NovelToon NovelToon
Grandmaster Yang Terlupakan

Grandmaster Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Sistem
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Kesalahan yang Mematikan & Tamu-Tamu Berpenampilan Ganjil

Tangan Ning Xuanwu sudah terangkat.

Satu langkah lagi dan ia akan menerobos masuk, menghancurkan apa pun yang menghalanginya, dan mengakhiri semua ini dengan cara paling langsung yang ia ketahui.

Yao Linger bergerak lebih cepat dari bayangannya sendiri—tangannya mencengkeram lengan baju gurunya dengan kedua tangan, menahan dengan seluruh kekuatan yang ia miliki.

"Guru, tenanglah!" Suaranya mendesak namun terkendali. "Ini jebakan. Dia sengaja memancing agar Guru bertindak gegabah—persis seperti yang membuat Kakak Senior Wuchen dan Wufeng musnah tanpa sempat berteriak. Jangan berikan dia apa yang dia inginkan."

Kata-kata itu menghantam bagian paling rasional di kepala Ning Xuanwu seperti ember air dingin.

Ia berhenti.

Napasnya memburu. Aura pembunuhan di sekelilingnya perlahan surut, seperti air pasang yang dipaksa mundur. Ia menutup mata sejenak, mengerahkan seluruh disiplin cultivator yang sudah ia bangun selama puluhan tahun untuk menekan amarah yang masih mendidih di dadanya.

Ketika matanya terbuka kembali, di dalamnya sudah tergantikan oleh perhitungan.

Ia menyapu pandangan ke arah pengikutnya yang berdiri dalam barisan, lalu berhenti pada seorang pemuda dengan mata tajam dan langkah yang selalu tenang.

"Kau." Telunjuknya menunjuk. "Masuk lebih dulu. Jangan tunjukkan permusuhan—bertindaklah seperti orang biasa yang lewat. Pelajari orang itu, rasakan kekuatannya, lalu kembali dan laporkan semuanya." Ning Xuanwu berhenti sejenak, kemudian menambahkan, "Jika berhasil kembali, aku angkat kau menjadi murid pribadiku."

Pemuda itu mengangguk tegas, matanya menyala dengan campuran kehormatan dan tekad. 

Ia melangkah mendekati sasana bela diri itu dengan hati-hati yang melebihi hati-hati—setiap langkah diukur, setiap tarikan napas diatur, seluruh qi ditekan serapat mungkin ke dalam dantian.

Kakinya menginjak sesuatu yang keras di anak tangga pertama. Ia menunduk sekilas.

Batu biru dengan ukiran yang ia kenali sejak kecil sebagai simbol kebesaran sekte.

"Artefak Penggoncang Langit."

Dipakai sebagai pengganjal anak tangga.

Di sampingnya, menjuntai dari pagar, selembar kain yang aura residunya masih ia bisa rasakan samar-samar.

"Artefak Jubah Cepat."

Dijemur seperti kain basah setelah mengepel lantai.

Pemuda itu menelan ludah, menahan ekspresi wajahnya agar tetap datar. Entah harus merasa ngeri atau geli, ia memilih untuk tidak merasakan keduanya dan melangkah masuk.

Di halaman, Lin Qian sedang duduk bersandar di kursi bambu, satu tangan membelai Wangcai yang mendengkur di sampingnya. Han Yu terlihat sibuk di dekat pintu, menurunkan plakat nama sasana untuk dibersihkan.

Suasananya... sangat biasa. Terlalu biasa.

"Permisi, apakah ada orang di sini?" sapa pemuda itu.

Lin Qian mendongak. Wajahnya ramah, senyumnya ringan, matanya jernih tanpa bayangan kewaspadaan sedikit pun.

"Ada, ada. Ada yang bisa dibantu?"

Jantung pemuda itu berdegup kencang,bukan karena takut, melainkan karena kebingungan yang makin dalam. Ia memindai dengan seluruh kepekaan qi-nya, mencari lapisan tersembunyi di balik penampilan sederhana ini.

Tidak ada apa-apa.

Benar-benar tidak ada.

Tidak ada tekanan, tidak ada resonansi, tidak ada tanda-tanda seorang cultivator yang menyembunyikan kekuatannya. Lin Qian tampak seperti manusia paling biasa yang pernah ia temui dalam hidupnya—lebih biasa dari pedagang di pasar, lebih biasa dari petani di pinggir jalan.

Guru dan Kakak Senior salah besar menilai orang ini. Kesimpulan itu terbentuk dalam pikirannya dengan kecepatan yang ia rasa adalah pencerahan. Ini bukan ahli hebat. Ini benar-benar manusia biasa tanpa setetes qi pun. Kematian Wuchen dan Wufeng pasti ada penjelasan lain—kecelakaan, salah paham, atau sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan orang ini.

Untuk memastikan satu langkah terakhir, ia menjajal dengan kata-kata yang sedikit mengejek, memancing reaksi. "Tempat ini sepi sekali. Sepertinya tidak banyak murid yang berminat belajar di sini."

Lin Qian tersenyum canggung, mengangguk dengan ekspresi orang yang sudah terbiasa menerima kenyataan pahit. "Memang benar. Usahaku belum terlalu maju."

Tidak ada perubahan di matanya. Tidak ada kilat amarah yang disembunyikan. Tidak ada apa-apa.

Pemuda itu pamit dengan langkah yang—tanpa ia sadari—sudah berubah lebih tegap dan sedikit angkuh dibanding saat ia datang. Ia membawa pulang sebuah kesimpulan yang ia yakini sepenuh hati, dan justru keyakinan itulah yang paling berbahaya.

Belum lama pemuda itu menghilang di tikungan gang, suara langkah kaki lain terdengar dari arah berlawanan.

Lin Qian mendongak.

Pak Tua Wu,kakek yang rutin datang untuk bermain catur dan rutin kalah—melambai dari kejauhan dengan wajah berseri seperti biasa. Namun kali ini ia tidak datang sendiri. Di belakangnya mengikuti tiga sosok yang membuat Lin Qian tanpa sadar menegakkan posisi duduknya.'

Wah. Penampilan mereka benar-benar... luar biasa.

Yang pertama: kurus kering seperti ranting pohon mati di musim dingin, kulitnya kehitaman, tubuhnya tampak seperti akan patah jika diterpa angin kencang. Namun caranya berjalan—tegak, langkah simetris sempurna—memiliki ritme seorang yang sudah menempuh jarak sangat jauh dalam hidupnya.

Yang kedua: jubahnya berantakan seperti baru keluar dari pertempuran seminggu lalu, namun di setiap jari tangannya melingkar cincin dengan ukiran tengkorak berbeda-beda, dan di lehernya bergelantungan untaian perhiasan dari bahan yang bahkan Lin Qian tidak bisa langsung mengidentifikasi. Seperti seseorang yang tidak pernah memilih antara kekayaan dan kekacauan—ia memilih keduanya sekaligus.

Yang ketiga: berpenampilan paling "rapi" di antara ketiganya, dengan beberapa gigi depan yang berkilau keemasan saat ia membuka mulut. Di punggungnya tersandang sempoa besar yang ukurannya tidak masuk akal untuk dibawa ke mana-mana, dan di kedua tangannya ia memutar-mutar dua bola kecil dengan gerakan otomatis seperti orang yang sudah melakukannya selama bertahun-tahun tanpa pernah berhenti.

Lin Qian menyambut mereka dengan senyum yang sama hangatnya dengan tamu-tamu sebelumnya. "Silakan masuk, Pak Tua Wu. Dan teman-teman Pak Tua Wu juga, silakan."

Pak Tua Wu masuk dengan langkah gembira yang hampir menyerupai tarian. Namun ketiga temannya berhenti di ambang pintu, mata mereka menyapu halaman, plakat yang sedang dijemur, kain yang tergantung di pagar, dan sosok Lin Qian yang berdiri ramah di depan mereka.

Lalu mereka saling bertukar pandang dengan ekspresi yang sama: ini dia orang yang dibual-bualkan Wu Yonghong selama berhari-hari?

"Di mana plakat bertuliskan Niat Bela Diri yang kau ceritakan itu?" Kakek kurus itu bertanya langsung ke Pak Tua Wu, nada suaranya mengandung kecurigaan yang tidak ia sembunyikan. "Pintu depannya kosong."

Pak Tua Wu terkekeh gugup. "Ah, itu......itu sedang dibersihkan dan dijemur oleh muridnya. Kalian harus percaya padaku." Ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan benda yang sudah sering ia perlihatkan selama ini. "Alat canggih yang aku miliki ini buatan dia. Kalian sudah lihat sendiri betapa luar biasa kualitasnya. Nanti begitu masuk kalian akan tahu sendiri."

Ketiga kakek itu menatap benda di tangan Wu Yonghong bergantian.

Mereka tahu benda itu asli. Kualitasnya tidak bisa dipalsukan,pembuatnya jelas memiliki pemahaman tentang pembentukan qi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata biasa. Itu yang membuat mereka mau menemani Wu Yonghong kemari sejak awal.

Tapi melihat tempat ini...

Kakek bergigi emas memutar bola di tangannya lebih cepat sejenak, lalu menghela napas panjang. "Baiklah."

Satu per satu, dengan langkah yang masih mengandung keraguan di setiap hentakannya, mereka mengikuti Lin Qian masuk ke dalam sasana sederhana itu.

Tidak ada yang menyadari bahwa langkah mereka baru saja melewati ambang pintu menuju pertemuan yang akan mengubah banyak hal—baik bagi mereka, maupun bagi orang-orang yang sedang mengintai dari kejauhan.

1
Azkiya Faiha
oke...
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ditunggu update terbaru nya thor 😀😀👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...lanjut Thor
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣kenapa sang ahli alkemis sampe belepotan kotoran🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣musim kawin
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣🤣dirampok sampe telanjang
Hadi Hadi
up to pdf 😍😍
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hadi Hadi
😍😍😍👍
Hadi Hadi
lanjut 💪💪
Hadi Hadi
sikat 💪💪💪
Hadi Hadi
up up up 👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣jurus pamungkas pura2 mati🤣🤣🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣cuma lewat saja🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
wahahahahaha...mantap Thor
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣🤣senjata makan tuan 🤣🤣
Doanta Charo
astaga baru ini baca novel kultivasi ngakak abisss🤣🤣🤣🤣p
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
penyesalan memang datang dibelakang 🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hahahaha... kejutan demi kejutan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!