Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
De Javu
Koridor malam itu tampak sunyi, bahkan nyaris terlalu sunyi untuk sebuah tempat yang dihuni manusia. Lampu-lampu dinding menyala redup dengan jarak yang teratur, memantulkan kilap dingin di lantai marmer yang bersih tanpa cela. Malam telah turun sepenuhnya, membawa udara yang terasa lebih berat daripada siang hari. Rachel melangkah perlahan, sepatunya nyaris tak bersuara, seolah gedung itu menuntut setiap orang yang masuk untuk menahan diri, bahkan juga menahan napas.
Di depan pintu besar, dua pria bertubuh tinggi dan kekar berdiri tanpa bergerak. Setelan hitam mereka rapi, dengan ekspresi wajah kosong dan mata tajam mengamati setiap gerak. Sedikit menjauh dari mereka, seorang pelayan berdiri dengan sikap formal, tangan terlipat di depan tubuhnya, dan wajah netral seperti topeng yang profesional. Pemandangan itu membuat Rachel merasa benar-benar asing di tempat ini, seperti tamu yang tidak benar-benar diundang. Atau lebih tepatnya, seperti seseorang yang berada di sini bukan atas kehendaknya sendiri.
Setiap langkah yang ia ambil terasa salah. Kadang terlalu lambat, kdang terlalu cepat, dan kadang terlalu ragu—namun ia tetap datang. Bukan karena keinginannya, melainkan karena satu kata yang terus terngiang di kepalanya sejak sore tadi, yakni sebuah perintah.
Salah satu penjaga mengetuk pintu sekali, singkat dan tegas, lalu membukanya dari luar. Tatapannya lalu beralih pada Rachel. “Silakan masuk. Tuan Liam menunggu.” katanya. Nada suaranya datar, tanpa basa-basi.
Rachel pun mengangguk kecil, lalu melangkah melewati mereka. Ketika ia sudah berada di dalam, pintu itu menutup di belakangnya dengan bunyi pelan namun rasanya seperti benar-benar memisahkannya dari dunia di luar sana.
Di dalam, pencahayaan kamar lebih hangat, namun suasananya tetap terasa dingin. Ruangan itu luas, tertata rapi, dan terlalu sempurna seperti sebelumnya. Rachel baru melangkah dua langkah ketika ia melihat sosok Liam berdiri membelakangi pintu, hanya mengenakan celana piyama panjang berwarna coklat gelap. Punggungnya tegap dan bahunya lebar, namun perhatian Rachel tidak tertuju pada tubuh itu.
Tatapannya refleks berhenti pada sesuatu, yaitu lengan kanan atas Liam. Disana terlihat sebuah luka gores yang cukup panjang. Kulitnya terbuka, merah, dengan darah segar yang belum sepenuhnya mengering. Luka itu tampak kasar, seperti bekas benda tajam yang melukai tanpa ragu.
Napas Rachel pun tertahan saat melihatnya. Ada dorongan spontan untuk mendekat, tapi kakinya justru terasa berat. Bukan karena ia melihat Liam bertelanjang dada, melainkan karena luka itu tampak nyata, berbahaya, dan terlalu manusiawi. Baru kali ini ia melihat Liam tampak rapuh.
Seolah merasakan kehadirannya, Liam menoleh sedikit. Wajahnya tenang dan hampir acuh, seakan luka di lengannya hanyalah detail kecil yang tidak layak mendapat perhatian. “Ambil kotak P3K,” katanya datar. “Di ujung ruangan.”
Itu bukan sebuah permintaan. Bahkan tidak ada nada bertanya di sana, melainkan hanya instruksi singkat yang diucapkan dengan keyakinan penuh bahwa instruksi itu akan dijalankan.
Rachel ragu sepersekian detik. Ada bagian dalam dirinya yang ingin bertanya, ingin menolak, dan ingin memastikan apakah ia memang harus melakukan ini. Namun keraguan itu menguap sebelum sempat menjadi suara. Ia mengangguk kecil, lalu berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengambil kotak P3K dan membawanya kembali.
Liam sudah duduk di tepi ranjang besar saat Rachel kembali. Ia memberi isyarat singkat agar Rachel duduk di sampingnya. Kini jarak di antara mereka terlalu dekat untuk dua orang yang baru saling mengenal dalam situasi seperti ini. Kasur empuk itu menekan sedikit di bawah berat tubuh mereka berdua.
"Bantu aku mengobati luka ini," kata Liam, datar.
Rachel mengangguk, lalu membuka kotak P3K dengan hati-hati. Bau antiseptik langsung tercium tajam. Ia berusaha memusatkan perhatian pada apa yang harus ia lakukan, yaitu membersihkan luka, menghentikan darah, dan membalutnya dengan benar. Tangannya bergerak pelan, nyaris terlalu pelan saat kapas menyentuh kulit Liam. Ia fokus pada darah yang menempel, pada warna merah yang kontras dengan kulitnya, juga pada perban yang akan menutup luka itu. Apa pun, asal bukan pada jarak mereka yang begitu dekat.
Saat ia membalut luka, tanpa sengaja Rachel mengangkat wajahnya. Hingga tatapannya bertemu dengan mata Liam yang berwarna amber.
Lalu, suasana pun berubah hening. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang terasa berat, seolah ruangan itu menahan napas mereka berdua. Rachel merasakan sesuatu bergetar di dadanya—perasaan aneh yang tidak ia pahami. Ada sensasi samar, seperti gema dari ingatan yang seharusnya ada, namun tak pernah benar-benar muncul. Seakan ia pernah berada sedekat ini dengan Liam sebelumnya. Seakan ia pernah menatap mata itu, dalam jarak yang sama, dalam situasi yang entah kapan tidak ia ingat.
Namun pikirannya kosong. Tidak ada ingatan yang jelas dan juga tidak ada penjelasan itu perasaan yang terasa familiar itu. Disana hanya ada perasaan ganjil yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Liam tidak berkata apa-apa. Wajahnya tetap tenang, tapi ada perubahan halus di sorot matanya. Keduanya sama-sama menyadari jarak itu, kedekatan yang tak direncanakan, dan sama-sama memilih untuk tidak menyebutkannya. Rachel menunduk lagi, menyelesaikan balutan dengan gerakan cepat, dan mencoba mengabaikan sensasi yang tertinggal.
Ketika ia mengikat perban, tangannya berhenti gemetar. Tapi perasaan itu—perasaan bahwa ada sesuatu yang hilang dari ingatannya tetap tinggal, menunggu untuk dipahami di lain waktu.
Keheningan yang tertinggal setelah balutan terakhir terpasang terasa tebal. Rachel menutup kotak P3K perlahan, jari-jarinya masih hangat oleh sentuhan yang terlalu dekat untuk dianggap sepele. Ia menghela napas kecil, seolah baru menyadari bahwa ia menahan napas sejak tadi. Kata-kata yang ia simpan sejak masuk ke kamar itu akhirnya mencari jalan keluar.
“Terima kasih…” suaranya pelan, hampir ragu untuk terdengar. Ia menoleh sedikit, tidak sepenuhnya berani menatap Liam. “Karena sudah menyelamatkan adikku. Dan Mrs. Portman.”
Liam tidak langsung menjawab. Ada jeda yang terasa disengaja. Wajahnya mengeras sedikit. Seolah dua nama itu membuka pintu yang tidak ingin ia jamah terlalu lama. Tatapannya beralih ke perban di lengannya, lalu kembali ke dinding untuk menghindari Rachel.
“Sudah kukatakan. Aku tidak melakukannya dengan cuma-cuma,” katanya akhirnya. Nada suaranya dingin dan jelas. “Apa pun dariku… selalu tentang transaksi.”
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti garis batas yang terasa tegas. Rachel merasakan dadanya tiba-tiba mengencang. Ia tahu, tentu saja. Ia sudah tahu sejak awal tentang hal itu. Namun mendengarnya diucapkan sejelas itu membuat posisinya kembali nyata, bahwa ia berada di wilayah kekuasaan Liam, dan tidak ada ruang bagi kebaikan tanpa harga.
Rachel menelan ludah. Tangannya menggenggam kotak P3K yang kini tertutup, seolah itu satu-satunya benda yang bisa ia pegang agar tetap berdiri. “Jadi…” suaranya bergetar tipis meski ia berusaha menahannya. “Apa yang Anda butuhkan?”
Liam menoleh. Kali ini ia mendekat, satu langkah, lalu setengah langkah lagi. Jarak di antara mereka pun runtuh dengan cepat, bahkan terlalu cepat. Rachel bisa mencium aroma wangi dari tubuhnya, juga bisa merasakan panas tubuhnya yang kontras dengan udara di dalam kamar itu. Liam mencondongkan tubuh, lalu suaranya turun menjadi bisikan yang nyaris menyentuh telinga Rachel.
“Kau.”
Kata itu singkat, tanpa basa-basi, dan tanpa penjelasan, hingga membuat Rachel membeku. Tubuhnya bereaksi lebih dulu daripada pikirannya—bahunya menegang dan napasnya tertahan. Saat tangan Liam menyentuh lehernya lembut dan cukup untuk membuatnya bergidik, perasaan asing pun menyapu dirinya—takut, bingung, dan sesuatu yang belum ia ketahui bentuknya.
Liam mendekat lagi. Dan saat wajahnya semakin dekat, Rachel merasakan tekanan yang tak terlihat. Ketika ia hendak menyentuh bibir Rachel, Rachel sontak memalingkan wajah. Matanya terpejam rapat dan gerakannya lembut namun jelas.
Itu adalah sebuah penolakan. Tidak ada teriakan dan tidak ada dorongan. Hanya satu gerakan kecil yang jelas berkata tidak.
Liam berhenti, dan sentuhan itu terputus. Ada detik hening yang panjang, lalu ia mundur selangkah. Sementara itu, Rachel masih memejamkan mata, menunggu sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa. Namun yang datang justru keheningan yang lebih lapang.
“Kau belum siap,” kata Liam tenang.
Rachel membuka mata. Dan Liam sudah menjauh, hingga jarak di antara mereka kembali terbentuk. Wajahnya serius, namun tidak mengeras. Tidak ada kemarahan di sana, juga tidak ada sebuah paksaan. Ia berbalik, mengambil piyama dari kursi, lalu mengenakannya dengan gerakan terkendali, seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah interupsi kecil.
“Aku tidak akan memaksa,” lanjutnya, nadanya kembali netral dan profesional. “Yang penting, sekarang kau tahu apa yang kuinginkan.”
Kalimat itu membuat Rachel terdiam. Ia memahami maknanya dengan jelas, dan justru itu yang membuat dadanya terasa berat. Ia berdiri, meraih keberanian yang tersisa, dan melangkah menjauh dari ranjang.
“Kau bisa kembali ke kamarmu,” kata Liam tanpa menoleh. “Istirahatlah.”
Rachel mengangguk kecil. Tangannya meraih gagang pintu, namun pikirannya masih berisik oleh apa yang baru saja terjadi. Saat pintu hampir terbuka, suara Liam pun menghentikannya.
“Besok pagi bersiaplah,” katanya. “Orang-orangku akan membawamu menemui adikmu.”
Rachel menoleh cepat, dengan refleks terkejut. Jantungnya berdegup lebih kencang—kali ini bukan karena takut, melainkan tidak menyangka akan apa yang baru saja ia dengar.
“Aku—” kata-katanya terhenti, tenggorokannya terasa sempit. Ia hanya bisa mengangguk, tak mampu menyembunyikan rasa lega yang menyusup. "Terima kasih "
Liam tidak menambahkan balasan apa pun setelah itu. Ia membiarkan kalimat itu berakhir begitu saja, seperti janji yang tidak perlu ditegaskan.
Lalu, Rachel keluar dari kamar Liam dengan langkah yang lebih ringan dari pada saat ia masuk. Di koridor, para penjaga dan pelayan kembali ke posisi semula, seolah waktu tidak pernah bergerak. Namun bagi Rachel, segalanya telah berubah.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Liam bukan semata sebagai ancaman. Ada kendali diri di sana dan ada batas yang ia hormati—sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Tom. Dan kesadaran itu membawa kehangatan yang mengkhawatirkan.
Liam tidak seperti Tom. Dan justru itulah yang membuatnya mungkin jauh lebih berbahaya.