"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Hukuman di Balik Pintu Terkunci
BAB 5: Hukuman di Balik Pintu Terkunci
Begitu bel tanda berakhirnya jam kuliah berbunyi, Kiara sengaja memperlambat gerakannya saat mengemas buku ke dalam tas. Teman-teman sekelasnya satu per satu mulai meninggalkan ruangan dengan wajah lega, berbanding terbalik dengan Kiara yang merasa kaki-kakinya seolah terpaku di lantai. Pesan ancaman dari Adrian di ponselnya masih terbayang jelas, seolah membakar layar gawai yang kini ia genggam dengan tangan gemetar.
Dengan langkah berat, Kiara berjalan menyusuri koridor gedung fakultas ekonomi yang mulai sepi karena jam istirahat siang. Begitu tiba di depan pintu kayu jati bertuliskan 'Ruang Kerja: Prof. Adrian Alkatiri', Kiara mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya sebelum mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
"Masuk," terdengar suara bariton yang berat dari dalam.
Kiara memutar knop pintu dan melangkah masuk. Belum sempat ia mengucapkan salam, sebuah tangan kekar dengan cepat menarik lengannya, menyeret tubuh mungil Kiara ke dalam, lalu menutup pintu rapat-rapat.
Klik.
Suara kunci pintu yang berputar seketika membuat bulu kuduk Kiara meremang. Sebelum Kiara sempat memprotes, tubuhnya sudah disudutkan ke daun pintu yang keras. Adrian berdiri di depannya, mengunci pergerakan Kiara dengan kedua lengan kekarnya yang menumpu pada pintu di sisi kanan dan kiri kepala Kiara.
Adrian sudah melepas kacamata bacanya dan melonggarkan beberapa kancing kemeja abu-abunya, menampilkan sedikit dada bidangnya yang kecokelatan. Aroma parfum sandalwood yang panas dan maskulin langsung mengepung indra penciuman Kiara, memutus pasokan oksigennya dalam sekejap.
"A-Adrian... lepas. Ini di kampus, bagaimana kalau ada dosen lain yang lewat?" bisik Kiara panik, mencoba mendorong dada bidang Adrian dengan kedua telapak tangannya.
Namun, Adrian justru terkekeh tengil. Seringai nakal terukir di wajah tampannya yang luar biasa itu. "Biarkan saja. Tirai jendela sudah kututup rapat, Sayang. Tidak akan ada yang tahu apa yang sedang kulakukan pada mahasiswaku yang pembangkang ini."
Adrian menundukkan kepalanya, memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Tatapan elangnya mengunci manik mata Kiara yang bergerak gelisah. Dengan gerakan perlahan yang menyiksa, jemari panjang Adrian merayap naik dari pinggang Kiara, menyusuri lekuk tubuhnya di balik kemeja putih, hingga berhenti di rahang tegas Kiara.
Adrian memiringkan wajahnya, lalu mulai mendaratkan cumbuan yang panas dan menuntut di leher jenjang Kiara. Bibir seksinya menghisap dan menggigit kecil kulit sensitif di sana, membuat Kiara terlonjak kecil.
"Ahhh... Adrian, ja-jangan..." Kiara melenguh pelan, mencoba menghindari cumbuan itu dengan memalingkan wajahnya ke samping. Tapi gerakan itu justru memberi Adrian akses yang lebih luas untuk menjajah ceruk lehernya.
Tangan Kiara yang awalnya mendorong dada Adrian perlahan kehilangan kekuatannya, meremas kemeja pria itu demi mencari tumpuan karena kedua lututnya mendadak terasa seperti jeli. Sentuhan Adrian begitu membakar, memicu gairah liar yang selama ini terpendam di dalam dirinya.
Di tengah desakan gairah yang mulai menguasai akal sehatnya, dan di sela-sela usahanya menghindari sentuhan intens sang profesor, sebuah pertanyaan besar mendadak menyeruak di dalam benak Kiara. Hatinya berdenyut perih oleh rasa penasaran yang teramat sangat.
Kenapa harus aku? batin Kiara bertanya-tanya di tengah deru napasnya yang memburu.
Di kampus ini, ada ratusan mahasiswi lain yang jauh lebih cantik, lebih kaya, dan dari keluarga terpandang yang mengantre untuk mendapatkan perhatiannya. Lalu, apa istimewanya aku? Kenapa pria sekelas Profesor Adrian Alkatiri memilih gadis miskin yang terjerat utang paman judi sepertiku untuk menjadi istri rahasianya? Apakah ini murni karena kontrak, atau ada obsesi gelap lain yang sengaja dia sembunyikan dariku?
Pikiran itu membuat Kiara mendadak mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Dia memalingkan wajahnya dengan tegas, menjauhkan lehernya dari bibir panas Adrian.
"Hentikan, Adrian! Tolong jawab aku dulu," lirih Kiara dengan napas terengah-engah, matanya menatap Adrian dengan pandangan menuntut, mencari jawaban di balik kabut gairah yang menyelimuti mata pria itu.
Adrian menghentikan cumbuannya sekilas. Dia menjauhkan wajahnya beberapa senti, menatap Kiara yang kini sedang menatapnya dengan binar mata yang terluka dan penuh tanya. Bukannya marah karena kegiatannya terganggu, Adrian justru mengusap bibir bawah Kiara yang sedikit bengkak akibat cumbuannya tadi menggunakan ibu jarinya dengan sangat lembut.
"Kenapa? Kamu mau bertanya kenapa aku memilihmu, hm?" tebak Adrian seolah bisa membaca isi kepala Kiara.
Adrian mendekatkan kembali bibirnya ke telinga Kiara, membisikkan kalimat yang membuat jantung Kiara berdentum dua kali lebih cepat.
"Kamu tidak perlu tahu apa istimewamu di mataku, Kiara. Yang jelas... sejak pertama kali melihatmu membaca buku di perpustakaan setahun yang lalu, aku sudah tahu... tubuh dan jiwamu ini hanya diciptakan untuk menjadi milikku. Kontrak itu hanya jalanku untuk mengikatmu agar tidak bisa lari kemana-mana," bisik Adrian dengan nada posesif yang begitu pekat, sebelum kembali membungkam bibir Kiara dengan ciuman yang jauh lebih panas, lebih dalam, dan penuh dominasi mutlak, menutup seluruh celah bagi Kiara untuk kembali bertanya.