Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Delapan Sapi
Daniel duduk di kursi tunggu di luar ruang ICU, sikunya bertumpu di lutut, tangannya terlipat di depan mulut. Jasnya sudah diganti. Yang ini abu-abu muda, lebih kasual dari biasanya, tapi masih dengan potongan yang sama mahalnya.
Di bawah matanya, lingkaran hitam mulai terbentuk. Sudah dua puluh jam sejak ia menggendong Saskia masuk ke rumah sakit ini. Dua puluh jam tanpa tidur. Dua puluh jam tanpa kopi. Dua puluh jam tanpa apapun kecuali suara monitor jantung yang terus berdetak di kepalanya.
Pintu ICU terbuka. Seorang dokter perempuan keluar dengan clipboard di tangan. Wajahnya serius.
"Pak Hardjono?"
Daniel berdiri. Terlalu cepat. Kepalanya pusing sebentar, tapi ia mengabaikannya. "Bagaimana?"
"Saya Dokter Maya, dokter jaga ICU. Kondisi Mbak Saskia kritis tapi stabil untuk sekarang. Kami sudah melakukan transfusi darah. Volume darahnya turun empat puluh persen. Itu sangat banyak. Kalau terlambat satu jam lagi, dia mungkin tidak selamat."
Empat puluh persen. Daniel menelan ludah. "Penyebabnya?"
"Kami masih mencari tahu. Tapi yang jelas, ini bukan pendarahan eksternal biasa. Hasil lab menunjukkan kadar hemoglobin sangat rendah, trombosit turun drastis, dan ada indikasi gagal ginjal akut. Sepertinya ada sesuatu yang menguras darahnya dari dalam."
"Racun?"
"Bukan racun yang kami kenali. Tidak ada jejak sianida di darahnya, meskipun di kandang ditemukan sapi yang mati karena sianida. Ini berbeda. Ini seperti..." Dokter Maya berhenti, mencari kata-kata. "...seperti sumsum tulangnya berhenti memproduksi darah untuk sementara waktu. Kami belum pernah melihat kasus seperti ini."
Daniel mengepalkan tangannya. Ia tahu ini bukan racun. Ia tahu ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang dilakukan Saskia pada dirinya sendiri. Sesuatu yang menyelamatkan delapan sapinya tapi hampir membunuhnya.
"Ginjalnya?"
"Gagal ginjal akut. Kami sudah mulai dialisis. Ini sementara, kami harap. Tapi butuh waktu untuk tahu apakah ada kerusakan permanen."
"Otaknya?"
Dokter Maya ragu. "Terlalu dini untuk memastikan. Tapi dari hasil CT scan, tidak ada pendarahan otak. Itu kabar baik. Yang kami khawatirkan adalah berapa lama otaknya kekurangan oksigen sebelum dia sampai di sini."
Daniel mengangguk. Rahangnya mengatup. "Apa yang saya bisa lakukan?"
"Untuk sekarang, tunggu. Kami akan terus memantaunya dua puluh empat jam. Kalau ada perubahan, kami akan segera hubungi."
Dokter Maya masuk kembali ke ICU. Daniel berdiri sendirian di koridor rumah sakit. Dinding putih. Lampu neon. Bau antiseptik yang menusuk hidung. Persis seperti koridor rumah sakit lima belas tahun lalu, ketika ia berdiri di tempat yang sama, menunggu ibunya keluar dari ruang operasi. Ibunya tidak pernah keluar.
Daniel mengeluarkan ponselnya. Bukan untuk menelpon. Untuk bekerja.
"Budi. Laporan."
"Pak, saya masih di Malang. Tim keamanan sudah memeriksa TKP. Sumur belakang positif sianida. Dosis tinggi. Cukup untuk membunuh dua puluh ekor sapi."
"Pelakunya?"
"Belum ada bukti forensik. Tapi ada jejak kaki di sekitar sumur. Dua pasang. Satu sepatu boot ukuran empat puluh dua. Satunya sandal jepit ukuran tiga puluh delapan."
"Sepatu boot. Preman. Sandal jepit..." Daniel berhenti. "Paman Harto?"
"Kemungkinan besar, Pak. Tapi ada yang lebih penting." Suara Budi berubah. Lebih pelan. Lebih hati-hati. "Reza Maulana. Staf logistik yang Mbak Saskia foto itu. Saya sudah mulai menggali datanya."
"Hasilnya?"
"Dia masuk tiga bulan lalu. Divisi procurement. Yang interview dia adalah Pak Hermawan, kepala procurement. Yang tanda tangan kontraknya... Pak Daniel sendiri."
Daniel berhenti. "Saya?"
"Tanda tangan Bapak ada di form persetujuan akhir. Tapi itu tanda tangan rutin. Semua karyawan baru tingkat staf harus dapat persetujuan direktur. Bapak mungkin tidak ingat karena ada puluhan form seperti itu setiap bulan."
"Apa lagi?"
"Riwayat pekerjaannya. Sebelum Hardjono, Reza bekerja di perusahaan logistik kecil di Sidoarjo. Tapi itu cuma satu tahun. Sebelumnya..." Budi berhenti.
"Sebelumnya apa?"
"Saya kirim datanya ke email Bapak. Lebih baik Bapak lihat sendiri."
Daniel membuka emailnya. File PDF dari Budi. Ia membukanya. Matanya bergerak cepat membaca.
Reza Maulana. Umur tiga puluh dua tahun. Lulusan teknik industri Universitas Brawijaya. Pengalaman kerja: PT Agro Nusantara, tiga tahun, divisi logistik dan distribusi.
PT Agro Nusantara.
Pesaing. Perusahaan nomor lima. Yang mulai agresif belakangan ini. Yang merekrut mantan-mantan staf Hardjono. Yang selalu memotong harga penawaran mereka dengan selisih tipis.
"Budi. Reza sebelumnya kerja di Agro Nusantara."
"Saya tahu, Pak. Itu yang saya mau bilang."
"Kenapa ini tidak ketahuan waktu proses rekrutmen?"
"Karena di CV-nya dia tidak mencantumkan Agro Nusantara. Dia bilang dia kerja di perusahaan logistik kecil. Tapi setelah saya gali lebih dalam, perusahaan logistik itu ternyata anak perusahaan Agro Nusantara. Dia sengaja menyembunyikannya."
Daniel mengepalkan tangannya di sekitar ponsel. Layar kaca di depan matanya memantulkan wajahnya sendiri. Marah. Bukan marah seperti biasanya. Bukan marah dingin yang ia pakai untuk menakuti lawan bisnisnya. Ini marah yang berbeda. Marah yang panas. Marah yang membuat pembuluh darah di pelipisnya berdenyut.
"Dan orang ini punya akses ke kandang?"
"Dia staf logistik, Pak. Dia yang mengatur pengiriman pakan, vitamin, suplemen. Dia bisa keluar masuk kandang kapan saja tanpa dicurigai."
Daniel menutup matanya. Semua potongan puzzle mulai jatuh ke tempatnya. Reza di Agro Nusantara. Reza menyusup ke Hardjono. Reza mengirim laporan ke kontak misterius. Reza memata-matai kandang Saskia. Reza yang...
"Reza yang menyebar gosip pesugihan," bisik Daniel. "Bukan Bibi Laras. Bukan Paman Harto. Mereka cuma alat. Yang mengatur semuanya adalah Reza. Atau orang di belakang Reza."
"Pak, kita perlu bertindak sekarang. Reza masih di kantor. Dia tidak tahu kita sudah curiga."
"Jangan sentuh dia dulu."
"Apa?"
"Biarkan dia tetap di posisinya. Jangan ada yang berubah. Aku mau tahu siapa dalang di belakangnya. Agro Nusantara tidak mungkin berani menyusup sejauh ini tanpa ada yang membantu dari dalam."
"Maksud Bapak... ada orang dalam yang lebih tinggi dari Reza?"
"Pasti ada. Reza cuma staf logistik. Dia tidak bisa merekrut dirinya sendiri. Dia tidak bisa menyembunyikan riwayat pekerjaannya tanpa bantuan seseorang di HRD atau di level manajer. Cari tahu siapa yang bantu dia masuk. Siapa yang edit CV-nya. Siapa yang bersihkan jejaknya."
"Baik, Pak. Tapi ini butuh waktu. Dan... Pak?"
"Apa?"
"Mbak Saskia. Bagaimana keadaannya?"
Daniel menatap pintu ICU di depannya. Dua puluh jam. Monitor jantung masih berbunyi. Dokter masih belum keluar lagi.
"Kritis. Gagal ginjal akut. Kehilangan darah empat puluh persen."
"Astaga..."
"Dia selamatkan delapan sapi, Budi. Delapan. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Tapi dia selamatkan delapan sapi itu sendirian. Dan sekarang dia di dalam sana, berjuang sendiri lagi."
Keheningan di ujung telepon. Lalu suara Budi, pelan: "Pak Daniel, Bapak... Bapak baik-baik saja?"
"Ini bukan tentang saya."
"Saya tahu. Tapi aku belum pernah lihat Bapak seperti ini."
Daniel tidak menjawab. Ia menutup telepon.