NovelToon NovelToon
12 Langkah Sebelum Januari

12 Langkah Sebelum Januari

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: pashadena

Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: SANGKAR EMAS DAN DINGINNYA DESEMBER

Waktu di rumah ini tidak bergerak seperti waktu di pabrik garmen Cakung. Di pabrik, waktu dihitung dengan detak jarum jam yang memburu target kuota ekspor, diiringi teriakan mandor dan deru mesin jahit yang memicu adrenalin. Namun, di rumah besar bergaya kolonial-modern milik keluarga Hendra ini, waktu merayap seperti cairan kental yang lambat, sunyi, dan dingin. Setiap sudut ruangan dipenuhi oleh keheningan yang mengintimidasi, seolah-olah dinding-dinding marmer setinggi empat meter ini sedang mengawasiku, siap menghakimi setiap gerak-gerikku yang dianggap tidak pantas bagi menantu seorang Ibu Retno.

Sekarang sudah memasuki pertengahan bulan Desember. Hujan turun hampir setiap sore, membungkus Kota Semarang dengan kabut tipis dan aroma basah yang menusuk tulang. Aku berdiri di dapur bersih yang terletak di bagian belakang lantai satu, sedang memotong sayur mayur untuk makan malam. Dapur ini sangat modern untuk ukuran tahun sembilan puluhan; ada kompor gas dua tungku yang mengilat, lemari gantung dari kayu mahoni yang dipelitur rapi, dan sebuah lemari es dua pintu merek impor yang selalu penuh berisi daging dan buah-buahan segar. Semua ini adalah perwujudan dari kemewahan yang dulu hanya bisa kubayangkan saat menatap brosur bekas di bungkus komik loak. Namun anehnya, sekeranjang mangga arumanis dan daging sapi segar di dalam kulkas ini sama sekali tidak membangkitkan selera makanku. Aku justru merindukan aroma asap kayu bakar yang perih dari dapur bambu Ibu di kampung.

"Yuni! Berapa kali Ibu bilang, kalau memotong wortel itu jangan terlalu tebal! Mas Hendra itu tidak suka sayur yang keras!"

Suara lengkingan yang tajam itu seketika membuat pisau di tanganku nyaris meleset mengenai jemariku. Aku buru-buru menoleh, mendapati Ibu Retno sudah berdiri di ambang pintu dapur. Seperti biasa, penampilannya selalu sempurna tanpa celah. Meskipun hanya berada di dalam rumah, beliau tetap mengenakan kain jarik sutra dan rambutnya disanggul rapi dengan tusuk konde perak. Sepasang matanya yang tajam menatap telenan kayu di depanku dengan pandangan menghina.

"Maaf, Ibu. Yuni pikir ukurannya sudah sama seperti kemarin," ujarku sambil menundukkan kepala dalam-dalam, meniru persis gestur patuh yang selalu ditekankan oleh Budhe Sumi.

Ibu Retno berjalan mendekat, langkah kakinya di atas lantai marmer tidak mengeluarkan suara karena beliau mengenakan selop rumah berbahan beludru empuk. Beliau meraih sepotong wortel hasil potonganku, lalu melemparkannya kembali ke dalam baskom plastik dengan decakan kasar.

"Kamu ini sudah tiga minggu tinggal di sini, tapi kelakuan kasarmu sebagai buruh pabrik masih saja belum hilang. Memotong sayur saja seperti mau mengajak perang. Kalau bukan karena Sumi yang memohon-mohon dan menjamin sifat penurutmu itu, saya tidak akan sudi membawa anak perempuan yang tangannya kasar begini ke rumah saya. Bikin malu kalau ada rekan bisnis saya yang datang berkunjung!" kata Ibu Retno, suaranya pelan namun ketajamannya melebihi mata pisau yang sedang kupegang.

Ulu hatiku rasanya perih seperti dihantam godam besi. Tanganku yang memegang pisau gemetar hebat, namun aku menggigit bibir bagian dalamku kuat-kuat agar tidak ada air mata yang lolos di depan wanita berhati batu ini. Dua tahun bertahan di kerasnya Jakarta telah mendidikku untuk tidak memperlihatkan kelemahan di depan orang yang ingin menginjakku. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.

"Baik, Ibu. Yuni akan potong lebih tipis lagi," sahutku datar.

Ibu Retno membalikkan tubuhnya dengan anggun, meninggalkan dapur setelah memastikan egoku runtuh berkeping-keping. Setelah bayangannya menghilang di balik lorong menuju ruang tengah, aku menghela napas panjang yang terasa sangat sesak. Aku menyentuh cincin pernikahan di jari manisku. Retakan tipis yang kutemukan beberapa hari lalu kini terasa kian nyata setiap kali jemariku bergesekan dengan gagang pisau dapur. Sangkar emas ini ternyata memiliki jeruji yang terbuat dari kata-kata intimidasi dan penghinaan harian.

Pukul tujuh malam, deru mobil sedan hitam milik Hendra terdengar memasuki garasi rumah. Itu adalah momen yang biasanya paling dinanti oleh seorang istri yang baru menikah sebulan, namun bagiku, kedatangan Hendra hanya berarti perpindahan dari satu tekanan ke tekanan lainnya.

Hendra melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan wajah yang tampak sangat lelah. Kemeja kerjanya agak kusut di bagian lengan, dan rambut belah tengahnya tidak se-klimis tadi pagi. Dia meletakkan tas kerja kulitnya di atas kursi, lalu duduk dengan pundak yang merosot. Di rumah ini, Hendra seperti kehilangan seluruh energi mudanya; dia menjelma menjadi sosok pria dua puluh tiga tahun yang jiwanya telah dikuasai sepenuhnya oleh sang ibu.

Aku bergegas mengambilkan piring, menyendokkan nasi putih hangat, dan menuangkan sayur sup wortel yang sudah kuperbaiki potongannya ke dalam mangkuknya. Hendra menatapku dengan senyum tipis yang tampak dipaksakan.

"Terima kasih, Yuni," katanya pelan, suaranya terdengar santun namun terasa ada jarak ribuan kilometer di antara kami.

"Bagaimana pekerjaan di toko grosir hari ini, Mas?" tanyaku mencoba mencairkan keheningan yang kaku di antara kami berdua, sementara Ibu Retno belum turun dari lantai atas.

Hendra menyuap nasi ke dalam mulutnya, mengunyahnya lambat sebelum menjawab. "Ramai, Yun. Menjelang akhir tahun begini, banyak konveksi besar yang mengambil pasokan kain katun dan tenun dari toko kami. Ibu juga tadi sempat mampir ke toko sore-sore, memeriksa laporan pembukuan." Hendra menjeda kalimatnya, lalu menatapku dengan tatapan bersalah yang belakangan ini sering dia perlihatkan. "Ibu... tadi siang tidak memarahimu di rumah, kan?"

Pertanyaan Hendra membuat gerakan tanganku yang sedang menuangkan air putih terhenti sejenak. Aku menatap wajah suamiku. Hendra sebenarnya bukan pria yang jahat atau kasar; dia tidak pernah membentakku atau memperlakukanku secara fisik dengan buruk. Namun, kelemahannya yang paling fatal adalah ketidakberdayaannya untuk membela istrinya sendiri. Dia tahu ibunya memperlakukanku seperti pelayan, dia tahu ibunya sering menghina latar belakang miskin keluargaku, tetapi dia memilih menutup mata dan telinga demi menjaga kedamaian semu di rumah ini.

"Ibu hanya mengoreksi potongan sayurku saja, Mas. Tidak apa-apa," jawabku berbohong, mencoba menjaga harga diri suamiku yang rapuh.

Hendra menghela napas lega, seolah-olah sebuah beban besar baru saja diangkat dari dadanya. "Baguslah kalau begitu. Kamu yang sabar ya, Yun. Ibu memang orangnya keras, tapi beliau melakukan itu semua demi kebaikan kita juga. Jangan pernah membantah Ibu, ya? Mas tidak mau ada keributan di rumah ini."

Mas tidak mau ada keributan. Kalimat itu terasa seperti tamparan tidak langsung di wajahku. Hendra tidak sedang memikirkan perasaanku yang terluka; dia hanya sedang mengamankan kenyamanan pribadinya agar tidak perlu repot-repot berdiri di tengah konflik antara ibu dan istrinya. Di balik sikap santunnya, Hendra adalah seorang pengecut yang berlindung di balik ketiak ibunya. Pernikahan ini, yang kupikir akan menjadi pelindungku dari kerasnya dunia, ternyata hanyalah sebuah tempat di mana aku harus berjuang sendirian menahan gempuran badai emosi tanpa ada tangan suami yang bersedia merangkulku.

Malam kian larut, dan rintik hujan di luar jendela kamar lantai dua berubah menjadi badai Desember yang menderu keras. Petir sesekali menyambar, memancarkan cahaya kilat yang menerangi seisi kamar tidur kami yang mewah namun terasa dingin. Hendra sudah tertidur lelap di sisi ranjang sebelah kanan, nafasnya terdengar teratur dan berat.

Sementara aku, aku masih terduduk di tepi ranjang dengan kedua lutut yang kupeluk erat. Aku menatap keluar jendela kaca yang besar, melihat dedaunan pohon mangga di halaman bawah yang bergoyang hebat diamuk angin malam. Rasa kesepian yang teramat sangat mendadak menyergap hatiku, jauh lebih menyiksa daripada rasa sepi yang kurasakan saat malam-malam pertamaku di kamar petak kontrakan Cakung dua tahun lalu. Di Cakung, meskipun aku sendirian di kamar yang pengap, aku tahu aku sedang berjuang untuk tujuan yang jelas, dan aku memiliki Lilis di kamar sebelah yang bisa kuajak berbagi cerita. Namun di rumah mewah ini, di atas kasur pegas yang empuk ini, aku merasa seperti orang asing yang jiwanya sedang pelan-perlahan mati kelaparan.

Aku merindukan rumah bambuku di desa. Aku merindukan malam-malam di mana aku harus menggendong adik balitaku yang menangis terbangun karena petir, sementara Doni tidur mendengkur di sebelahku sambil memegangi ujung bajuku. Di sana, meskipun perut kami sering kali melilit menahan lapar karena hanya makan satu butir telur yang dibagi empat, ada kehangatan sejati yang saling menguatkan di antara kami. Di sini, perutku kenyang, pakaianku bagus, tubuhku bersih, namun hatiku terasa kosong melompong seperti ruangan tak berpenghuni.

Aku beringsut turun dari ranjang dengan sangat hati-hati, memastikan gerakanku tidak membangunkan Hendra. Kakiku yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dinginnya seolah menembus hingga ke tulang panggul. Aku melangkah menuju lemari pakaian jati tiga pintu di sudut ruangan. Aku membuka pintunya yang berat tanpa menimbulkan bunyi derit, lalu merogoh bagian paling bawah lemari, di balik tumpukan kain kebaya sutra mahal yang dibelikan Ibu Retno untukku.

Di sana, tersembunyi sebuah benda yang sengaja kusimpan rapat-rapat: kardus mi instan bekas yang diikat tali rafia yang kini sudah agak longgar. Benda itu adalah seluruh sisa hidupku dari masa lalu. Aku membuka kardus itu dengan tangan gemetar, meraih buku catatan sekolahku yang bersampul kertas cokelat pembungkus koran. Di lembar paling belakang, aku memandangi ijazah SMP-ku yang masih bersih dan rapi.

Air mataku akhirnya runtuh juga, menetes satu per satu di atas permukaan kertas tebal itu. Aku mengusap namaku yang tercetak dengan huruf kapital tegas di sana: SRI WAHYUNI.

Dua tahun lalu, guru kelasku bilang aku adalah anak yang cerdas yang memiliki masa depan cerah. Dua tahun lalu, aku nekat memalsukan umurku demi menjadi buruh jahit di Jakarta agar adik-adikku bisa bertahan hidup. Dan sebulan lalu, aku menerima pernikahan ini karena mengira ini adalah jalan hidup yang diridhai Tuhan untuk mengangkat derajat keluargaku, seperti yang selalu dikatakan oleh Ibu dan Budhe Sumi dalam surat-surat mereka.

"Apakah ini yang dinamakan mengangkat derajat, Ibu? Apakah menjadi pelayan yang dihinakan di rumah megah ini adalah kebahagiaan yang Ibu doakan untuk Yuni?" bisikku pada kegelapan malam, suaraku tercekat oleh isak tangis yang mati-matian kutahan agar tidak menimbulkan suara.

Aku merasa dikhianati oleh keadaan. Budhe Sumi, wanita yang merawatku dari umur tujuh hingga tiga belas tahun dengan didikan kerasnya yang kuhormati, ternyata telah keliru menilai keluarga ini. Beliau mengira telah mengantarku ke sebuah gerbang kemuliaan, tanpa tahu bahwa beliau justru telah mendorong anak asuhnya sendiri ke dalam sebuah sumur keputusasaan yang tidak memiliki tangga untuk kembali naik. Di usia tujuh belas tahun, aku merasa hidupku sudah selesai sebelum benar-benar dimulai. Aku telah melipat seluruh mimpiku, seluruh kebebasanku, dan menyerahkan kendali diriku kepada sebuah keluarga yang bahkan tidak menganggapku sebagai bagian dari mereka.

Aku menutup buku catatan itu kembali dengan perlahan, mendekapnya erat di depan dada seolah buku itu adalah satu-satunya jangkar yang menahanku agar tidak hanyut dalam kegilaan di rumah ini. Angin Desember di luar kembali menghentak jendela kaca dengan keras, seolah-olah sedang memberikan peringatan bahwa waktu terus berjalan mendekati penghujung tahun. Tepat di balik bulan Desember ini, ada bulan Januari yang menungguku di depan sana. Januari yang seharusnya membawa harapan baru bagi semua orang, namun bagiku, Januari itu tampak seperti sebuah kabut tebal yang hitam, penuh dengan rahasia gelap yang belum terungkap, yang siap membalikkan duniaku dalam semalam melalui dua belas langkah yang harus kutempuh dengan kaki yang berdarah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!