NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pecahan Jalur Air

Tiga hari kemudian, daftar fragmented water-route scraps benar-benar dibuka di paviliun timur.

Shou Wei datang lebih awal dari biasanya.

Langit di atas Lanhe City masih pucat, dan lorong samping rumah lelang belum terlalu ramai. Namun di dalam paviliun timur, udara sudah terasa berbeda. Tidak ramai seperti aula utama saat lelang besar, tapi ada ketegangan halus yang biasanya hanya muncul ketika barang-barang kecil tiba-tiba punya nilai yang tidak semua orang pahami.

Di meja depan, pelayan berjubah biru tua mencatat nama para pengakses daftar. Sebagian adalah penilai biasa. Sebagian pembeli kecil. Sebagian lain jelas orang jalur formasi, dilihat dari jari, mata, dan cara mereka memegang benda-benda rapuh.

Shou Wei menunjukkan izin masuk terbatas dari Lan Xue.

Pelayan itu memeriksa cepat, lalu mengangguk. “Daftar scraps dibuka di ruang samping kedua. Tidak ada rebutan tangan. Tidak ada suara tinggi. Jika kau tidak punya niat beli, jangan pura-pura memeriksa terlalu lama.”

Shou Wei masuk.

Ruang samping kedua lebih kecil dari ruangan kerja biasa, tapi diterangi lebih terang. Di tengah ruangan ada tiga meja batu rendah. Di atas masing-masing meja terletak nampan-nampan panjang berisi:

potongan array plateserpih segel pintupelat utilitas patahsisa cincin penguncidan beberapa fragmen kayu atau logam yang tampak hampir tak berhargaDi dinding sebelah kiri tertempel daftar singkat dengan kode dan harga awal.

Shou Wei tidak langsung mendekat ke meja.

Ia melihat dulu siapa yang sudah datang.

Ada pria tua berjari gemetar yang jelas hanya pembeli rongsok untuk dijual lagi. Ada seorang wanita berkerudung kuning yang tampak seperti juru tulis formasi tingkat rendah. Ada dua pemuda sekte yang mungkin hanya datang karena tugas. Dan di meja paling kanan, berdiri sosok yang sudah ia duga akan muncul.

Wei Kuan.

Pria itu mengenakan jubah gelap yang lebih rapi dari biasa. Rambutnya diikat lebih tinggi, dan di tangan kirinya ada sarung tipis dari kulit hitam untuk memegang fragmen tanpa merusaknya. Ia sedang menunduk menatap satu nampan logam hitam dengan wajah setenang orang yang kebetulan lewat.

Namun saat Shou Wei masuk, kepala pria itu terangkat sedikit.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada senyum.

Tidak ada sapaan.

Tapi ruangan itu langsung terasa lebih sempit.

Wei Kuan lebih dulu memecah diam. “Paviliun timur mulai suka anak-anak rupanya.”

Shou Wei berjalan ke meja tengah. “Dan kota besar tetap suka orang yang mengira semua tempat sudah miliknya.”

Sudut bibir Wei Kuan bergerak tipis. “Bagus. Lidahmu masih hidup.”

Mereka tak bicara lagi setelah itu.

Itu lebih baik.

Di tempat seperti ini, terlalu banyak kata hanya membuat orang lain cepat mencium garis pertempuran.

Shou Wei mulai memeriksa nampan pertama.

Sebagian besar memang sampah:

pelat utility retak yang tak layak diperbaiki,

segel pintu yang simpul intinya sudah mati,

dan potongan logam yang hanya terlihat seperti bagian dari array lama tanpa konteks.

Namun pada nampan kedua, jantungnya berdetak sedikit lebih berat.

Di antara serpihan pelat abu-abu dan fragmen kayu terbakar, ada tiga benda yang tidak cocok dengan lainnya:

satu pecahan logam hitam tipis dengan pola melingkar setengah hilang,satu serpih kayu tua dengan lubang kecil di tengah,dan satu cincin pengait berwarna biru kusam yang permukaannya seolah pernah terendam air sangat lamaBukan marker utuh.

Tapi keluarga yang sama.

Water-route fragments.

Shou Wei tidak membiarkan matanya berhenti terlalu lama pada tiga benda itu. Ia justru memeriksa benda lain dulu, menyentuh satu pelat, memiringkan satu segel, lalu baru kembali ke nampan kedua seperti orang yang hanya kebetulan tertarik.

Di sisi ruangan, Qin Mo sedang berdiri dengan tangan di belakang punggung, mengamati semua orang tanpa banyak gerak. Tatapannya hanya sekilas menyapu Shou Wei, lalu berpindah. Itu berarti satu hal: bekerja seperti biasa. Jangan tampil seperti pencuri yang baru mencium harta.

Shou Wei mengambil pecahan logam hitam dulu.

Begitu ujung jarinya menyentuh pola setengah hilang itu, darah naga di dalam dadanya bergerak sangat halus. Tidak sejelas saat menyentuh marker penuh, tapi cukup untuk mengonfirmasi. Fragmen ini memang satu jalur.

Ia menurunkannya kembali dengan hati-hati.

Lalu ia melihat daftar harga samping meja.

Untuk lot terbuka seperti ini, pembeli bisa mengajukan pembelian langsung jika tak ada pesaing dalam sesi pemeriksaan pertama. Kalau ada dua atau lebih yang mengajukan barang sama, maka harga naik terbatas saat itu juga.

Jadi kecepatannya penting.

Tapi terlalu cepat juga sama dengan mengangkat bendera.

Shou Wei berpikir.

Tepat saat itu, dari meja kanan, suara Wei Kuan terdengar santai.

“Lot nomor sebelas. Aku ambil.”

Pelayan pencatat segera bergerak ke arahnya.

Shou Wei tidak menoleh, tapi ia melihat dari sudut mata bahwa lot sebelas adalah nampan kecil berisi tiga serpihan logam abu-abu dan satu bagian cincin pengunci. Bukan yang ia incar. Bagus. Wei Kuan juga sedang menyamarkan fokus.

Kalau begitu permainan mereka sama.

Tiga napas kemudian, Shou Wei menunjuk nampan lain yang juga bukan target utamanya. “Lot tujuh.”

Pelayan mencatat.

Kini keduanya sama-sama sudah mengambil barang umpan.

Barulah masalah dimulai.

Saat tangan Shou Wei bergerak ke pecahan logam hitam di nampan kedua, tangan lain dari sisi seberang menyentuh serpih kayu tua di nampan yang sama.

Mereka berhenti hampir bersamaan.

Wei Kuan menatap benda yang disentuhnya.

Shou Wei menatap pecahan di tangannya.

Tapi keduanya tahu.

Mereka sedang berdiri di depan jalur yang sama.

Pelayan pencatat memandang dari satu ke yang lain. “Lot empat belas. Ada dua pihak?”

Wei Kuan tersenyum tipis tanpa menoleh penuh. “Tergantung apakah bocah ini tahu apa yang ia pegang.”

Shou Wei membalas datar, “Tergantung apakah orang yang lebih tua tahu kapan harus tidak berpura-pura.”

Pelayan itu tak peduli. “Kalau dua pihak, harga bergerak di tempat.”

Qin Mo dari sisi ruangan berkata tenang, “Prosedur biasa.”

Beberapa orang lain mulai memperhatikan, meski tidak terlalu terang-terangan. Ini bukan duel. Tapi bentrokan kecil di meja scraps tetap cukup menarik bagi mata yang bosan.

Wei Kuan akhirnya mengangkat serpih kayu tua itu sedikit. “Aku ajukan untuk lot empat belas.”

Shou Wei berkata, “Aku juga.”

Pelayan mencatat dua nama.

“Harga awal dua perak.”

Tidak murah untuk scraps.

Tapi bukan tidak masuk akal.

Wei Kuan langsung, “Dua perak lima puluh.”

Shou Wei menatap pecahan logam hitam di tangannya, lalu ke serpih kayu di tangan Wei Kuan.

Lot yang sama.

Berarti rumah lelang mengelompokkan semua fragmen ini sebagai satu keluarga, satu paket nilai. Kalau ia mundur, semuanya jatuh ke Wei Kuan. Kalau ia maju terlalu jauh, ia justru memperjelas bahwa barang ini sangat penting.

“Dua perak delapan puluh,” katanya.

Wei Kuan menoleh setengah. “Kau mulai mahal untuk bocah yang baru belajar pasar besar.”

“Tergantung barangnya.”

“Tentu.”

Wei Kuan mengangkat sedikit dagunya. “Tiga perak lima puluh.”

Beberapa orang di ruangan mulai benar-benar melihat sekarang.

Harga itu sudah bukan harga receh.

Shou Wei berhitung cepat.

Ia bisa membayar.

Tapi akan menguras cukup banyak dari uang siap geraknya.

Namun masalah yang lebih besar bukan uang.

Melainkan arti dari kenaikan itu.

Kalau ia terus menawar keras, Lan Xue, Qin Mo, dan siapa pun yang paham akan mengerti bahwa lot empat belas menyimpan sesuatu di luar tampak luarnya. Itu memperbesar nilai, tapi juga memperbesar bahaya.

Maka ia memilih cara lain.

Alih-alih menaikkan cepat, ia justru bertanya pada pelayan, “Lot ini tidak bisa dipisah?”

Pelayan itu menggeleng. “Satu paket.”

Wei Kuan terkekeh pelan. “Sayang sekali.”

Shou Wei berpura-pura berpikir lebih lama, lalu berkata, “Tiga perak enam puluh.”

Kenaikan kecil.

Bukan reaksi panik.

Bukan reaksi orang serakah.

Wei Kuan menatapnya lebih lama kali ini.

Mungkin ia juga memikirkan hal yang sama:

kalau ia terus menaikkan, terlalu banyak mata akan hidup.

“Tiga perak delapan puluh,” katanya akhirnya.

Shou Wei diam.

Ruangan menunggu.

Pelayan menoleh padanya. “Wei Shou?”

Ia mengembuskan napas pelan dan menurunkan tangannya. “Aku lepas.”

Wei Kuan menang.

Lot empat belas jatuh ke tangannya.

Tapi saat serpih kayu dan paketnya diserahkan kepada pria itu, Shou Wei melihat sesuatu yang penting.

Wei Kuan memang menang lot.

Namun fokus utamanya sejak awal jelas ada pada serpih kayu, bukan pecahan logam hitam.

Artinya:

Wei Kuan kemungkinan sudah punya satu marker kayu dan tahu nilai bentuk kayu lebih tinggi daripada logam.

Sementara pecahan logam hitam, yang baru saja lolos dari tangannya, mungkin dianggap pendukung sekunder.

Bagus.

Sangat bagus.

Karena saat pelayan mengembalikan pecahan logam hitam kecil ke nampan sisa yang tidak masuk paket utama, Shou Wei langsung berkata tenang, “Kalau fragmen sisa itu tidak masuk lot, aku ajukan sebagai scrap tunggal.”

Pelayan berkedip. Qin Mo mengangkat alis sangat tipis.

Wei Kuan baru menyadari satu napas terlambat.

“Yang itu?” tanya pelayan.

“Ya.”

Qin Mo berkata dari sisi ruangan, “Boleh. Itu memang tidak terdaftar inti. Harga tunggal lima puluh tembaga.”

Shou Wei langsung mengeluarkan tembaga dan membelinya.

Tidak mahal.

Tidak mencolok.

Dan tidak cukup penting bagi orang lain untuk ikut mempermasalahkan.

Namun tatapan Wei Kuan kini berubah nyata.

Bukan marah terang-terangan.

Lebih seperti orang yang menyadari lawannya baru saja memotong satu jalur samping dari peta yang sama.

“Clever,” katanya pelan.

Shou Wei membungkus pecahan logam hitam itu dengan kain sederhana. “Tidak. Hanya murah.”

Wei Kuan tidak membalas.

Ia justru menyimpan lot empat belasnya dan berbalik pergi dari meja tanpa melihat barang lain lagi. Itu saja sudah cukup menunjukkan:

ia datang ke sini untuk hal tertentu,

dan ia tidak suka hasil akhirnya sepenuhnya.

Begitu pria itu keluar dari ruangan, Qin Mo berjalan mendekat ke meja scraps.

Ia mengambil daftar, melihat lot tujuh, lot sebelas, lalu pembayaran tunggal atas pecahan logam hitam.

“Orang luar akan mengira kalian berdua berebut sampah,” katanya.

Shou Wei tidak menjawab.

Qin Mo menatap bungkusan kecil di tangannya, lalu berkata datar, “Kalau kau membeli ini karena nilainya benar, bagus. Kalau hanya karena tidak ingin lawanmu punya semuanya, itu juga masih lumayan. Tapi jangan jadikan kebiasaan.”

“Aku paham.”

Qin Mo mengangguk sekali lalu pergi.

Namun sesaat sebelum ia kembali ke posisinya, suara lain terdengar dari belakang.

“Tidak buruk.”

Shou Wei menoleh.

Lan Xue berdiri di pintu samping ruangan.

Hari ini ia tidak masuk jauh. Hanya cukup untuk melihat. Dari mana posisinya tadi, entah. Tapi jelas ia sudah memperhatikan sebagian besar bentrokan dingin itu.

Ia melangkah mendekat perlahan. Orang-orang lain di ruangan langsung sedikit lebih tegak, tapi Lan Xue mengabaikan semuanya dan berhenti di depan meja yang tadi mereka pakai.

“Aku tak suka orangku boros hanya karena emosi,” katanya sambil melirik arah keluarnya Wei Kuan. “Tapi aku juga tak suka mereka terlalu mudah dipaksa mundur.” Matanya pindah ke bungkusan kecil di tangan Shou Wei. “Yang kaubeli itu memang yang kauinginkan?”

Shou Wei menjawab jujur, “Sebagian.”

Lan Xue mengangguk tipis. “Bagus.”

Itu berarti ia paham bahwa tadi bukan soal menang-kalah sederhana. Ada lapisan lain yang sedang dimainkan.

Lan Xue lalu memberi isyarat kecil pada Qin Mo. Lelaki itu segera mendekat.

“Catat nama Wei Kuan,” katanya. “Kalau dia masuk lagi ke daftar scraps jalur air atau broken route arrays, aku ingin tahu.”

Qin Mo membungkuk tipis. “Ya, Young Miss.”

Jadi sekarang bukan hanya Shou Wei dan Wei Kuan yang saling mengamati.

Lan Xue juga sudah mulai menaruh mata pada jalur sungai tua ini.

Ia menoleh kembali pada Shou Wei. “Ikut aku.”

Bukan permintaan.

Mereka keluar dari ruang scraps menuju lorong samping yang lebih sepi. Lan Xue berjalan tanpa suara, tangannya terlipat di lengan jubah. Setelah beberapa langkah, ia berkata, “Pria tadi. Kalian sudah saling kenal dari sebelum Lanhe City.”

“Ya.”

“Dan jalurnya sama.”

“Ya.”

Lan Xue berhenti dekat jendela sempit yang menghadap halaman dalam. Cahaya siang memotong wajahnya setengah, membuat matanya tampak lebih dingin.

“Kalau ini hanya persaingan utility business kecil, aku tidak peduli,” katanya. “Tapi kalian berdua tadi bereaksi terlalu tepat pada lot yang terlalu khusus. Itu berarti ada sesuatu yang lebih besar.”

Shou Wei diam.

Lan Xue menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas kecil—bukan kesal, lebih seperti menerima bahwa bocah ini tidak akan membuka semuanya hanya dengan ditanya sekali.

“Baik,” katanya. “Aku tidak akan memaksamu sekarang. Tapi dengar baik-baik. Kalau rahasia sungai tua ini benar-benar punya nilai lebih dari scraps, maka cepat atau lambat ia akan menarik:

penawar besar,

orang formasi,

orang sungai,

dan orang yang tidak peduli siapa yang harus hilang.”

Ia melangkah sedikit lebih dekat. “Kalau kau berada di tengahnya, kau lapor padaku lebih dulu. Bukan karena aku ingin mengendalikanmu sepenuhnya. Tapi karena kalau rumah lelangku masuk lebih awal, maka yang datang belakangan harus berpikir dua kali.”

Itu perlindungan.

Sekaligus penguasaan.

Shou Wei mengangguk. “Aku mengerti.”

Lan Xue menatapnya sekali lagi, lalu matanya turun ke bungkusan kecil di tangannya.

“Benda itu,” katanya, “bawa ke ruang kerjamu. Jangan buka di tempat terbuka. Dan malam ini, setelah kau lihat, tulis tiga hal di kepalamu: bentuk, arah, dan fungsi yang kau duga. Besok aku ingin dengar tebakannya.”

“Baik.”

Lan Xue hendak pergi, lalu berhenti sepersekian detik. “Dan Wei Shou...”

Shou Wei mengangkat kepala.

“Kalau suatu hari kau memang berasal dari keluarga Shou, maka jangan biarkan nama besar masa lalu membuatmu berpikir kau aman.” Suaranya tetap rata, tapi lebih tajam dari biasanya. “Di kota ini, orang hanya aman kalau mereka punya nilai sekarang.”

Setelah berkata begitu, ia pergi.

Shou Wei berdiri diam di lorong cukup lama.

Kata-katanya dingin.

Tapi tepat.

Masa lalu, nama, clan, semuanya tidak ada gunanya kalau orang tak mampu bertahan pada hari ini.

Malam itu, di ruang kerja kecil Courtyard Seven, Shou Wei membuka bungkusan kainnya.

Pecahan logam hitam itu tampak sederhana di bawah lampu batu. Hanya fragmen tipis dengan pola melingkar setengah hilang dan satu lubang kecil di ujung. Namun begitu diletakkan di dekat marker kayu yang ia sembunyikan selama ini, sesuatu yang nyaris tak terlihat terjadi.

Bukan cahaya.

Bukan suara.

Tapi udara di atas keduanya menjadi sedikit lebih berat.

Seolah dua aliran yang lama terpisah baru saja menyadari keberadaan satu sama lain.

Darah naga di dada Shou Wei bergerak halus.

Ia menenangkan napas.

Membiarkan qi tipis mengalir.

Lalu menaruh setetes air di antara marker kayu dan pecahan logam itu.

Air tersebut membentuk lengkung kecil,

lalu condong ke arah yang sama seperti saat marker kayu diaktifkan sendirian.

Namun kali ini lengkung itu lebih panjang.

Lebih jelas.

Barat laut.

Lalu sedikit menurun.

Matanya menyipit.

“Bukan cuma jalur,” gumamnya. “Tapi mungkin tingkat.”

Marker kayu memberi arah umum.

Fragmen logam memberi penyesuaian atau kedalaman.

Kalau begitu Wei Kuan dan dirinya sekarang benar-benar memegang potongan yang saling melengkapi.

Ini bukan lagi sekadar persaingan pasar kecil.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!