"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Ketika Si Berandal Mulai Patuh
****
Langkah kaki Devan terdengar begitu ringan saat kami berjalan keluar dari ruang BK. Sebaliknya, sepasang sepati yang kupakai rasanya seperti terbuat dari timah padat. Aku ditarik kembali menyusuri koridor, masih dengan tangan kiri yang digandeng erat oleh Devan. Beberapa murid kelas sepuluh yang berpapasan dengan kami buru-buru menepi, melemparkan pandangan hormat sekaligus takut pada sang Ketua OSIS.
"Kamu lihat kan, sayang? Semuanya selesai dengan rapi," bisik Devan lembut tepat di sebelah telingaku. Dia menghentikan langkah di depan mading sekolah yang sepi, lalu berbalik menatapku dengan binar mata yang dipenuhi kepuasan. "Pak Bramasta tidak akan menyalahkan kamu, dan pihak sekolah tetap menganggap aku sebagai korban yang berlapang dada. Semuanya aman, asalkan kamu tetap penurut seperti ini."
Aku hanya bisa menatap lantai koridor yang bersih, tidak sudi menatap wajahnya yang dipenuhi kemenangan terselubung. Dadaku masih berdenyut nyeri memikirkan kondisi Saka yang menghancurkan kamarnya sendiri. Aku telah menjadi racun bagi orang yang paling tulus melindungiku.
"Sekarang, masuk kelas ya. Sebentar lagi bel masuk berbunyi," kata Devan lagi, mengusap punggung tanganku singkat sebelum melepaskan genggamannya karena dia harus kembali ke ruang OSIS untuk mengurus berkas rapat. "Ingat janji kamu, Mika. Jangan coba-coba mematikan ponsel atau kabur lagi setelah jam pulang."
Aku tidak menjawab. Aku langsung berbalik dan berjalan cepat menuju kelas XII MIPA 2. Begitu sampai di mejaku yang berada di barisan paling depan, aku langsung merosot duduk. Dengan gerakan cepat dan sedikit panik, aku merogoh bagian dalam tas ranselku. Aku mengambil gelang perak pemberian Saka dari balik lengan jaket rajutku, lalu memasukkannya ke dalam dompet kecil yang tersembunyi di kompartemen paling bawah tas. Ucapan Risa benar, aku tidak boleh membiarkan Devan menemukan satu pun celah yang bisa dia gunakan untuk memeras emosiku lagi.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang monoton sekaligus menyiksa. Sejak insiden di ruang BK, Saka tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di sekolah. Satu minggu penuh, kursi di kelas IPS 3 itu tetap kosong melompong. Kabar yang beredar di antara anak-anak motor menyebutkan bahwa Saka benar-benar dikurung oleh ayahnya dan dilarang menyentuh motor sport-nya sama sekali.
Namun, ada satu perubahan besar yang membuat seluruh penghuni SMA Tunas Bangsa gempar di hari Senin minggu berikutnya.
Pagi itu, upacara bendera baru saja selesai dilaksanakan. Ketika barisan dibubarkan, sosok cowok dengan seragam yang tidak lagi berantakan berjalan memasuki gerbang sekolah. Sontak, ratusan pasang mata langsung tertuju padanya.
Itu Saka.
Namun, dia bukan lagi Saka yang ugal-ugalan. Rambut hitam acak-acakannya yang biasa berkibar bebas kini sudah dipotong pendek dan rapi sesuai standar aturan sekolah. Kemeja seragamnya dimasukkan dengan rapi ke dalam celana abu-abu, lengkap dengan sabuk hitam dan dasi yang terpasang sempurna di lehernya. Tidak ada jaket kulit hitam yang tersampir di bahu, tidak ada rokok di selipan bibir, dan tidak ada lagi tatapan menantang yang biasa dia layangkan pada guru-guru piket.
Saka berjalan dengan pandangan lurus ke depan, mengabaikan bisikan-bisikan heboh dari murid-murid perempuan yang terpesona sekaligus ngeri melihat perubahannya yang drastis. Dia tampak seperti robot bernyawa yang kehilangan jiwanya. Si berandal ugal-ugalan itu... mendadak mulai patuh pada aturan sekolah.
Aku berdiri kaku di pinggir lapangan upacara, mencengkeram rok seragamku kuat-kuat. Jantungku berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dada. Perubahan Saka tidak membuatku lega, melainkan membuatku semakin ketakutan. Aku tahu betul, kepatuhan mendadak dari seorang Saka Aditya bukanlah tanda bahwa dia telah bertobat, melainkan tanda bahwa dia sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya di balik ketenangannya.
"Wah, keajaiban dunia kedelapan nih," bisik Risa yang mendadak sudah berdiri di sebelahku, menatap sosok Saka yang berjalan menjauh menuju gedung belakang. "Mik, lo lihat itu? Saka potong rambut dan pakai seragam rapi? Gue berani taruhan, ini pasti karena ancaman bokapnya atau... dia sengaja melakukan ini buat membalas Devan dengan cara yang legal."
Sebelum aku sempat membalas ucapan Risa, sebuah tangan dingin kembali melingkar di pinggangku dari arah belakang. Aroma parfum maskulin yang sangat familiar langsung menusuk indra penciumanku.
"Perubahan yang bagus untuk seorang berandal," suara Devan mengalun tenang di sebelahku. Dia menatap punggung Saka yang mulai menghilang di belokan koridor IPS dengan senyuman meremehkan. "Ternyata gertakan Pak Bramasta dan draf pemecatan kemarin cukup efektif untuk menjinakkan binatang seperti dia. Sekarang, dia gak punya alasan lagi buat sok jagoan di depan kamu, Mik."
Aku menyentak pelan tubuhku agar terlepas dari rangkulan Devan, menatapnya dengan pandangan penuh amarah yang tertahan. "Lo senang sekarang, Dev? Lo udah berhasil menghancurkan karakter dia! Lo udah bikin dia kehilangan dirinya sendiri!"
Devan tidak marah mendengar bentakanku. Dia justru merapikan kerah kemejaku yang sedikit terlipat dengan gerakan yang sangat lembut namun terasa mengintimidasi. "Aku gak menghancurkan dia, Mikaela. Aku cuma mendidik dia agar tahu cara hidup di dunia orang-orang beradab. Dan yang paling penting... aku melakukan ini semua agar kamu tahu, siapa yang punya kendali penuh di sini."
Devan memberikan senyuman manisnya yang paling manipulatif, lalu menunjuk ke arah koridor kelas kami. "Yuk, masuk kelas. Hari ini ada kuis matematika, dan aku udah siapkan ringkasan materi buat kamu pelajari di meja."
Aku melangkah mendahului Devan dengan hati yang diselimuti kabut tebal. Saat berjalan melewati koridor penghubung gedung IPA dan IPS, aku tidak sengaja melihat sosok Saka sedang berdiri di depan kelasnya, menatap ke arahku dari kejauhan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, mata elang Saka tidak lagi memancarkan binar perlindungan yang hangat saat menatapku. Tatapan matanya kini terasa begitu kosong, dingin, dan sarat akan luka dikhianati yang teramat dalam. Dia menatapku seolah-olah aku adalah orang asing yang paling dia benci di dunia ini, sebelum akhirnya berbalik masuk ke dalam kelasnya dan menutup pintu rapat-rapat.
Detik itu juga, aku menyadari bahwa kepatuhan mendadak Saka adalah awal dari perang dingin yang sesungguhnya. Si berandal telah menurunkan egonya untuk mematuhi aturan, bukan karena dia menyerah, melainkan karena dia sedang bersiap untuk meruntuhkan sangkar emas Devan dari dalam sistem yang sama. Dan aku... tetap menjadi hadiah berdarah yang diperebutkan di tengah medan perang mereka.
### **Pesan Penulis (Author's Note)**
> **Oh my god, perubahan Saka bener-bener plot twist banget!** Siapa yang menyangka kalau si *bad boy* ugal-ugalan yang hobi melanggar aturan mendadak berubah jadi murid teladan yang super rapi? Tapi seperti yang Mika takutkan, ketenangan Saka ini justru terasa seperti ketenangan sebelum badai besar datang menerjang.
> Devan mungkin merasa dia sudah menang karena berhasil 'menjinakkan' Saka dan mengunci Mika di sampingnya. Tapi dia gak tahu kalau Saka yang mulai patuh pada aturan justru bakal jadi musuh yang jauh lebih sulit dihadapi karena gerakannya gak bisa lagi dipatahkan lewat jalur hukum sekolah!
> Kira-kira rencana apa ya yang sedang disusun Saka di balik penampilan barunya yang rapi itu? Dan gimana nasib Mika yang makin tertekan berada di antara dua cowok posesif ini?
> Jangan lupa ya buat para pembaca setia **@ujang_Bonang**, ! Yuk, langsung klik tombol **Like**, kasih **Vote** yang banyak, dan tulis di kolom **Komentar**: Kalian lebih suka Saka versi *bad boy* ugal-ugalan atau versi rapi tapi dingin kayak gini? Dukung terus novel **RED FLAG** ya! Sampai jumpa di Bab 11 besok! *Keep reading and stay alert!*
>