Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Ia tidak akan menangis untuk Arven lagi. Ia tidak akan mengemis cinta lagi sekaligus tidak akan menjadikan cinta sebagai pusat hidupnya lagi, karena cinta yang selama ini ia perjuangkan ternyata hanya membawa kehancuran. Kanisha mengangkat wajahnya dan menatap hujan yang masih turun dengan deras lalu ia berbisik pelan.
"Mulai hari ini," Air matanya kembali jatuh namun kali ini bukan karena kelemahan melainkan karena sebuah keputusan. "Aku akan membuang semua perasaan yang ada dalam diriku."
Ia tidak ingin lagi hidup demi seseorang, tidak ingin lagi kehilangan dirinya sendiri demi cinta. Ia sudah cukup hancur, sudah cukup terluka dan sekarang saatnya berhenti. Perlahan Kanisha berdiri, tubuhnya masih gemetar namun tatapannya tidak lagi kosong seperti sebelumnya. Ia kembali teringat dirinya yang dulu. Kanisha Rayya Shanika, perempuan yang dikenal pintar, cantik, mandiri dan tidak pernah membiarkan siapa pun meremehkannya.
Perempuan yang dulu selalu percaya diri, perempuan yang dulu berani, perempuan yang dulu tidak menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun. Kemana perempuan itu pergi? Kemana dirinya yang dulu? Kanisha menarik napas panjang lalu mengusap air matanya sekali lagi.
"Aku akan kembali." Bisiknya pelan untuk dirinya sendiri, untuk harga dirinya, untuk masa depannya dan untuk semua luka yang malam ini mencoba menghancurkannya.
Kanisha Rayya Shanika yang lama mungkin telah mati malam ini, namun dari kehancuran itu, seseorang yang baru perlahan mulai lahir.
Seseorang yang tidak akan pernah membiarkan dirinya diinjak-injak lagi, seseorang yang akan bangkit dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya menyesal suatu hari nanti.
Malam semakin larut. Hujan masih turun tanpa ampun dari langit yang gelap. Jalanan kota terlihat lengang, lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas genangan air yang memenuhi pinggiran jalan.
Dengan tubuh yang basah kuyup dan langkah yang mulai terasa berat, Kanisha akhirnya berdiri di depan gerbang besar kediaman keluarga Winata. Rumah itu masih terlihat sama seperti yang ia ingat. Megah, hangat dan selalu menjadi tempat yang menerimanya tanpa syarat.
Entah kenapa, saat melihat bangunan itu, Kanisha merasakan dadanya justru terasa semakin sesak. Air mata yang sempat berhasil ia tahan kembali jatuh. Rumah ini selalu menjadi tempat ia pulang saat bahagia namun malam ini, ia pulang dalam keadaan hancur, benar-benar hancur. Kanisha menundukkan kepalanya sejenak. Tangannya tampak gemetar ketika menekan bel rumah.
Ding dong...
Suara bel menggema di tengah malam yang sunyi. Beberapa menit kemudian, salah satu pelayan yang sudah bekerja puluhan tahun di keluarga Winata segera membuka pintu. Begitu melihat siapa yang berdiri di depan rumah, mata wanita paruh baya itu langsung membelalak.
"Nona Kanisha?!"
Kanisha hanya tersenyum tipis. Senyum yang bahkan lebih menyakitkan daripada tangisan.
"Malam, Bi..."
Pelayan itu langsung panik.
"Ya Tuhan, Nona kenapa? Kok basah kuyup begini?"
Namun Kanisha hanya menggeleng pelan.
"Saya nggak apa apa, Bi. Cuma capek, kalau begitu saya masuk ke kamar dulu ya, Bi."
Kalimat sederhana itu membuat pelayan tersebut langsung terdiam karena untuk pertama kalinya ia melihat Kanisha pulang dengan wajah yang benar-benar kosong seperti seseorang yang baru saja kehilangan seluruh dunianya. Tanpa banyak bertanya lagi, pelayan itu segera mempersilakan Kanisha masuk sementara Kanisha berjalan perlahan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Langkahnya terasa berat namun setidaknya sekarang ia tidak perlu lagi berpura-pura kuat.
Sementara itu di lantai bawah, di kamar utama keluarga Winata, sepasang suami istri yang sudah tertidur pulas sama sekali tidak mengetahui kedatangan putri mereka. Jam menunjukkan pukul lewat tengah malam, suasana rumah begitu sunyi sampai akhirnya suara ketukan pintu terdengar nyaring dari luar kamar.
Tok.
Tok.
Tok.
Pria paruh baya yang masih tampak berwibawa meski rambutnya mulai dihiasi uban itu perlahan membuka mata, namanya adalah Rendra Winata, pendiri Grup Winata sekaligus salah satu pengusaha yang cukup disegani. Di sampingnya, sang istri, Dahlia Winata, juga mulai terbangun dan membuat Rendra mengernyit.
"Siapa malam-malam begini yang berani mengganggu tidur malam ku?"
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan itu kembali terdengar dan membuat Rendra segera bangkit dari tempat tidur sementara Dahlia ikut duduk sambil merapikan rambutnya.
"Mas, coba lihat saja dulu, siapa tahu orang itu punya urusan penting sama kita."
Rendra mengangguk. Pria itu kemudian berjalan menuju pintu lalu membukanya. Begitu pintu terbuka, tampak salah satu pelayan rumah berdiri dengan wajah gugup dan membuat Rendra langsung mengernyit.
"Kenapa mengetuk kamar saya jam segini?"
Pelayan itu terlihat ragu beberapa detik seolah tidak tahu harus memulai dari mana. Namun akhirnya ia memberanikan diri.
"Maaf mengganggu istirahat Tuan dan Nyonya..."
Rendra menatapnya.
"Ada apa?"
Pelayan itu menelan ludah.
"Nona Kanisha baru saja pulang."
Deg, Baik Rendra maupun Dahlia langsung terdiam.
"Apa?"
"Nona Kanisha baru saja datang ke rumah."
Dahlia yang sejak tadi mendengar dari dalam kamar langsung berdiri.
"Kanisha pulang?"
Pelayan itu mengangguk.
"Iya, Nyonya."
Kening Rendra langsung berkerut.
Tengah malam anaknya yang sudah menikah tiba-tiba pulang dan yang lebih aneh lagi, putrinya pulang ke rumah tanpa memberi kabar sebelumnya.
"Dia datang sama Arven?" tanya Rendra yang membuat pelayan itu tampak ragu.
"Tidak, Tuan."
Rendra langsung saling pandang dengan istrinya. Perasaan tidak enak mulai muncul sementara Dahlia melangkah mendekat.
"Terus?"
Pelayan itu kembali menelan ludah.
"Nona datang sendirian."
Suasana langsung berubah, Rendra dan Dahlia kini benar-benar merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Sendirian?"
"Iya, Nyonya."
"Di mana dia sekarang?"
"Di kamar Nona."
Dahlia menghela napas pelan namun belum sempat ia merasa lega, pelayan itu kembali berbicara.
"Dan..."
Rendra langsung menatapnya.
"Dan apa?"
Pelayan itu terlihat semakin gugup.
"Nona datang dalam keadaan basah kuyup."
Deg, Kalimat itu langsung membuat jantung kedua orang tua Kanisha terasa tidak nyaman.
Basah kuyup? Tengah malam? Sendirian? Ada sesuatu yang terjadi dan itu pasti bukan hal kecil. Dahlia langsung memegang lengan suaminya. Tatapan mereka saling bertemu. Tidak perlu kata-kata, mereka sama-sama memahami kegelisahan yang sedang dirasakan. Selama ini Kanisha dikenal sebagai anak yang selalu menghubungi mereka bahkan sekadar ingin berkunjung pun biasanya ia akan memberi kabar terlebih dahulu.
Tapi malam ini tidak ada telepon, tidak ada pesan dan tiba-tiba pulang dalam kondisi seperti itu. Hati orang tua mana yang tidak khawatir?
"Ada yang terjadi sama Kanisha."
Dahlia berbisik pelan sementara suaminya, Rendra mengangguk. Wajahnya mulai terlihat serius.
"Papa juga berpikir begitu, ma."
Dahlia langsung mengambil cardigan yang tergantung di dekat tempat tidur sementara Rendra merapikan pakaiannya dengan cepat.
Mereka bahkan tidak sempat berpikir untuk kembali tidur. Pikiran mereka saat ini hanya tertuju pada satu orang, Putri semata wayang mereka.
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️