Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Pertama (Akhirnya!)
Hari Sabtu
Tidak ada sidang pengadilan. Tidak ada telepon ancaman. Hanya hari kosong—dan aku berharap sepenuhnya—hari yang tenang, bebas dari drama kejahatan dan bahaya yang selama ini mengikuti kami.
Setidaknya itulah yang aku harapkan.
Telepon berdering, suara Sasha terdengar ceria dari seberang sana: “Nay, kamu jadi ke mall jam 10 pagi kan?”
“Iya, Rasya sudah mau menjemput sebentar lagi.”
“Kamu janji ya?”
“Janji apa?”
“Jangan cuma berdua terus saja! Aku bosan jadi ‘penonton’ atau ‘teman tambahan’ buat kalian berdua.”
Aku tertawa mendengar keluhannya. “Iya, Sha. Kamu ikut kok, tenang saja.”
“Wah, yang ngajak duluan. Tapi jangan harap aku mau jadi fotografer pribadi buat foto-foto mesra kalian nanti, ya!”
“Ya sudah, sampai ketemu. Bye!”
Aku mematikan telepon, lalu menatap bayanganku di cermin. Aku memakai kemeja putih sederhana, rok selutut warna merah muda lembut, dan sepatu kets putih—penampilan yang santai namun tetap rapi, feminin tapi tidak berlebihan.
Pintu kamar diketuk pelan, suara Bunda terdengar: “Nay, kamu sudah siap? Rasya sudah menunggu di depan.”
“Bunda, jangan mengintip-intip dong!”
Bunda tertawa kecil. “Bunda cuma bilang saja. Pacarmu sudah menunggu, lho.”
Jantungku berdegup lebih kencang. “Pacarku? Siapa yang bilang dia pacarku?”
“Bunda lihat caranya menatapmu, Nak. Itu bukan cara seorang teman melihat temannya. Itu tatapan orang yang jatuh cinta pada orang yang sangat dicintainya.” Bunda tersenyum lembut.
Aku tidak bisa membantah kata-kata itu.
---
Rasya berdiri bersandar di motornya, memakai kaos putih polos dan jaket denim—persis seperti penampilan pertama kali kami bertemu. Rambutnya yang agak panjang di bagian belakang sedikit basah di ujungnya, sehabis mandi.
Ya Tuhan, kenapa dia terlihat begitu tampan hari ini?
“Pagi,” sapaannya pelan.
“Pagi.”
“Kita jemput Sasha dulu?”
“Iya, dia ngotot mau ikut.”
“Aku tahu. Dia sudah mengirim pesan ke aku jam 7 pagi tadi.”
“Astaga, Sasha ini… tidak sabaran sekali.”
Kami tertawa bersama.
---
Sesampainya di depan pintu masuk mal, Sasha sudah menunggu dengan antusias, memakai gaun bermotif bunga yang terlihat agak terlalu dewasa untuk usianya.
“Nay! Rasya! Kalian lihat bajuku ini!” serunya begitu melihat kami.
“Sudah kelihatan, Sha. Cantik kok,” jawabku santai.
“Bukan cuma cantik! Ini modis, Nay! Sangat modis!”
“Ya, modis sekali.”
Sasha berputar-putar memamerkan gaunnya dari segala arah. “Aku beli ini di Shopee cuma 70 ribu rupiah, bahkan dapat gratis ongkir lagi. Murah kan?”
“Sangat murah,” sahut Rasya singkat.
“Kalau kamu jadi pacar Rasya, kamu jadi ikut-ikutan pelit gaya bahasanya,” goda Sasha.
Aku tertawa malu, sementara Rasya hanya tersenyum tipis.
“Ayo masuk, di luar panas sekali,” ajakku.
---
Suasana mal terasa berbeda hari ini. Tidak ada rasa waspada, tidak ada perasaan sedang dikejar musuh atau mencari bukti rahasia. Hanya… menikmati waktu luang seperti remaja pada umumnya.
“Nay, Ras, aku mau mampir ke toko buku dulu sebentar ya,” kata Sasha tiba-tiba. “Kalian jalan-jalan dulu saja, nanti kita ketemu di area makanan jam 12 siang.”
“Sha, tunggu—”
“Aku serius. Aku tidak mau jadi orang ketiga yang mengganggu. Nikmati waktu berdua saja!” Sasha mengedipkan mata, lalu berjalan cepat meninggalkan kami.
Kini hanya ada aku dan Rasya. Berdua saja. Di tengah keramaian mal. Tanpa misi khusus.
“Jadi… kita mau apa sekarang?” tanyaku bingung.
“Aku juga tidak tahu. Biasanya kalau kita berdua, kita selalu dalam situasi berbahaya atau dikejar-kejar orang jahat.”
Aku tertawa kecil. “Iya benar. Kita belum pernah melakukan kencan yang normal dan santai.”
“Ini mau disebut kencan?” tanyanya menatapku.
Aku menatap balik. “Kamu mau ini dianggap kencan?”
Dia terdiam sejenak. Lalu perlahan, dengan hati-hati seolah aku terbuat dari kaca rapuh, dia meraih tanganku dan menggenggamnya lembut.
“Aku mau.”
---
Pukul 11.00 – Di Dalam Toko Buku
Kami berjalan beriringan di antara deretan rak buku, tangan kami tetap tergenggam erat.
“Ini pertama kalinya kita berada di toko buku tanpa ada Rio, Kayla, atau ancaman pembunuhan yang mengintai,” kataku.
“Rasanya aneh ya,” jawabnya.
“Tapi menyenangkan juga.”
Rasya mengambil sebuah buku—novel roman dengan sampul gambar pria asing berkacamata. “Ini kesukaanmu kan? Kamu sering membaca buku seperti ini.”
“Kamu ingat?” tanyaku terkejut.
“Aku ingat kamu membaca buku ini saat kita pertama kali bertemu Kayla di toko buku.”
Aku tersenyum. “Kamu ternyata sangat memperhatikan hal-hal kecil.”
“Aku selalu memperhatikanmu. Selalu.”
Kami berjalan menuju rak buku puisi. Aku mengambil sebuah buku kecil, membuka halaman secara acak, lalu membacakan baris puisi dengan suara pelan:
“Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu secara sederhana, tanpa masalah atau kesombongan.”
“Aku tahu puisi itu,” ucap Rasya pelan. “Karya Pablo Neruda.”
“Kamu tahu penyairnya?”
“Aku membaca banyak buku setelah… setelah kamu meninggal di kehidupan sebelumnya.”
Aku terdiam. “Kenapa?”
“Karena aku menyesal merasa tidak cukup pintar dan tidak cukup kuat untuk menyelamatkanmu. Jadi aku belajar banyak hal. Berharap jika suatu hari aku bisa terlahir kembali, aku bisa menjadi orang yang lebih berguna dan bisa melindungimu.”
Aku menatap matanya—tatapan yang jujur, tanpa topeng, tanpa rasa takut.
“Rasya…”
“Aku tidak membutuhkan ucapan terima kasih atau apa pun. Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku yang sebenarnya.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
---
Pukul 12.00 – Area Makanan
Sasha sudah duduk di meja sudut dengan semangkuk bakso dan es teh manis di hadapannya.
“Lama sekali kalian! Aku sudah lapar sejak tadi!” protesnya.
“Maaf, Sha. Kami asyik melihat-lihat buku,” jawabku.
“Asyik apanya? Aku lihat dari kejauhan kalian terus berpegangan tangan saja,” godanya sambil menyeringai.
“Sha, kamu mengintip kami?”
“Aku cuma lewat secara kebetulan saja.”
Rasya memesan makanan untuk kami berdua: mie ayam untukku, nasi goreng untuk dirinya sendiri.
“Kamu pesankan untukku?” tanyaku terkejut.
“Iya.”
“Kamu tahu pesanan kesukaanku?”
“Mie ayam, tambah pangsit goreng, dan es jeruk manis. Benar kan?” Rasya menatapku.
Mataku terbelalak. “Kamu hafal persisnya?”
“Di kehidupan sebelumnya, kamu sering pulang larut malam dan selalu minta dibelikan mie ayam. Aku tidak pernah lupa hal-hal seperti itu.”
Sasha memukul meja pelan. “Astaga! Aku jadi gemas melihat kalian berdua! Ini hubungan yang paling manis yang pernah aku lihat!”
“Sha, bicara pelan-pelan dong!” kataku sambil tersenyum malu.
---
Pukul 14.00 – Di Bioskop
Sasha memilih film horor—katanya agar suasana menjadi lebih seru. Aku sebenarnya tidak suka film horor, tapi Rasya berbisik: “Tidak apa-apa, aku ada di sini. Pegang tanganku jika kamu merasa takut.”
Aku sudah memegang tangannya erat bahkan sebelum film dimulai. Dan begitu adegan pertama yang menegangkan muncul di layar, genggamanku menjadi semakin kuat.
“Takut?” bisik Rasya di telingaku.
“Sedikit saja,” jawabku.
“Bohong. Tanganmu gemetar hebat ini.”
“Ya sudah, aku takut. Senang kan?”
Rasya tersenyum tipis. Lalu dia mengangkat tanganku yang tergenggam, dan mencium punggung tanganku dengan lembut dan singkat.
Aku terdiam kaku.
“Nay, pipimu memerah sekali,” bisik Sasha dari kursi sebelah.
“Diam saja, Sha!”
---
Sasha diantar pulang oleh Rasya terlebih dahulu, giliran aku yang diantar terakhir.
Sesampainya di depan rumahku, motor berhenti perlahan. Aku turun sambil melepas helm yang terasa hangat di kepala.
“Terima kasih, Ras,” ucapku sambil menyerahkan helm padanya.
“Untuk apa?” tanyanya sambil tersenyum tipis.
“Untuk hari ini. Untuk… kencan pertama kita.”
Dia tersenyum lebih lebar, menatapku dengan pandangan lembut yang membuat jantungku berdebar pelan. “Ini baru kencan pertama dari sekian banyak kencan yang akan kita lalui.”
“Janji?” tanyaku, tidak bisa menyembunyikan senyum yang mulai terukir di bibir.
“Janji,” jawabnya tegas dan tulus.
Aku berbalik hendak melangkah masuk ke halaman rumah, tapi Rasya memanggil namaku pelan: “Nay.”
Aku menoleh kembali.
“Aku sayang kamu.”
Aku masuk ke dalam rumah sambil menahan senyum yang sulit disembunyikan—rasanya seperti melayang di udara, tidak percaya bahwa hari yang penuh kebahagiaan ini benar-benar terjadi. Setelah sekian lama dihantui ancaman, bahaya, dan masa lalu yang kelam, akhirnya aku bisa merasakan kebahagiaan sederhana seperti remaja lain pada umumnya.
---
Pukul 20.00
Ponselku berdering, pesan masuk dari Sasha:
“AKU MASIH GEMES BANGET SAMA KALIAN! SAMPAI NGGAK BISA TIDUR NIH!”
Nayla (20.01): “Sha, besok kita ada sekolah lho. Jangan begadang terus.”
Sasha (20.01): “AKU TAU! TAPI BAYANGIN AJA, KALIAN PEGANGAN TANGAN TERUS SEPANJANG HARI, TERUS RASYA MENCIUM PUNGGUNG TANGANMU—ASTAGA, INI BUKAN ADEGAN SINETRON, TAPI BENERAN TERJADI DI DEPAN MATAKU!”
Rasya (20.02): “Sasha.”
Sasha (20.02): “APA?!”
Rasya (20.03): “Besok kita ketemu lagi di sekolah. Tidur yang cukup, jangan sampai kesiangan.”
Sasha (20.03): “Wah, kalian berdua sok dewasa banget ya! Padahal aku yakin di dalam hati kalian berdua lagi berbunga-bunga dan senang bukan main, kan?”
Aku tertawa kecil membaca pesan Sasha yang selalu ceria itu.
Nayla (20.04): “Selamat malam, Sha. Tidur yang nyenyak.”
Sasha (20.04): “Selamat malam juga! Semoga mimpi indah berdua ya! TAPI JANGAN MIMPI YANG ANEH-ANEH DAN NGGAK BOLEH, INGAT!”
Rasya (20.05): “Sasha.”
Sasha (20.05): “Iya iya, aku diam! Bye!”