NovelToon NovelToon
Kuali Penelan Bintang

Kuali Penelan Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Starlope

Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.

Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.

Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keajaiban

Inti api kekacauan berwarna hijau itu meluncur melewati kerongkongan Lin Ye, membawa serta esensi murni dari jutaan pil gagal dan ampas alkimia berusia dua ribu tahun.

Begitu inti itu menyentuh Kuali Penelan Bintang di Dantian-nya, sebuah ledakan energi yang maha dahsyat namun sunyi meletus di dalam tubuh Lin Ye. Cahaya keemasan dan hijau pekat memancar dari pori-pori kulitnya, menerangi kegelapan gudang raksasa itu layaknya matahari kecil.

Tubuh Lin Ye terangkat ke udara, melayang setinggi tiga tombak. Tulang-tulangnya berderit nyaring, memancarkan suara seperti tabuhan genderang perang surgawi. Otot-ototnya yang sekeras intan kembali memadat, menyerap seluruh esensi kekacauan itu untuk mengubah seluruh urat dagingnya.

Tubuh Primordial Tahap Menengah!

Kekuatan fisiknya melesat tak terkendali, mendaki dari sepuluh ribu kati, menembus dua puluh ribu, hingga akhirnya stabil di angka tiga puluh ribu kati tenaga naga purba. Di titik ini, hanya dengan satu jentikan jari, Lin Ye bisa menghancurkan senjata spiritual tingkat menengah menjadi serbuk besi.

Di bawahnya, Su Yue bersujud dengan tubuh gemetar hebat. Ia tidak berani menatap langsung ke arah Lin Ye. Cahaya yang dipancarkan pria itu terlalu menyilaukan, dan tekanan auranya membuat jiwa Su Yue merasa sekecil debu kosmik.

Perlahan, cahaya itu meredup. Lin Ye mendarat di tanah tanpa suara sedikit pun. Ia membuang napas panjang. Anehnya, napas yang keluar dari mulutnya bukanlah hawa kotor, melainkan hembusan kabut putih yang sangat wangi.

Kuali Penelan Bintang telah menelan seluruh racun dan hawa mematikan dari ampas tersebut, namun menyisakan esensi herbal murni tingkat tinggi yang tidak memiliki sifat merusak. Kabut wangi itu melayang di udara, berkumpul menjadi segumpal cairan energi berwarna putih keemasan sebesar kepalan tangan.

"Su Yue," panggil Lin Ye. Suaranya kini terdengar lebih dalam, mengandung gaung gema yang menggetarkan udara di sekitarnya.

"Y-ya, Senior!" Su Yue segera mendongak.

"Waktu kita hampir habis. Syarat ujian ini adalah memurnikan satu butir pil dari ampas di tempat ini, bukan?" Lin Ye menunjuk ke arah cairan energi putih keemasan yang melayang di depannya. "Aku sudah membuang racunnya. Gunakan Qi Es-mu. Padatkan esensi herbal murni ini menjadi sebuah pil. Jadikan itu tiket kemenanganmu."

Mata Su Yue membelalak takjub. Menggunakan Qi Es untuk memurnikan pil? Di dunia kultivasi, pil hanya bisa dimurnikan menggunakan Qi Api untuk melebur bahan. Namun, esensi di depannya ini sudah sepenuhnya melebur dan murni tanpa setitik pun kotoran. Ia hanya perlu membentuknya!

"Junior mengerti!"

Su Yue segera melompat bangun. Ia memusatkan seluruh Qi Es di Dantian-nya, mengarahkannya ke kedua telapak tangannya. Suhu di sekitar mereka anjlok. Hawa dingin Yin murni milik Su Yue menyelimuti cairan energi tersebut, mendinginkannya, menekan ukurannya, dan memadatkannya secara ekstrem.

Dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, cairan itu membeku dan menyusut menjadi sebuah pil bundar sempurna seukuran mutiara. Pil itu berwarna putih tembus pandang layaknya kristal es, dengan garis-garis emas berputar di dalamnya. Wangi pil itu begitu pekat hingga membuat pikiran menjadi sangat jernih hanya dengan menghirupnya.

"Pil Kristal Esensi Murni... tingkat kemurnian sepuluh dari sepuluh bagian," gumam Su Yue, tangannya gemetar memegang pil tersebut. "Bahkan Tetua Agung Alkimia pun tidak bisa membuat pil tanpa menyisakan sedikit racun pil. Tapi pil ini... benar-benar sempurna."

"Simpan kekagumanmu untuk dirimu sendiri," potong Lin Ye.

Sutra Kekosongan Penelan Bintang kembali berputar ke arah sebaliknya. Dalam sekejap mata, kulit perunggu yang bersinar keemasan itu memudar, kembali menjadi pucat dan kusam. Otot-ototnya yang tegang mengendur, bahunya merosot, dan matanya kembali memancarkan kepenatan seorang fana. Keranjang bambu hancur yang tadi dilemparnya, ia ganti dengan memungut sisa keranjang kayu lapuk yang ia temukan di sudut gudang.

Ia kembali menjadi pelayan rendahan yang tak berharga.

"Pintu akan segera dibuka. Ingat peranmu, Dewi Es," bisik Lin Ye dari balik punggungnya.

Di luar Gudang Ampas Alkimia Kuno.

Matahari pagi telah bersinar terang, menyinari lautan awan di bawah Puncak Naga Api. Pelataran obsidian yang panas itu kini dipenuhi oleh hampir seribu murid sekte dalam. Berita tentang kematian Su Yue yang dianggap pasti telah menarik perhatian banyak orang.

Di barisan terdepan, Tetua Bai Qingtian duduk di atas kursi kayu cendana yang dibawa khusus oleh muridnya. Ia menyesap teh spiritualnya dengan wajah tenang yang menyembunyikan kepuasan sadis. Di sampingnya, Yan Huo berdiri dengan tangan disilangkan, tertawa meremehkan bersama puluhan murid inti faksi alkimia.

Tepat di depan pintu perunggu raksasa itu, Yan Huo sengaja meletakkan sebuah peti mati kayu murahan yang terbuat dari kayu pinus biasa.

"Dua belas jam telah berlalu," Yan Huo berseru keras, suaranya diperkuat dengan Qi agar seluruh pelataran mendengarnya. "Bahkan tulang belulangnya pasti sudah mencair menjadi genangan nanah beracun sekarang. Sayang sekali Puncak Teratai Salju harus kehilangan pemimpinnya secepat ini."

Para murid faksi Naga Api tertawa terbahak-bahak.

"Tetua Bai," seorang Diaken dari faksi netral melangkah maju, membungkuk hormat. "Waktunya telah habis. Sesuai aturan ujian sekte, pintu harus dibuka untuk memastikan hasilnya."

Tetua Bai Qingtian meletakkan cangkir tehnya. Ia mengelus jenggot putihnya sambil mendesah panjang dengan nada kepalsuan yang menjijikkan. "Sangat disayangkan. Generasi muda zaman sekarang terlalu arogan dan tidak tahu batasan mereka. Kematiannya adalah pelajaran bagi kalian semua. Buka pintunya!"

Tetua Bai melemparkan lencana giok merahnya ke arah susunan formasi di dinding tebing.

Seluruh murid sekte langsung mundur sepuluh tombak ke belakang. Beberapa murid secara serentak mengaktifkan perisai pelindung Qi elemen angin dan api. Mereka tahu bahwa begitu pintu gudang ampas itu terbuka, gelombang badai kabut beracun yang mematikan akan menyembur keluar seperti letusan gunung berapi.

GGRRRUUUMM!

Pintu perunggu setinggi dua puluh tombak itu bergetar hebat. Debu batu berjatuhan saat engsel raksasanya bergeser terbuka secara perlahan, menciptakan celah lebar yang memperlihatkan kegelapan di dalamnya.

Para murid menahan napas, memicingkan mata, bersiap menahan hantaman bau busuk dan hawa beracun.

Namun... lima tarikan napas berlalu. Sepuluh tarikan napas berlalu.

Tidak ada kabut hijau yang menyembur keluar. Tidak ada hawa panas yang membakar. Tidak ada bau busuk limbah alkimia.

Sebaliknya, sebuah hembusan angin pagi yang sangat segar, sejuk, dan membawa aroma herbal spiritual murni berhembus keluar dari dalam gudang raksasa tersebut. Udara yang keluar dari tempat pembuangan racun itu justru lebih bersih daripada udara di puncak pegunungan!

"A-apa yang terjadi? Di mana kabut racunnya?!" Yan Huo berseru bingung, menurunkan perisai Qi-nya secara perlahan.

Tetua Bai Qingtian langsung berdiri dari kursinya, matanya membelalak lebar, wajahnya memancarkan ketidakpercayaan yang luar biasa. Indra spiritualnya melesat menembus kegelapan gudang, dan apa yang ia rasakan membuatnya nyaris tersedak ludahnya sendiri.

Langkah kaki.

1
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor menarik ceritanya semoga sampai tamat ceritanya
Aman Wijaya
lanjut terus gaaas njeduk Thor semangat
Aman Wijaya
jadilah kuat su Yue
Imam Abiyu Dzaky
teruss lanjutkan
Andira
mmm
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Wy Pereret
lanjut
SENJA
waaah
Andira
👍
Aman Wijaya
markotop top top lanjut terus
Aman Wijaya
gaaas terus Thor semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab su Yue
Aman Wijaya
mantab Lin Ye
Aman Wijaya
lanjut terus Thor tambah lagi updatenya 💪💪💪
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor
Aman Wijaya
mantab Thor semangat semangat
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut
Aman Wijaya
top top markotop lanjut
Aman Wijaya
lanjut terus semangat semangat terus Thor
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor lanjut terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!