NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:300
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Right in Front of You

"Tapi sebentar lagi, kan, lo mau pergi, Ara."

Bara yang awalnya sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang kembali berusaha untuk bangun. Ara dengan sigap langsung membantunya duduk, lalu membenahi posisi bantal agar Bara bisa bersandar dengan lebih nyaman.

"Setidaknya gue masih punya waktu buat lo. Lo lupa? Gue pengin bikin kenangan indah bareng lo sebelum gue pergi. Kan lo juga udah janji."

"Kalau gitu, lo juga harus janji buat tetap bahagia meskipun gue pergi. Umur gue udah nggak lama lagi, Ra."

"Astaga! Omongannya berat banget. Nggak kuat gue dengernya. Guys, mending kita balik duluan aja, deh. Biar mereka bisa ngomong berdua."

Yohan sudah menggeleng-gelengkan kepala sambil menutup kedua telinganya setelah mendengar ucapan Bara. Ia memang tidak suka mendengarkan pembicaraan seperti itu. Jadi, menurutnya, lebih baik membiarkan Bara dan Ara berbicara berdua.

"Bara, gue cuma mau ngasih lo saran. Daripada lo terus ngomongin umur, mending manfaatin sisa waktu lo buat ngelakuin hal-hal yang selama ini pengin lo lakuin. Daripada lo cuma diem sambil nyalahin hidup lo sendiri."

Yuvin menatap Bara sejenak sebelum melanjutkan.

"Lagian, Ara juga siap bahagiain lo setiap hari. Ra, gue sama yang lain balik duluan, ya? Atau nanti mau gue jemput lagi?"

"Kalian balik duluan aja, Vin. Gue bisa balik sendiri, kok."

Sora menepuk bahu Ara, lalu membisikkan beberapa kata penyemangat kepadanya. Ara hanya mengangguk sambil menyuruh mereka semua segera pergi. Ia sudah tidak tahan ingin berduaan dengan Bara.

Ara tidak peduli jika harus pulang malam. Yang terpenting, ia ingin meyakinkan Bara terlebih dahulu bahwa dirinya benar-benar tidak akan meninggalkan laki-laki itu sendirian.

"Kalau ada apa-apa, kabarin kita di grup, ya, Ra."

"Iya. Udah sana, kalian pergi aja. Ganggu orang yang pengin berduaan aja, lo pada."

Sora hanya memanyunkan bibirnya sebelum menarik teman-temannya keluar dari kamar rawat Bara. Setelah mereka semua pergi, kamar itu mendadak terasa jauh lebih tenang.

"Kok lo nggak ikut pulang juga? Udah malam, ini."

"Gampang. Tinggal pesan ojek lewat aplikasi nanti."

"Kok lo susah banget dibilangin, sih?"

"Lo juga sama aja! Udah, ah. Gue lagi nggak mau berantem sama lo."

Ara mendekatkan tubuhnya, lalu langsung memeluk Bara sambil mengusap-usap punggungnya. Inilah yang sebenarnya ia inginkan.

Ia ingin selalu berada di sisi Bara. Ia ingin menjadi seseorang yang bisa memberikan semangat ketika laki-laki itu sedang berjuang melawan penyakitnya. Ia ingin Bara tahu bahwa meskipun waktu mereka terbatas, laki-laki itu tidak harus melewatinya seorang diri.

"Gue emang keras kepala, dan itu semua demi lo, Bara."

"Dan gue cuma nggak mau bikin lo sedih nantinya, Ra."

"Urusan perasaan gue, itu bakal gue sendiri yang urus. Intinya, gue nggak terima penolakan dan lo harus nurut!"

"Kalau gue nggak mau nurut?"

Cup!

Ara dengan santainya mengecup pipi Bara. Senyum puas langsung terukir di wajahnya ketika melihat pipi Bara berubah merah.

"Lo bakal dapet hukuman."

"Ra, maafin gue. Gara-gara gue lagi, lo jadi diusir dari kelasnya Pak Adam. Padahal gue udah janji nggak bakal ngerjain lo lagi, tapi gue nggak tahan rasanya."

"Iya, nggak masalah. Gue malah seneng diusir dari kelas. Kelasnya Pak Adam, kan, emang nggak seru. Ngoceh doang, ngejelasin juga nggak."

Bara akhirnya tertawa. Candaan Ara sedikit mengobati rasa sakit yang sejak tadi memenuhi tubuhnya.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa kehadiran Ara mampu membuat semuanya terasa jauh lebih ringan.

Bara kembali memeluk Ara dengan erat. Ada sedikit penyesalan yang menyelinap di dalam hatinya karena ia tidak pernah jujur kepada Ara sejak awal.

"Izinin gue buat ada di sisi lo, ya, Bara."

Ara melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap Bara.

"Ah, gue juga pengin banget ngomong pakai aku-kamu. Lo bersedia nggak?"

Bara ikut melepaskan pelukannya. Ia kemudian menangkup wajah Ara dengan kedua tangannya sambil menatap kedua mata perempuan itu.

Pandangan mereka bertemu. Jarak yang begitu dekat membuat keduanya seolah bisa mendengar detak jantung masing-masing yang semakin cepat.

"Hmmm... boleh nggak, ya?"

"Hmm! Kan gue pengin romantis gitu. Lagian, lo juga bukan temen gue."

"Lah, gue bukan temen lo, Ra? Terus gue siapa, dong?"

"Bego! Bukannya waktu itu kita udah sama-sama nyatain perasaan, ya? Lo juga udah ngaku-ngaku jadi pacar gue di depan temen-temen gue."

"Kan waktu itu gue cuma nggak mau bikin lo malu di depan temen-temen lo."

"Hah? Terus pas lo ngomong udah lama suka sama gue, itu juga pura-pura?"

Bara berusaha menahan tawanya ketika melihat perubahan ekspresi Ara. Memang, jiwa usilnya sepertinya tidak bisa disembuhkan. Padahal ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk berhenti menjahili Ara.

"Kok lo diem aja, sih? Jadi lo nggak nganggep gue lebih, gitu?"

"Mau dianggap lebih, hmm?"

"Nggak! Ya udah! Nggak jadi! Nggak usah! Malu-maluin gue aja, lo! Mending gue balik aja! Lo cepetan tidur, sana! Jangan begadang!"

"Ngegas banget sih ngomongnya, yang."

"Yang, yang, kepala lo peyang!"

Ara langsung terdiam.

Hah? Sebentar... dia tadi manggil aku apa? Aku nggak salah dengar, kan?

Bara hanya terkekeh melihat ekspresi Ara. Ia kemudian menarik perempuan itu agar kembali mendekat. Ia selalu menyukai ekspresi kesal Ara. Entah kenapa, menurutnya, Ara terlihat jauh lebih menggemaskan ketika sedang marah.

"Ara, sayang, maafin aku yang selalu bikin kamu kesel ini. Tapi sifat usilku udah mendarah daging. Aku bingung gimana cara ngilanginnya."

Kini giliran pipi Ara yang bersemu merah. Ia benar-benar tidak menyangka Bara akan berbicara selembut itu kepadanya.

Bahkan hanya karena satu panggilan sederhana, Ara merasa ingin meleburkan dirinya sendiri saking malunya.

Sayang.

Panggilan itu benar-benar ditujukan kepadanya.

"Pipimu jadi merah, tuh."

Ara spontan menepuk dada Bara cukup keras. Bara sontak meringis sambil memegangi dadanya.

"Bara! Maaf! Pukulanku sakit, ya? Aduh, aku emang suka brutal orangnya. Bara, maaf."

Bara hanya tersenyum tipis. Alih-alih menjawab, ia membuka kancing bagian atas bajunya, memperlihatkan memar yang memenuhi sebagian dadanya. Setidaknya Ara harus mengetahui bahwa tubuhnya sudah tidak sekuat dulu lagi.

"Badanku sebenarnya memang suka tiba-tiba muncul memar kayak gini. Di bagian tubuh yang lain juga ada. Kebetulan, pukulanmu tadi kena di bagian yang memar ini."

Ara terdiam. Matanya langsung tertuju pada luka memar yang diperlihatkan Bara.

Pantas saja selama ini Bara selalu mengenakan pakaian tertutup. Bahkan ketika kuliah, laki-laki itu hampir selalu memakai jaket atau hoodie. Rupanya, selama ini ia berusaha menyembunyikan memar-memar di tubuhnya.

Ara mengulurkan tangan dan menyentuh memar itu dengan sangat hati-hati. Ia mengusapnya perlahan sambil menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

Bara yang menyadarinya langsung mengancingkan kembali bajunya.

"Tadi kamu bilang bisa kuat sama keadaanku. Aku udah bilang berkali-kali kalau aku nggak mau bikin kamu nangis, kan?"

Bara menatap Ara dengan serius.

"Kalau kamu cengeng, mending nggak usah deket-deket aku lagi."

"Iya, iya! Aku cuma kelilipan!"

Ara buru-buru mengucek kedua matanya secara bergantian agar Bara percaya kepadanya.

Ia menarik napas panjang. Sebisa mungkin, Ara menahan tangisnya agar tidak tumpah di hadapan laki-laki yang paling ingin ia lindungi itu.

"Oh, iya. Aku sampai lupa. Padahal aku mau tanya dari tadi."

Ara menunjuk pakaian Bara.

"Kamu mau ganti baju atau nggak? Itu bajumu ada noda darahnya."

"Oh, ini bekas mimisan. Aku males. Besok aja gantinya sekalian mandi."

"Dasar Bara jorok!"

"Jorok pun kamu tetap suka aku."

Ara terdiam.

Iya, sih. Sepertinya aku sudah mencintaimu terlalu dalam.

"Kamu nggak pulang, Ra? Apa kamu niat mau nginep di sini? Nanti orang tua sama abangmu nyariin kamu, loh."

"Sebenarnya aku emang pengin nemenin kamu di sini. Jadi, aku pulangnya besok pagi. Boleh, ya?"

"Pulang aja, ya, sayang. Besok bebas kalau kamu mau ngajak aku ke mana pun kamu mau. Pasti akan aku turuti."

Ara memilih duduk di samping ranjang Bara. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di dada laki-laki itu.

Sebenarnya, ia sangat enggan pulang. Bukan karena ingin membangkang kepada orang tuanya, melainkan karena ia masih mengkhawatirkan kondisi Bara.

"Hmmm."

"Sayang?"

"Iya, iya. Aku pulang."

Ara menghela napas kecil.

"Besok berarti kamu bolos kuliah, dong?"

"Kayaknya aku mau berhenti kuliah atau ambil cuti."

Bara mengusap pelan rambut Ara.

"Aku mau fokus berobat. Sama fokus nyenengin kamu, mumpung kamu masih ada di sini."

"Oke! Kalau gitu aku besok juga mau bolos kuliah!"

Ara langsung mengangkat kepalanya dengan mata berbinar.

"Besok kalau ke wahana bermain, kamu mau, nggak? Aku pengin naik bianglala, kora-kora, arung jeram, dan lain-lain."

Bara hanya terkekeh melihat sikap Ara yang begitu antusias. Ia kemudian mengangguk sambil mengecup pucuk kepala Ara.

"Iya. Sekarang pulang, gih. Sampai ketemu besok, Ara."

"Okay. I love you."

Ara mengecup pipi Bara, lalu buru-buru berlari meninggalkan kamar rawat itu. Wajahnya terasa panas.

Ia sendiri masih tidak percaya baru saja mengucapkan tiga kata yang terdengar begitu memalukan sekaligus menjijikkan di telinganya.

Sementara itu, Bara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Ara yang selalu berhasil membuatnya tersenyum.

Ia menatap pintu kamar yang baru saja ditutup Ara. Senyumnya perlahan berubah menjadi lebih lembut.

"I love you too, Ara Moana."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!