Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.
Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.
"Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."
Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mr. A
"Dari siapa, Kay?" Sienna mengulang pertanyaannya, matanya menyipit menatap ponsel yang digenggam putrinya.
Kayla, gadis kecil berpita biru itu, tiba-tiba merangsek masuk ke tengah sofa. Ia nyempil di antara orang tuanya, memaksa pelukan Kalendra pada Sienna terlepas. "Itu loh... Cecilia. Sahabatnya Kak Rayna," potong Kesya cepat sebelum kembarannya sempat membuka mulut.
"Ada apa dengan dia?" Suara bariton Rayden terdengar dari ambang pintu. Ia melangkah masuk dengan kening berkerut.
"Menikah!" seru Kayla lantang.
Langkah Rayden terhenti seketika. Ia urung duduk, tangannya mencengkeram sandaran kursi kayu di depannya.
"Menikah? Cecil? Putri tunggal keluarga Rich itu?" Rayden menimpali, suaranya naik satu oktav karena sangsi. "Kalian jangan asal bicara."
"Ih, bukan Cecil! Tapi kakaknya, si De... De siapa sih, Kay?" Kesya menyikut lengan kembarannya, mencoba mengingat nama yang melesat dari kepalanya.
"Demonic?" tebak Kayla asal.
"Devandra kali! Masa Demon? Kalian pikir dia iblis?" celetuk Sienna sambil menggelengkan kepalanya, mencoba mencerna informasi yang simpang siur ini.
"Nah, itu maksudku, Mom! Tadi dapat telepon dari Bik Ida, pembantunya bilang begitu," jelas si kembar K sambil cengengesan, tak menyadari ketegangan yang mulai merayap di wajah kakak laki-laki mereka.
Rayden mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang sedikit melandai. "Lalu, siapa pasangannya?"
Apa mungkin Rayna?
"Isabella."
"Isabella?!" Rayden tersentak, matanya membelalak kaget.
"Kalian bohong!"
"Serius, Bang! Kalau tidak percaya, telepon saja Kak Rayna. Mungkin dia ada di sana sekarang," tantang Kesya sambil menyodorkan ponselnya sendiri ke arah Rayden.
Sienna segera meraih ponselnya di atas meja nakas, jemarinya bergerak lincah mencari kontak Harris. "Ini gila. Kenapa Harris tidak memberi tahu kita?" gumamnya gelisah.
Di sudut lain, Rayden berulang kali menempelkan ponsel ke telinganya. "Sial, Rayna tidak angkat," gerutunya. Ia beralih menghubungi nomor Byan, namun hanya suara operator yang menyahut.
"Kontak Byan juga tidak aktif. Ada yang tidak beres."
Suasana ruangan mendadak senyap saat sambungan telepon Sienna terhubung. Semua mata tertuju pada Sienna yang kini menekan tombol speaker.
"Harris? Apa yang terjadi? Kenapa kami dengar ada pernikahan hari ini?" tanya Sienna bertubi-tubi.
Dari seberang telepon, suara Harris terdengar parau dan gemetar, seolah ia sedang menahan beban berat di pundaknya. "Pernikahan ini... Deva yang mendesak kami, Sienna. Padahal awalnya hanya perjodohan sampai mereka lulus sekolah. Tapi Deva bersikeras ingin menikahi Isabella hari ini juga."
Sienna bangkit dari duduknya, berjalan mondar-mandir di ruang tengah. "Kak, aku ingin bicara langsung. Alihkan ke video call sekarang!"
"T-tidak bisa, Sienna. Maaf, aku tidak bisa," tolak Harris gugup. Di balik telepon itu, Harris melirik Rayna yang sedang dipaksa menjadi pengantin pengganti. Pria itu gemetar hebat, keponakannya kini menjadi tameng untuk menutupi tragedi putri tirinya. Jika Kalendra tahu ini, tamat sudah riwayatnya di tangan adik iparnya itu. Tapi ia juga tak berani pada Nicholas sehingga ia hanya bisa pasrah saja.
Tuuutt... tuuutt...
Sambungan terputus sepihak. Sienna menatap layar ponselnya yang menggelap dengan tangan gemetar.
"Sayang, sepertinya ada yang benar-benar tidak beres di sana," ucap Sienna menatap Kalendra yang kini sudah berdiri di sampingnya dengan wajah tegang.
"Kita ini keluarga, tapi kenapa kita tidak diundang? Dan Rayna... kenapa dia tidak mengabarkan apa pun?" Sienna meremas ponselnya, merasakan firasat buruk yang makin kuat dari nada bicara kakaknya yang tidak wajar.
Si kembar K hanya saling pandang dalam diam, mulai merasakan atmosfir berat yang menyelimuti ruangan itu, sementara Rayden sudah menyambar kunci motornya di atas meja.
Langkahnya lebar dan terburu-buru menuju pintu utama. Namun, baru saja ia hendak duduk, sebuah bayangan menghalangi jalannya.
"Woah, pelan-pelan, Ray! Mau balapan ke mana?"
Rayden terdiam. Di depannya berdiri Austin Cano, sahabatnya yang sedang menatapnya dengan kening berkerut dalam. Austin jarang melihat Rayden sekacau ini. "Ada apa dengan wajahmu? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu."
"Aku harus menyelidiki sesuatu. Ini darurat," jawab Rayden pendek, tangannya masih mencengkeram stir motor. Ia balik menatap Austin dengan curiga. "Kau sendiri sedang apa di sini?"
Austin mengangkat sebuah wadah makanan yang masih mengepulkan uap. "Ibuku membuat gulai kambing. Dia memintaku mengantarkannya," ucapnya sambil menunjuk ke arah rumahnya yang hanya berjarak beberapa blok dari kediaman utama Black Lotus.
Austin mengedarkan pandangan ke sekitar halaman mansion yang tampak lebih sepi dari biasanya. "Ngomong-ngomong... ke mana Rayna? Sudah beberapa hari aku tidak melihatnya."
"Dia pindah ke Jakarta," sahut Rayden datar.
Austin terperanjat, matanya membelalak kaget. "Jakarta?! Seberang samudera? Jauh sekali! Untuk apa dia ke sana?"
Rayden mengembuskan napas kasar, ada nada kesal dalam suaranya. "Menemui Deva, cinta masa kecilnya. Tapi siapa sangka, pria itu malah menikah dengan perempuan lain hari ini. Dan sepertinya ada yang tidak beres di sana."
Mendengar kalimat terakhir Rayden, sebuah kilat aneh melintas di mata Austin. Sudut bibirnya berkedut, membentuk senyum tipis yang hampir tak terlihat, sebuah senyum kemenangan yang disembunyikan dengan rapi.
‘Deva menikah dengan orang lain? Baguslah,’ batinnya. Peluangnya untuk mendapatkan Rayna kini terbuka lebar tanpa ada gangguan dari masa lalu gadis itu.
Austin segera mengubah ekspresinya kembali menjadi prihatin. Ia menyerahkan sup itu kepada seorang pelayan yang kebetulan lewat, lalu menoleh kembali pada Rayden dengan tatapan mantap.
"Kalau begitu, biarkan aku membantumu," tawar Austin, suaranya terdengar sangat tulus. "Aku tidak mau kau pergi sendirian dalam kondisi emosi seperti ini. Kita selidiki bersama apa yang sebenarnya terjadi di Jakarta."
Rayden terdiam sejenak, menatap sahabatnya itu, lalu mengangguk singkat. "Naik. Kita berangkat ke markas Black Lotus."
_____
Suasana di dalam kamar atas sedang memanas. Ketegangan antara tiga bersaudara ini mencapai titik didihnya saat Byan dan Cloe melangkah maju, memerangkap Asha di sudut ruangan.
"Jujur saja, Asha! Akui kalau kau adalah Mr. A!" bentak Byan, suaranya menggelegar menabrak dinding kamar.
"Email itu... hanya kau yang punya motif sekuat itu untuk menghancurkan hubungan Deva dan Rayna!"
"Aku sudah bilang bukan aku!" balas Asha tak kalah sengit. Rahangnya mengeras, tatapannya menghunus tajam.
"Bohong!" sahut Cloe dengan nada perih. "Kami tahu kau menyukai Rayna. Tapi kau pengecut, Asha! Kau tidak punya keberanian untuk jujur padanya, jadi kau memilih cara kotor ini? Kau menghancurkan perasaan Rayna, kau merusak persahabatan mereka, dan sekarang kau menghancurkan kepercayaan kami sebagai saudaramu!"
Asha terdiam. Napasnya memburu, tangannya mengepal begitu kuat. Tiba-tiba, ia memukul meja di sampingnya dengan keras.
"Iya! Aku memang menyukainya!" teriak Asha, emosinya meluap tak terkendali. "Kalian ingat mitos kupu-kupu itu? Kupu-kupu yang hinggap di kepalaku dan Rayna saat kita kecil? Aku percaya itu! Rayna ditakdirkan untukku, bukan untuk Deva yang kekanak-kanakan itu!"
Ia menarik napas tajam, matanya memerah. "Tapi demi Tuhan, bukan aku pemilik email itu! Lokasinya dimanipulasi untuk menjebakku. Byan, aku mohon... cari lagi lokasi aslinya. Aku berani bersumpah, jika aku berbohong, cabut statusku dari keluarga ini! Aku akan keluar dari rumah ini tanpa membawa apa pun! Aku menyayanginya, dan aku tidak sejahat itu!"
Keheningan sesaat menyelimuti mereka. Asha menyeka keringat di dahinya, lalu tersenyum getir, senyum yang penuh keputusasaan. "Tapi kurasa, siapapun pelakunya, itu sudah tidak penting lagi. Nasi sudah jadi bubur. Deva sedang mengucapkan janji suci dengan Isabella di bawah sana. Semuanya sudah berakhir."
"Kau salah, Kak," sebuah suara dingin memotong dari ambang pintu.
Ketiganya menoleh serempak. Xavier berdiri di sana dengan wajah sedatar es. "Rayna yang sekarang ada di samping Deva. Ijab kabul sedang berlangsung."
"APA?!" teriak ketiganya nyaris bersamaan.
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, ketiga Tuan Muda itu berlari menuruni tangga secepat kilat. Jantung Asha berdegup kencang, berharap ini hanya mimpi buruk. Namun, begitu mereka tiba di aula utama, langkah mereka terhenti kaku.
Di depan penghulu, suara berat Devandra menggema mantap menyebut nama Rayna. Dan detik berikutnya...
“SAAAAAH!"
Seruan saksi itu menggelegar di seluruh ruangan. Lutut Asha lemas seketika. Tubuhnya merosot ke lantai, terduduk tak berdaya seolah seluruh tulang di tubuhnya baru saja diloloskan. Dunianya gelap. Rayna kini resmi menjadi istri adiknya sendiri.
Cloe yang masih memiliki sisa kesadaran, mencengkeram bahu Xavier dengan kuat. "Xavier! Kalau Rayna yang di sana... lalu di mana Isabella?!"
_____
😱 Hayo siapa yang pikir Mr. A itu Asha? Ternyata...
semangat update trs ya sampai tamat💪🤗