Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Amukan Arwah Dewa Kuno
Udara di bibir ngarai itu terasa setebal lumpur es. Tekanan spiritual dari puluhan arwah dewa kuno yang bangkit dari dasar jurang bukanlah sesuatu yang bisa ditanggung oleh manusia fana.
Meskipun mereka hanyalah sisa-sisa jiwa yang telah membusuk jutaan tahun, kebencian mereka terhadap "Garis Darah Asura" mengubah mereka menjadi entitas pembunuh yang buta.
"Darah... Bayar dengan darah..."
Sesosok arwah setinggi tiga tombak yang mengenakan sisa zirah emas compang-camping mengayunkan tombak raksasa yang terbuat dari energi Yin murni. Tombak itu membelah udara, mengarah lurus ke tempat Zhao Ying berdiri, membawa serta jeritan ribuan jiwa yang tersiksa.
Qian Fugui menjerit histeris, menutupi kepalanya dan berguling ke balik batu pualam yang hancur.
Namun, tombak itu tidak pernah menyentuh sasarannya.
TRAAAANG!
Bunyi benturan logam yang sangat memekakkan telinga meledak. Gelombang kejutnya menyapu debu dan kerikil hingga puluhan tombak ke belakang.
Zeng Niu berdiri tegak dengan kedua kakinya sedikit tertekuk, menahan tombak raksasa itu menggunakan Bilah Penebas Tulang. Jubah hitamnya berkibar ganas. Dantian jahitannya menjerit kesakitan karena ia memaksakan Qi Tahap 4-nya untuk menyokong kekuatan fisiknya, namun wajah perunggunya sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar.
"Benda mati jangan banyak bicara!" raung Zeng Niu.
Sebuah fenomena terjadi. Saat pedang hitam kusam itu berbenturan dengan energi Yin kuno, bilah pedang yang tadinya terlihat seperti batu karang mati mendadak berdenyut. Niat Membunuh murni dari medan perang zaman purba ini meresap ke dalam Bilah Penebas Tulang layaknya air yang diserap!
Pedang itu menjadi seringan bulu di tangan Zeng Niu, namun bobot serangannya meningkat sepuluh kali lipat!
Zeng Niu memutar pergelangan tangannya. Dengan satu ayunan kasar yang tidak memiliki teknik keindahan sama sekali murni tebasan algojo pemotong daging ia membelah tombak arwah itu menjadi dua. Ayunannya tidak berhenti di situ; pedang itu terus melaju dan merobek pinggang arwah raksasa tersebut.
SRAAAAK!
Arwah dewa kuno itu menjerit melengking sebelum akhirnya memudar menjadi asap hitam yang kembali tertiup ke dalam jurang.
Namun, di belakang arwah itu, selusin arwah lainnya sudah bersiap menerjang. Mereka layaknya ombak kematian yang tak berujung.
"Zeng Niu! Kau tidak bisa melawan mereka semua dengan Qi sekecil itu! Tubuhmu akan meledak dari dalam!" teriak Zhao Ying cemas, matanya dengan cepat memindai lingkungan sekitar mencari jalan keluar.
"Tentu saja aku tidak bisa! Aku bukan dewa!" balas Zeng Niu sambil melompat mundur untuk menghindari sabetan rantai roh. Ia melirik tajam ke arah batu tempat Fugui bersembunyi. "Gendut! Kau mau mati sebagai babi panggang di sini?! Lakukan sesuatu!"
Qian Fugui, yang sedang gemetar hebat, akhirnya menyadari bahwa jika Zeng Niu mati, ia akan menjadi lauk pembuka bagi hantu-hantu raksasa ini.
"A-Aku Daoist Fugui! Aku tidak takut pada hantu masa lalu!" jerit Fugui memotivasi dirinya sendiri yang sedang menangis. Ia merogoh kantongnya dengan panik. "Jimat Pembakar Langit! Jimat Penghancur Iblis! Ah, persetan, makan ini semua!"
Fugui melemparkan segenggam penuh kertas kuning murahan yang ia taburi dengan bubuk mesiu fana dan sisa darah anjing hitam dari jubahnya.
BLAAAAR! BOOOM!
Rangkaian ledakan api murahan dan asap belerang menyelimuti tepi tebing. Serangan itu tentu tidak cukup untuk membunuh dewa kuno, namun gabungan api elemen Yang yang sangat kotor dan berisik itu sukses membuat para arwah kebingungan dan mundur setengah langkah karena jijik.
"Hah! Berhasil!" Fugui bersorak girang, meski hidungnya sendiri hitam terkena asap ledakan.
Di detik yang sama, mata Zhao Ying menangkap sebuah resonansi aneh.
Setiap kali para arwah itu menyerang, darah emas yang membeku di udara darah para musuh ayahnya bergetar pelan. Dan di seberang ngarai, pilar-pilar patah dari Gerbang Makam Asura memancarkan cahaya abu-abu yang merespons garis darah di nadinya.
"Pintu itu... Pintu itu mengenaliku!" seru Zhao Ying. Sang Bintang Putih tidak ragu lagi. Ia menggigit ujung jari telunjuknya hingga berdarah.
Menggunakan darah asuranya sendiri yang murni, Zhao Ying mengoleskannya ke telapak tangannya, lalu menampar tanah di bibir tebing dengan keras.
"Dengan darah Sang Tiran Ketiadaan... Aku memerintahkan jalan ini untuk terbuka!"
WUUUUUUNG!
Sebuah dengungan kosmik yang sangat dalam menggetarkan seluruh Hutan Pemakaman Dewa. Darah merah Zhao Ying yang menyentuh tanah bereaksi dengan aura Gerbang Asura di seberang sana.
Tiba-tiba, dari kegelapan jurang, bongkahan-bongkahan batu obsidian yang melayang liar ditarik oleh kekuatan tak kasatmata. Batu-batu itu menyatu dan berbaris di udara, membentuk sebuah jembatan gantung terapung yang menghubungkan tebing tempat mereka berada langsung menuju pelataran Gerbang Makam Asura.
Para arwah dewa kuno melihat jembatan itu terbentuk dan langsung meraung penuh amarah. Mereka mencoba menghancurkan batu-batu itu, namun cahaya abu-abu dari jembatan tersebut membakar tubuh roh mereka!
"Jalan sudah terbuka! Lari!" jerit Zhao Ying.
"Fugui! Gerak!" Zeng Niu menendang pantat pria gemuk itu hingga Fugui terlonjak dan berlari tunggang-langgang menaiki jembatan batu apung tersebut.
Zhao Ying berlari menyusul, namun langkah kakinya yang fana tidak secepat siluman. Seekor arwah bertangan empat yang membawa kapak raksasa berhasil menembus asap ledakan Fugui dan menerjang dari arah samping, mengincar leher Zhao Ying.
"Bintang Putih!"
Zeng Niu memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Tanpa memedulikan pertahanannya sendiri, ia melesat ke depan Zhao Ying.
Dengan kecepatan kilat, Zeng Niu melempar Bilah Penebas Tulang menggunakan tangan kanannya. Pedang raksasa itu berputar di udara seperti gergaji hitam, menghantam tepat di dada arwah bertangan empat itu dan mementalkannya ke belakang.
Namun, karena Zeng Niu melepaskan senjatanya, sisa gelombang angin dari kapak roh itu menyapu dadanya.
SREEEK!
Jubah sutra barunya robek, dan darah merembes keluar dari dada Zeng Niu yang baru saja dijahit beberapa hari lalu. Pemuda itu terhuyung, nyaris jatuh ke dalam jurang jika ia tidak memaksakan kaki kirinya menancap kuat ke tanah.
Melihat Zeng Niu terluka demi melindunginya lagi, mata Zhao Ying membelalak. Wajah dewinya yang selalu tenang kini dipenuhi kepanikan yang sangat manusiawi.
Alih-alih berlari menyelamatkan diri ke jembatan, Zhao Ying berbalik arah. Ia menerjang maju, menangkap tubuh Zeng Niu yang terhuyung dengan kedua tangannya, memeluk pemuda itu dengan erat untuk menstabilkannya.
"Kau bodoh! Kenapa kau melepaskan pedangmu?!" omel Zhao Ying, suaranya bergetar hebat. Aroma teratai es dari tubuhnya bercampur dengan bau darah segar Zeng Niu.
Zeng Niu mendengus pelan, menahan rasa sakit yang membakar dadanya. Ia menatap wajah Zhao Ying yang hanya berjarak beberapa inci darinya, melihat pantulan dirinya sendiri di mata jernih gadis itu.
"Pedang bisa dicari lagi," bisik Zeng Niu, suaranya parau namun penuh penekanan. "Tapi aku hanya punya satu Bintang Putih untuk diantar pulang."
Wajah Zhao Ying memerah sempurna, jantungnya berdetak kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya sendiri. Di tengah amukan arwah dewa dan ngarai kematian, gombalan kaku yang jujur dari sang algojo adalah senjata yang paling mematikan bagi pertahanan hatinya.
Zeng Niu tidak membiarkan kecanggungan itu bertahan lama. Ia mengulurkan tangannya, dan Bilah Penebas Tulang yang tertanam di dada arwah di kejauhan terbang kembali ke genggamannya (tertarik oleh Niat Membunuh yang saling beresonansi).
"Ayo!" Zeng Niu memeluk pinggang Zhao Ying dengan tangan kirinya, lalu menggunakan seluruh sisa tenaga fananya untuk melompat ke atas jembatan batu apung.
Mereka berlari melintasi jurang di tengah badai petir hitam dan raungan para dewa kuno yang murka. Qian Fugui sudah lebih dulu sampai di seberang, berteriak-teriak sambil melambaikan tangannya dengan panik.
"Cepat! Cepat! Hantu-hantu itu mengejar kalian!" teriak Fugui.
Saat kaki Zeng Niu dan Zhao Ying akhirnya menyentuh lantai pelataran Gerbang Makam Asura yang hancur, cahaya abu-abu dari jembatan itu seketika meredup. Batu-batu obsidian yang membentuknya runtuh kembali ke dasar ngarai, memotong jalan masuk.
Gelombang arwah yang mengejar mereka menabrak sebuah penghalang energi transparan di batas gerbang.
BZZZZT!
Para arwah itu terbakar oleh energi Ketiadaan peninggalan Sang Tiran, menjerit mundur kembali ke dalam ngarai. Mereka menatap Zhao Ying dengan penuh kebencian dari kejauhan, namun tak ada satu pun yang berani melangkah melewati batas gerbang kuno tersebut.
Keheningan seketika turun. Hanya tersisa suara napas yang memburu dari ketiga orang itu.
Zeng Niu melepaskan pelukannya pada pinggang Zhao Ying. Sang pemuda langsung jatuh terduduk di atas lantai batu yang dingin, menancapkan pedangnya ke tanah untuk menopang tubuhnya. Ia terbatuk keras, memuntahkan segumpal darah kotor. Memaksakan diri di tahap Pengumpulan Qi 4 sangat menyiksa organ dalamnya.
"S-Selamat... Kita selamat!" Qian Fugui ambruk mencium lantai batu, air mata kelegaan mengalir di pipi gemuknya. "Leluhur Sekte Awan Putih pasti sedang tersenyum dari surga melihat keturunannya menipu kematian... lagi!"
Zhao Ying segera berlutut di samping Zeng Niu. Tangannya yang lembut memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan pemuda itu. Alisnya bertaut cemas.
"Meridianmu kacau balau lagi," bisik Zhao Ying, mengeluarkan sapu tangan sutra dari balik lengan bajunya dan mengusap peluh serta darah di wajah perunggu Zeng Niu dengan sangat hati-hati.
Sentuhan lembut itu membuat Zeng Niu sedikit menegang. Ia bukan orang yang terbiasa dirawat dengan kelembutan. Selama hidupnya, luka diobati dengan obat keras, dan kelemahan disembunyikan. Namun, melihat sorot mata Zhao Ying yang dipenuhi kekhawatiran tulus... Zeng Niu membiarkan gadis itu membersihkan wajahnya.
"Aku baik-baik saja," gumam Zeng Niu, memalingkan wajahnya sedikit untuk menyembunyikan kecanggungannya. "Setidaknya jubah mahal ini hanya robek sedikit di bagian luar."
Mendengar Zeng Niu masih sempat memikirkan jubahnya, Zhao Ying tidak bisa menahan senyumnya. Ia memukul pelan bahu pemuda itu.
"Jubah bisa dibeli. Dantian jahitanmu itu yang tidak bisa dibeli," omel Zhao Ying lembut. Gadis itu lalu merogoh kantong kecil di pinggangnya, mengeluarkan sebutir Pil Pemulih Darah murah yang diberikan Tabib Gu, dan menyuapkannya langsung ke mulut Zeng Niu.
Zeng Niu menelan pil itu tanpa perlawanan. Di sudut pelataran, Qian Fugui yang baru selesai bersyukur pada leluhurnya, mengintip interaksi keduanya. Si pengecut berjubah kuning itu mendengus pelan sambil tersenyum geli.
"Ah, masa muda. Bahkan di kuburan dewa kuno pun masih sempat menebar bunga," gumam Fugui pelan pada dirinya sendiri, merasa sedikit iri namun bersyukur ia memilih untuk mengikuti dua orang gila ini.
Setelah napasnya mulai stabil, Zeng Niu bangkit berdiri dengan bantuan pedangnya. Matanya yang tajam menatap ke sekeliling mereka.
Mereka telah melewati Gerbang Makam Asura. Di hadapan mereka, bukan hutan lebat atau ngarai yang membentang, melainkan sebuah dunia kecil yang sangat berbeda.
Langit di dalam gerbang ini berwarna abu-abu konstan. Tanah yang mereka pijak berupa batuan putih bersih, dan di kejauhan, sebuah istana raksasa yang terbuat dari kristal gelap menjulang tinggi, memancarkan aura keabadian yang membeku.
"Ini bukan sekadar reruntuhan perang," bisik Zhao Ying, berdiri di samping Zeng Niu, tatapannya dipenuhi keajaiban dan kengerian misteri. "Zeng Niu... tempat ini adalah sebuah makam yang disegel secara sengaja. Ada sesuatu di dalam istana itu yang dijaga oleh ayahku agar tidak jatuh ke tangan dunia fana."
"Kalau begitu, mari kita lihat apa hadiah yang ditinggalkan ayah mertua maksudku, ayahmu di dalam sana," ucap Zeng Niu. Ia buru-buru meralat kata-katanya dengan wajah datar yang dipaksakan, meski ujung telinganya kembali merah.
Zhao Ying menoleh cepat, matanya membelalak kaget. Rona merah menjalar dari leher hingga ke pipinya. "A-Apa yang baru saja kau katakan?"
"Aku bilang ayahmu! Ayahmu sang Tiran itu!" bantah Zeng Niu dengan nada suara yang sedikit meninggi, segera melangkah maju menuju istana kristal gelap untuk menghindari tatapan sang Bintang Putih. "Ayo jalan, jangan buang waktu. Fugui, bawa ranselmu!"
Fugui tertawa terbahak-bahak sambil memanggul kantongnya. "Siap laksanakan, menantu Sang Tiran!"
"Diam kau, Gendut!"
Gema perdebatan canggung dan tawa kecil itu mengusir kesunyian purba di Makam Asura. Di tengah dunia yang kejam dan penuh misteri kuno, momen-momen kecil inilah yang menjadi penawar bagi jiwa mereka, mengikat ketiganya dalam sebuah perjalanan yang akan mengubah sejarah dunia selamanya.