Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
"Mama, dua paman itu kenapa rebutan barang terus sih?" tanya Gelsya saat di dalam mobil
Hari ini adalah hari libur, jadi Gelsya tudak sekolah
Ghaizka tersenyum tipis, mengusap kepala anaknya pelan. Ia tentu tidak mungkin berkata yang sebenarnya, bahwa mereka berdua sedang berlomba-lomba ingin terlihat paling baik dan mendapatkan perhatian darinya.
"Hm... mungkin mereka sedang mengadakan lomba. Siapa yang paling rajin dan paling banyak mengangkat barang, dia yang jadi pemenangnya dan dapat hadiah," jawab Ghaizka berbohong.
"Ohhh... jadi gitu ya," gumam Gelsya mengerti.
Tak lama kemudian, mobil pun berhenti di sebuah bangunan megah yang terletak sangat strategis, tepat di pinggir jalan raya utama, tempat yang sangat bagus untuk usaha.
"Kita sudah sampai Nona," kata Tuan Alger sopan sambil membukakan pintu.
Ghaizka turun bersama Gelsya. Bangunan itu memang masih terlihat kosong di dalamnya, tapi sangat luas, terang, dan terasa sangat nyaman.
Dinding-dindingnya baru saja dicat, lantainya mengkilap, dan baunya masih terasa seperti bangunan baru.
Ternyata baru di renovasi semalaman agar bisa siap huni hari ini.
"Wow... luas sekali ya Ma!" seru Gelsya takjub.
Ghaizka juga mengangguk pelan merasa puas dengan tempat aman dan bersih itu.
Tuan Alger berjalan mendekat dengan wajah bangga.
"Silakan Nona Ghaizka. Ruangan ini sudah selesai direnovasi. Untuk perabotan, karpet, dan barang-barang lainnya, truk pengirimnya sebentar lagi akan sampai di sini," kata Alger mempersilahkan.
Ghaizka menatap sekeliling ruangan yang luas itu, lalu ia menoleh ke arah Tuan Alger dengan tatapan datar.
"Terima kasih banyak atas kerja keras Anda, Tuan Alger. Tapi... tolong batalkan pengiriman barang-barang lainnya," katanya pelan.
"Hah? Maksud Nona?" Tuan Alger terlihat bingung.
"Saya tidak butuh perabotan mewah atau barang berlebihan. Yang penting atapnya ada, lantainya kuat, dan ruangannya bersih. Itu saja sudah lebih dari cukup bagi saya dan Gelsya. Saya ingin hidup sederhana, tidak perlu kemewahan yang tidak penting," jelas Ghaizka.
Mendengar jawaban itu, Tuan Alger terdiam. Ia benar-benar tidak mengerti pola pikir wanita di hadapannya ini.
Ghaizka justru menolak kemewahan yang ditawarkan padahal itu semua untuk kebaikannya sendiri.
"Ta... tapi Nona... ini semua sudah disiapkan khusus..." kata Tuan Alger terbata-bata.
"Sudah, tidak apa-apa. Kosong begini justru lebih lega dan bebas kan sayang?" tanyanya pada Gelsya.
"Iya Ma! Bisa lari-larian!" jawab anak itu ceria sambil berlari mengelilingi ruangan besar itu.
Tuan Alger hanya bisa menghela napas pelan dan mengangguk hormat.
"Baiklah... jika itu keinginan Nona, saya akan turuti. Tapi izinkan saya memastikan fasilitas dasar seperti listrik dan air sudah menyala sempurna," ucapnya pasrah.
Perjanjian waktu itu, Kakek Faris hanya memberikan bangunan sebagai bayarannya. Barang-barang itu pasti bayaran tambahan, ia tidak memerlukan itu, ia hanya menerima bayaran di awal saja, dan ia tidak ingin berhutang budi.
Ghaizka dan Gelsya sibuk membereskan barang-barang yang tadi dibawa.
Mereka menyapu lantai, membersihkan debu sisa renovasi, dan menata barang-barang sederhana mereka dengan penuh semangat.
"Asyik... rumah baru kita bersih ya Ma!" seru Gelsya sambil memegang kain lap kecil dengan wajah polosnya.
"Iya sayang, bersih itu sehat," jawab Ghaizka sambil tersenyum.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...