(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 3)
Setelah menaklukkan Benua Kuno, Han Luo dan Long Tian bertujuan menginjakkan kaki di Cakrawala Suci—pusat dunia kultivasi yang sesungguhnya.
Di benua super-masif ini, kekuatan Jiwa Baru Lahir hanyalah prajurit biasa, dan para dewa Pemutus Roh menguasai langit. Menjadi buronan faksi raksasa akibat kematian Jian Wuji, Han Luo terpaksa menyembunyikan taringnya.
Dan saat rahasia sebenarnya di balik 'Dao Langit' dan Penjara Benua Kuno mulai terkuak, Han Luo bersiap menyalakan api pemberontakan terbesarnya. Di negeri para dewa, gerhana akan membuktikan bahwa ia mampu menelan matahari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
BRAAAAK!
Pintu kayu giok yang kokoh dari Halaman Bunga Persik hancur berkeping-keping, serpihannya terlempar hingga ke tepi kolam air panas. Formasi pengedap suara yang melindungi halaman itu robek paksa oleh sebuah artefak pendobrak.
Dari balik kepulan debu kayu, lima sosok melangkah masuk dengan arogan.
Pemimpin mereka adalah seorang pemuda berusia dua puluhan, mengenakan jubah sutra hijau zamrud dengan sulaman harimau emas. Wajahnya angkuh, matanya memancarkan keserakahan yang tak ditutupi. Di belakangnya, empat pria berotot dengan zirah perak mengikuti—keempatnya memancarkan aura Inti Emas Puncak yang sangat padat.
[Tuan Muda Ba Tu - Klan Ba] Kultivasi: Jiwa Baru Lahir Awal.
Klan Ba adalah salah satu dari tiga klan penguasa bawah tanah di Kota Tepi Langit. Mereka mengendalikan pasar gelap, perjudian, dan tentu saja... pemerasan terhadap pendatang baru.
"Kudengar ada domba gemuk dari kepulauan pinggiran yang berani pamer Mutiara Mata Laut di paviliun pamanku," suara Ba Tu bergema, nadanya penuh cemoohan. Matanya langsung tertuju pada Han Luo yang sedang duduk di kursi santai.
Han Luo (Xie Yan) bereaksi dengan sangat sempurna.
Dia melompat dari kursinya dengan gerakan canggung, menjatuhkan cangkir tehnya hingga pecah. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, dan dia terbatuk-batuk dengan keras sambil mencengkeram dadanya, seolah-olah penyakit kronisnya baru saja kumat akibat syok.
"Uhuuk... uhuk! T-Tuan-tuan siapa?! Apa salah klan kami?!" ratap Han Luo, suaranya parau dan menyedihkan. Dia setengah berlari dan bersembunyi di belakang punggung lebar Long Tian (Hei Mian). "H-Hei Mian... lindungi aku..."
Long Tian berdiri tegak seperti dinding baja. Wajahnya dipertahankan sedatar dan sebodoh mungkin, persis seperti pengawal bayaran kelas tiga yang tidak banyak berpikir. Namun, tangannya diam-diam bertumpu pada gagang pedang raksasanya yang masih tersarung.
Melihat pemuda penyakitan itu bersembunyi di balik pengawal Inti Emas Awal (aura Long Tian yang disamarkan), Ba Tu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Lihat tikus ini! Dia bahkan tidak bisa berdiri tegak!" Ba Tu melangkah mendekat, mengarahkan kipas lipatnya ke wajah Han Luo. "Dengar, Kakek Penyakitan. Kota ini punya aturan. Pendatang baru harus membayar 'Pajak'. Serahkan sepuluh Mutiara Mata Laut yang kau pamerkan di lobi tadi, dan aku akan bermurah hati membiarkanmu tinggal di sini sebulan."
"S-Sepuluh mutiara?!" Han Luo membelalakkan matanya, air mata keputusasaan buatan mulai menggenang. "T-Tapi Tuan... itu adalah harta terakhir klan kami! Itu untuk membayar tabib yang bisa menyembuhkan racun di tubuhku! Jika saya menyerahkannya, saya akan mati!"
"Kau pikir aku peduli kau mati atau hidup?" Ba Tu mendengus kasar. Niat membunuhnya meledak. "Serahkan, atau aku akan membunuh pengawal bisumu ini, mematahkan kedua kakimu, dan mengambil cincin penyimpananmu langsung dari mayatmu!"
Ba Tu memberi isyarat dengan dagunya. "Patahkan kaki pengawalnya. Biar dia tahu siapa yang punya kota ini."
Dua dari empat pengawal zirah perak itu menyeringai buas. Mereka melesat maju ke arah Long Tian, pedang mereka memancarkan Qi logam yang tajam, mengincar lutut pemuda raksasa itu.
Han Luo yang bersembunyi di belakang Long Tian berteriak panik, "H-Hei Mian! Jangan bunuh mereka! Kita tidak punya uang untuk bayar ganti rugi! Uhuk!"
Mendengar perintah "jangan bunuh", Long Tian menghela napas pelan di dalam hatinya. ‘Senior Bai benar-benar suka menyiksaku dengan batasan.’
Saat kedua pedang itu hanya berjarak lima inci dari lututnya, Long Tian akhirnya bergerak.
Dia tidak mencabut pedangnya. Dia bahkan tidak menggunakan Qi.
Long Tian hanya mengangkat kaki kanannya, lalu menghentakkannya ke lantai dengan kekuatan fisik murni dari Tubuh Naga Iblis-nya.
BOOM!
Lantai batu di halaman itu meledak seperti terkena meriam. Gelombang kejut fisik yang luar biasa keras menyapu ke depan.
Dua pengawal Inti Emas Puncak itu terhempas oleh tekanan udara murni tersebut. Sebelum mereka bisa jatuh ke tanah, kedua tangan Long Tian melesat seperti kilat, mencengkeram leher mereka berdua di udara.
"U-Ugh?!" Kedua pengawal itu membelalakkan mata, mencoba menyalurkan Qi untuk melepaskan diri. Namun cengkeraman Long Tian terasa seperti tang jepit dari baja purba. Qi mereka tertahan.
Brak! Brak!
Dengan gerakan kasual, Long Tian membanting kedua pengawal itu ke tanah, lalu menendang dada mereka secara bergantian.
Suara retakan tulang rusuk bergema nyaring. Kedua pengawal itu memuntahkan darah segar dan langsung pingsan dengan dada yang amblas ke dalam. Mereka tidak mati, tapi mereka tidak akan bisa berjalan selama setengah tahun.
Hening sejenak.
Sisa dua pengawal di belakang Ba Tu membeku. Tuan Muda Ba Tu sendiri rahangnya hampir jatuh ke lantai.
"A-Apa-apaan kekuatan fisik itu?!" teriak Ba Tu panik. Pengawal bisu ini hanya memiliki aura Inti Emas Awal, tapi dia baru saja meremukkan dua elit Inti Emas Puncak seperti meremukkan ranting kering!
"K-Kau menyembunyikan kekuatanmu?! Bunuh dia! Gunakan formasi!" Ba Tu berteriak pada sisa pengawalnya, sementara dia sendiri melangkah mundur.
Namun, sebelum kedua pengawal yang tersisa bisa merapal mantra, Long Tian sudah menerjang maju. Dia menggunakan sarung pedang raksasanya sebagai tongkat pemukul.
DUAGH! DUAGH!
Dua hantaman tumpul yang telak di kepala membuat dua pengawal terakhir itu pingsan seketika, menyusul rekan mereka ke alam mimpi.
Sekarang, hanya tersisa Ba Tu. Tuan Muda arogan yang kini kakinya gemetar melihat keempat elitnya tumbang dalam waktu kurang dari lima detik.
Long Tian menatap Ba Tu dengan wajah datar yang mematikan, bersiap mematahkan tulang pemuda itu.
"H-Hei Mian! Cukup! Uhuk... uhuk!"
Suara parau Han Luo menghentikan Long Tian.
Han Luo terhuyung-huyung maju, mencoba berjalan melewati Long Tian, tapi kakinya tampak "lemas". Dia tersandung jubahnya sendiri dan jatuh ke depan, menabrak kaki Ba Tu dengan keras.
"A-Aduh! Tuan Muda, tolong ampuni kami! Pengawalku ini orang gunung yang tidak tahu aturan! T-Tolong jangan laporkan kami ke penjaga kota!" ratap Han Luo, memeluk lutut Ba Tu sambil menangis histeris.
Ba Tu yang awalnya ketakutan setengah mati, kini merasa jijik dan kembali sedikit percaya diri melihat majikan pengawal itu masih bersikap seperti pengecut.
"Singkirkan tangan kotormu dariku, Penyakitan!" Ba Tu menendang bahu Han Luo hingga pria itu terguling ke samping.
Namun, tepat pada detik saat Han Luo memeluk lutut Ba Tu tadi, sesuatu telah terjadi. Tangan Han Luo bergerak lebih cepat dari kilat, menusukkan seutas Jarum Qi Hampa mikroskopis langsung menembus titik meridian di kaki Ba Tu, dan menyusup ke dasar Dantian pemuda itu tanpa menimbulkan rasa sakit sedikit pun.
Sebuah bom waktu spiritual yang tak kasat mata baru saja ditanamkan.
Han Luo terbatuk di lantai, menutupi wajahnya dengan saputangan. Namun, suara yang keluar dari balik saputangan itu tidak lagi memelas. Itu adalah transmisi suara yang sangat tipis, dingin, dan memancarkan dominasi mutlak, dikirim langsung hanya ke telinga Ba Tu.
"Dengarkan aku baik-baik, anak babi."
Ba Tu tersentak. Dia melihat sekeliling dengan panik. Suara siapa itu?!
"Jangan melihat ke mana-mana. Tatap aku yang sedang menangis di bawahmu ini."
Mata Ba Tu perlahan menunduk menatap Han Luo yang masih berpura-pura gemetar ketakutan di lantai. Wajah pemuda penyakitan itu terlihat sangat memelas, tapi matanya yang mengintip dari balik jari... mata itu gelap seperti jurang neraka.
"Aku baru saja menanamkan Kutukan Hampa di dalam Dantian-mu," bisik Han Luo melalui transmisi suara. "Setiap kali kau memutar Qi-mu, kutukan itu akan menggerogoti umurmu. Jika tidak diangkat besok siang, Dantian-mu akan meleleh menjadi lumpur hitam, dan kau akan mati dalam penderitaan yang membuatmu berharap ibumu tidak pernah melahirkanmu."
Wajah Ba Tu menjadi seputih kertas. Dia mencoba memutar Qi-nya untuk memeriksa, dan seketika rasa sakit yang menyayat jiwa meledak di perutnya.
"GHKK!" Ba Tu mencengkeram perutnya, hampir jatuh berlutut. Itu benar! Dantian-nya bereaksi!
"Nah, sekarang aturannya berubah," lanjut suara dingin Han Luo di kepalanya. "Pulanglah. Menangislah pada ayahmu, Patriark Klan Ba. Beritahu dia bahwa nyawamu kini memiliki harga. Satu Juta Batu Kristal Suci Murni."
Ba Tu menelan ludah, matanya memancarkan teror absolut.
"Bawa uang itu kemari sebelum matahari berada tepat di atas kepala besok. Bawa Patriarkmu jika kau mau. Bawa seluruh pasukan klanmu jika kalian merasa berani. Tapi jika kalian terlambat satu detik saja... aku akan meledakkan kutukan itu."
Di dunia nyata, Han Luo melepaskan kakinya dan kembali memohon dengan suara parau. "T-Tolong pergilah, Tuan Muda! Kami tidak punya mutiara lagi!"
Ba Tu menatap Han Luo, lalu menatap Long Tian yang masih memegang sarung pedang seperti dewa pembantai. Dia menyadari bahwa dia baru saja menendang pintu kandang monster purba yang menyamar menjadi domba.
"K-Kalian... kalian iblis..." gumam Ba Tu, suaranya pecah.
Tanpa mempedulikan keempat pengawalnya yang masih terkapar koma, Ba Tu berbalik dan lari terbirit-birit keluar dari halaman yang hancur itu. Dia bahkan tersandung ambang pintu karena saking paniknya.
Keheningan kembali menyelimuti Halaman Bunga Persik, hanya dihiasi oleh suara rintihan pelan dari pengawal yang pingsan.
Han Luo membersihkan debu dari lututnya, berdiri dengan sangat tegak. Batuk dan gemetarnya menguap tanpa sisa.
Dia berjalan kembali ke mejanya yang masih utuh, mengambil cangkir teh yang baru, dan menuangkan teh hangat.
"Satu juta pertama sudah terjamin," Han Luo menyesap tehnya, matanya menatap bulan sabit di langit malam Cakrawala Suci. "Malam ini kita tidur nyenyak, Hei Mian. Besok siang, kita akan menerima tamu yang lebih besar."
Long Tian menyarungkan pedangnya, menggelengkan kepala melihat kelicikan tuannya.
"Tuan Muda, jika Patriark Klan Ba datang membawa pasukan, bukankah kita akan repot?"
"Itulah yang kuharapkan," Han Luo tersenyum licik. "Jika dia membawa uang, kita dapat dana akademi. Jika dia membawa pasukan... kita bisa memeras mereka untuk dua juta lagi."
Sang Dalang baru saja membuka bisnis pemerasannya di pusat peradaban baru. Dan dia menargetkan panen yang sangat, sangat besar.