NovelToon NovelToon
Jejak Darah Yang Menghilang

Jejak Darah Yang Menghilang

Status: tamat
Genre:Horor / Fantasi / Anime / Tamat
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NERAKA KETIADAAN

Cahaya kecil yang menyala di dada mereka ternyata hanya memicu kemarahan Nihil menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Bayangan itu tidak lagi berbentuk kabut atau udara kosong — ia MELUMEI, MELELEH, DAN BERUBAH MENJADI SEGUNUNGAN DAGING BASAH, TULANG RUNCING, DARAH YANG MENGALIR HITAM DAN BUSUK.

Seluruh ruangan seketika berubah menjadi tempat yang bikin mual dan pingsan. Dinding-dindingnya bukan lagi batu atau emas, melainkan LAPISAN KULIT MANUSIA DAN MAKHLUK HIDUP YANG DIKUPAS UTUH, masih basah, urat-uratnya masih berdenyut pelan, mata-mata yang terpotong menempel di sana menatap mereka dengan tatapan kosong dan penuh siksaan. Lantainya terbuat dari TULANG BELAKANG DAN TENGKORAK YANG DITUMPUK RAPI, setiap langkah membuat suara krek-krek yang tajam dan mengerikan, dan celah-celahnya mengeluarkan cairan merah kental yang berbau amis busuk.

“Kalian mau tahu apa itu ADA? Apa itu BERARTI?” suara Nihil sekarang terdengar dari ribuan mulut yang terbuka di seluruh permukaan tubuhnya — mulut yang terbelah sampai ke telinga, giginya tajam bergerigi, bibirnya berdarah dan sobek-sobek. “AKU AKAN BUAT KALIAN MERASAKANNYA SAMPAI KE TULANG SUM-SUM — SAMPAI KALIAN MENJERIT HINGGA PANGGUNG SUARA HANCUR, SAMPAI KULIT KALIAN KUPAS PERLAHAN, SAMPAI DARAH KALIAN MENGERING DAN JADI DEBU HITAM!”

Seketika itu, tangan panjang yang terbuat dari tulang dan urat berdarah menjulur dari segala arah, menangkap mereka berenam satu per satu dengan cengkeraman yang begitu kuat sampai TULANG MEREKA LANGSUNG PATAH DAN REMUK.

Zahara berteriak kesakitan saat jari-jari tajam itu menusuk masuk ke dalam dadanya, mencengkeram jantungnya yang masih berdetak kencang. Apinya yang dulu membakar segalanya sekarang LANGSUNG PADAM DAN BERUBAH MENJADI ASAP BERACUN YANG MEMBAKAR PARU-PARUNYA SENDIRI. Darah merah keemasannya mengalir keluar, tapi tidak jatuh ke tanah — ia DIHISAP OLEH DINDING KULIT DI SEKITARNYA, yang makin menggelembung dan berdenyut seolah sedang meminumnya dengan lahap.

“RASAKAN… RASAKAN SETIAP TETES DARAHMU YANG HILANG…” bisik Nihil tepat di telinganya, ribuan lidah basah dan berlendir menjilat wajah dan lehernya yang penuh luka. “Setiap tetesnya adalah bagian dari hidupmu, bagian dari kenanganmu, bagian dari dirimu… dan AKU YANG AKAN MEMILIKINYA SEMUA.”

Elara berusaha melepaskan diri dengan es terkuatnya, tapi es itu sekarang BERUBAH MENJADI PISAU-PISAU TAJAM YANG MEMOTONG DAGINGNYA SENDIRI. Kulit putihnya yang halus kini TERKUPAS PERLAHAN DARI UJUNG KAKI SAMPAI LEHER, menampakkan lapisan otot merah muda yang basah dan berdenyut, urat-urat biru yang terlihat jelas, dan tulang putih yang perlahan berubah jadi hitam dan busuk. Ia menjerit sampai matanya melotot keluar, air matanya bercampur darah yang mengalir deras dari mulut dan hidungnya.

“TOLONG… SAKIT SEKALI… KULITKU… DAGINGKU…” suaranya pecah, tubuhnya gemetar hebat saat sepotong daging pahanya ditarik keluar utuh, digantung di dinding bersama ratusan potongan tubuh lain yang masih hidup dan menjerit pelan.

Raka yang dulu secepat kilat sekarang TUBUHNYA DITUSUKI RATUSAN PAKU BESI YANG BERKARAT, setiap paku menembus dari depan ke belakang, keluar dari kulit punggungnya yang sobek dan berdarah. Matanya melotot menatap ke depan, tapi pandangannya kabur karena OTAKNYA PERLAHAN DIKELUARKAN MELALUI LUBANG HIDUNG, ditarik pelan-pelan sambil masih terhubung dengan saraf-sarafnya yang sakit luar biasa.

Lira yang dulu penuh rasa dan kasih sayang sekarang MULUTNYA DIJAHIT RAPI DENGAN BENANG DURI, matanya dicungkil dan diganti dengan bola mata makhluk mati yang kosong dan putih. Tangan dan kakinya diikat dengan urat-uratnya sendiri, digantung terbalik di udara, dan setiap kali ia bergerak sedikit saja, DAGINGNYA AKAN SOBEK LEBIH LEBAR, DARAHNYA MENGALIR MAKIN DERAS, dan suara tangisnya yang teredam terdengar menyayat hati di antara ribuan jeritan lain.

Sang Pembeda merasakan hal yang paling mengerikan: IA BISA MELIHAT SEGALA SESUATU — SEMUA LUKA, SEMUA SIKSAAN, SEMUA KEMATIAN — TAPI TIDAK BISA BERGERAK, TIDAK BISA BERTERIAK, TIDAK BISA MATI. Matanya tetap terbuka lebar, tidak pernah berkedip, meskipun DARAH MENGALIR MASUK KE DALAM MATA DAN MEMBASAHI SELURUH WAJAHNYA. Ia melihat bagaimana teman-temannya disiksa perlahan, bagaimana daging mereka dipotong, darah mereka diminum, tulang mereka dijadikan perhiasan — dan ia harus melihatnya terus menerus, selamanya, tanpa pernah bisa menutup mata atau lupa sedikit pun.

Damian yang dulu Raja Kegelapan sekarang TUBUHNYA DIBUKA DARI DADA SAMPAI PERUT, organ-organ dalamnya terlihat jelas, masih bergerak dan berdenyut, digantung keluar di depan badannya. Kegelapannya yang dulu memeluk dan melindungi sekarang BERUBAH MENJADI ULAT-ULAT HITAM YANG MEMAKAN DAGINGNYA SENDIRI, masuk ke dalam lubang hidung, mulut, telinga, dan setiap luka yang ada di tubuhnya, memakan daging dan darahnya dari dalam ke luar.

“INI BARU NAMANYA NYATA…” teriak Nihil, tubuh gunungan daging dan darah itu berguncang hebat, meneteskan cairan hitam yang berbau busuk dan membakar apa saja yang disentuhnya. “Semua rasa indah, semua kenangan manis, semua cinta dan kebahagiaan — ITU SEMUA BOHONG! YANG BENAR-BENAR ADA ADALAH DARAH, SAKIT, SIKSAAN, DAN KEMATIAN! DAN AKU ADALAH RAJA DI ATAS SEMUA KEKERIAN INI!”

Ia menjulurkan tangan besarnya yang terbuat dari ribuan tangan kecil yang berdarah, mencengkeram kepala Zahara yang sekarang penuh luka dan darah, rambutnya yang indah sudah rontok semua, kulit wajahnya sobek-sobek menampakkan tulang tengkorak yang putih dan berdarah.

“Kamu yang paling kuat, kamu yang paling penuh hidup…” bisiknya, ribuan gigi tajam di telapak tangannya menggerogoti kulit kepala Zahara perlahan. “Jadi kamu akan jadi yang terakhir mati. Aku akan kupas kulitmu utuh, aku akan simpan matamu yang menyala ini sebagai hiasan di tubuhku, aku akan minum semua darah panasmu sampai tetes terakhir… dan saat kamu akhirnya mati, aku akan pastikan kamu TETAP MERASA SEMUA SAKIT INI — SELAMANYA, TANPA AKHIR.”

Zahara mau menjawab, mau berteriak, mau melawan… tapi mulutnya sudah penuh darah dan potongan dagingnya sendiri, lidahnya sudah dipotong pendek, suaranya cuma terdengar seperti desah berdarah yang lemah. Ia melihat Elara yang tubuhnya tinggal kerangka yang masih berdenyut, melihat Raka yang matanya sudah melotot keluar dan tergantung di pipinya, melihat Lira yang tubuhnya tinggal sepotong kecil yang masih bergerak pelan, melihat Sang Pembeda yang matanya masih terbuka lebar penuh air mata darah, melihat Damian yang organ dalamnya hampir habis dimakan ulat hitam.

Darah mereka mengalir makin deras, memenuhi seluruh ruangan, membuat lantai tulang itu makin licin dan amis. Dinding-dinding kulit itu makin menggelembung, makin banyak mata dan mulut yang terbuka, semua menjerit dan meminta tolong dengan suara yang sama persis dengan suara mereka berenam.

“SEKARANG KALIAN ADALAH BAGIAN DARIKU…” teriak Nihil, seluruh tubuh gunungan daging itu membuka ribuan lubang besar, menampakkan di dalamnya LAUTAN DARAH YANG MENGGUNCANG, tempat di mana milyaran makhluk yang pernah hidup tersiksa selamanya, tubuh mereka dipotong-potong, disusun ulang, dimakan hidup-hidup berulang kali tanpa pernah bisa mati. “Kalian tidak akan pernah hilang… kalian akan SELALU ADA DI SINI — MERASA SAKIT, MERASA PERIH, MERASA DARAH KALIAN DIAMBIL TERUS-MENERUS… SELAMANYA!”

Tiba-tiba, Zahara merasakan sesuatu yang lebih mengerikan dari semua siksaan itu: IA MULAI LUPA NAMANYA SENDIRI.

Lupa siapa dirinya, lupa siapa teman-temannya, lupa apa itu api, apa itu cinta, apa itu hidup… yang tersisa hanya RASA SAKIT YANG TAK BERHINGGA, RASA PERIH DI SETIAP BAGIAN TUBUHNYA, DAN RASA TAKUT YANG MEMBAKAR SELURUH JIWANYA.

Dan Nihil tertawa — tertawa yang terdengar seperti ribuan tengkorak yang beradu, ribuan mulut yang berdarah, ribuan jeritan yang bikin gila.

“SEMPURNA… AKHIRNYA SEMPURNA…”

1
Awan
mantap
Awan
wow
Awan
bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!