NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Markas Raksasa Biru Langit

Lokasi: Bandar Udara Internasional Manchester, Inggris.

Waktu: Sore hari, awal Mei 2012. Langit di atas kota Manchester tampak berwarna abu-abu muda dengan awan tipis yang berarak pelan, sesekali matahari menyelinap keluar memancarkan sinar hangat yang lembut. Udara di sini terasa jauh lebih dingin dibandingkan Indonesia, segar dan bersih, berbau tanah basah dan rumput hijau.

Pesawat yang membawa Dika dan Rio akhirnya mendarat mulus di landasan pacu. Setelah melewati proses imigrasi dan pengambilan barang yang berjalan sangat lancar berkat persiapan dokumen standar militer yang dibuat Ayah Rudi, kedua sahabat itu melangkah keluar menuju lobi kedatangan.

Di sana, tepat di depan pintu keluar, sudah berdiri seorang pria paruh baya berpenampilan rapi dan profesional, mengenakan jas biru tua dengan lencana kebanggaan berwarna biru langit dan perak yang sangat terkenal di dada kirinya. Di tangannya tergenggam selembar kertas karton besar bertuliskan: MR. DIKA PRATAMA & MR. RIO – MANCHESTER CITY FOOTBALL CLUB.

Saat melihat dua sosok pemuda tinggi besar melangkah mendekat, mata pria itu membelalak takjub. Ia sudah diberitahu bahwa ada dua talenta muda dari Indonesia yang akan bergabung, tapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa fisik mereka akan semengagumkan ini.

Dika melangkah tegap, tinggi 179 cm, tubuh atletisnya yang padat dan berotot terlihat gagah di balik jaket tebal berwarna hitam. Wajahnya yang tampan dan tegas memancarkan ketenangan serta percaya diri luar biasa, matanya yang cokelat tua menatap tajam namun ramah ke arah pria itu. Di sampingnya, Rio berjalan dengan langkah berat namun pasti, tubuhnya yang raksasa 183 cm dan berat 78 kg membuatnya tampak seperti tiang bendera yang berjalan. Bahunya sangat lebar, dadanya bidang, dan tatapannya tenang namun mengintimidasi, ciri khas seorang bek tengah sejati.

"Selamat datang di Manchester, Tuan Dika, Tuan Rio. Perkenalkan, nama saya David Peterson, staf administrasi Akademi Manchester City," sapa pria itu dengan senyum lebar, mengulurkan tangan menyambut mereka. Tangannya sedikit gemetar saat bersalaman dengan Rio, merasakan kekuatan genggaman tangan raksasa itu.

"Terima kasih, Tuan Peterson. Senang sekali akhirnya sampai di sini," jawab Dika lancar dalam bahasa Inggris yang fasih dan beraksen sangat baik, membuat David makin terkesan. Suara Dika yang berat dan merdu itu terdengar menyenangkan di telinga, namun David belum menyadari bahwa suara itulah yang sedang dicari jutaan orang di dunia maya.

Perjalanan menuju kompleks latihan klub memakan waktu sekitar 20 menit. Di dalam mobil mewah yang disiapkan khusus oleh klub, Dika dan Rio menatap keluar jendela dengan rasa takjub. Mereka melihat gedung-gedung tua yang kokoh, jalanan yang tertata rapi, dan suasana kota yang hidup namun tertib.

"Gila, Dik... kita beneran di Inggris," bisik Rio pelan sambil mencubit pelan lengannya sendiri, lalu menatap sahabatnya. "Dan kita bukan cuma di Inggris... kita mau masuk ke Manchester City. Klub yang namanya sudah mendunia. Dulu kita cuma bisa lihat mereka di TV, ngebayangin gimana rasanya main di sini. Sekarang... kita bakal tidur, makan, latihan, dan jadi bagian dari mereka."

Dika tersenyum tipis, menepuk paha besar sahabatnya itu. Ia menatap lurus ke depan, matanya berbinar tajam.

"Ingat, Rio. Dulu Manchester City ini belum sekuat sekarang. Tapi saya tahu masa depan mereka. Saya tahu rencana besar pemilik klub ini yang akan mengubah mereka jadi raksasa Eropa. Dan saya sudah pilih tempat ini dengan sangat hati-hati. Di sini fasilitasnya terbaik, manajemennya paling ambisius, dan pola permainannya paling cocok dengan gaya main kita: menyerang, menguasai bola, dan terorganisir. Di sini lah kita akan tumbuh jadi bintang."

Dika mengingat kembali perhitungannya. Ia memilih Manchester City bukan sekadar keberuntungan, tapi karena ia tahu bahwa klub ini sedang dalam jalur menuju kejayaan besar. Modalnya yang luar biasa, ditambah visi jangka panjangnya, menjadikan tempat ini wadah paling pas bagi talenta hebat dan kekayaan besarnya sendiri.

Mobil akhirnya berbelok masuk ke sebuah gerbang besar yang megah, dihiasi lambang kapal layar dan bintang berwarna biru langit yang sangat ikonik. Papan nama besar tertulis: ETIHAD CAMPUS – MANCHESTER CITY FOOTBALL ACADEMY.

Saat melangkah turun dari mobil, Dika dan Rio terpaku diam sejenak. Di hadapan mereka terbentang kompleks olahraga seluas 80 hektar, dengan puluhan lapangan rumput hijau terawat sempurna, gedung-gedung fasilitas modern, kolam renang, pusat kebugaran, ruang medis, hingga sekolah khusus pemain muda. Udara di sini berbau rumput segar dan mimpi yang menjadi kenyataan.

"Ini dia, Rio. Rumah baru kita," gumam Dika pelan, dadanya membusung penuh semangat.

Mereka berjalan mengikuti David menuju gedung utama akademi. Di sepanjang lorong, terpasang foto-foto besar legenda klub, piala-piala juara, dan sejarah panjang Manchester City. Di sanalah Dika melihat tulisan besar visi klub: "Kami tidak hanya membangun pemain, kami membangun masa depan."

Di ruangan kantor utama, mereka disambut langsung oleh Kepala Akademi, Brian Marwood, seorang pria berwibawa yang paham betul bakat apa saja yang ada di bawah pengawasannya. Di mejanya sudah terbuka berkas tebal berisi profil lengkap kedua pemuda dari Indonesia itu.

"Silakan duduk, anak-anak," sapa Brian ramah namun serius, matanya meneliti fisik Dika dan Rio dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan seorang pengintai bakat yang berpengalaman.

"Jujur saja... saat pertama kali saya menerima berkas lamaran kalian, lengkap dengan rekaman video penampilan dan data fisik yang luar biasa itu, saya sempat berpikir: apakah ini nyata? Apakah di Indonesia benar-benar ada talenta dengan kualifikasi setinggi ini?" kata Brian sambil menunjuk berkas di meja.

Ia kemudian menatap Dika lekat-lekat.

"Dika Pratama, 18 tahun. Gelandang serang, pemimpin permainan. Tinggi 179 cm, berat 72 kg. Data fisik: Kecepatan lari 100 meter: 10,8 detik (setara pelari nasional), daya tahan VO2 Max: 72 (di atas rata-rata atlet elit), kelenturan tubuh luar biasa, dan kekuatan tendangan mencapai 130 km/jam. Ditambah lagi kecerdasan taktik dan visi permainan yang terlihat sangat dewasa. Belum lagi kemampuan bahasa Inggris yang sudah fasih sempurna... Ini profil pemain kelas dunia, Nak. Sangat jarang kita dapatkan profil selengkap ini dari benua Asia."

Brian kemudian beralih menatap Rio yang duduk tegap di sebelah Dika, tubuh raksasanya hampir memenuhi kursi yang didudukinya.

"Dan kamu, Rio... Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Tinggi 183 cm, berat 78 kg, tubuh padat dan kokoh. Posisi: Bek Tengah. Data fisik: Kekuatan otot kaki dan pinggang 95 poin, kemampuan lompatan vertikal 75 cm, duel udara 94% kemenangan. Kamu dibangun khusus untuk menjadi benteng, bukan? Badanmu besar, tapi data kelincahanmu ternyata sangat bagus, jauh di atas ekspektasi saya untuk pemain sebesar ini. Dan yang paling penting... berkas ini menyebutkan bahwa kalian berdua sudah bermain bersama selama bertahun-tahun, saling paham gerak-gerik tanpa bicara. Itu aset tak ternilai bagi sebuah tim."

Dika tersenyum tenang, lalu menjawab dengan nada rendah namun penuh wibawa:

"Kami datang ke sini bukan sekadar untuk belajar, Tuan Marwood. Kami datang untuk berkontribusi. Kami sudah siap secara fisik, mental, maupun teknis. Kami ingin membantu Manchester City meraih kemenangan, mulai dari tim muda, sampai suatu saat kami dipanggil ke tim utama."

Brian mengangguk puas, sangat senang mendengar jawaban itu. Tidak ada rasa takut atau rendah diri di mata pemuda Indonesia itu, yang ada hanyalah rasa percaya diri yang berakar kuat.

"Bagus! Sikap seperti itulah yang kami cari. Dan ada satu hal lagi yang membuat kami sangat terkesan... Saat tim kami melakukan pengecekan latar belakang, kami menemukan fakta menarik. Ternyata kalian bukan sekadar pemain muda biasa. Dika, kami tahu kamu baru saja membeli dan menyuntikkan dana besar ke klub kampung halamanmu, Persida Sidoarjo, serta memiliki aset keuangan yang sangat luar biasa. Manajemen kami sangat menghargai kemandirianmu. Kamu datang ke sini tanpa membebani klub, bahkan fasilitas tempat tinggal dan kebutuhan pribadi kalian sudah kamu bayar lunas di muka."

Brian menunjuk ke arah jendela besar yang menghadap ke lapangan utama.

"Kebijakan kami biasanya sangat ketat. Tapi untuk kalian berdua... kami membuat pengecualian khusus. Berdasarkan kemampuan luar biasa yang kalian miliki, mulai hari ini, kalian resmi menjadi bagian dari Akademi Manchester City, masuk ke skuad U-21."

Dika dan Rio saling pandang sejenak, mata mereka berbinar bahagia. Masuk langsung ke tim U-21 di usia 18 tahun, melewati jenjang yang lebih muda, adalah pencapaian raksasa. Itu artinya mereka dianggap setara atau bahkan lebih hebat dari pemain-pemain muda berusia 21 tahun dari seluruh Eropa.

"Dan ada kabar lebih baik lagi," lanjut Brian sambil tersenyum lebar. "Biasanya pemain baru harus melewati masa percobaan berbulan-bulan. Tapi karena data fisik, rekomendasi, dan bukti kemampuan yang sudah kamu kirimkan sebelumnya... manajemen sepakat memberikan kontrak profesional pertama kalian hari ini juga."

Seorang staf menyerahkan dua lembar dokumen tebal di atas meja. Brian membacakannya dengan lantang:

"Kontrak Profesional Akademi Manchester City:

- Untuk Dika Pratama: Gaji dasar £12.000 (sekitar Rp 180 Juta Rupiah) per minggu. Belum termasuk bonus penampilan, bonus kemenangan, dan insentif individu.

- Untuk Rio: Gaji dasar £8.000 (sekitar Rp 120 Juta Rupiah) per minggu. Dengan struktur kenaikan gaji yang sangat cepat sesuai penampilan di lapangan."

Angka itu membuat Rio hampir tersedak ludahnya. Bagi pemuda biasa, gaji sebesar itu dalam sehari saja sudah melebihi penghasilan orang biasa dalam setahun. Tapi Dika tetap tenang, wajahnya datar dan tidak terkejut sedikit pun. Baginya, angka itu hanyalah simbol, bukan tujuan.

Dika mengulurkan tangan menandatangani kontrak itu dengan tegas dan mantap. Di dalam hatinya, janjinya bergema keras: "Setiap sen yang masuk ke rekeningku nanti, separuhnya akan langsung dikonversi menjadi Bitcoin. Aku akan terus beli, beli, dan beli... sampai harganya menembus angka puluhan ribu dolar. Saat itu tiba, kekayaanku akan berlipat seribu kali lipat, dan aku akan jadi orang terkaya di dunia sepak bola."

Setelah urusan administrasi selesai, mereka dipersilakan keluar untuk melihat lingkungan baru mereka. Saat berjalan melewati lorong koridor yang ramai, banyak pemain muda lain, pelatih, dan staf yang melirik ke arah mereka. Sosok Dika yang gagah, tampan, dan berkarisma, serta Rio yang berbadan raksasa dan kokoh, langsung menjadi pusat perhatian. Mereka tahu, dua pendatang baru dari Asia ini bukanlah ancaman, melainkan badai yang baru saja masuk.

Di sela-sela waktu istirahat sejenak di pinggir lapangan hijau yang luas itu, Rio berbisik pada Dika sambil menatap langit biru cerah yang muncul di sela-sela awan.

"Dik... kita beneran di Manchester City. Di klub yang bakal jadi raksasa Eropa. Aku di sini jadi bek tengah, kamu jadi kapten dan pengatur serangan. Kita punya gaji besar, fasilitas lengkap, dan masa depan cerah. Persida sudah aman di tangan Pak Rudi, uang kita makin numpuk di aset digital... Apa lagi yang kurang?"

Dika tersenyum misterius, matanya menatap jauh ke arah stadion utama Etihad Stadium yang terlihat megah di kejauhan. Ia mengeluarkan ponselnya sebentar, membuka aplikasi YouTube. Notifikasi terus berdatangan. Jumlah pelanggan akun "Suara Hati Dika" sudah menembus angka 19 Juta. Komentar-komentar penasaran terus membanjiri kolom pesan: "Di mana kamu Dika?", "Kamu di negara mana?", "Siapa nama aslimu?", "Kenapa kamu hilang tiba-tiba tapi makin hebat suaramu?"

Dunia maya masih heboh, masih bertanya-tanya, masih mencarinya. Mereka tidak tahu, sosok yang mereka cari itu kini sedang berdiri gagah di jantung kekuatan sepak bola Inggris, memegang kontrak raksasa, membawa kekayaan triliunan, dan bersiap mengubah sejarah.

"Kurang satu hal saja, Rio..." jawab Dika pelan namun penuh tekad baja. Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku, lalu menatap sahabatnya lekat-lekat.

"Kurang satu hal saja... Mencetak sejarah. Membawa Manchester City juara, membuktikan kualitas Indonesia ke dunia, dan suatu hari nanti... mengangkat Piala Dunia itu ke langit tertinggi. Itu satu-satunya tujuan yang belum selesai. Dan mulai hari ini, kita mulai bekerja keras untuk itu."

Angin bertiup kencang menerbangkan ujung jaket latihan berwarna biru langit yang kini melekat di tubuh Dika dan Rio. Di atas dada mereka, lambang kapal layar Manchester City terpampang bangga, bersanding dengan semangat baja dua pemuda dari Sidoarjo.

Perjalanan baru saja memasuki babak yang sesungguhnya. Di sini, di tanah Inggris, di bawah bendera Manchester City, legenda baru sedang ditanam benihnya.

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!