NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Dibalik Kertas Basah

Ruangan yang luas dan mewah itu terasa seperti penjara yang paling sunyi dan dingin bagi Naura. Sejak tadi siang ia dikurung di kamar ini, tidak diperbolehkan keluar, tidak boleh bertemu siapa pun kecuali Bi Inah yang datang hanya untuk mengantarkan makanan sederhana dan sekadar menanyakan keadaannya. Pintu kamar dikunci dari luar, dan setiap bunyi kunci yang diputar terdengar begitu nyaring dan menyakitkan di telinganya.

Naura duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela besar yang tertutup tirai tebal. Di atas meja sampingnya, nampan berisi makanan yang diantar Bi Inah beberapa jam yang lalu masih utuh, tidak tersentuh sedikit pun. Nafsu makannya hilang sama sekali. Hatinya masih terasa perih mengingat kejadian tadi pagi, bagaimana Dewa menatapnya dengan pandangan penuh kebencian dan penghakiman, bagaimana Sera tersenyum kemenangan seolah telah memenangkan perang besar.

"Kenapa dia tidak mau mendengarkan?" gumam Naura pelan, air matanya kembali menetes membasahi pipi yang sudah basah kuyup. "Kenapa dia begitu yakin aku berniat buruk? Apakah karena aku anak ayahku, maka segala tindakanku pasti dianggap salah di matanya?"

Di dalam keheningan itu, Naura mulai berpikir jernih. Rasa sakit hatinya perlahan berubah menjadi tekad yang semakin kuat. Ia tidak bisa terus-menerus menangis dan menyerah. Ia harus membuktikan ketidakbersalahannya. Ia harus menunjukkan bahwa ia bukan wanita yang lemah, dan bahwa tuduhan Sera hanyalah fitnah belaka. Namun, bagaimana caranya jika ia dikurung di sini dan tidak diizinkan bertemu Dewa?

Sementara itu, di ruang kerja yang kini kembali sunyi setelah kepergian Sera, Dewa Angkasa Buwana masih berdiri kaku di dekat meja besarnya. Di atas meja itu, tergeletak dokumen perjanjian yang tadi terkena tumpahan teh. Kertas-kertas itu basah, sebagian tulisan tinta di atasnya meleleh dan menjadi buram, namun tidak sampai hancur total.

Dewa mengusap wajahnya dengan kasar, rasa marah yang tadi meledak-ledak kini perlahan mereda, digantikan oleh rasa gelisah dan keraguan yang semakin menggerogoti hatinya. Ia ingat betul detik-detik kejadian itu. Ia yang menyenggol gelas itu dengan sikunya saat hendak meraih dokumen di sisi lain meja. Ia melihat dengan jelas mata Naura yang terbelalak kaget, bukan mata orang yang berniat jahat atau sedang merencanakan sesuatu. Ia melihat ketakutan yang tulus di sana.

Lalu mengapa ia langsung menyalahkannya? Mengapa ia langsung menuduhnya berniat buruk? Karena Sera yang berkata begitu? Atau karena kebencian yang sudah ia tanam begitu lama membuatnya selalu siap menuduh Naura melakukan kesalahan apa pun, besar maupun kecil?

Dewa berjalan mendekati meja, lalu perlahan mengangkat lembaran demi lembaran dokumen yang basah itu. Ia berniat membuangnya, berniat menganggap itu kerugian kecil yang harus ia tanggung karena kecerobohan "istrinya". Namun, saat tangannya menyentuh salah satu lembar kertas yang agak terlipat di bagian paling bawah, matanya menangkap sesuatu yang membuat gerakannya terhenti seketika.

Di antara tumpukan dokumen perjanjian kerja sama yang baru disusun Sera pagi ini, terselip selembar kertas tua yang agak kusam dan berwarna kekuningan. Kertas itu ikut basah terkena tumpahan teh, namun tulisan di atasnya masih cukup terbaca. Itu bukan dokumen bisnis baru. Itu adalah surat pernyataan aset dan kesepakatan tertanggal sepuluh tahun yang lalu... masa di mana semuanya bermula.

Jantung Dewa berdegup kencang. Dengan hati-hati, ia mengambil kertas itu, mengeringkannya sedikit dengan tisu, lalu membacanya saksama. Semakin ia membaca, semakin lebar matanya terbuka, semakin keningnya berkerut dalam. Tulisan tangan ayahnya, cap perusahaan, dan tanda tangan... namun ada satu hal yang aneh. Di bagian tanda tangan Hadi Zafira ayah Naura ada sedikit perbedaan goresan tinta, ada garis yang terlihat seperti ditambahkan belakangan, dan ada segel yang tidak sepenuhnya utuh.

Dewa mengingat-ingat. Ia pernah melihat dokumen asli ini bertahun-tahun lalu, saat ayahnya masih hidup. Dan ia ingat betul, di dokumen asli yang asli... ada satu kalimat penjelas di bagian bawah yang tidak ada di kertas ini.

"Ini... ini bukan dokumen asli yang aku ingat," batin Dewa kaget. "Kertas ini... kertas ini adalah salinan yang dimodifikasi. Atau mungkin... dokumen yang dipalsukan?"

Pikiran Dewa menjadi kacau balau. Selama sepuluh tahun ia percaya sepenuhnya bahwa ayah Naura adalah penjahat yang mencuri semua harta, memalsukan tanda tangan, dan menghancurkan hidup keluarganya. Tapi sekarang, melihat kertas tua yang terselip secara tidak sengaja di antara berkas-berkas yang dibawa Sera pagi ini, ada keraguan besar yang mulai tumbuh.

Dan kenapa kertas ini ada di sini? Sera yang membawa semua berkas ini. Sera yang menyusunnya. Kenapa dokumen lama yang seharusnya sudah tersimpan di arsip atau bahkan sudah dimusnahkan, malah ada di sini?

Pintu ruang kerja terbuka pelan, Raga masuk dengan langkah hati-hati, menundukkan kepalanya hormat.

"Tuan... ada yang bisa saya bantu?" tanya Raga pelan, melihat wajah tuannya yang terlihat sangat bingung dan bergolak emosinya.

Dewa mengangkat wajahnya, menatap tangan kanannya itu tajam. "Raga, kau ingat kan dokumen bukti penggelapan yang dulu kita temukan di ruang kerja ayahku? Dokumen yang menjadi dasar semua kebencian ini?"

Raga mengangguk. "Tentu, Tuan. Itu bukti paling kuat. Dokumen itu yang membuat kita yakin sepenuhnya bahwa Tuan Hadi lah pelakunya."

"Di mana dokumen itu sekarang?" tanya Dewa cepat.

"Seingat saya... dokumen asli itu disimpan di brankas besar di kantor pusat. Yang ada di sini hanyalah salinan. Tapi... Tuan, kenapa tiba-tiba bertanya soal itu?"

Dewa tidak menjawab. Ia kembali menatap kertas di tangannya. Ada sesuatu yang salah di sini. Ada kepingan teka-teki yang hilang, dan Sera seolah-olah menyembunyikan sesuatu. Ingatannya kembali melayang ke kejadian tadi pagi. Sera yang begitu cepat menuduh Naura, Sera yang begitu senang melihat Naura dihukum, Sera yang selalu ada di sisinya, selalu membenci Naura, dan selalu berusaha menjauhkan istrinya darinya.

Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui tentang Sera? batin Dewa bergumam. Apakah dia terlibat lebih dalam dari yang aku duga?

Di saat yang sama, di kamar terkurung itu, Naura tidak hanya diam meratapi nasib. Ia berjalan mendekati meja rias, mengambil kertas dan pulpen yang ada di sana. Dengan tangan yang masih gemetar namun penuh tekad, ia mulai menulis. Ia menulis surat untuk Dewa. Bukan surat permohonan maaf, melainkan surat penjelasan. Ia menuliskan apa yang sebenarnya terjadi tadi pagi, bahwa ia tidak sengaja, bahwa ia tidak akan pernah berani merusak dokumen penting, dan bahwa ia tidak seburuk yang mereka tuduhkan.

Ia juga menuliskan rasa sakit hatinya, kebingungannya, dan ketidakadilan yang ia rasakan. Ia menulis bahwa ia bersedia menanggung hukuman atas dosa ayahnya, tapi ia tidak mau menanggung tuduhan atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat.

Sore itu, saat Bi Inah datang kembali untuk mengambil nampan makanan yang masih utuh, Naura segera menyodorkan selembar kertas yang sudah terlipat rapi. Wajahnya memohon, matanya berkaca-kaca menatap wanita tua itu.

"Bi Inah... tolong," bisik Naura pelan, takut ada orang lain yang mendengar. "Tolong berikan surat ini pada Tuan Dewa. Tolong... hanya ini satu-satunya cara saya membela diri. Saya tidak meminta keadilan, saya hanya meminta agar dia mau membaca penjelasan saya. Tolong, Bi Inah... ini sangat penting bagi saya."

Bi Inah menatap surat itu dengan ragu. Tangannya gemetar ketakutan. "Tapi Nyonya... kalau Tuan Dewa tahu saya mengantarkan pesan ini... saya bisa dipecat, atau lebih buruk lagi..."

"Saya mohon... demi Tuhan, Bi Inah. Kau satu-satunya orang di rumah ini yang baik pada saya," pinta Naura, menggenggam tangan tua itu erat. "Hanya sebatas mengantar saja. Kau tidak perlu bilang apa-apa. Taruh saja di meja kerjanya saat dia sedang tidak ada di sana. Tolonglah..."

Melihat ketulusan dan keputusasaan di mata nyonya mudanya, hati Bi Inah luluh. Ia mengangguk pelan, dengan cepat menyelipkan surat itu ke dalam saku baju dalamnya, lalu menutup kembali nampan makanan.

"Baik, Nyonya. Saya akan coba. Tapi saya tidak janji dia akan membacanya, atau bagaimana reaksinya nanti," bisik Bi Inah khawatir. "Nyonya harus berhati-hati. Nona Sera masih ada di rumah ini. Dia tidak pulang. Dia menginap di kamar tamu utama di lantai bawah. Dia bilang ada urusan lagi besok pagi. Saya rasa dia sengaja ingin mengawasi Nyonya dan Tuan Dewa."

Mendengar itu, dada Naura kembali terasa sesak. Sera masih ada di sini? Wanita itu benar-benar tidak mau pergi, benar-benar ingin menguasai segalanya.

"Terima kasih, Bi Inah. Hati-hati juga kau," ucap Naura lemah.

Malam mulai turun, langit berubah menjadi gelap pekat. Di ruang kerja, Dewa masih duduk di kursi kebesarannya, kertas tua yang ia temukan tadi masih ada di tangannya. Ia masih memikirkannya, masih mencoba mengingat-ingat detail masa lalu yang kabur. Pikirannya penuh dengan pertanyaan. Tentang ayah Naura, tentang kebenaran, dan tentang Sera.

Pintu terbuka sedikit, Bi Inah masuk dengan langkah pelan, membawa nampan berisi minuman hangat malam. Wanita itu meletakkan nampan di sudut meja, lalu dengan gerakan sangat cepat dan sembunyi-sembunyi, ia meletakkan selembar kertas kecil di samping lampu meja, tepat di tempat yang pasti akan terlihat oleh tuannya.

"Minumannya, Tuan," ucap Bi Inah hormat, lalu segera berbalik hendak keluar.

"Tunggu," panggil Dewa tiba-tiba, membuat jantung Bi Inah hampir copot. Dewa menatap wanita tua itu tajam, matanya menangkap gerakan aneh tadi. "Apa itu yang kau taruh di sana?"

Bi Inah membeku, wajahnya pucat pasi. Ia tidak bisa berbohong. Ia menunduk dalam-dalam, suaranya bergetar hebat.

"Itu... itu surat dari Nyonya Naura, Tuan. Nyonya mohon agar Tuan mau membacanya. Nyonya bilang... itu penjelasan soal kejadian tadi pagi. Saya minta maaf, Tuan... saya tidak berani menolak permintaan Nyonya."

Dewa terdiam sejenak, menatap kertas itu. Ada rasa ingin marah, namun rasa penasaran dan keraguan yang ada di hatinya saat ini jauh lebih besar. Ia mengangguk pelan, memberi isyarat agar Bi Inah pergi.

"Kau boleh pergi. Dan jangan khawatir, aku tidak akan menghukummu karena ini," ucap Dewa dingin namun tidak mengancam.

Setelah Bi Inah keluar dan pintu tertutup kembali, Dewa meraih surat itu. Tulisan tangan Naura yang rapi dan indah terlihat jelas di atas kertas putih itu. Ia membacanya perlahan, kata demi kata. Semakin ia membaca, semakin ia merasakan ketulusan yang mendalam di sana. Naura tidak memohon belas kasihan. Naura menuliskan fakta. Naura menuliskan rasa sakitnya karena selalu disalahkan, selalu dianggap musuh, dan selalu disamakan dengan ayahnya.

"Aku tidak meminta kau mencintaiku, Dewa. Aku tahu posisiku. Aku tahu aku ada di sini sebagai penebus dosa. Tapi aku meminta satu hal saja... keadilan kecil. Jangan menghukumku atas kesalahan yang tidak pernah aku perbuat. Jangan membenci aku hanya karena darah yang mengalir di tubuhku sama dengan darah ayahku. Aku punya diriku sendiri. Aku punya hati yang bisa terluka, dan aku punya harga diri yang ingin aku jaga."

Kalimat terakhir itu menghantam dada Dewa lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Ia meletakkan surat itu, lalu kembali menatap kertas tua yang basah tadi. Di satu sisi, ada pembelaan diri Naura yang penuh kejujuran. Di sisi lain, ada kejanggalan pada bukti kebencian yang selama ini ia pegang. Dan di tengah-tengah semua itu, ada Sera yang berusaha keras memisahkan mereka, berusaha keras membuat Naura terlihat buruk, dan berusaha keras agar Dewa tetap membenci istrinya.

Pintu ruang kerja terbuka lagi, kali ini lebih lebar dan berani. Sera masuk dengan mengenakan gaun tidur sutra yang sangat tipis dan terbuka, rambutnya terurai indah, berjalan mendekat dengan senyum manja yang biasa ia gunakan.

"Angkasa... kenapa belum tidur? Sudah larut malam," ucap Sera lembut, duduk di lengan kursi Dewa, menyentuh bahu pria itu dengan tangan halusnya. "Masih memikirkan wanita bodoh itu? Biarkan saja dia dikurung. Dia pantas mendapatkannya karena kecerobohannya."

Namun, kali ini sentuhan Sera tidak lagi membuat Dewa merasa nyaman atau biasa saja. Dewa menepis tangan wanita itu perlahan namun tegas, lalu menatapnya dengan tatapan yang jauh lebih tajam dan penuh selidik, tatapan yang belum pernah ia berikan pada Sera sebelumnya.

"Sera... kenapa dokumen lama sepuluh tahun yang lalu ada di antara berkas-berkas kerjasama barumu pagi ini?" tanya Dewa tiba-tiba, suaranya rendah namun penuh tekanan.

Wajah Sera memucat seketika, namun ia berusaha menutupinya dengan senyum bingung yang dibuat-buat. Ia tidak menyangka Dewa akan menemukannya, tidak menyangka Dewa akan bertanya soal itu.

"Ah... itu... saya tidak tahu, Angkasa. Mungkin pelayan yang mengumpulkan berkas-berkas lama secara tidak sengaja menyelipkannya. Dokumen sampah, tidak penting. Buang saja," jawab Sera cepat, berusaha mengalihkan pembicaraan. "Lupakan saja. Mari kita bicara soal rencana besok. Aku punya ide bagus untuk mengembangkan perusahaanmu lagi..."

Dewa tidak menjawab. Ia masih menatap wanita itu lekat-lekat, mencari kepalsuan di balik wajah cantik itu. Keraguan yang semula samar kini tumbuh menjadi kecurigaan yang nyata.

 

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!