.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kereta Kuda Mewah dan Tuan Muda yang Kena Mental
Ji Huang benar-benar memegang teguh prinsip hidupnya: di mana ada kesempatan untuk menikmati fasilitas kelas satu secara gratis, di situlah dia akan merebahkan diri.
Tanpa memedulikan statusnya yang secara teknis adalah seorang tahanan politik, Ji Huang melangkah santai menuju barisan kendaraan di luar aula. Matanya langsung tertuju pada kereta kuda terbesar dan paling megah di barisan terdepan—kereta pribadi milik Huang Fu yang ditarik oleh dua ekor Kuda Kuku Api tingkat spiritual.
Sret.
Tanpa permisi, Ji Huang menyingkap tirai sutra kereta, melangkah masuk, dan langsung menguasai barisan bantal sutra empuk yang tertata rapi di dalamnya. Dia menyingkirkan nampan perak berisi buah anggur segar ke sudut, lalu merebahkan tubuh compang-campingnya di atas kasur kecil berlapis kain beludru impor.
Di luar kereta, suasana pelepasan berlangsung sangat kontras. Ji Tian melambai-lambaikan sapu tangan dapurnya yang penuh noda minyak sambil menangis bombay secara dramatis. "Huang-er! Anakku! Ingat pesan Ayah, kalau kasur mereka keras, kamu harus mogok makan!" sementara Ji Lan berdiri di sampingnya dengan tangan dilipat, menatap tirai kereta dengan wajah jutek maksimal walau sepasang mata jernihnya tampak agak berkaca-kaca.
Ji Huang hanya menyingkap tirai sedikit, melambaikan tangan kanan dengan malas tanpa filter. "Ayah, Sepupu, aku berangkat dulu. Jangan lupa belikan kasur baru untuk kamarku sebelum aku pulang," ucapnya polos, lalu menutup kembali tirai untuk melanjutkan ritual tidur siangnya.
Huang Fu yang baru masuk ke dalam kereta beberapa saat kemudian seketika melongo. Wajah tampannya berkedut hebat mendapati "tawanannya" sudah mendengkur halus di atas bantal sutra kesayangannya. Namun, seulas seringai kejam segera terukir di bibir sang tuan muda pusat kota. Dia duduk di kursi seberang, berhadapan dengan pengawal paruh baya berbaju abu-abu.
"Kusir!" Huang Fu berteriak ke luar jendela dengan nada licik. "Lewati Jalur Lembah Batu Hitam! Jalankan kereta dengan kecepatan penuh! Aku ingin kita sampai di Kota Utama secepat mungkin!"
Jalur Lembah Batu Hitam adalah jalanan tua yang terkenal rusak parah, dipenuhi bebatuan tajam dan lubang-lubang dalam. Huang Fu sengaja memilih jalur ini dengan niat keji: dia ingin guncangan ekstrem dari kereta spiritual ini membuat Ji Huang—yang dia yakini tidak memiliki fondasi kultivasi yang kuat—muntah-muntah, terbentur dinding kereta, atau setidaknya menangis memohon ampun sepanjang perjalanan.
GRAAAKKK! BAM! BAM!
Kereta kuda spiritual itu melesat bagai anak panah, menghantam medan berbatus dengan brutal. Guncangan yang dihasilkan sangat luar biasa ekstrem. Meja kayu di dalam kereta bergetar hebat, dan air teh di dalam cangkir giok milik Huang Fu sampai tumpah seluruhnya, membasahi jubah sutra putihnya. Huang Fu sendiri harus mencengkeram pegangan kursi dengan kuat agar tubuhnya tidak terlempar.
Dengan seringai penuh kemenangan, Huang Fu menoleh ke arah Ji Huang, bersiap menikmati pemandangan tersiksanya si pemalas.
Namun, pemandangan di depannya justru membuat kewarasan Huang Fu mendadak diuji.
Di atas tumpukan bantal sutra yang bergoyang liar, tubuh Ji Huang sama sekali tidak terbentur dinding. Ajaibnya, tubuh pemuda itu tampak mengambang dengan stabil sekitar beberapa milimeter di atas permukaan beludru. Secara tidak sadar dalam tidurnya, jiwa kuno sang Dewa Pedang melepaskan kontrol Niat Pedang Tak Terlihat yang sangat halus, membentuk bantalan energi spiritual yang menetralisir seluruh guncangan mekanis dari luar.
Ji Huang perlahan membuka matanya, meregangkan kedua tangannya ke atas sambil menguap lebar. Dia menatap Huang Fu yang jubahnya basah kuyup dengan pandangan polos tanpa dosa.
"Wah, luar biasa sekali, Orang Sok Keren," ucap Ji Huang jujur tanpa filter, wajahnya tampak sangat segar. "Fasilitas pijat getaran dari kereta mudamu ini benar-benar nomor satu. Punggungku yang tadinya agak pegal karena kasur keras di rumah langsung terasa mendingan sekarang. Tolong suruh kusirmu lewat jalan yang lebih rusak dan berlubang lagi ya, biar getaran pijatannya lebih terasa mantap."
Uhuk!
Huang Fu seketika tersedak udaranya sendiri. Wajahnya berubah dari merah menjadi biru, lalu hitam menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya. Niat menyiksa justru berbuah pujian atas fasilitas "pijat gratis"!
Melihat tuan mudanya dipermainkan hingga hampir gila secara mental, pengawal paruh baya berbaju abu-abu yang duduk di sudut akhirnya tidak bisa tinggal diam. Sebagai seorang master Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-7, dia merasa harga dirinya ikut diinjak-injak oleh bocah klan cabang ini.
Mata sang pengawal menyipit setajam elang. Tanpa membuat gerakan fisik, dia diam-diam mengumpulkan seluruh energi spiritualnya dan melepaskan Aura Tekanan Mental (Soul Pressure) tingkat tinggi secara terfokus, langsung menghujam ke arah kesadaran Ji Huang. Dia berniat membuat mental Ji Huang runtuh hingga berlutut ketakutan di dalam kereta.
Udara di dalam ruang kereta mendadak terasa sangat berat dan dingin, membuat Huang Fu bahkan harus menahan napas karena ikut merinding.
Ji Huang yang baru saja hendak mengambil sebutir buah anggur dari meja seketika menghentikan tangannya. Alisnya sedikit bertaut. Sifat malasnya merasa sangat terganggu karena ada energi asing yang mencoba merusak kenyamanan atmosfer tidurnya.
Ji Huang perlahan mengalihkan pandangan matanya yang lempeng, menatap lurus ke arah sepasang mata sang pengawal baju abu-abu.
Di detik kulit mata mereka saling mengunci, Ji Huang tidak membalas dengan energi Qi, melainkan melepaskan sepercik kecil—tidak lebih dari sepersejuta bagian—dari Niat Pedang Dewa murni yang bersemayam di lubuk jiwanya yang agung.
WUSH!
Bagi Huang Fu, tidak ada yang terjadi. Namun bagi sang pengawal Lapis ke-7, dunianya seketika kiamat.
Dalam visi mental sang pengawal, ruang kereta kuda mewah itu mendadak lenyap berkeping-keping. Dia menemukan dirinya sedang berlutut di atas lautan darah yang tak berujung. Di langit yang kelam, bertumpuk jutaan pedang raksasa kuno yang memancarkan aura kehancuran mutlak, semuanya mengarah tepat ke ubun-ubun kepalanya. Dan di atas tahta pedang itu, sesosok bayangan dewa dengan mata sedingin es sedang menatapnya bagai melihat sebutir debu insignifikan.
"Ugh...!"
Sang pengawal paruh baya memekik tertahan. Wajahnya seketika berubah menjadi seputih kertas, keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras membasahi seluruh punggungnya. Tubuhnya gemetar hebat seperti daun yang tertiup angin topan, dan setetes darah segar perlahan merembes keluar dari sudut bibirnya akibat serangan balik mental yang menghancurkan pertahanan jiwanya.
Dengan panik dan ketakutan yang teramat sangat, sang pengawal langsung menarik kembali seluruh auranya, menundukkan kepalanya dalam-dalam ke lantai kereta, tidak berani lagi menatap mata Ji Huang bahkan untuk sedetik pun. Dia tahu, bocah di depannya ini bukan manusia, melainkan monster sejati yang menyamar!
Ji Huang kembali mengambil buah anggurnya, memasukkannya ke mulut dengan polos. "Buah anggurnya agak asam. Lain kali tolong sediakan yang lebih manis," gumamnya malas, lalu kembali memejamkan mata untuk melanjutkan tidur seolah tidak terjadi apa-apa.
Huang Fu yang tidak tahu apa-apa mendadak kebingungan melihat pengawal andalannya tiba-tiba batuk darah dan gemetar ketakutan. "Paman Lin? Ada apa denganmu? Kenapa kamu terluka?" bisik Huang Fu panik. Namun sang pengawal hanya menggelengkan kepala dengan tubuh yang masih menggigil, bungkam seribu bahasa.
Beberapa jam kemudian, guncangan kereta akhirnya mereda. Suara derap kuku kuda spiritual melambat hingga akhirnya berhenti total.
"Tuan Muda, kita telah tiba di Gerbang Utama Kota Pusat," suara kusir terdengar dari luar.
Ji Huang membuka matanya, menyibak tirai jendela kereta. Di depan matanya, berdiri sebuah tembok benteng raksasa setinggi tiga puluh meter yang terbuat dari batu granit putih, dijaga oleh puluhan prajurit berbaju zirah lengkap. Di balik gerbang, tampak pemandangan Kota Utama yang luar biasa megah, dipenuhi bangunan bertingkat, jalanan luas yang ramai, dan fluktuasi energi spiritual yang jauh lebih kaya daripada di Kota Amerta.
Huang Fu, yang sepanjang sisa perjalanan merasa atmosfer di dalam keretanya berubah menjadi sangat mencekam, buru-buru membuka pintu kereta dan melompat turun untuk mencari udara segar. Mengingat mereka sudah berada di wilayah kekuasaannya, keberaniannya kembali bangkit.
"Turun, sampah lancang!" Huang Fu berteriak sombong dari luar kereta, mencoba memulihkan wibawanya yang runtuh, meskipun tangannya masih sedikit gemetar. "Kita sudah sampai di Kota Utama! Cepat turun dan bersiaplah menerima pengadilan dari Aula Penegak Hukum Pusat!"
Ji Huang perlahan melangkah turun dari kereta kuda mewah itu. Kaki fanya yang hanya beralaskan sepasang sandal rumah kayu yang longgar kembali menginjak tanah, memicu suara pletag-pletog yang berisik di depan gerbang kota yang megah.
Dia menghirup udara kota baru itu dalam-dalam, merasakan kelimpahan energi spiritual alam yang meresap ke dalam tubuhnya, lalu menatap Huang Fu dengan pandangan lempengnya yang khas tanpa dosa.
"Kotanya lumayan besar, udaranya juga agak sejuk," ucap Ji Huang polos dengan nada malas yang konsisten. "Semoga saja fasilitas penginapan di Aula Penegak Hukum kalian tidak mengecewakan punggung pemalasku ini. Ayo, Orang Sok Keren, cepat tunjukkan jalannya. Aku sudah tidak sabar untuk menumpang tidur siang di kursi empuk mereka."
Huang Fu melongo, sementara sang pengawal berbaju abu-abu di belakangnya hanya bisa menelan ludah dengan ngeri, sadar bahwa mereka baru saja menuntun seekor harimau purba masuk ke dalam kandang domba Keluarga Utama.