Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.
Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Malam itu, jarum jam hampir menunjuk pukul sebelas lewat ketika Aiden Hugo Maverick memasuki rumah. Jas hitamnya masih rapi, dasi hanya sedikit longgar. Liam sudah lama terlelap, rumah terasa sunyi, hanya terdengar suara televisi dari ruang keluarga.
Aiden melangkah masuk dan menemukan Thalia istrinya-tertidur di sofa. Televisi masih menyala, menampilkan acara musik larut malam, cahaya layar berkedip memantulkan siluetnya. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya terlihat tenang, napasnya teratur.
Aiden berdiri di sana beberapa detik. Ia bisa saja membiarkan Thalia tidur di sofa sampai pagi, tapi... entah kenapa, ada dorongan untuk membangunkannya. Meski begitu, sifat kaku Aiden tidak pernah memberi ruang untuk gestur romantis. Ia menepuk kepala Thalia pelan-cara yang lebih mirip mengusir kucing nakal daripada membangunkan istri.
Thalia meringis kecil, kelopak matanya berkedip. Begitu membuka mata, yang pertama ia lihat adalah wajah sang suami, menatapnya dari jarak dekat dengan ekspresi yang... seperti ingin menelannya hidup-hidup.
Refleks, Thalia langsung duduk tegak.
Tatapannya tajam membalas tatapan Aiden. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan hangat. Hanya dua pasang mata yang saling mengukur, seolah di antara mereka terbentang medan perang yang tak terlihat.
Di kepala Aiden, pertanyaan berputar: "Kenapa dia menatapku seperti itu? Seolah-olah menantang perang. Berani sekali menatap macan yang siap mengamuk."
Di kepala Thalia, pikiran yang sama sekali berbeda melintas: "Pria ini... selalu terlihat seperti mengajak orang bermusuhan. Lihat tatapannya-seperti mau memakanku hidup-hidup. Kalau bisa, ada yang tolong ingatkan dia, sopan kah bersikap seperti itu pada istrinya?"
Thalia memiringkan kepala sedikit, masih memandang lekat Aiden. "Dia ini masih 26 tahun, ya? Hei... di kehidupan pertamaku aku berusia 32 tahun. Bukankah itu artinya aku lebih senior hidup di dunia ini? Haruskah senior mengalah pada junior? Ohhh, tidak akan pernah!"
Udara di antara mereka nyaris berdesis. Tapi Aiden akhirnya berdehem, memutus tatapan, dan berkata datar, "Tidur di sofa tidak baik untuk punggung. Lain kali, naik ke kamar."
Thalia mengangkat alis tipisnya. "Kalau kau khawatir, ucapkan saja 'selamat malam' seperti orang normal, bukan dengan tatapan pembunuh."
Aiden tidak menanggapi. Ia berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Thalia yang hanya menghela napas panjang. Pertarungan kecil ini, entah kenapa, membuatnya semakin bertekad untuk tidak pernah kalah dalam adu tatap dengan suaminya.
Hari berganti. Liburan kampus berakhir, dan akhirnya tiba hari besar yang dinanti-nanti: Pertunjukan Pemilihan Duta Kampus dan Kegiatan Amal Tahunan. Gedung auditorium universitas ramai oleh mahasiswa, dosen, dan tamu undangan.
Sesuai prediksi, Nadine dan Thalia menjadi perwakilan fakultas mereka masing-masing. Meski berada di universitas yang sama, keduanya ditempatkan di ruang persiapan yang berbeda, untuk menjaga kerahasiaan penampilan dan menjaga ketertiban acara.
Thalia tiba di lokasi lebih awal, ditemani Rina, pelayan yang sekaligus menjadi asisten dadakannya. Ia mengenakan masker dan topi lebar untuk menutupi wajahnya sebelum masuk ke ruang persiapan. Semua sudah ia rencanakan dengan rapi -tidak ada yang boleh melihat penampilan aslinya sebelum ia naik ke panggung.
Di balik masker itu, matanya memantulkan ketenangan yang aneh. Ia tahu momen ini akan menjadi panggung besar untuk memulai langkah baru-mungkin langkah pertama kembali ke dunia hiburan. Tapi untuk sekarang, ia hanya ingin fokus pada persiapan.
Sementara itu, di ruang persiapan lain, Nadine duduk di depan cermin, dikelilingi Aurora, Celina, dan Alara. Mereka tertawa kecil sambil membicarakan "Thalia si culun". Bagi Nadine, momen ini adalah kesempatan emas untuk menyingkirkan Thalia sekali dan untuk selamanya dari reputasi buruk menjadi semakin buruk di kampus.
"Persaingan ini terlalu mudah," kata Aurora dengan nada mengejek. "Dia bahkan mungkin gugup setengah mati nanti di panggung."
Nadine hanya tersenyum tipis. Ia sudah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih "efektif" daripada sekadar ejekan.
Di dalam tasnya, ada sebuah kotak kue cantik. Isinya: kue lembut dengan pasta kacang almond di tengahnya. Nadine tahu persis-Thalia alergi almond. Reaksi paling ringan adalah bentol-bentol, tapi jika parah, bisa sampai kejang-kejang.
Bayangan Thalia jatuh pingsan di panggung membuat Nadine hampir tertawa sendiri. "Orang akan mengira dia roboh karena ketakutan dan tidak percaya diri. Ayah akan melihat anak kandungnya mempermalukan nama keluarga Anderson. Semua akan menghina. Satu peluru, dua burung jatuh."
Nadine memanggil seorang kenalan yang mau "bekerja" untuknya seorang mahasiswa yang akan berpura-pura menjadi panitia acara. Tugasnya sederhana: membawa kue itu ke ruang persiapan Thalia dan mengaku bahwa semua peserta perwakilan fakultas mendapat hidangan yang sama.
Tidak lama kemudian, mahasiswa itu mengetuk pintu ruang Thalia. Rina yang membukakan.
"Selamat sore. Ini snack untuk peserta Duta Kampus. Semua perwakilan dapat."
"Oh, baik. Terima kasih," jawab Rina sambil menerima kotak kue.
Thalia, yang sedang memeriksa naskah MC cadangan yang diberikan panitia, menoleh sekilas. "Snack? Wah, pas juga, aku belum sempat sarapan tadi pagi."
Ia membuka kotak itu. Kue tersebut terlihat cantik-lembut, dengan lapisan krim putih dan taburan cokelat parut. Tanpa rasa curiga, Thalia mengambil sendok kecil dan memotong bagian tengah kue.
Rasa manisnya langsung meleleh di lidah.
Thalia tersenyum tipis. "Hmm... enak juga."
Rina melirik jam. "Nyonya, habis ini kita harus mulai ganti baju. Panitia katanya mau cek urutan penampilan."
Thalia mengangguk sambil menghabiskan potongan terakhir kue.
Di ruang persiapan lain, Nadine duduk santai sambil menunggu kabar. Ia membayangkan Thalia mulai merasa gatal, wajah memerah, dan akhirnya roboh sebelum sempat tampil. Aurora yang duduk di sebelahnya menyikut pelan.
"Sudah sampai, 'hadiahnya'?"
Nadine tersenyum licik. "Sudah. Tinggal tunggu waktu saja."
Pengumuman dari panitia terdengar jelas di setiap ruang persiapan:
"Para perwakilan, harap mencatat urutan penampilan masing-masing. Penampilan dimulai sesuai nomor undian. Silakan bersiap."
Thalia melirik papan urutan di tangannya.
Nomor 14.
"Dua terakhir," gumamnya pelan. Nadine, yang berada di ruang berbeda, mendapat nomor 13. Artinya mereka akan tampil berurutan-hanya selisih satu penampil di antara mereka.
Di luar, aula utama sudah penuh sesak. Deretan kursi undangan di barisan depan diisi oleh para orang tua peserta, tamu kehormatan, dan pihak sponsor. Yoshi dan Marrie duduk berdampingan, wajah mereka memancarkan aura puas. Nadine, anak yang mereka banggakan, akan tampil di hadapan semua orang. Mereka bahkan mendapat tempat duduk strategis-tepat di sebelah orang tua Aurora dan beberapa tokoh penting di lingkaran sosial mereka.
Lampu sorot perlahan menghangatkan suasana.
Di sisi kiri ruangan, para wartawan media sibuk memeriksa kamera dan mempersiapkan catatan. Di sisi kanan, duduk beberapa perwakilan agensi pencari bakat-mereka yang bisa mengubah hidup siapa pun dalam semalam jika terkesan pada penampilan seseorang. Tatapan mereka tajam, mencari bakat segar di antara para kandidat.
Sorakan dan tepuk tangan terdengar ketika pembawa acara naik ke panggung, mengenakan setelan rapi dengan senyum profesional.
"Selamat malam hadirin sekalian! Mari kita sambut penampilan pertama dari Fakultas Bahasa-Jane!"
Jane melangkah ke panggung dengan gaun putih sederhana, rambutnya disanggul anggun. Musik lembut mulai mengalun, dan ia memulai tarian baletnya. Gerakannya luwes, melayang-layang seperti dedaunan di musim semi. Setiap putaran dan lompatan mengundang decak kagum. Saat musik berakhir, tepuk tangan bergema di seluruh aula.
"Luar biasa! Penampilan yang indah dari Jane!" suara MC terdengar bersemangat. "Selanjutnya, kita sambut dari Fakultas Musik-Sophia!"
Sophia berjalan ke panggung dengan percaya diri, memegang mikrofon. Musik R&B kontemporer mengalun, dan ia mulai bernyanyi. Suaranya kaya dan hangat, memikat penonton sejak nada pertama. Beberapa tamu undangan saling berbisik, membicarakan kualitas vokalnya. Tepuk tangan panjang mengiringi akhir lagu.
Di ruang persiapan, Thalia mendengar suara tepuk tangan itu dari balik pintu. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat-bukan karena gugup, tapi karena atmosfer kompetisi yang semakin terasa. Ia tahu, malam ini bukan hanya ajang kampus biasa. Ini adalah panggung yang akan disorot media, panggung yang mungkin menjadi batu loncatan besar... atau justru awal dari serangan musuh-musuhnya.
lanjuttttt/Kiss/