Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Aroma Bergamot Dan Penawaran Baru
Pagi harinya, aroma kopi hangat dan kilau lampu display di toko perhiasan tempat Mia bekerja membawa suasana yang bertolak belakang dari riuhnya set syuting semalam. Di dalam ruangan kaca yang dingin namun elegan itu, Mia akhirnya bisa bernapas lega. Kotak beludru hitam yang berisi perhiasan platinum bernilai jutaan dolar itu telah tersimpan aman di dalam brankas utama setelah melewati pemeriksaan ketat.
Tugas utamanya mengawal aset berharga tersebut selama proses syuting Ethan telah selesai tanpa cacat. Ada rasa puas yang membuncah di dadanya, setidaknya profesionalismenya tetap terjaga meski perasaannya sempat berdarah-darah.
“Mia! Akhirnya kamu kembali juga!” Ivy, rekan kerjanya yang selalu penuh energi, meletakkan dua cangkir kopi di atas meja kerja mereka. Ia langsung duduk berhadapan dengan Mia tanpa membuang waktu. Matanya berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.
“Mia, aku penasaran sekali dari semalam. Bagaimana rasanya berada di lokasi syuting aktor kelas atas seperti Ethan? Dia pasti sangat menawan di lokasi syuting kan?” cecar Ivy bertubi-tubi, menangkup wajahnya dengan kedua tangan, menanti jawaban dengan antusiasme yang tinggi.
“Dia kelihatan profesional di depan kamera, Ivy. Soal penampilan... ya, sesuai dengan apa yang sering kamu lihat di iklan,” jawab Mia tenang, memutar cangkir kopinya perlahan.
“Hanya seperti itu tanggapanmu?” protes Ivy dengan nada bercanda.
“Aduh Mia, itu Ethan, Mia. Ethan! Manusia yang dipuja-puja satu negara! Dan kamu sedikit pun tidak terpesona atau bahkan berdebar-debar saat berdiri di dekatnya?”
Mia tersenyum tipis, pandangannya tertuju pada pantulan dirinya di permukaan kopi hitam. Ivy tidak pernah tahu dan tidak boleh tahu bahwa ketukan dada yang ia rasakan semalam bukan karena pesona seorang bintang, melainkan luka lama dari pernikahan masa lalu yang kembali terbuka.
“Fokusku cuma satu, Ivy. Memastikan perhiasan perusahaan kembali selamat tanpa ada satu goresan pun. Sisanya... bukan urusanku,” ucap Mia pelan namun mantap.
Ivy menghela napas, menyerah melihat respon Mia yang terlalu dingin. “Kamu ini benar terbuat dari batu ya, Mia. Ya sudahlah, yang penting tugasmu selesai dan perhiasannya aman.”
Saat Mia hendak menyesap kopinya, bel di pintu depan toko berdenting halus. Suara langkah kaki yang teratur memecah keheningan toko perhiasan pagi itu.
Langkah kaki itu terdengar mantap, diiringi aroma bergamot dan lemon. Tipe wangi elegan yang tidak mencolok, namun langsung mendominasi ruangan.
Ivy refleks berdiri dan membenarkan letak nametag-nya, sementara Mia menegakkan punggung, meletakkan cangkir kopinya kembali ke meja. Seorang pria tinggi berahang tegas masuk dengan gestur tubuh yang memancarkan wibawa alami. Setelan jas abu-abu gelapnya terpotong sempurna, membalut bahunya yang tegap.
“Selamat pagi, selamat datang di Ellora Jewelry,” sapa Ivy cepat dengan senyum profesional terbaiknya.
Pria itu membalas dengan senyuman tipis yang sopan. Matanya melintasi interior toko sebentar sebelum tatapannya mengunci ke arah Mia.
“Selamat pagi. Saya mencari Mia,” ucapnya dengan suara berat yang tenang.
Mia mengernyit halus, lalu melangkah mendekat ke konter utama. “Saya Mia. Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
Pria itu mengulurkan tangan kanannya. “Saya Liam. Liam Vance. Saya salah satu investor utama untuk proyek film yang kemarin menggunakan koleksi platinum toko ini.”
Dada Mia berdesir pelan, namun ia berhasil menjaga ekspresi wajahnya tetap netral saat menyambut jabat tangan Liam. Genggaman pria itu hangat dan mantap.
“Ah, Pak Liam. Suatu kehormatan bertemu dengan Pak Liam,” respon Mia santai.
“Semua perhiasan dari set semalam sudah kami periksa dan tersimpan aman di brankas utama,” tambahnya.
“Saya tahu. Laporan keamanan dari tim eksekutif saya sudah masuk tadi subuh,” Liam terkekeh pelan, menatap Mia dengan binar tertarik yang terang-terangan.
“Saya ke sini bukan untuk mengecek barang, tapi untuk memastikan mengawal aset bernilai tinggi seperti itu tidak membuat penanggung jawabnya pingsan karena stres.”
Ivy yang berdiri tak jauh dari sana membelalakkan mata, menahan napas menyaksikan interaksi tersebut.
Liam menyandarkan satu tangannya di atas kaca display dengan santai. “Saya ada di lokasi semalam, Mia. Saya melihat bagaimana kamu menangani situasi rumit di lokasi dengan sangat tenang. Bahkan saat beberapa kru dan sang aktor utama mulai kehilangan kesabaran.”
Mia teringat tatapan Ethan semalam, keributan kecil di balik layar, dan ketegangan yang nyaris mematahkan pertahanan dirinya. Ternyata ada mata lain yang memperhatikan.
“Itu hanya bagian dari profesionalisme kerja, Pak Liam,” jawab Mia rendah hati.
“Panggil Liam saja,” potong pria itu halus. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama hitam bersepuh emas dan meletakkannya perlahan di atas konter, menyodorkannya ke arah Mia.
“Saya tahu ini terlalu cepat, tapi saya menghargai orang-orang yang bisa tetap dingin di bawah tekanan. Ada proyek pameran privat minggu depan, dan saya butuh seseorang yang bisa saya percayai untuk memegang kendali asetnya.”
Liam menatap langsung ke dalam manik mata Mia, memberikan senyuman hangat yang jujur. “Saya harap kamu bersedia mempertimbangkannya, Mia.”
Mia menatap ragu kartu nama hitam bersepuh emas yang tergeletak di atas konter itu. Lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Liam. Binar ketulusan di mata pria itu terasa begitu nyata, sebuah kontras yang cukup tajam jika dibandingkan dengan atmosfer penuh intrik di lokasi syuting semalam.
“Terima kasih atas kepercayaannya, Liam,” ujar Mia sambil tersenyum tipis dan mengambil kartu nama tersebut. Ia menatapnya sejenak sebelum menatap Liam kembali.
“Saya akan mempertimbangkannya dengan matang. Tapi saya tidak berani berjanji dulu, karena ada prosedur internal dan jadwal kerja di Ellora yang harus saya sesuaikan. Saya tidak ingin memberi janji manis lalu berakhir mengecewakan Anda.”
Liam terkekeh pelan, mengangguk penuh apresiasi. “Jawaban yang sangat realistis. Itu alasan lain kenapa saya merasa kamu orang yang tepat untuk pekerjaan ini. Tidak masalah, luangkan waktumu untuk berpikir.”
Sebelum beranjak pergi, pandangan Liam berputar mengamati etalase kaca di depannya. Matanya tertambat pada sepasang anting berlian potongan marquise yang berkilau lembut diterpa cahaya lampu toko.
“Tolong bungkuskan yang ini,” tunjuk Liam santai pada anting tersebut.
Ivy yang sejak tadi menyimak dengan antusias langsung bergerak cekatan. “Baik, Pak Liam. Mohon tunggu sebentar, saya siapkan kotaknya.”
Proses pembayaran berlangsung cepat. Namun, alih-alih memasukkan kotak beludru kecil itu ke dalam saku jasnya, Liam justru menggeser kotak tersebut ke arah Mia di atas konter.
Mia membeku sejenak, alisnya bertaut ragu. “Liam, ini...”
“Anggap saja ini ucapan terima kasih karena kamu mau meluangkan waktu untuk mempertimbangkan tawaran saya,” potong Liam tenang dengan nada suara hangat yang tak membantah.
“Dan juga... sebagai apresiasi atas kerja kerasmu menjaga aset proyek kami semalam.”
“Ini terlalu berlebihan, saya tidak bisa menerima—”
“Tentu saja kamu bisa,” sela Liam lembut, menyunggingkan senyum khasnya yang percaya diri namun tetap sopan.
“Sampai jumpa minggu depan, Mia. Saya sangat berharap mendengar kabar baik darimu,” tambahnya.
Tanpa menunggu penolakan Mia lebih jauh, Liam kemudian berbalik dan melangkah keluar toko. Suara denting bel pintu kembali terdengar, mengiringi kepergian pria itu dan menyisakan aroma segar bergamot dan lemon yang masih tertinggal halus di udara.
Mia berdiri mematung menatap kotak perhiasan di tangannya, sementara Ivy langsung menghampirinya dengan mata melotot tak percaya, siap melontarkan sejuta pertanyaan.
–tbc–