🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa
Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.
Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Terlarang Dan Kekuatan Purba
Angin kencang makin menderu kencang, membawa hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang belulang. Di sekitar gerbang batu hitam itu, rombongan kerajaan berdiri berbaris rapi, wajah mereka tampak tegang dan penuh rasa takut bercampur rasa hormat pada tempat itu. Di ujung sana, Pangeran Hao dan Kaisar Yuan berdiri di atas panggung batu yang telah disiapkan, diapit oleh para pendeta tua berjubah abu-abu yang wajahnya penuh kerutan dan mata yang kosong namun berkilat tajam.
Xiao Chen dan Shen Yue berdiri tegak di hadapan mereka, tidak mundur selangkah pun. Di belakang mereka, A-Ming dan pasukan pribadi bersiaga penuh, tangan erat memegang gagang senjata, siap bergerak seketika.
"Kalian bertanya-tanya kenapa kami memanggil kalian ke sini, bukan?" suara Kaisar Yuan terdengar pelan namun jelas, bergema di antara bebatuan. Pria tua itu melangkah maju selangkah, matanya yang dulu redup kini berkilat penuh ambisi dan kegilaan yang tersembunyi. "Kalian pikir kedatangan kalian kemarin ke istana hanyalah sekadar jamuan makan atau penghormatan? Tidak... itu hanyalah ujian kecil. Ujian untuk melihat seberapa besar kekuatan yang kalian miliki, seberapa murni energi kehidupan yang mengalir di dalam darah wanita ini."
Kaisar menunjuk lurus ke arah Shen Yue.
"Konon, ribuan tahun yang lalu, ada keturunan terpilih yang diberkati oleh Bumi dan Langit. Mereka disebut Penjaga Kehidupan. Mereka lahir dengan kemampuan berbicara dengan alam, memanggil energi, dan menyatukan kekuatan dunia. Dulu, mereka sangat dihormati... sampai para penguasa sadar bahwa kekuatan itu bisa diambil, bisa dicuri, bisa digunakan untuk menjadi abadi dan berkuasa mutlak."
Pangeran Hao menyambung dengan suara keras dan penuh kemenangan, tertawa lebar melihat wajah kaget Xiao Chen.
"Keturunan itu dianggap punah, hilang ditelan waktu. Tapi ternyata tidak! Kau, Nona Su... kau adalah keturunan terakhir itu! Dan Xiao Chen... kau bukan sekadar panglima perang atau anak bangsawan. Kau adalah Pendamping Takdir, orang yang lahir dengan jiwa ganda yang kokoh, yang bisa menyerap dan menyalurkan energi besar tanpa hancur. Kalian berdua... adalah pasangan sempurna yang kami cari selama puluhan tahun. Kunci untuk membuka gerbang kekuatan mutlak di puncak gunung ini!"
Xiao Chen merasa darahnya mendidih. Semua kebaikan, semua penghormatan, semua kata-kata manis kemarin di istana... semuanya palsu. Semuanya sudah direncanakan jauh-jauh hari. Mereka tidak peduli siapa mereka, mereka hanya menginginkan tubuh dan kekuatan mereka sebagai alat.
"Jadi begini rencana kotor kalian..." desis Xiao Chen dingin, aura membunuh mulai menyebar dari tubuhnya, membuat tanah di sekitarnya bergetar pelan. "Kalian ingin menggunakan kami sebagai tumbal? Mengambil kekuatan Yue, mengambil jiwaku, demi ambisi gila kalian?"
Kaisar Yuan menggeleng pelan, tersenyum penuh kemunafikan.
"Bukan tumbal, Xiao Chen. Ini pengabdian terbesar bagi kerajaan. Kalian akan menjadi bagian dari kekuatan abadi kami. Nama kalian akan dikenang selamanya sebagai pahlawan yang memberikan nyawa dan jiwanya demi kejayaan kekaisaran."
Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Para pendeta di sampingnya langsung mulai melantunkan nyanyian-nyanyian kuno dengan nada rendah dan seram. Suara itu bergema, berpadu dengan suara angin, menciptakan getaran aneh yang membuat kepala siapa saja yang mendengarnya pening dan mual.
"Lakukan persiapan!" seru Kaisar. "Mulai Ritual Penyerapan Jiwa!"
Seketika itu juga, pasukan kerajaan di sekeliling mereka bergerak serentak, mengelilingi Xiao Chen dan Shen Yue membentuk lingkaran rapat, senjata terhunus dan mengarah ke dalam. Di tanah, garis-garis rumit berwarna merah darah mulai menyala sendiri, membentuk pola lingkaran sihir besar yang menjebak mereka di tengah.
Xiao Chen langsung menghunus pedangnya, cahaya perak tajam memancar dari bilah senjata itu. Ia berputar cepat, menangkis serangan pertama yang datang, tubuhnya bergerak lincah dan mematikan. Di dalam dirinya, ketiga jiwa itu bersatu padu—Xiao Yi memimpin pertahanan, Xiao Lei mengatur serangan kilat, dan Xiao Mo mengawasi setiap celah yang terbuka.
"Jangan biarkan mereka mendekat ke Yue!" teriak Xiao Chen, suaranya menggelegar. Pedangnya berputar bagai perisai cahaya, memukul mundur puluhan prajurit yang mencoba masuk.
Namun, kekuatan sebenarnya bukan dari pasukan itu. Para pendeta tua itu makin bersuara keras. Lingkaran merah di tanah makin menyala terang, dan dari dalam tanah muncul bayangan-bayangan tangan hitam panjang, menjulur ke atas mencoba menangkap kaki dan tangan Shen Yue.
Shen Yue berdiri diam di tengah badai serangan itu. Ia tidak takut, tidak panik. Matanya terpejam rapat, tangannya menggenggam tongkat kayu mawar makin erat. Ia merasakan energi jahat itu berusaha menariknya ke bawah, berusaha menyedot esensi kehidupan dari dalam dirinya. Ia merasakan sakit, rasa dingin yang menusuk, rasa haus yang besar mencoba menghancurkan dirinya.
Tapi ingatannya melayang kembali ke taman belakang kediaman Xiao. Ingatan tentang tanah mati yang ia hidupkan, tentang bunga mawar yang tumbuh kokoh, tentang tangan hangat Xiao Chen yang selalu ada di sisinya.
"Aku bukan alat. Aku bukan sumber energi. Aku adalah Kehidupan. Dan Kehidupan tidak pernah tunduk pada kekerasan."
Shen Yue membuka matanya. Kali ini, mata itu bukan lagi berwarna cokelat lembut seperti biasa. Matanya kini berkilat dengan cahaya hijau terang, sama persis dengan warna daun yang segar dan tanah yang subur. Cahaya itu memancar keluar, menerangi seluruh area di sekitar mereka.
"DENGARKAN AKU, KALIAN YANG SERAKAH!" suara Shen Yue tidak lagi halus, tapi bergema keras, berat, dan berwibawa, seolah bukan hanya suaranya yang berbicara, tapi seluruh bumi di bawah kaki mereka.
Ia mengangkat tongkat kayunya tinggi ke udara. Di ujung tongkat itu, bunga mawar merah yang mekar tiba-tiba memancarkan cahaya menyilaukan.
"Kalian mengira bisa mengambil kehidupan dengan cara menyiksa dan memaksa? Kalian salah besar! Kehidupan itu bebas! Kehidupan itu kuat! Dan Kehidupan akan melawan siapa saja yang mencoba mengurungnya!"
Dengan satu gerakan cepat, Shen Yue menancapkan tongkatnya ke tanah berbatu yang keras itu.
DUARRR!
Suara dentuman besar terdengar, diikuti guncangan hebat seolah gunung itu sendiri mau runtuh. Dari titik di mana tongkat itu menancap, retakan-retakan halus menyebar ke segala arah dengan kecepatan kilat. Dan dari dalam retakan itu... bukan api atau lava yang keluar.
Melainkan tunas-tunas hijau yang sangat besar, sangat kuat, dan tumbuh dengan kecepatan yang tak terbayangkan.
Tunas itu menembus bebatuan keras, menjalar naik ke atas, membelit bayangan-bayangan tangan hitam itu dan menghancurkannya menjadi debu seketika. Tunas itu tumbuh makin besar, berubah menjadi tanaman rambat berduri tajam, membelit kaki para prajurit, menahan gerakan mereka, dan merambat naik ke tembok-tembok batu di sekitar.
Lingkaran sihir merah yang disiapkan para pendeta itu bergetar hebat, lalu perlahan cahayanya memudar dan mati tertutup oleh lumut dan bunga-bunga liar yang tumbuh subur di atasnya. Para pendeta tua itu terhuyung mundur, wajah mereka pucat pasi, mulut terbuka tak percaya melihat sihir mereka dihancurkan begitu saja oleh kekuatan alam yang murni.
"Mustahil..." gumam Kaisar Yuan terbelalak, mundur selangkah demi selangkah karena terkejut. "Kekuatan ini... jauh lebih besar dari yang kami duga... dia tidak hanya Penjaga... dia adalah Hati Alam itu sendiri!"
Pangeran Hao yang sedari tadi yakin menang kini tampak panik. Ia mencoba maju, mencoba memerintahkan pasukannya lagi, tapi tanaman-tanaman berduri itu makin banyak, makin tinggi, makin kokoh, seolah hidup dan melindungi Shen Yue serta Xiao Chen.
Xiao Chen melompat mundur, mendarat tepat di samping Shen Yue. Ia menatap kekasihnya dengan pandangan kagum dan bangga yang tak terhingga. Ia merasakan energi yang memancar dari wanita itu, energi yang menyatu dengan dirinya sendiri, membuat kekuatannya berlipat ganda berkali-kali lipat.
"Kau luar biasa, Yue..." bisik Xiao Chen dengan senyum bangga. Pedangnya ia arahkan lurus ke arah Kaisar dan Hao yang kini terjebak di atas panggung batu yang mulai ditumbuhi tanaman liar. "Lihatlah apa yang kalian bangun. Kalian mengira kalian penguasa? Kalian hanya semut kecil yang mencoba memerintah bumi itu sendiri."
Shen Yue menatap tajam ke arah mereka berdua, cahaya di matanya perlahan mereda kembali menjadi lembut namun masih menyimpan wibawa yang menakutkan.
"Kalian ingin kekuatan? Kalian ingin abadi? Kalian ingin menguasai segalanya?" tanya Shen Yue keras, suaranya terdengar ke seluruh penjuru lereng gunung. "Dengarkan baik-baik jawaban alam ini: TIDAK! Kekuatan sejati tidak didapatkan dengan mencuri atau menyiksa. Kekuatan sejati lahir dari memberi, dari merawat, dari mencintai. Kalian sudah lupa itu. Dan karena itu... kalian tidak pantas mendapatkan apa pun selain kehancuran atas ambisi kalian sendiri."
Tiba-tiba, langit di atas mereka berubah drastis. Awan kelabu yang tadinya diam bergerak berputar kencang, berkumpul di puncak gunung, membentuk pusaran besar yang gelap. Dari pusaran itu, turun cahaya keemasan yang menyilaukan, menyinari tepat ke tempat Shen Yue berdiri.
Suara gemuruh terdengar dari langit dan bumi bersamaan, seolah gunung itu berbicara.
"Penjaga Telah Kembali... Keseimbangan Akan Dipulihkan... Yang Benar Akan Tegak... Yang Jahat Akan Musnah..."
Kaisar Yuan jatuh berlutut, tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan. Ia sadar sekarang. Ia sadar bahwa apa yang ia kejar selama puluhan tahun, apa yang ia anggap sebagai alat... ternyata adalah penguasa sejati yang jauh lebih tinggi dan lebih berkuasa daripada Kaisar mana pun.
Pangeran Hao berusaha lari, berbalik ingin turun gunung, tapi jalan yang tadi mereka lewati kini sudah berubah total. Kabut tebal itu hilang, digantikan oleh hutan lebat yang tumbuh dalam sekejap mata, menghalangi jalan turun. Ia terperangkap di atas gunung itu, terperangkap bersama dosa-dosanya.
Xiao Chen melangkah maju satu langkah, bayangannya menjulur panjang menutupi Kaisar dan Hao. Aura ketiga jiwanya bersatu, memancarkan tekanan yang begitu berat hingga siapa saja yang ada di dekatnya sulit bernapas.
"Permainan selesai, Kaisar... Hao..." ucap Xiao Chen dingin dan tajam. "Kalian yang memanggil kami ke sini. Kalian yang memaksa kami menunjukkan kekuatan kami. Dan sekarang... kalian harus menerima akibatnya."
Namun, Shen Yue mengangkat tangan, menghentikan langkah Xiao Chen. Ia menatap kedua pria itu dengan pandangan sedih, bukan marah.
"Kami tidak datang untuk menghakimi atau membunuh, meskipun kalian pantas mendapatkannya," ucap Shen Yue pelan namun tegas. Ia menatap ke arah para pejabat dan pasukan yang diam ketakutan. "Tapi kami datang untuk mengingatkan kalian semua. Alam ini bukan milik manusia untuk dijarah. Kekuasaan bukan alasan untuk menjadi serakah. Hari ini, kami membiarkan kalian hidup. Tapi ingatlah baik-baik apa yang terjadi di sini hari ini."
Ia menunjuk ke arah puncak gunung yang kini bersinar terang.
"Gerbang kekuatan di sana tetap tertutup bagi siapa saja yang berniat jahat. Dan mulai hari ini, aku, Su Shen Yue... dan dia, Xiao Chen... kami adalah Penjaga wilayah ini. Kami akan memastikan tidak ada lagi yang berani menyiksa alam, tidak ada lagi yang berani menyakiti kehidupan demi ambisi pribadi. Siapa pun yang melanggar... akan merasakan kemarahan bumi dan langit."
Angin berhembus pelan kembali, membawa udara segar dan wangi bunga yang harum, menghapus hawa jahat dan dingin yang tadinya menyelimuti tempat itu. Awan di langit perlahan membuka, memperlihatkan matahari yang bersinar hangat dan terang, menyinari seluruh lereng gunung yang kini berubah menjadi hijau subur, indah, dan penuh kehidupan.
Gunung Suci yang dulunya mati, dingin, dan tertutup kabut hitam... kini kembali menjadi tempat yang suci, indah, dan damai, seperti namanya.
Kaisar Yuan bangkit berdiri dengan susah payah, menundukkan kepalanya rendah penuh rasa malu dan hormat yang terpaksa namun nyata. Ia sadar, kekuasaannya sebagai Kaisar berakhir hari ini. Penguasa sejati yang sesungguhnya... berdiri di hadapannya sekarang.
"Kami mengakui kekuatan kalian..." ucap Kaisar Yuan parau. "Dan kami akan patuh pada aturan baru ini."
Pangeran Hao terduduk lemas di tanah, semangatnya hancur lebur, ambisinya musnah tak bersisa. Ia tahu, mulai hari ini, ia bukan lagi panglima tertinggi yang ditakuti. Ia hanyalah orang yang gagal dan kalah telak oleh kekuatan yang jauh lebih besar.
Xiao Chen dan Shen Yue berbalik, berjalan berdampingan menuruni gunung. Di belakang mereka, tanaman-tanaman indah mengiringi langkah mereka, membuka jalan yang lebar dan nyaman.
Misi mereka selesai. Ancaman terbesar teratasi. Rahasia besar terungkap. Dan kekuatan sejati mereka akhirnya terbangun sepenuhnya. Tapi perjalanan mereka belum berakhir. Masih ada wilayah-wilayah lain yang rusak, masih ada rahasia masa lalu yang belum terungkap, dan masih ada tugas berat sebagai Penjaga Alam yang harus mereka emban sampai akhir hayat.
Mereka baru saja memasuki fase baru dalam hidup mereka. Fase di mana mereka bukan lagi sekadar pasangan yang ingin hidup damai... melainkan Penguasa Sejati yang akan melindungi dan menyeimbangkan seluruh negeri ini.