NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24: Keajaiban dalam Perut dan Cinta yang Tak Terbatas

Kata-kata dokter itu membuat Leonard terpaku sejenak, matanya melebar penuh dengan kejutan dan emosi yang meluap. Ia tidak bisa mempercayakan apa yang baru saja didengarnya.

"Apa yang anda maksud, Dokter?" tanya Leonard dengan suara yang sedikit gemetar, namun penuh dengan harapan yang besar.

Dokter istana mengangguk dengan senyum hangat.

"Yang Mulia Alexandria sedang mengandung, Yang Mulia Raja. Sudah sekitar tiga bulan lamanya. Itulah mengapa beliau merasa tubuhnya lemah dan sering merasa pusing belakangan ini."

Leonard merasa kaki nya hampir melemah mendengar kabar itu. Kebahagiaan yang luar biasa meluap dari dalam dirinya, membuat matanya berkaca-kaca karena emosi yang tak bisa dikendali. Ia segera masuk ke kamar di mana Alexandria sedang menunggu dengan wajah yang sedikit khawatir.

"Leo? Bagaimana? Apakah aku sakit parah?" tanya Alexandria dengan suara lembut saat melihat wajah Leonard yang penuh emosi.

Leonard mendekat dengan langkah cepat, kemudian jongkok di samping tempat tidur sebelum mengambil tangannya dengan lembut. Matanya penuh dengan cinta dan kebahagiaan yang luar biasa.

"Kamu tidak sakit, sayangku," bisik Leonard dengan suara yang sedikit serak karena emosi. "Kamu sedang mengandung, Alex. Kita akan punya anak..."

Alexandria terpaku sejenak, kemudian matanya juga berkaca-kaca karena kebahagiaan yang tiba-tiba datang. Ia menyentuh perutnya yang masih rata dengan lembut, tidak percaya bahwa ada kehidupan baru yang tumbuh di dalamnya.

"Anak kita... Leo... kita akan punya anak..." bisiknya dengan suara penuh kagum dan cinta.

Leonard mencium bibirnya dengan lembut, kemudian menangis dengan senang hati — sesuatu yang jarang ia lakukan bahkan dalam masa-masa sulit perang sebelumnya.

"Ya, sayangku. Kita akan punya penerus kerajaan, tapi yang lebih penting — kita akan punya buah cinta kita berdua."

Sejak saat itu, kehidupan mereka berubah drastis. Leonard yang tadinya dikenal sebagai raja yang tegas dan tangguh, kini berubah menjadi orang yang sangat protektif bahkan sampai taraf yang berlebihan terhadap Alexandria.

"Alex, kamu tidak boleh berdiri terlalu lama," ucap Leonard dengan cemas saat melihat Alexandria sedang menyusun buku-buku di meja kerjanya.

"Kamu harus istirahat lebih banyak sekarang."

"Leo, aku hanya menyusun buku saja kok," jawab Alexandria dengan senyum lembut, namun tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia karena perhatiannya. "Aku bukan patung yang rapuh, Leo."

Namun Leonard tidak mau mengambil risiko sedikit pun. Ia memerintahkan pelayan untuk selalu mengikuti setiap langkah Alexandria, memerintahkan dapur istana untuk membuat makanan khusus yang kaya akan nutrisi, ia bahkan membatalkan semua jadwal perjalanan luar kota agar bisa selalu berada di sisi kekasihnya.

"Aku hanya khawatir padamu, Alex," ucap Leonard dengan lembut saat mereka sedang makan malam bersama di kamar mereka.

"Kita sudah melalui begitu banyak hal untuk bisa sampai di sini. Aku tidak bisa membiarkan sesuatu apa pun terjadi padamu atau anak kita."

Alexandria menyentuh wajahnya dengan lembut, menenangkannya.

"Aku tahu kamu khawatir, Leo. Tapi kamu harus percaya padaku. Aku kuat, dan anak kita juga kuat seperti kamu."

Namun tidak semua perjalanan kehamilan berjalan mulus. Bulan keempat, Alexandria mulai mengalami mual parah setiap paginya, membuatnya sulit untuk makan apa pun. Kadang ia bahkan merasa sangat lemah hingga tidak bisa bangun dari tempat tidur.

"Saya khawatir kondisi Yang Mulia semakin memburuk, Yang Mulia Raja," ucap dokter istana dengan suara serius setelah memeriksa Alexandria yang sedang terbaring lemah.

"Kebutuhan nutrisinya sangat tinggi, namun dia kesulitan untuk mencerna makanan apa pun."

Leonard merasa hatinya seperti tertusuk tajam mendengarnya. Ia menghabiskan hampir semua waktunya di sisi tempat tidur Alexandria, membantu pelayan memberikannya air dan makanan yang mungkin bisa ia konsumsi, bahkan ia belajar sendiri cara membuat ramuan tradisional dari dunia manusia yang pernah Alexandria ajarkan padanya.

"Alex, coba makan sedikit, ya?," rayu Leonard dengan lembut saat membawa mangkuk sup hangat yang ia buat sendiri.

"Ini sup sayuran yang kamu suka kan? Aku membuatnya dengan cara yang kamu ajarkan padaku dulu."

Alexandria melihat wajahnya yang penuh perhatian dan rasa khawatir, kemudian mencoba untuk makan sedikit meskipun perutnya masih merasa tidak nyaman. Ia tahu betapa sulitnya bagi Leonard yang terbiasa menjadi orang yang kuat dan mampu mengatasi segala rintangan, harus melihat kekasihnya dalam kondisi lemah seperti ini.

"Terima kasih, Leo," bisiknya dengan suara lembut setelah berhasil makan beberapa suapan.

"Kamu sudah melakukan yang terbaik untukku dan anak kita."

Pada bulan kelima, kondisi Alexandria sedikit membaik, namun kemudian ia mulai mengalami nyeri punggung yang luar biasa karena berat badan yang mulai meningkat.

Leonard tidak bisa melihatnya menderita seperti itu, sehingga ia memerintahkan pembuatan kursi khusus yang lebih nyaman, bahkan ia belajar cara memijat dengan benar agar bisa menghilangkan rasa sakitnya setiap malam.

"Bagaimana rasanya, sayangku?" tanya Leonard dengan lembut saat sedang memijat punggung dan kaki Alexandria dengan hati-hati. "Apakah sudah lebih baik?"

Alexandria mengeluarkan suara hembusan napas yang lega. "Ya, Leo. Rasanya sangat nyaman. Terima kasih sudah melakukannya untukku."

Mereka sering menghabiskan malam hari dengan berbicara dengan bayi di dalam perutnya. Leonard akan meletakkan telinganya di perutnya yang sudah mulai membuncit, mendengarkan detak jantung bayi yang kuat dan stabil.

"Kau mendengarnya kan, Alex?" ucap Leonard dengan suara penuh kagum. "Detak jantungnya kuat seperti ayahnya."

Alexandria tersenyum dengan bahagia, menyentuh rambut Leonard dengan lembut.

"Dan dia akan punya hati yang baik seperti ibunya juga kan, Leo?"

Leonard bangkit kemudian mencium perutnya dengan lembut. "Dia akan menjadi orang yang sempurna, karena dia berasal dari cinta kita berdua."

Pada bulan keenam, datang lagi tantangan baru—Alexandria mulai merasa sangat mudah lelah dan sering merasa sesak napas. Leonard bahkan memerintahkan untuk memindahkan kantor kerjanya ke kamar utama mereka agar ia bisa selalu mengawasi kondisi kekasihnya, membuat para menteri kerajaan terkadang sedikit bingung melihat raja mereka yang biasanya bekerja di ruang rapat besar kini bekerja di kamar tidur bersama ratunya.

"Leo, kamu tidak perlu begitu jauh kok," ucap Alexandria dengan sedikit merasa bersalah saat melihat Leonard sedang menyelesaikan urusan kerajaan di meja sisi tempat tidur. "Kamu punya tugas besar sebagai raja."

"Tugas terbesar ku adalah menjaga kamu dan anak kita tetap sehat dan bahagia, Alex," jawab Leonard dengan suara tegas namun penuh kasih sayang.

"Semua urusan kerajaan bisa menunggu, tapi kamu dan anak kita tidak bisa."

Meskipun masa kehamilan penuh dengan tantangan dan kesulitan, namun setiap saat yang mereka lalui bersama membuat ikatan cinta mereka semakin kuat.

Leonard belajar untuk menjadi lebih lembut dan penuh perhatian, sementara Alexandria belajar untuk menerima perhatian dan cinta yang diberikan kepadanya tanpa merasa bersalah.

"Saat anak kita lahir nanti, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik kan?" tanya Alexandria satu malam saat mereka sedang berpelukan di tempat tidur.

"Ya, sayangku," jawab Leonard dengan lembut, mencium dahinya.

"Kita akan membangun dunia yang penuh cinta dan kedamaian untuk dia. Sebuah dunia yang layak untuk penerus cinta kita berdua."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!