Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Liga terkekeh remeh. "Kamu nggak usah khawatir wahai Tuan putriku yang cantik. Aku yakin banget. Sahabatku, Mafia, dia pasti akan datang menyelamatkanku."
Wanita itu menyeringai sinis. "Sudah lima belas menit berlalu kamu aku culik, nyatanya sahabat yang kamu banggakan itu nggak langsung datang kesini juga. Aku jadi mikir. Kemungkinan besar sahabatmu itu tidak peduli sama kamu. Kupikir kamu itu tidak sepenting itu baginya. Hahahaaa.."
Tawa Vair menggema memenuhi ruangan, lalu tangannya menghempas rahang tegas Liga. Membuat wajah Liga terlempar kesamping, dan Hal itu membuat Liga tersulut amarah.
"Aku sengaja tidak melawanmu karena aku menghormatimu sebagai seorang wanita. Wanita yang cantik menurutku. Tetapi, setelah melihat tawamu yang seperti setan itu. Aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran. Bahkan sebentar lagi aku yakin. Mafia pasti akan datang menyelamatkanku dan kamu akan mati ditangan Mafia!"
Dan yah. Tawa Vair seketika lenyap setelah mendengar perkataan Liga barusan. Bukan dia takut. Tapi malah semakin menatap Liga yang baginya sangat tidak berguna.
"Oh ya?" ejeknya. "Mari kita buktikan."
*
Ditempat lain, dua anak buah yang diperintahkan untuk mendeteksi jejak si penculik Liga tersenyum puas ketika menemukan titik terang dimana kemungkinan sosok sahabat Tuannya itu ditahan.
"Haru, lihat ini,"
"Ada apa? Kamu nemu sesuatu, Sim?"
"Lihat! Jika diperhatikan dengan baik, ini adalah jejak sepatu yang menurutku tidak asing." Kasim menunjukan jejak sepatu yang dia temukan ditanah pada Haru.
Haru memperhatikan jejak sepatu itu, lambat laun dia juga merasa tidak asing dengan jejak sepatu itu. Seperti pernah melihatnya tetapi dimana? Dan milik siapa?
"Kamu kenal sama jejak sepatu itu Haru?" tanya Kasim setelah keduanya lama terdiam karena pikirannya masing masing.
"Aku merasa nggak asing sih. Cuma ya nggak tahu itu jejak punya siapa,"
"Ah! Kita nggak perlu pusing mikir itu jejak siapa. Yang terpenting kita berdua sudah nemu satu petunjuk. Ya sudah, kamu tunggu disini dulu, aku mau panggil Tuan Mafia," ujar Kasim yang langsung diangguki oleh Haru.
Kasim berjalan cepat menuju ruang berlatih Mafia yang ada disudut rumah. Begitu sampai disana Kasim tidak sabaran untuk masuk kedalam dan memberitahu akan satu penemuannya sampai dia lupa akan aturan yang ada.
"Tuan!"
"Tuan Mafia!"
"Tuan!"
"Aku sudah nemu satu petunjuk!"
Kasim berteriak heboh sampai membuat Mafia yang sedang fokus berlatih pedang terlonjak kaget. Untung saja Mafia tidak reflek melempar pedang kearah Kasim dan memenggal kepalanya saat itu juga.
"Hei, Kasim! Dimana aturan yang selama ini aku buat hah?!" Mafia menatap Kasim tajam, wajahnya benar benar menunjukan rasa kesal, membuat Kasim segera menuduk dan menyesali perbuatannya. Dalam hati, Kasim sudah komat kamit supaya tuan Mafia tidak membunuhnya, mengingat Tuan Mafia terkenal sangat kejam.
"A-anu Tu-tuan. Maaf saya lancang karena sudah melupakan aturan yang selama ini sudah dibuat. Sikap saya yang tadi itu karena saya reflek akibat saya sudah menemukan satu petunjuk atas penculikan Tuan Liga. Sekali lagi saya mohon ampun Tuan,"
Kasim menunduk lebih dalam. Harapannya begitu besar supaya tuannya tidak melakukan sesuatu yang aneh padanya.
Mafia mendengus sebal. "Tunjukan!"
Mafia tidak mau ada basa basi lagi karena dia merasa sudah cukup menunggu hasil kinerja anak buahnya. Dan jujur saja Mafia juga merasa begitu khawatir pada Liga. Takut jika terjadi sesuatu pada sahabatnya itu. Walaupun Liga bo.d0h tapi tetap saja Liga adalah sahabat baiknya sejak kecil. Mafia sungguh tak tenang membiarkan sahabatnya sendirian diluar sana.
"Mari ikut saya Tuan," Kasim segera memimpin jalan setelah mendapat anggukan dari Mafia. Dan Mafia, dia membawa pedang yang biasa dia gunakan untuk memenggal kepala musuh sambil mengikuti Kasim.
"Ini Tuan," Kasim menunjukan jejak sepatu yang tadi dia temukan dan Haru juga masih ada disana.
Mafia menatap seksama jejak itu seolah sedang mengamati dengan detail. Mafia berlutut demi menatap lebih dekat lagi. Kedua matanya membola ketika nama satu orang tetiba terlintas dipikirannya.
Mafia kembali berdiri dengan tegap. Tanpa sepatah kata dia pergi meninggalkan Haru dan Kasim. Membuat Haru dan Kasim terheran-heran.
"Haruskah kita ikuti Tuan Mafia, Kasim?" seru Haru.
Kasim mengangguk. "Tapi kita harus bersembunyi dan jangan sampai ketahuan tuan Mafia jika kita mengikutinya."
"Lho? Kenapa?"
Whusss...
Tanpa sepatah kata Kasim pergi meninggalkan Haru yang masih kebingungan. Tanpa menunggu lama lagi Haru pun mengikuti Kasim yang sudah seenaknya meninggalkannya tanpa menjawab pertanyaannya. Kurang ajar sekali!
*
Mafia sudah ada didepan gedung yang terlihat tidak terawat bahkan tempat ini kelihatan untuk menaruh barang tidak terpakai. Gudang gelap dan berdebu.
Mafia terdiam, kedua sorot matanya menelisik sekitar penjuru gudang. Telinganya dia gunakan untuk mendengar langkah siapa saja termasuk langkah semut sekalipun dapat Mafia dengar. Hingga Mafia berusaha untuk mendengar suara yang ada didalam gudang gelap dan kotor didepannya.
"Mana? Mana sahabatmu itu hah?! Sudah tiga puluh menit kamu aku culik. Sahabat yang kamu banggakan itu nggak datang juga. Hahahaaa... Jadi, kuharap kamu sadar bahwa kamu nggak seberharga itu untuk Tuanmu Mafia. Hahahaaa..."
Genggaman tangan Mafia pada pedang yang dia bawa mengencang setelah mendengar suara wanita yang ada didalam gudang ini. Dia merasa sangat mengenal suara itu dan jika tebakannya benar, Mafia tidak segan segan membuatnya menderita karena telah berani menculik sahabat sekaligus anak buahnya.
Cranggg
Cranggg
Brakkk
Brrrug
Pintu gudang terbelah menjadi empat bagian dan potongan pintu itu berjatuhan kelantai setelah Mafia menebasnya dengan pedang. Suara berisik itu mengundang atensi Liga dan Vair yang ada didalam.
Mafia tersenyum miring begitu melihat wajah terkejut wanita yang sejak tadi terlintas dipikirannya, ternyata tebakannya benar. Vair lah yang menculik Liga. Sedangkan Vair dia merasa menang karena telah berhasil membuat Mafia masuk kedalam perangkapnya.
"Mafia!"
"Tolong aku!"
"Wanita ini sudah berani menghukumku. Bahkan wanita ini menghinaku!" Liga merasa begitu bahagia karena Mafia sudah datang setelah tadi sempat membenarkan ucapan Vair yang mengatakan dirinya tidak berharga untuk Mafia. Dan Liga menggunakan kesempatan ini untuk mengadukannya pada Mafia supaya wanita itu di penggal habis kepalanya olehnya.
Mafia mendengus mendengar teriakan Liga. Jika saja Liga bukan sahabatnya sudah pasti Mafia tidak mau bersusah payah datang ketempat kumuh ini.
Vair bertepuk tangan tiga kali. "Wah wah waaahhh... Sungguh persahabatan yang romantis. Hahahaaa..."
"Diam kamu!" bentak Mafia dan Liga bersamaan membuat Vair menghentikan tawanya dan berubah menjadi tatapan membunuh pada Mafia.
"Kembalikan Adikku atau sahabat nggak berguna mu ini ma-ti!"
Deg
"A-adik?"