lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 16
Jek jongkok di atas aspal yang retak, jemarinya meraba alur kabel tembaga yang baru saja ia ambil. Meski memorinya bersih dari istilah teknis tingkat tinggi, tangannya bergerak dengan ketangkasan yang aneh—seolah otot-ototnya memiliki ingatan sendiri tentang bagaimana arus energi mengalir.
"Ares..." Jek mengeja nama itu dengan dahi berkerut. "Kenapa nama itu membuat perutku mual?"
"Karena mereka adalah hantu dari masa lalumu yang menolak untuk mati, Jek," sahut Maya sembari membantu mengumpulkan potongan kristal garam dari tasnya. "Mereka adalah orang-orang yang menganggap manusia hanya angka di atas kertas saham. Sekarang, tanpa Sistem yang menyeimbangkan mereka, mereka kembali ke insting dasar: menguasai sumber daya dengan kekerasan."
Pria pemimpin kelompok warga itu, yang memperkenalkan diri sebagai Bakri, mendekat dengan ragu. "Tuan, mereka punya kendaraan lapis baja yang tidak terinfeksi tumbuhan. Mereka menutup akses ke gudang pangan di pelabuhan. Kami kelaparan."
Jek berdiri, menatap ke arah pelabuhan utara di mana lampu-lampu sorot bertenaga generator bising membelah kegelapan malam. Kontras dengan kota yang kini sunyi dan organik, benteng Ares adalah luka besi yang mencolok.
"Kita tidak punya senjata api, dan kita tidak bisa meretas mereka lagi," Rara bergumam, menatap Jek dengan cemas. "Apa yang bisa kita lakukan dengan kabel dan garam, Jek?"
Jek memutar kabel tembaga itu di tangannya, matanya menatap akar-akar raksasa yang membatu di sekeliling mereka. "Akar-akar ini... mereka mati karena kehilangan sinyal, tapi mereka masih mengandung sisa-sisa serat optik organik, kan?"
Maya mengangguk cepat. "Ya, strukturnya masih utuh. Mereka seperti pipa kosong sekarang."
"Garam adalah konduktor jika dilarutkan," lanjut Jek, insting strateginya mulai mengambil alih meski tanpa data digital. "Jika kita mengisi akar-akar yang membatu ini dengan air asin dan menghubungkannya ke sumber listrik mereka... kita tidak meretas komputer mereka. Kita meretas fondasi tempat mereka berdiri."
Bakri ternganga. "Maksud Tuan... kita akan menjadikan seluruh kota ini sebagai kabel raksasa?"
"Bukan kabel," Jek mengoreksi dengan senyum tipis yang terasa akrab bagi Rara. "Kita akan menjadikannya jebakan. Mereka pikir mereka aman di dalam benteng besi, tapi mereka lupa bahwa besi mereka menyentuh tanah yang kini terhubung dengan akar-akar ini."
Malam itu, di bawah komando seorang pria yang bahkan tidak ingat nama belakangnya sendiri, warga mulai bergerak. Mereka bukan lagi sekumpulan pengungsi yang ketakutan. Mereka adalah teknisi gerilya. Dengan panduan Maya dan kepemimpinan Jek yang alami, mereka mulai menyuntikkan larutan garam ke dalam jaringan akar yang merambat hingga ke bawah tembok benteng Ares.
Rara memperhatikan Jek dari jauh. Pria itu tampak lebih hidup sekarang daripada saat ia memiliki segalanya. Tidak ada beban rahasia di pundaknya, hanya fokus murni untuk menolong sesama.
"Jek," panggil Rara saat pria itu beristirahat sejenak di dekat sebuah sumur tua.
Jek menoleh. "Ya?"
"Kamu benar-benar tidak ingat apa pun tentang J-Group? Tentang bagaimana kita dulu melarikan diri?"
Jek terdiam, menatap telapak tangannya yang kini kotor oleh tanah dan garam. "Tidak, Ra. Tapi setiap kali aku melihatmu, aku merasa seperti aku telah melakukan perjalanan ribuan kilometer hanya untuk sampai ke tempat ini. Itu sudah cukup bagiku."
Tiba-tiba, suara sirine meraung dari arah pelabuhan. Lampu sorot besar berputar liar, mengarah ke posisi mereka.
"Mereka menyadari ada kebocoran energi!" teriak Maya. "Jek, mereka mengirim unit patroli!"
Jek berdiri tegak, mengambil sebatang besi panjang yang ujungnya telah ia lilit dengan kabel tembaga. "Biarkan mereka datang. Saatnya menunjukkan pada mereka bahwa dunia ini sudah tidak lagi mengikuti aturan mereka."
Deru mesin diesel yang berat memecah kesunyian malam. Dua kendaraan taktis lapis baja milik Ares muncul dari balik reruntuhan gedung, lampu sorotnya yang menyilaukan menyapu barisan akar-akar cokelat yang kini basah oleh larutan garam.
"Target terdeteksi! Kelompok pemberontak di sektor tujuh!" suara dari pengeras suara kendaraan itu menggelegar, dingin dan mekanis.
Warga mulai panik, namun Jek mengangkat tangannya. "Jangan lari! Tetap di posisi belakang akar utama!"
Sebuah tembakan peringatan dilepaskan, menghancurkan sisa tembok di dekat Bakri. Debu membubung tinggi. Unit patroli Ares itu berhenti tepat di atas jalinan akar yang sudah disuntikkan air asin oleh warga. Mereka tidak menyadari bahwa di bawah roda baja mereka, sebuah sirkuit organik raksasa telah siap menunggu.
"Maya, sekarang!" teriak Jek.
Maya menghantamkan sebuah batang tembaga ke arah kabel transmisi liar yang mereka curi dari jalur daya cadangan benteng. Percikan api besar meloncat. Arus listrik mengalir, masuk ke dalam sistem akar yang jenuh dengan garam.
Seketika, tanah seolah meledak dengan percikan listrik berwarna biru keputihan. Kendaraan lapis baja Ares itu mendadak berhenti. Sistem kelistrikan mereka yang terhubung ke tanah melalui sasis besi langsung mengalami short-circuit masif. Asap putih mengepul dari mesin mereka, dan lampu-lampu sorot mereka pecah berkeping-keping.
"Berhasil!" Bakri bersorak, namun kegembiraan itu hanya bertahan sesaat.
Pintu belakang kendaraan itu terbuka secara manual. Pasukan dengan baju zirah lengkap keluar, mereka membawa senjata pelontar gas dan tongkat kejut listrik. Tanpa sistem elektronik kendaraan, mereka tetaplah tentara terlatih.
"Tangkap pemimpin mereka!" perintah komandan patroli.
Tiga prajurit menerjang ke arah Jek. Jek mengayunkan besi panjangnya, memangkas jarak dengan gerakan yang tidak masuk akal bagi seorang warga sipil biasa. Ia bergerak seperti bayangan, menghindar dengan presisi yang membuatnya tampak seolah-olah bisa memprediksi ke mana arah pukulan lawan sebelum dilayangkan.
Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Satu pukulan tongkat listrik mengenai bahu Jek.
"Jek!" Rara menjerit.
Sengatan itu seharusnya membuat Jek pingsan, tapi sesuatu yang aneh terjadi. Saat arus listrik masuk ke tubuh Jek, bukannya melumpuhkan sarafnya, listrik itu seolah terserap ke dalam luka bakar di telapak tangannya. Mata Jek mendadak membelalak, bukan karena sakit, tapi karena sebuah sensasi yang sangat akrab.
Dunia di sekitar Jek melambat. Suara teriakan warga, desisan gas air mata, dan deru angin—semuanya berubah menjadi aliran data mentah di kepalanya. Hard reset Maya memang menghapus memorinya, tapi ia tidak bisa menghapus struktur saraf Jek yang sudah bermutasi selama bertahun-tahun menjadi inang sistem.
"Kalkulasi lintasan..." gumam Jek tanpa sadar. Suaranya berubah menjadi rendah dan bergema.
Jek memegang kabel tembaga yang masih dialiri listrik di tanah. Tanpa rasa sakit, ia mengalirkan arus itu melalui tubuhnya sendiri dan mengarahkannya ke ujung besi panjangnya. Dengan satu hentakan ke aspal, gelombang kejut listrik statis meledak keluar, melemparkan ketiga prajurit itu hingga terpental beberapa meter.
Jek berdiri tegak di tengah kepulan asap. Tangannya bercahaya putih redup, sisa-sisa energi dari mercusuar yang ternyata masih mengendap di sumsum tulangnya.
"Mundur," ucap Jek kepada pasukan Ares. Matanya menatap mereka dengan otoritas yang tak terbantahkan, meski ia sendiri tampak bingung dengan apa yang baru saja ia lakukan. "Atau aku akan mengembalikan energi bumi ini langsung ke jantung kalian."
Pasukan Ares yang tersisa ragu-ragu. Mereka melihat kendaraan mereka yang mati total dan pemimpin mereka yang terkapar. Ketakutan yang murni muncul di wajah mereka—bukan takut pada senjata, tapi takut pada sesuatu yang mereka anggap sebagai "hantu" dari masa lalu.
"Dia... dia masih memilikinya," bisik salah satu prajurit sebelum mereka memutuskan untuk mundur membawa rekan mereka yang terluka.
Setelah mereka menghilang di kegelapan, Jek jatuh terduduk. Cahaya di tangannya padam. Ia menatap telapak tangannya dengan gemetar, lalu menoleh ke arah Maya yang menatapnya dengan wajah pucat.
"Maya... apa itu tadi?" tanya Jek. "Kenapa aku merasa... aku bisa melihat gerakan mereka sebelum mereka bergerak?"
Maya mendekat, suaranya sangat lirih sehingga hanya Jek yang bisa mendengar. "Sepertinya 'Hard Reset' itu tidak menghapus jiwamu, Jek. Itu hanya menghapus labelnya. Bakatmu untuk mengendalikan arus... itu sudah menjadi bagian dari DNA-mu sekarang."
Rara memeluk Jek dari belakang, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya yang masih bergetar. "Apa pun itu, kamu menyelamatkan kita semua lagi hari ini."
Jek menatap warga yang mulai mendekatinya dengan pandangan penuh kekaguman, seolah-olah ia adalah nabi baru di dunia yang hancur ini. Namun, jauh di lubuk hatinya, Jek merasakan sebuah ancaman baru. Ares tidak akan tinggal diam setelah kekalahan ini, dan kekuatan yang baru saja bangkit di dalam dirinya terasa seperti sebuah kunci yang mungkin akan membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup.