"Di puncak tertinggi multisemesta, aku adalah hukum. Namun di dunia ini, kalian memperlakukanku seperti sampah?"
Shen Long telah mencapai segalanya. Sebagai penguasa mutlak multisemesta, tidak ada lagi puncak yang bisa ia daki, tidak ada lagi musuh yang bisa menantangnya. Di tengah kebosanan abadi yang menjemukan, ia memutuskan untuk melakukan tindakan gila: membuang takhta keabadian dan melompat ke dalam siklus reinkarnasi.
Namun, takdir seolah sedang bercanda.
Ia terbangun di tubuh seorang tentara muda berwajah pucat dengan nama yang sama, Shen Long. Bukannya mewarisi kejayaan, tubuh barunya ini justru sedang sekarat di sudut kamp pelatihan militer, babak belur akibat perundungan kejam dari para seniornya.
Saat ingatan sang Penguasa Multisemesta bangkit, roda takdir berputar balik. Dari seorang prajurit yang ditindas, Shen Long siap merangkak naik, menghancurkan konspirasi, dan menunjukkan pada dunia apa artinya kemurkaan seorang Dewa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Bab 6: Kehancuran Sang Jenius dan Badai Baru yang Mengintai
Asap putih yang berasal dari bubuk marmer hancur perlahan-lahan mengendap di udara Aula Emas Hotel Fenghuang Tian, menyingkapkan pemandangan yang akan selamanya terukir di dalam benak setiap orang yang hadir malam itu. Di balik reruntuhan panggung kayu jati yang hancur berantakan, tubuh Tetua Han Rong tergeletak kaku di dalam cekungan dinding beton yang retak. Lengan kanannya telah lenyap, berubah menjadi serpihan daging yang menodai marmer putih di sekitarnya. Wajah tuanya tidak lagi berbentuk, dan keheningan mati yang memancar dari jasadnya menegaskan satu hal yang mutlak: seorang kultivator tingkat keenam ranah Pengumpulan Qi, sesepuh yang sangat dihormati dari Keluarga Han, telah tewas seketika hanya karena satu tamparan kasat mata dari seorang pemuda.
Shen Long berdiri di tengah-tengah kehancuran tersebut dengan kedua tangan kembali dimasukkan ke dalam saku jubah militernya. Pakaian militernya yang sederhana sama sekali tidak bernoda, bahkan setitik debu marmer pun seolah-olah enggan menempel pada permukaan kainnya. Sepasang matanya yang sedalam lautan bintang menatap lurus ke arah Han Junhao, yang saat ini berdiri membeku dengan wajah yang pucat pasi seperti mayat yang baru saja digali dari dalam tanah.
Rasa bangga, kesombongan, dan keangkuhan yang beberapa menit lalu menyelimuti tubuh Han Junhao sebagai seorang jenius muda dari klan besar kini telah runtuh sepenuhnya, digantikan oleh ketakutan primal yang luar biasa dahsyat. Di dalam dunia kultivasi urban Jiangnan City, Han Junhao selalu menganggap dirinya sebagai naga di antara manusia fana karena berhasil mencapai tingkat keempat ranah Pengumpulan Qi di usia muda. Namun sekarang, melihat Tetua Han Rong yang jauh lebih kuat darinya dihancurkan seperti lalat di depan matanya sendiri, seluruh keberanian di dalam hatinya menguap tanpa bekas. Keringat dingin mengalir deras dari dahinya, membasahi setelan jas putih mahalnya hingga menempel ketat di kulitnya yang bergetar.
"S-Shen Long... Kau... Bagaimana mungkin seorang sampah sepertimu memiliki kekuatan seperti ini?!" Suara Han Junhao bergetar hebat ketika ia mencoba berbicara, giginya berantakan saling berbenturan karena menahan rasa takut yang teramat sangat. "Kau pasti menggunakan semacam teknik iblis terlarang! Kau telah membunuh Tetua Keluarga Han! Jika klan kami mengetahui hal ini, ayahku dan leluhur agung tidak akan pernah melepaskanmu! Seluruh Jiangnan City tidak akan memiliki tempat bagimu untuk bersembunyi!"
Meskipun hatinya dipenuhi ketakutan, Han Junhao mencoba menggunakan nama besar Keluarga Han sebagai tameng terakhirnya. Di Jiangnan City, Keluarga Han adalah salah satu dari tiga penguasa mutlak yang mengendalikan roda ekonomi, politik, dan jaringan kultivasi urban. Di belakang mereka, terdapat dukungan rahasia dari sekte-sekte kuno yang bersembunyi di pegunungan terlarang. Di mata Han Junhao, tidak peduli seberapa kuat teknik misterius yang dimiliki Shen Long, pemuda itu tidak akan berani memusnahkan dirinya secara total karena risiko menghadapi kemurkaan seluruh klan raksasa.
Shen Long menatap Han Junhao dengan ekspresi acuh tak acuh yang teramat sangat, seolah-olah ia sedang mendengarkan seekor katak di dalam sumur yang mencoba menceritakan luasnya langit. "Teknik iblis terlarang? Keluarga Han tidak akan melepaskanku?" Shen Long mengulangi kata-kata itu dengan nada suara yang sangat ringan, namun setiap suku kata yang keluar dari mulutnya membawa tekanan spiritual yang sangat berat hingga membuat atmosfer di dalam aula terasa semakin menghimpit.
"Kalian para manusia fana yang picik selalu mengira bahwa kekuasaan kecil kalian di kota kotor ini adalah segalanya," kata Shen Long sambil melangkah maju satu langkah. Langkah kaki kecil itu terdengar seperti suara dentuman lonceng kematian di dalam telinga Han Junhao. "Tuan muda dari Keluarga Han... kau mengirim orang untuk menyiksa tubuh ini hingga sekarat di lumpur kamp militer hanya karena masalah selembar kertas pertunangan yang tidak berharga. Kau menganggap nyawa manusia seperti debu yang bisa kau injak sesukamu. Sekarang, ketika kekuatanmu berada di bawah kakiku, kau mencoba menggunakan nama keluargamu untuk memohon belas kasihan?"
"Aku tidak memohon belas kasihan!" Han Junhao berteriak histeris, rasa malunya di depan Chu Yaoyao dan seluruh tamu undangan elit kota memicu sisa-sisa kegilaan di dalam jiwanya. "Aku adalah Han Junhao! Murid luar dari Sekte Pedang Guntur! Kau tidak bisa membunuhku!"
Dalam keputusasaan yang mutlak, Han Junhao merobek sebuah kalung giok berwarna ungu tua yang tergantung di lehernya. Kalung giok itu adalah sebuah jimat pelindung tingkat tinggi yang diberikan langsung oleh ayahnya, yang berisi segel serangan energi murni dari seorang master ranah Fondasi Jiwa tingkat awal. Jiwa Han Junhao yang panik langsung menyuntikkan seluruh sisa energi spiritual birunya ke dalam jimat tersebut.
*WUSH!*
Seketika itu juga, jimat giok ungu tersebut pecah berantakan, melepaskan gelombang energi spiritual berwarna ungu kemerahan yang sangat pekat di udara. Energi tersebut memadat dengan cepat, membentuk sesosok bayangan raksasa setinggi tiga meter yang memegang sebilah pedang petir kuno. Aura yang dipancarkan oleh bayangan petir ini begitu kuat hingga membuat sisa-sisa marmer di lantai aula bergetar hebat dan menciptakan suara gemuruh petir yang memekakkan telinga. Beberapa tamu undangan dari keluarga kaya yang berdiri terlalu dekat langsung memuntahkan darah segar dan jatuh pingsan karena tidak mampu menahan tekanan energi ranah Fondasi Jiwa tersebut.
"Hahaha! Shen Long! Ini adalah segel kekuatan dari sesepuh Sekte Pedang Guntur! Mati kau bersama dengan kesombonganmu!" Han Junhao tertawa dengan mata yang memerah penuh kegilaan, menunjuk ke arah Shen Long saat bayangan petir raksasa itu mulai mengayunkan pedang petirnya ke bawah dengan kecepatan yang mampu membelah ruang.
Namun, menghadapi serangan yang dianggap sebagai kartu truf tertinggi oleh Han Junhao, Shen Long bahkan tidak menghentikan langkah kakinya. Sepasang matanya tetap sedalam malam abadi yang tidak terusik oleh kilatan petir fana. Bagi sang Penguasa Multisemesta yang pernah menghancurkan badai petir kosmis tingkat dewa hanya dengan satu pandangan mata, segel energi ranah Fondasi Jiwa buatan manusia bumi ini tidak lebih dari sekadar percikan api kecil yang menggelikan.
"Formasi energi yang sangat kasar dan dipenuhi dengan cacat bawaan," Shen Long berkata dengan nada dingin.
Tangan kanan Shen Long perlahan keluar dari saku jubah militernya. Ia tidak membentuk segel beladiri atau menggunakan senjata apa pun. Dengan gerakan yang sangat santai, ia hanya mengulurkan satu jari telunjuknya yang putih seperti giok, mengarahkannya tepat ke arah ujung pedang petir raksasa yang sedang meluncur turun menuju kepalanya. Di dalam tubuhnya, esensi cairan emas murni dari tingkat keenam ranah Penguatan Tubuh yang sangat sempurna berputar dengan ritme hukum kosmis yang mutlak, mengalirkan kekuatan pembalikan energi ke ujung jarinya.
*TING!*
Suara benturan yang terdengar sangat kecil dan renyah, menyerupai suara dua buah kelereng kaca yang saling bersentuhan, bergema di tengah gemuruh petir aula. Namun, detik berikutnya, pemandangan yang benar-benar mustahil terjadi di depan mata semua orang.
Tepat ketika jari telunjuk Shen Long menyentuh ujung pedang petir raksasa tersebut, seluruh aliran energi ungu kemerahan yang membara langsung berhenti bergerak secara instan. Retakan-retakan cahaya keemasan yang sangat murni mulai merambat dari ujung jari Shen Long, menembus bilah pedang petir, dan menyebar ke seluruh tubuh bayangan raksasa setinggi tiga meter itu seperti jaring laba-laba emas.
*BYARRRRRRRR!*
Tanpa ada ledakan yang keras, bayangan petir ranah Fondasi Jiwa yang sangat menakutkan itu hancur berkeping-keping menjadi bintik-bintik cahaya ungu yang padam di udara dalam sekejap mata, terserap dan dinetralkan sepenuhnya oleh kekuatan *Teknik Pembalikan Kosmos Primordial* milik Shen Long. Kartu truf tertinggi Keluarga Han dihancurkan hanya dengan satu ujung jari telunjuk seorang pemuda!
"I-Ini... Ini tidak mungkin! Jimat pelindungku!" Han Junhao menjerit dengan suara yang melengking tinggi, seluruh sisa keyakinan di dalam jiwanya hancur berkeping-keping bersama dengan hancurnya jimat giok tersebut. Ia melangkah mundur dengan tergesa-gesa hingga kakinya tersangkut reruntuhan kayu jati dan ia jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin dengan tubuh yang lemas sepenuhnya.
Shen Long tidak memberikan kesempatan lagi bagi Han Junhao untuk mengoceh. Tubuhnya bergerak maju dalam sebuah bayangan kabur yang sangat anggun. Sebelum Han Junhao sempat memahami apa yang terjadi, Shen Long telah berdiri tepat di hadapannya, menatap ke bawah dengan sepasang mata dewa kematian yang dingin. Tangan kiri Shen Long terangkat tinggi di udara pagi aula yang hancur, membentuk sebuah ayunan tamparan telapak tangan terbuka yang sangat luas.
"Berutang nyawa harus dibayar dengan nyawa. Penindasan yang kau lakukan pada tubuh ini... berakhir di sini," ucap Shen Long dengan nada suara yang datar namun membawa keputusan akhir dari penguasa mutlak.
*PLAAAAAAAALAK!*
Tamparan keras yang luar biasa dahsyat mendarat dengan akurasi absolut tepat di pipi kanan Han Junhao. Kekuatan tingkat keenam ranah Penguatan Tubuh yang digabungkan dengan esensi murni pembalik kosmos meledak sepenuhnya di dalam kepala sang jenius muda tersebut.
*KRAKKKKKK! BYARR!*
Suara hancurnya seluruh tulang tengkorak, rahang, dan struktur wajah Han Junhao terdengar sangat jelas dan mengerikan di tengah aula yang sunyi. Kekuatan tamparan tersebut begitu besar hingga tubuh Han Junhao terlempar secara horizontal seperti peluru, meluncur sejauh lima belas meter melewati kepala para tamu undangan, sebelum akhirnya menghantam pilar marmer penyangga utama bangunan hotel dengan sangat keras hingga pilar tersebut retak dalam bentuk lingkaran laba-laba.
*Bugh!*
Tubuh Han Junhao merosot jatuh ke lantai marmer dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Seluruh wajah bagian kanannya telah rata sepenuhnya, hancur menjadi bubuk tulang halus yang bercampur dengan darah kental dan jaringan otak yang rusak. Kedua matanya melotot keluar dengan pembuluh darah yang pecah tanpa ada sisa kehidupan sedikit pun. Di dalam perutnya, dantian tempat ia mengumpulkan energi spiritual birunya telah meledak menjadi serpihan debu energi yang menguap ke udara, memastikan bahwa jiwa fana dan basis kultivasinya telah musnah secara mutlak dari muka bumi ini—sebuah penjelasan yang sangat detail dan pasti mengenai akhir dari eksistensi Han Junhao di dalam alur cerita ini.
Hanya dalam satu tamparan santai, Han Junhao, sang jenius nomor satu Keluarga Han yang memicu seluruh konflik penindasan ini, telah tewas mengenaskan di atas lantai marmer hotel bintang tujuh miliknya sendiri.
Keheningan yang jauh lebih mencekam daripada kuburan massal di malam hari kembali menyelimuti seluruh Aula Emas Hotel Fenghuang Tian. Ratusan tamu undangan dari kalangan atas Jiangnan City berdiri mematung seperti patung batu dengan wajah yang memucat tanpa setetes darah pun tersisa di kulit mereka. Beberapa pengusaha kaya dari klan-klan kecil yang sebelumnya ikut menertawakan Shen Long kini merasakan lutut mereka lemas sepenuhnya, dan beberapa di antara mereka langsung jatuh berlutut di atas marmer, menahan napas mereka karena ketakutan primal yang luar biasa melihat kematian tragis sang tuan muda klan besar.
Di tengah keheningan yang mati itu, seorang pria paruh baya bertubuh agak gemuk yang mengenakan jubah tradisional berwarna biru tua melangkah keluar dari barisan tamu dengan langkah yang sangat gemetar. Pria ini adalah Chu Jingshan, kepala Keluarga Chu saat ini sekaligus ayah kandung dari Chu Yaoyao. Wajah Chu Jingshan dipenuhi oleh kombinasi antara rasa takut yang mendalam dan kalkulasi politik yang sangat cepat. Sebagai seorang pemimpin klan besar yang licik, ia segera menyadari bahwa peta kekuatan di Jiangnan City telah berubah total dalam waktu satu pagi. Pemuda di depan mereka ini bukan lagi sampah yatim piatu yang bisa mereka buang sesuka hati, melainkan sesosok naga perkasa yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan klan mana pun hanya dengan telapak tangannya.
Chu Jingshan menelan ludah dengan susah payah, mencoba menstabilkan suaranya sebelum ia membungkukkan tubuhnya yang agak gemuk dengan sudut sembilan puluh derajat di hadapan Shen Long—sebuah tindakan penghormatan tertinggi yang biasanya hanya diberikan kepada leluhur agung klan tersembunyi.
"Teman Muda... tidak, Tuan Besar Shen Long!" Chu Jingshan berkata dengan nada suara yang dipaksakan untuk terdengar penuh dengan kesetiaan dan penyesalan yang mendalam. "Keluarga Chu kami telah dibutakan oleh mata fana yang picik! Kontrak pertunangan kuno antara Anda dengan putri saya, Chu Yaoyao, adalah keputusan paling bijaksana yang pernah dibuat oleh mendiang kakeknya! Segala tindakan pembatalan yang dibicarakan oleh Han Junhao tadi adalah murni konspirasi kejam dari Keluarga Han yang ingin menindas kita! Keluarga Chu kami selalu menganggap Anda sebagai menantu terbaik kami! Hari ini, di depan seluruh tokoh Jiangnan City, saya mendeklarasikan bahwa pertunangan antara Anda dan Yaoyao tetap sah dan mutlak!"
Mendengar kata-kata dari ayahnya, Chu Yaoyao yang berdiri di sampingnya mengepalkan kedua tangan indahnya dengan erat. Wajahnya yang cantik dan dingin kini dipenuhi oleh emosi yang sangat rumit: rasa terkejut, penyesalan, dan rasa malu yang mendalam. Beberapa menit lalu, ia memandang Shen Long sebagai sebuah beban masa lalu yang harus dihapus dari kehidupannya yang gemilang sebagai kultivator jenius wanita. Namun sekarang, melihat pemuda itu berdiri tegak di atas mayat-mayat para penguasa kota dengan aura keagungan yang tak tertandingi, ia menyadari betapa bodoh dan kerdilnya dirinya selama ini. Di hadapan kekuatan tirani milik Shen Long, status kejeniusannya sendiri tidak lebih dari sekadar lelucon anak kecil.
Chu Yaoyao melangkah maju satu langkah, menatap Shen Long dengan sepasang mata jernihnya yang kini dihiasi oleh lapisan air mata samar. "Shen Long... aku... aku tidak tahu bahwa kau telah mencapai tingkat kekuatan seperti ini. Mengenai masalah di masa lalu di kamp militer, aku..."
Namun, sebelum Chu Yaoyao sempat menyelesaikan kalimatnya atau menunjukkan penyesalannya, Shen Long perlahan memalingkan pandangan matanya ke arahnya dan Chu Jingshan. Tatapan mata Shen Long begitu dingin, begitu datar, dan dipenuhi oleh ketidakpedulian yang mutlak, seolah-olah ia sedang melihat dua butir debu yang tidak sengaja tertiup angin ke dalam ruangannya.
"Menantu terbaik?" Shen Long berkata dengan senyuman tipis yang sarat akan cemoohan dingin di sudut bibirnya.
Tangan kanan Shen Long bergerak ke dalam saku jubah militernya, mengeluarkan selembar kertas pembungkus sutra kuno yang agak kusam—itu adalah surat kontrak pertunangan asli yang selama ini dijaga oleh pemilik tubuh lama dengan taruhan nyawanya. Di depan pandangan mata Chu Jingshan, Chu Yaoyao, dan ratusan tamu undangan, Shen Long melepaskan secuil energi emas murni dari ujung jarinya ke atas kertas tersebut.
*WUSH!*
Dalam sekejap, surat kontrak pertunangan kuno itu terbakar oleh api emas yang murni, berubah menjadi abu hitam halus yang jatuh berserakan di atas lantai marmer dalam waktu beberapa helaan napas tanpa meninggalkan sisa sedikit pun.
"Seekor angsa surgawi tidak akan pernah mengerti dimensi tempat naga purba terbang," kata Shen Long dengan suara yang sangat rendah namun membawa otoritas mutlak yang menghancurkan seluruh harga diri Chu Yaoyao berkeping-keping. "Kertas kontrak ini adalah harta bagi pemilik tubuh lama yang bodoh, namun bagiku, Penguasa Multisemesta... Keluarga Chu kalian bahkan tidak memiliki kualifikasi untuk bersujud di depan gerbang istanaku, apalagi mengikat hubungan denganku. Mulai detik ini, tidak ada hubungan apa pun antara aku dan Keluarga Chu. Jika kalian berani mengusik ketenanganku lagi menggunakan masalah ini, nasib keluarga kalian tidak akan lebih baik dari pilar marmer yang hancur itu."
Mendengar pernyataan dingin dan menyaksikan hancurnya surat kontrak tersebut, tubuh Chu Yaoyao gemetar hebat. Wajah cantiknya langsung memucat tanpa darah seolah-olah ia baru saja dijatuhkan ke dalam jurang es yang paling dalam. Seluruh harga diri dan pesonanya sebagai dewi kota dihancurkan sepenuhnya oleh tamparan verbal yang diberikan oleh Shen Long di depan publik. Hubungan takdir lama antara dirinya dan pemilik tubuh asli telah diputus secara sepihak dan mutlak oleh kehendak sang Penguasa, menyisakan penyesalan seumur hidup yang tidak akan pernah bisa disembuhkan.
Chu Jingshan juga berdiri membeku dengan mulut terbuka setengah, tidak berani mengeluarkan satu patah kata pun untuk membela diri karena ketakutan bahwa tamparan maut Shen Long berikutnya akan mendarat di wajahnya sendiri jika ia bersikap lancang.
Tepat ketika Shen Long bersiap untuk membalikkan tubuhnya dan meninggalkan aula hotel yang hancur ini bersama Sun Mo untuk mencari tempat kultivasi yang lebih tenang di pusat kota, sebuah perubahan ekstrem kembali terjadi di atmosfer seluruh wilayah distrik finansial Jiangnan City.
*BOOMMMMMMMMMMM!*
Suara ledakan energi spiritual yang jauh lebih besar dan menakutkan daripada seluruh pertempuran sebelumnya tiba-tiba menggema dari arah langit di luar hotel. Atap kaca raksasa berbentuk kubah yang menaungi aula emas Hotel Fenghuang Tian tiba-kira hancur berkeping-keping menjadi jutaan pecahan kaca kecil yang berjatuhan seperti hujan badai tajam, terdorong oleh tekanan energi spiritual berwarna merah darah yang sangat pekat dan masif.
Dari lubang atap yang hancur tersebut, meluncur turun sesosok pria paruh baya dengan kecepatan yang menyerupai meteor jatuh. Kaki pria itu mendarat dengan sangat keras di atas lantai marmer tengah aula, menciptakan kawah sedalam satu meter dengan retakan-retakan raksasa yang menyebar hingga radius tiga puluh meter di seluruh ruangan.
*BUMMM!*
Pria yang baru tiba ini mengenakan jubah perang berwarna hitam legam dengan sulaman kepala serigala emas raksasa di bagian punggungnya. Wajahnya dipenuhi oleh garis-garis kemarahan yang luar biasa liar, rambutnya yang hitam panjang berkibar berantakan di sekeliling bahunya, dan sepasang matanya memancarkan aura haus darah yang sangat pekat hingga mampu membuat udara di sekitarnya terasa membeku. Aura energi spiritual berwarna merah darah bergejolak hebat di sekeliling tubuhnya, menandakan basis kultivasinya yang telah melampaui ranah Pengumpulan Qi dan berada di puncak tingkat kesembilan ranah Pengumpulan Qi, hanya selangkah lagi dari menembus ranah Fondasi Jiwa sejati!
Pria ini adalah Han Baichuan, Kepala Keluarga Han saat ini sekaligus ayah kandung dari Han Junhao. Ia baru saja menerima pesan darurat dari sisa-sisa unit jas hitam yang melarikan diri dari gerbang tol, namun sebelum ia sempat memproses berita kematian Gao Peng, indra spiritualnya mendeteksi hancurnya jimat pelindung ungu yang ia berikan kepada putranya di dalam hotel ini. Dengan kegilaan yang mutlak, ia mengerahkan seluruh kecepatan kultivasinya untuk terbang langsung menuju Hotel Fenghuang Tian menggunakan teknik langkah rahasia.
Namun, ketika matanya yang merah menyala menyapu ruangan dan melihat jasad Han Junhao yang terkapar di bawah pilar dengan wajah yang hancur rata, seluruh akal sehat di dalam otak Han Baichuan langsung meledak menjadi kegilaan yang mutlak.
"Junhao!!! Anakku!!!" Han Baichuan meraung histeris, suara raungannya mengandung gelombang energi spiritual merah darah yang sangat kuat hingga menghancurkan seluruh sisa kaca jendela di seluruh gedung hotel bintang tujuh tersebut. Ia berlari menuju jasad putranya, memeriksa detak jantung yang telah berhenti total, lalu perlahan berdiri kembali dengan tubuh yang gemetar karena amarah yang tak terbatas.
Han Baichuan membalikkan kepalanya secara perlahan, mengunci pandangan matanya yang penuh dengan niat membunuh yang murni langsung ke arah Shen Long yang berdiri beberapa meter di depannya. "Bajingan kecil! Kau telah membantai putra tunggal klan keturunanku! Hari ini, tidak hanya kau yang harus mati dengan cara dimutilasi menjadi sepuluh ribu serpihan daging, melainkan seluruh orang yang memiliki hubungan darah denganmu, seluruh rekan barakmu, dan siapa saja yang berani berdiri di sampingmu akan aku bantai habis hingga tidak ada satu pun nama kalian yang tersisa di dunia fana ini!"
Di samping Han Baichuan, dari lubang atap yang sama, perlahan melayang turun sesosok pria tua kurus yang mengenakan jubah abu-abu dengan lambang petir ungu di dadanya—seorang penasihat agung dari Sekte Pedang Guntur bernama Lei Zhen, yang basis kultivasinya telah berada di ranah Fondasi Jiwa tingkat kedua sejati! Lei Zhen dikirim oleh sekte untuk mengawasi persatuan antara Keluarga Han dan Keluarga Chu, dan melihat murid luar potensial mereka seperti Han Junhao dibantai, matanya juga memancarkan kilatan petir ungu yang sangat berbahaya.
"Anak muda, tindakanmu telah menyinggung otoritas Sekte Pedang Guntur kami," Lei Zhen berkata dengan suara yang bergema seperti guntur di langit, sebilah pedang panjang berwarna ungu tua perlahan muncul di tangan kanannya, memancarkan aura destruktif yang siap meratakan seluruh distrik kota ini menjadi abu dalam sekejap.
Menghadapi kedatangan dua musuh baru yang jauh lebih kuat—Kepala Keluarga Han di puncak ranah Pengumpulan Qi dan Tetua Sekte Kuno di ranah Fondasi Jiwa sejati—Shen Long tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Sebaliknya, sebuah senyuman tipis yang sangat menakutkan, senyuman seorang Penguasa Multisemesta yang akhirnya menemukan lawan yang sedikit lebih layak untuk menguji sisa-sisa kekuatan jiwanya, perlahan mengembang di sudut bibirnya yang putih seperti giok.
"Kepala Keluarga Han... dan seekor serangga dari sekte gunung kuno," Shen Long bergumam dengan nada suara yang dipenuhi gairah pertempuran dingin yang mulai membumbung tinggi dari lubuk jiwanya. "Kalian datang bersamaan untuk mengantarkan sisa darah klan kalian ke atas telapak tanganku? Sangat bagus... panggung pertunjukan kecil di kota fana ini akhirnya mulai terasa sedikit tidak membosankan."
Di bawah reruntuhan langit-langit Hotel Fenghuang Tian yang hancur, energi emas murni di dalam tubuh Shen Long mulai mendidih dengan kecepatan penuh, bersiap untuk melepaskan konfrontasi berdarah berikutnya yang akan mengguncang seluruh fondasi kekuasaan Jiangnan City tanpa ada satu pun aturan fana yang mampu menahan laju amukan sang Penguasa Multisemesta.