresapi ketenangan yang menyelimuti jiwanya. Ia mengarahkan kursor komputernya ke halaman profil penerbitan digital miliknya. Di bawah bendera author brand Aksara Handini, novel terbarunya yang mengangkat kisah drama romansa korporasi dan perjuangan hidup seorang ibu tunggal baru saja menduduki peringkat teratas daftar trending mingguan. Ribuan ulasan positif, dukungan pembaca, serta royalti bulanan yang stabil kini memberikan kebebasan finansial yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ia tidak lagi bergantung pada belas kasihan atau bayang-bayang ketakutan. Ia berdiri di atas kakinya sendiri, menulis takdirnya sendiri, dan merawat putrinya di bawah cahaya matahari yang hangat.

Namun, di sela-sela kesuksesan menulisnya, Meiying terkadang masih menyempatkan diri membuka laci meja terdalamnya. Di sana, di samping surat peninggalan Guowei yang sudah mulai menguning, tersimpan rapi sebuah arloji saku perak tua tak berdenyut yang dititipkan secara anonim melalui kurir kantor pos tepat sehari setelah pemakaman umum bulan lalu—sebuah benda peninggalan bisu yang tidak memiliki pemilik, namun menyimpan sejuta detak kenangan yang tidak akan pernah mati.

Meiying meraba arloji perak tersebut sejenak, lalu tersenyum tipis ke arah jendela luar di mana langit biru membentang luas tanpa batas.

"Terima kasih..." bisiknya pelan pada angin pagi yang berhembus masuk. "Kami akan menulis bab-bab bahagia selanjutnya dengan tangan kami sendiri."

Di bawah naungan fajar yang cerah, lembaran hidup baru telah resmi dimulai, membuktikan bahwa di ujung badai yang paling kelam sekalipun, kebenaran dan cinta sejati akan selalu menemukan jalan pulangnya ke rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!