Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.
Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Jejak Darah di Ruang Steril
Alunan musik klasik yang semula mengalun indah di Grand Ballroom Hotel Dirgantara mendadak senyap, digantikan oleh ketegangan yang merayap cepat bagaikan racun. Di tengah lantai dansa, Haena baru saja melepaskan genggaman tangannya dari Kaelen Arkananta ketika dia menangkap siluet Pak Bhaskara yang berlari terburu-buru menembus kerumunan tamu VIP.
Wajah sekretaris senior yang biasanya selalu tenang dan diplomatis itu kini pucat pasi, dengan butiran keringat dingin yang membasahi dahinya.
Pak Bhaskara langsung membungkuk di hadapan Tuan Bramasta Dirgantara, mengabaikan tatapan bingung dari para kolega konglomerat yang masih berada di sekitar mereka. Dia membisikkan sesuatu dengan suara yang bergetar hebat.
Haena, yang memiliki kepekaan sensorik dan fokus luar biasa, menajamkan pendengarannya. Dari balik kacamata transparannya, matanya menyipit tajam ketika menangkap tiga kata kunci yang keluar dari mulut Pak Bhaskara "Rumah sakit... diculik... Ibu Aminah."
Deg.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ketenangan mutlak yang menjadi mental baja Haena terusik. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena gelombang amarah yang masif mendadak bergejolak di dalam dadanya.
Jari telunjuknya langsung mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya dengan ritme yang cepat sebuah tanda bahwa otak jeniusnya sedang bekerja dalam mode darurat tingkat tertinggi.
Tuan Bramasta yang mendengar laporan itu langsung melebarkan matanya, wajah tegasnya mengeras penuh murka.
"Apa kamu bilang?! Bagaimana bisa sistem keamanan rumah sakit seketat itu ditembus?!"
Sebelum Tuan Bramasta sempat menjawab, Haena sudah melangkah maju, memotong pembicaraan dengan aura dingin yang begitu pekat hingga membuat Pak Bhaskara tersentak mundur.
"Pak Bhaskara, katakan padaku secara mendetail. Apa yang terjadi dengan Ibu Aminah?"
Pak Bhaskara menelan ludah dengan susah payah, menatap Tuan Bramasta sejenak sebelum akhirnya menyerahkan sebuah gawai tablet khusus yang menampilkan rekaman sistem keamanan internal rumah sakit pusat.
"Nona Haena... sepuluh menit yang lalu, sekelompok pria bersenjata dengan pakaian taktis hitam menyerbu ruang perawatan intensif Ibu Aminah. Mereka bergerak sangat rapi, mematikan seluruh jaringan kamera lokal selama tiga menit, dan membawa Ibu Aminah pergi menggunakan ambulans palsu."
Pak Bhaskara menyapukan jarinya di atas layar, menampilkan sebuah foto fisik yang ditinggalkan oleh para pelaku di atas ranjang pasien yang kini kosong melompong.
"Mereka meninggalkan ini di bantal Ibu Aminah, Nona."
Foto di layar tablet itu menampilkan sebuah pisau bedah yang menancap di atas secarik kertas putih berlumuran noda merah menyerupai darah. Di atas kertas tersebut, tertulis sebuah pesan ancaman dalam huruf kapital yang berantakan namun tegas.
“KEMBALI KE SELOKAN TEMPATMU BERASAL, JALANG KECIL. JIKA KAMU BERANI MENANDATANGANI PENGALIHAN ASET DIRGANTARA BESOK PAGI, NYAWA WANITA TUA INI AKAN MENJADI TARUHANNYA. KAMI MENUNGGUMU DI GUDANG DERMAGA LAMA KUPANG DALAM WAKTU ENAM JAM.”
Melihat pesan itu, Tuan Bramasta langsung memukul meja dekorasi di sampingnya hingga retak.
"Kurang ajar! Ini pasti ulah jaringan lama Rosalind atau komplotan bisnis saingan yang ingin memanfaatkan situasi! Bhaskara, hubungi kepala kepolisian daerah sekarang juga! Kerahkan seluruh unit helikopter pribadi dan tim taktis Dirgantara Corp!"
"Jangan, Papa," potong Haena, suaranya mendadak berubah menjadi sangat tenang namun itu adalah jenis ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada badai apa pun.
Matanya yang jernih di balik kacamata memancarkan kilatan kalkulasi dingin yang mematikan.
"Jika Papa mengerahkan polisi atau pasukan berskala besar, mereka akan langsung membunuh Ibu Aminah begitu mendengar suara sirine atau baling-baling helikopter. Mereka adalah profesional yang bergerak di bawah perintah seseorang yang sangat putus asa."
Haena berbalik, menatap langsung ke arah Kaelen Arkananta yang sejak tadi berdiri diam di sampingnya, menyimak seluruh percakapan dengan sepasang mata elang yang sedingin es.
Kaelen melangkah maju, menyilangkan kedua tangannya di atas dada. Aura dominan pemuda penguasa sekolah itu kini bertransformasi menjadi aura seorang predator puncak yang siap berburu.
"Rute laut dan pelabuhan lama di Kupang berada di bawah pengawasan logistik Arkananta Group, Haena. Aku bisa melacak pergerakan ambulans dan kapal apa pun yang keluar-masuk dari dermaga itu dalam waktu kurang dari lima belas menit menggunakan satelit pelacak frekuensi privat milik keluargaku."
Haena mengangguk perlahan, sebuah aliansi tanpa kata kembali terjalin di antara mereka.
"Aku ikut denganmu, Kaelen. Kita berangkat sekarang."
"Haena, tidak! Itu terlalu berbahaya untukmu!" cegah Tuan Bramasta dengan wajah penuh kecemasan, mencoba menahan lengan putri kandungnya.
"Kamu adalah masa depan Dirgantara Corp. Biarkan tim profesional yang menyelesaikannya!"
Haena melepaskan tangan Tuan Bramasta dengan gerakan yang halus namun tak terbantahkan.
"Papa, Ibu Aminah adalah wanita yang membesarkanku dengan peluh dan air mata di saat dunia membuangku. Jika aku bahkan tidak bisa melindungi orang yang kucintai menggunakan kekuasaan dan otak yang kupunya sekarang... maka aku tidak layak memegang takhta Dirgantara Corp. Tetaplah di sini, kelola media agar skandal Nyonya Rosalind dan Vanya tetap menjadi tajuk utama, dan biarkan aku yang menyelesaikan tikus-tikus ini dengan caraku sendiri."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Haena membalikkan tubuhnya, menyingkap sedikit gaun sutra putih murninya yang anggun untuk mempermudah langkah kakinya, lalu berjalan cepat keluar dari Grand Ballroom diikuti oleh Kaelen yang langsung mengeluarkan ponsel satelitnya untuk mengaktifkan unit taktis bayangan Arkananta.
Lima belas menit kemudian, sebuah mobil sport hitam pekat bermesin monster meraung membelah jalanan ibu kota yang mulai sepi, melaju dengan kecepatan penuh menuju bandara pelabuhan udara privat. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Haena duduk di kursi penumpang dengan laptop khusus berkecepatan tinggi yang terbuka di atas pangkuannya. Jari-jari lentiknya bergerak bagaikan badai di atas papan ketik, memasukkan baris-baris kode enkripsi untuk meretas sistem navigasi maritim dan manifes muatan serta jalur pelayaran regional.
Otak jeniusnya sedang memetakan setiap kemungkinan rute pelarian para penculik.
"Dermaga lama adalah pelabuhan mati yang sering digunakan untuk penyelundupan komoditas ilegal," gumam Haena, matanya berkedip cepat memindai data koordinat geografis di layar.
"Mereka sengaja memilih tempat itu karena minimnya pencahayaan publik dan banyaknya labirin gudang tua karatan."
Kaelen, yang fokus mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas 180 km/jam, melirik sekilas melalui cermin tengah. "Tim siberku baru saja menemukan sinyal GPS ambulans palsu itu. Mereka membuang kendaraannya di dekat pantai berbatu pinggiran kota, lalu memindahkan Ibu Aminah ke sebuah kapal motor cepat menuju pulau terpencil di sekitar selat. Waktu kita tidak banyak, Haena."
"Kapal motor cepat membutuhkan waktu setidaknya empat puluh lima menit untuk mencapai pulau terdekat dari titik itu," balas Haena, suaranya tetap stabil tanpa cacat emosi.
"Jika kita menggunakan jet pribadi Arkananta ke pangkalan udara terdekat, lalu menyambung dengan helikopter serbu siluman berkecepatan tinggi yang mendarat langsung di atas bukit batu belakang dermaga... kita bisa tiba di sana sepuluh menit sebelum mereka sempat memindahkan Ibu Aminah ke kapal pelarian utama."
Kaelen menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman sinis yang sangat seksi dan menawan di tengah ketegangan.
"Kalkulasi taktis yang sempurna, Tuan Putri. Jet kita sudah siap di landasan pacu. Semua persenjataan dan perlengkapan pengasihan frekuensi yang kamu butuhkan sudah ada di dalam kabin."
Sementara itu, di sebuah gudang tua yang pengap dan berbau karat di pinggiran dermaga lama Kupang, suasana tampak sangat suram. Suara deburan ombak laut yang menghantam dinding pembatas batu terdengar berirama di luar. Di dalam gudang, cahaya hanya berasal dari sebola lampu pijar kuning yang menggantung bergoyang-goyang di langit-langit, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang mengerikan.
Ibu Aminah duduk terikat di atas sebuah kursi kayu tua di tengah ruangan. Wajah wanita paruh baya yang penuh guratan kelelahan itu tampak pucat, dan selang oksigen portabelnya terpasang dengan sisa daya baterai yang kian menipis.
Tubuhnya yang lemah bergetar setiap kali mendengar bentakan dari para pria kekar berpakaian taktis yang berjaga di sekelilingnya.
Di sudut kegelapan gudang, sesosok wanita dengan jubah hitam panjang melangkah maju ke dalam lingkaran cahaya. Begitu dia membuka tudung kepalanya, wajahnya yang penuh dengan gurat keputusasaan dan dendam kesumat langsung terlihat jelas di bawah cahaya lampu.
Dia adalah Nyonya Rosalind Dirgantara.
Setelah diusir secara memalukan oleh Tuan Bramasta dari hotel beberapa jam lalu, wanita sosialita ini telah kehilangan seluruh akal sehatnya. Gengsi, kekayaan, dan status sosialnya hancur dalam satu malam karena rekaman CCTV yang disebarkan Haena. Baginya, satu-satunya cara untuk membalikkan keadaan atau setidaknya membalas dendam adalah dengan melenyapkan sumber kebahagiaan terbesar Haena.
"Wanita tua sialan," desis Nyonya Rosalind, matanya melotot penuh kegilaan saat dia mencengkeram rahang Ibu Aminah dengan kasar hingga wanita tua itu meringis kesakitan.
"Gara-gara anak haram yang kamu rawat dari selokan itu, hidupku dan Vanya hancur! Martabatku diinjak-injak! Jika jalang kecil itu berani menginjakkan kakinya di dermaga ini demi menyelamatkanmu... aku sendiri yang akan memastikan kalian berdua tenggelam di dasar laut terdalam malam ini juga!"
Ibu Aminah menatap Nyonya Rosalind dengan sisa-sisa kekuatannya, air mata menetes melewati pipinya yang keriput.
"Nyonya... Haena adalah anak yang baik... dia tidak bersalah... tolong... jangan sakiti dia..."
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ibu Aminah, membuat wanita tua itu terbatuk lemas.
"Diam kamu! Hak apa yang dimiliki seorang pelayan kedai soto untuk menceramahiku?!" pekik Nyonya Rosalind histeris. Dia berbalik menatap pemimpin pria bersenjata di sampingnya.
"Bagaimana dengan jalurnya?! Apakah kapal penyelamat kita sudah siap?!"
"Sudah siap di belakang dermaga, Nyonya. Begitu gadis itu tiba atau waktu enam jam habis, kita akan langsung meledakkan gudang ini dan pergi menggunakan jalur laut lepas," jawab pria itu dengan nada dingin.
Namun, tepat pada detik itu, seluruh lampu pijar di dalam gudang mendadak berkedip cepat sebelum akhirnya padam total, melemparkan seisi ruangan ke dalam kegelapan yang pekat. Suara gemuruh angin malam dari luar mendadak terputus, digantikan oleh suara desingan frekuensi tinggi yang sangat aneh yang mendadak memekakkan telinga para pria bersenjata tersebut.
BZZZZT!
Sistem komunikasi radio nirkabel yang terpasang di telinga para penjaga mendadak mengeluarkan suara dengungan statis yang sangat keras, membuat mereka berteriak kesakitan dan melepaskan perangkat tersebut dari telinga mereka.
"Ada apa ini?! Siapa yang meretas frekuensi kita?!" teriak sang pemimpin dengan panik, mencoba mengokang senapan otomatisnya di tengah kegelapan.
Sebelum ada yang sempat menjawab, dinding kaca jendela bagian atas gudang hancur berkeping-keping akibat hantaman granat kejut taktis yang memancarkan kilatan cahaya putih yang membutakan dan suara ledakan yang memekakkan saraf.
BOOM!
Di tengah kekacauan, asap putih tebal, dan jeritan panik para penculik, sebuah pintu besi besar di depan gudang jebol dihantam oleh tendangan super kuat. Dari balik kabut asap yang tebal, melangkah masuk dua sosok siluet yang memancarkan aura kematian yang sangat pekat.
Haena Dirgantara berdiri di sana, gaun sutra putih murninya kini tampak kontras di tengah kegelapan gudang yang kotor. Dari balik kacamata transparannya, sepasang matanya menatap tajam langsung ke arah Nyonya Rosalind dengan pandangan yang sanggup membekukan darah siapa saja yang melihatnya. Di sampingnya, Kaelen Arkananta berdiri dengan senjata taktis berperedam suara di tangan kanannya, siap mengeksekusi siapa saja yang berani bergerak.
Mental baja sang pewaris sejati telah tiba di medan perang, dan malam ini, dermaga tua itu akan saksi bagaimana kecerdasan mutlak Haena menghancurkan sisa-sisa kesombongan para musuhnya hingga tak bersisa.
(Cliffhanger)
"Saat pemimpin penculik yang tersisa mencoba mengarahkan senjatanya ke kepala Ibu Aminah sebagai sandera terakhir, Haena dengan tenang menekan satu tombol di jam tangannya, mengaktifkan cip mikroskopis yang memicu gelombang pulsa elektromagnetik lokal yang langsung meledakkan baterai senjata elektronik para penyerang. Namun, di tengah kepanikan itu, Nyonya Rosalind yang sudah gila tiba-tiba menarik tuas bom waktu manual yang tersembunyi di bawah lantai, memicu jam digital bom yang langsung menghitung mundur dari waktu tiga puluh detik saja."