Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.
Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?
Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.
Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.
Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Agaricia Palmata
Rostav tak ingin melanjutkan kata-katanya dan segera membuang pikiran kotor di kepalanya. Dia segera pergi menuju lemari di kamar tersebut dan, untung saja banyak pakaian perempuan di sana. Dia mengambil secara sembarangan dan mengambil yang paling mencolok.
Itu adalah gaun panjang berwarna putih gading yang memancarkan kesan anggun dan mewah. Gaun tersebut memiliki korset pada bagian tubuh, dihiasi detail emas yang rumit. Lengan panjangnya dibuat mengembang dengan lapisan kain tipis berlipit. Pada bagian dada dan pinggang terdapat ornamen berwarna emas dengan batu permata biru safir. Dengan rok gaun yang lebar dan berlapis-lapis, menambah kesan megah.
"Aku tidak tahu ada gaun seindah ini di kapal ini," dia memandangi gaun itu selama beberapa saat sebelum akhirnya menutupnya. Dia berbalik, meletakkan gaun itu di meja kecil di samping kasur setelah dilipat sembarangan. Dia tidak tahu bagaimana cara melipat gaun perempuan.
Setelah itu dia pergi meninggalkan kamar itu dan menguncinya dari luar. Dia menyimpan kunci di saku dalam jubahnya dan akhirnya pergi ke Ruangan Kapten untuk beristirahat. Dia membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, merasakan nikmatnya kelembutan setelah seharian ini mengalami kejadian tak terduga.
"Hah, dalam satu hari aku sudah mengalami beberapa kejadian. Pertama, badai besar yang mengguncang seluruh kapal, bahkan sampai merusak layar. Kedua, ikan berwarna hitam yang masuk dan bersarang di jantungku. Ketiga, aku berpindah ke tempat aneh, sebuah lautan luas berwarna biru gelap. Keempat, aku mendapatkan ikan langka, ikan bersisik emas. Kelima, yang paling mengejutkan nomor dua setelah ikan hitam, aku menemukan putri duyung. Sungguh, dalam satu hari ini aku sudah mengalami begitu banyak kejadian besar, besok apalagi yang akan kutemukan? Bangkai paus raksasa? Hehehe," Rostav terkekeh geli pada dirinya sendiri, bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Bukankah lebih baik berpikir hal yang baik? Tanpa sadar, lima menit kemudian Rostav telah menutup matanya, tertidur.
Keesokan paginya Rostav telah terbangun. Dia melakukan pemanasan selama sepuluh menit untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku. Setelah berkeringat, dia akhirnya pergi ke dapur dan mengambil beberapa daging ikan sebagai sarapan. Walaupun rasa daging ikan bersisik emas alot, keras, dan hambar, tapi Rostav tetap menikmatinya, setidaknya itu jauh lebih baik dari pada memakan roti keras.
Setelah kenyang, dia meninggalkan dapur dan melangkah menuju pintu kamar tempat dia mengurung putri duyung kemarin. Dia menempelkan telinganya ke pintu, mencoba untuk menguping, mencoba untuk mendengar apakah di dalam ada suara atau tidak. Tapi, menunggu selama tiga menit, suara kamar itu benar-benar kosong.
"Apa dia belum siuman, atau dia hanya berpura-pura?" Rostav menarik kembali telinganya dan bergumam sambil mengelus dagunya, sesekali melirik ke arah pintu. "Baiklah, aku akan percaya kalau dia belum siuman, aku akan kembali dalam beberapa jam, atau ketika aku mendengar sebuah suara dari dalam."
Rostav berjalan kembali ke ruangannya dan menutup pintunya rapat-rapat, lalu duduk di kursi. Membuka peta dia melihat kompas di saku rompinya untuk melihat koordinat dan arah mata angin. "Aku kini sedang bergerak ke arah utara, hanya saja layarnya telah rusak, dan hanya bisa mengandalkan ombak dan arus laut untuk mendorongnya. Bisa dibilang aku terhenti di sini," Rostav menandai titik dimana kapalnya berhenti, lalu segera beralih ke koordinat Hutan Akar Malam Abadi. "Kapal ini kini bisa pergi ke Hutan Akar Malam Abadi karena arahnya yang hampir sama, hanya saja masalahnya tetap sama. Layarnya telah rusak, hampir mustahil untuk dapat pergi ke sana. Sebenarnya ada ruang mesin di kapal ini, tapi aku tidak mau mengotak-atiknya, takut ada mesin yang rusak, atau ada mesin yang berbahaya seperti mesin penghancuran diri. Terlalu beresiko."
Rostav mengacak-acak rambutnya dengan penuh rasa frustasi dan menambahkan dengan nada sedih, suaranya terdengar serak. "Apa aku akan selamanya terjebak di tempat ini? Tanpa menemukan daratan?" dia meletakkan kepalanya di atas meja, dan menghembuskan napas panjang.
.....
Satu jam kemudian, di kamar tempat putri duyung berada, terdapat tanda-tanda pergerakan dari tubuhnya. Keringat segera membasahi seluruh tubuhnya, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri tampak gelisah. Rambutnya yang panjang tersibak hingga menutupi sebagian wajahnya. Raut wajahnya tampak panik dan penuh penyesalan, sebelum akhirnya dia tiba-tiba berteriak singkat dan membuka matanya yang memiliki pupil berwarna biru safir lebar-lebar. Napasnya memburu, seolah-olah baru saja berhasil kabur dari kejaran binatang buas. Dadanya naik turun dengan kacau.
Beberapa saat kemudian dia akhirnya mengedipkan matanya saat menyadari dimana dirinya berada. Dia melihat langit-langit yang terbuat dari papan kayu coklat tua, dia mendorong kedua tangannya untuk membantunya terduduk, sebelum akhirnya dia melihat bahwa siripnya telah berubah menjadi kaki. Hanya saja sekarang, dia tanpa busana, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Perempuan itu tampak tidak terkejut, seolah-olah sudah tahu ini akan terjadi.
"Di... mana.... aku...? Agh!" saat dia menanyakan pada dirinya sendiri dimana dirinya berada, dia tiba-tiba merasakan rasa sakit di kepalanya, seolah-olah dihantam oleh tongkat kayu berkali-kali. Akhirnya, setelah semenit, rasa sakit itu secara perlahan menghilang. Dia menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa sakit itu, berharap tidak akan pernah kembali lagi. Dia mengangkat kepalanya dan melihat bahwa dirinya berada di semacam sebuah kamar. Tapi segera perhatiannya teralihkan oleh gaun berwarna putih gading di atas meja di samping tempat tidurnya.
"Ini... siapa yang menyiapkannya? Bukankah seharusnya aku berhasil kabur dari bajak laut itu, hanya saja saat sedang kabur aku dihadapkan oleh badai besar, dan terhantam sebuah tsunami. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Lalu, dimana aku?" dia menyapu pandangan sekeliling, sebelum akhirnya mencoba untuk berdiri. Dia berpegangan pada kasur untuk membantunya berdiri, dan melangkah dengan hati-hati menuju meja.
"Aku belum terbiasa berjalan dengan kaki manusia," dia mengeluh pada dirinya sendiri dan akhirnya berhasil mencapai meja. Dia berpegangan pada meja tersebut dan dengan tangan kanan mengambil pakaian itu. Dia mengamatinya dalam-dalam, dan berkomentar, "gaun ini sangat indah. Siapapun yang memilihkan gaun ini, dia punya mata yang bagus."
Dia kemudian mengenakan gaun putih gading itu yang... jujur saja terlihat sangat pas di tubuhnya, seolah-olah memang sudah dipersiapkan untuknya. Penampilan perempuan itu kini bahkan lebih menawan dari sebelumnya, dengan bagian pundaknya yang terbuka, membuat laki-laki manapun akan terpesona saat melihatnya.
Dia memandangi tubuhnya sendiri dan tersenyum dalam diam, sebelum akhirnya dia kembali ke pertanyaan yang paling utama. "Dimana aku saat ini?
"Itu pertanyaan paling utama untuk saat ini. Melihat kamar seperti ini, apakah aku berada di sebuah kapal?" dia memandangi sekeliling sekali lagi, sebelum akhirnya memilih untuk duduk karena merasa tidak nyaman berdiri. Alasan utamanya tentu saja karena dia tidak terbiasa menggunakan kakinya. Sebagai putri duyung, dia lebih suka hidup di lautan dari pada daratan. "Apakah aku tertangkap lagi? Tidak, sepertinya tidak," dia menggelengkan kepalanya dengan yakin dan menambahkan, "kalau aku ditangkap lagi oleh para bajak laut itu, aku saat ini pasti masih berada di dalam gua terkutuk itu. Tapi saat ini, aku berada di sebuah kamar. Siapa yang menangkapku? Apa mereka ingin menjadikanku sebagai budak?
"Ayah pernah mengatakan bahwa Ras Athu harus selalu berhati-hati dengan manusia. Manusia itu makhluk yang serakah, egois, kejam, dan tanpa ampun. Mereka rela melalukan segala hal untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kita, para Ras Athu, terutama perempuan akan dijadikan sebagai budak. Ayah, maafkan aku karena tidak mendengar kata-katamu, Cia menyesal," pada momen itu, Agaricia Palmata menekuk kedua lututnya, menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya, dan menangis tersedu-sedu.
Tanpa dia sadari, semua kata-kata yang dia ucapkan didengar oleh seorang remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun, yang jiwanya berisi seorang pria berusia dua puluh lima tahun dengan hidup yang menyedihkan, sedang menguping dari balik pintu.