Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Sebuah bisikan misterius
Di dalam kamarnya, Wang Chan duduk di ranjang bersila.
Matanya tertutup rapat, kedua tangannya membentuk pola mudra di depan dada.
Napasnya teratur, lambat, seperti air mengalir di dasar sungai yang tenang.
Tapi pikirannya tidak tenang.
"Dalam satu bulan ini, kekuatan Qing Yi meningkat terlalu jauh..." gumamnya, setengah kepada dirinya sendiri.
Bukan iri. Wang Chan bukan tipe orang yang iri pada keberhasilan orang terdekatnya. Tapi ada kegelisahan kecil yang menggerogoti dadanya.
Ia adalah laki-laki. Ia yang seharusnya melindungi.
Tapi kini, tanpa Mata Immortal, ia mungkin sudah tertinggal jauh di belakang Qing Yi.
Jari-jarinya naik, menyentuh kelopak mata kirinya dengan lembut. Kulit di sana terasa normal, tidak panas, tidak dingin.
Tapi ia tahu, di balik kelopak itu, tersimpan sesuatu yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.
"Hanya dengan mata ini aku bisa mengimbanginya."
Suaranya pelan, hampir seperti bisikan yang tidak ingin didengar siapa pun, bahkan dirinya sendiri.
Wang Chan menarik napas panjang, membuang segala keraguan dari pikirannya, lalu menyatukan kembali kedua tangannya di depan dada.
Jari-jari kembali membentuk mudra yang sama. Qi di dalam tubuhnya mulai mengalir ke arah mata.
"Mata Immortal, buka."
Sekejap.
Dunia di sekitarnya berubah.
Dinding-dinding kamar yang tadinya padat dan kokoh, kini tampak seperti kabut tipis yang tembus pandang.
Wang Chan bisa melihat melaluinya, bukan dengan mata biasa, tapi dengan indra lain yang terhubung langsung ke kesadarannya.
Pandangannya melayang menembus lorong, menembus dinding dapur, dan berhenti di sana.
Qing Yi dan Liu Chiyang sedang memasak.
Wang Chan bisa melihat mereka dengan jelas.
Qing Yi yang dengan cekatan memotong sayuran di atas talenan kayu, gerakannya cepat, presisi.
Di sampingnya, Liu Chiyang mengaduk sesuatu di wajan tanah liat di atas tungku batu.
Wanita itu masih mengenakan jubah tipis yang sama, pahanya yang putih kembali terekspos setiap kali ia bergerak mengambil bumbu dari rak di sampingnya.
Wang Chan mengalihkan pandangannya. Bukan karena tidak sopan.
Tapi karena terlalu lama melihat akan membuatnya lupa bahwa ia sedang berlatih.
"Sayang sekali," pikirnya. "Kemampuan ini lebih cocok untuk support. Untuk mengandalkannya, aku harus membuat diriku sendiri lebih kuat."
Mata Immortal memberinya keunggulan taktis, kemampuan melihat musuh dari jarak jauh, mendeteksi kelemahan mereka, bahkan mungkin memprediksi gerakan sebelum terjadi.
Tapi pada akhirnya, yang membunuh iblis adalah pedang, bukan mata. Melihat tidak cukup. Ia harus bisa bertindak.
Wang Chan membuka matanya. Dunia kembali normal.
Dinding-dinding kamar tampak padat lagi, rapat lagi, tidak tembus pandang.
Ia menunduk, menatap telapak tangannya.
Satu hal yang kurang darinya.
Wang Chan tidak memiliki teknik kuat. Tidak seperti Qing Yi yang mendapatkan Teratai Biru dari Liu Chiyang, teknik yang indah sekaligus mematikan.
Tidak pula ia memiliki senjata magis yang bisa meningkatkan kekuatan tempurnya secara drastis.
Sampai sekarang, ia masih belum memikirkan untuk membeli senjata itu. Bukan karena ia tidak mau.
Tapi karena ia masih ragu. Senjata magis yang bagus mahal. Senjata magis yang murah biasanya sampah.
Wang Chan menghela napas. Tangannya menyentuh cincin penyimpanan di jari manis kirinya, cincin besi tua yang ia dapatkan dari Liu Chiyang sebagai hadiah pindah rumah.
Bukan barang mahal, tapi cukup untuk menyimpan barang-barang penting.
Cincin itu berkedip samar.
Kemudian, sebilah pisau kecil muncul di tangannya.
Bukan senjata magis.
Hanya pisau biasa yang ia beli dari pandai besi tua di pinggiran Kota Jiang dengan harga lima batu sumber.
Bilahnya tidak terlalu tajam. Tapi pisau ini sudah menemani Wang Chan dalam puluhan misi perburuan iblis.
"Sudahlah," gumam Wang Chan. "Buat apa yang ada menjadi lebih kuat saja."
Ia melemparkan pisau itu ke udara.
Pisau kecil itu berputar perlahan di depannya, berhenti pada ketinggian mata, dan melayang diam, tergantung di udara seolah ditahan oleh tali tak terlihat.
Wang Chan menutup matanya.
Lalu, dari ujung jarinya, muncul tulisan-tulisan kuno. Aksara demi aksara, tidak seperti huruf yang ia kenal, lebih mirip coretan-coretan energi murni yang terbentuk dari Qi-nya sendiri.
Mereka melayang keluar dari tubuhnya seperti kupu-kupu yang baru lahir, berwarna keemasan pucat, berdenyut pelan mengikuti detak jantungnya.
Tulisan-tulisan itu mulai berputar mengelilingi pisau yang melayang.
Perlahan. Semakin cepat. Semakin cepat.
"Gabungkan!"
Perintah Wang Chan keluar dengan suara lirih tapi penuh otoritas.
Tulisan-tulisan itu berhenti berputar. Kemudian, seolah menarik napas panjang, mereka semua melesat menuju bilah pisau, menembus masuk ke dalam logam, menyatu, menjadi satu dengan pisau itu.
Bercahaya.
Sekejap, seluruh ruangan kamar Wang Chan disinari cahaya keemasan yang terang.
Silau. Hanya sesaat. Lalu mereda.
Pisau itu jatuh ke telapak tangan Wang Chan dengan bunyi lembut.
Wang Chan membuka matanya.
Pisau itu terlihat berbeda dari sebelumnya. Bilahnya kini mengilap, memantulkan cahaya dengan sempurna.
Samar-samar, ada energi spiritual yang mengalir di permukaan bilahnya, tipis, tapi terasa.
Kekuatannya? Wang Chan belum mencobanya di medan perang. Tapi ia yakin, pisau ini sekarang tidak bisa diremehkan lagi.
"Lumayan," gumumnya dengan senyum kecil.
Ia menyimpan pisau itu kembali ke dalam cincin penyimpanan dengan satu kedipan cahaya.
Wang Chan menghela napas pelan, bersiap untuk berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya yang masih pegal setelah seharian berburu.
Lalu—
"Wang Chan..."
Wang Chan membeku.
Bukan suara dari luar. Bukan Qing Yi yang memanggil dari dapur. Bukan Liu Chiyang yang menyuruhnya makan malam.
Suara itu... di dalam kepalanya.
Lembut. Samar. Seperti bisikan yang datang dari ujung lorong gelap yang sangat panjang.
Wang Chan berbalik. Pandangannya menyapu seluruh kamar. Tidak ada siapa pun.
Hanya bayangannya sendiri yang jatuh di dinding kayu karena cahaya lilin dari luar.
"Siapa?" suaranya tegas, tidak bergetar. Tapi jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya.
"Temui aku..."
Bisikan itu datang lagi. Lebih jelas kali ini. Wang Chan bisa mendengar sesuatu di balik suara itu, seperti kelembutan yang dipaksakan, seperti air yang mengalir di atas bebatuan tajam.
"Ada yang ingin kukatakan..."
Kemudian, sunyi.
Suara itu hilang sepenuhnya. Seketika. Seolah tidak pernah ada.
Wang Chan duduk diam di ranjangnya. Dadanya naik turun perlahan. Keringat dingin membasahi telapak tangannya, padahal suhu kamar tidak panas.
Ia tidak mengerti.
Tidak mengenali suara itu. Tidak pernah mendengarnya sebelumnya. Tapi ada sesuatu... sesuatu yang aneh.
Seperti ada benang tak terlihat yang menghubungkan suara itu dengan kedalaman kesadarannya.
Seperti mendengar suara yang ia lupa pernah ia dengar, dalam mimpi yang ia lupa pernah ia mimpikan.
Dan ada satu hal yang lebih aneh lagi.
Wang Chan tidak tahu ke mana ia harus pergi. Tapi rasanya... ia seperti tahu.
Seperti ada peta yang tergambar di dalam kepalanya, menunjuk ke suatu tempat yang belum pernah ia datangi, tapi terasa akrab.
Seperti rumah yang ia tinggalkan terlalu lama dan baru diingat sekarang.
Wang Chan mengepalkan tangannya.
Matanya, mata kirinya, terasa hangat. Tidak panas seperti dulu, tapi hangat. Seperti sedang dipeluk oleh sesuatu yang tidak terlihat.
"Wanita berambut putih itu..."
Ia tidak punya bukti. Tapi nalurinya, naluri yang selama sebulan terakhir semakin tajam karena Mata Immortal, berteriak bahwa semuanya terhubung.
Wang Chan menatap dinding kamarnya, menembusnya dengan pikirannya sendiri, membayangkan apa yang mungkin menunggunya di luar sana.
"Temui," ulangnya dalam hati, menirukan bisikan itu. "Di mana?"
Tidak ada jawaban.
Tapi ia tahu.
Ia tidak yakin apakah ia harus takut... atau justru penasaran.
Dari luar kamar, terdengar suara Qing Yi berteriak.
"Wang Chan! Makan malam sudah jadi! Awas kalau tidak keluar sekarang, kumakan ayam gorengnya sendirian!"
Wang Chan tersenyum kecil. Hangat. Nyata.
Ia mengguncang kepalanya, mencoba mengusir bisikan itu dari pikirannya, setidaknya untuk sementara.
"Nanti," bisiknya pada suara di kepalanya itu, seolah suara itu masih ada dan mendengarnya. "Nanti aku datang. Aku juga ingin menemuimu."
Lalu ia bangkit dari ranjang dan melangkah keluar kamar.
Menuju dapur.
Menuju cahaya lilin dan aroma ayam goreng.
Menuju Qing Yi yang sudah duduk di meja dengan tangan bersilang, pura-pura marah.
Menuju Liu Chiyang yang sedang mengipasi nasi di atas meja sambil tersenyum.