Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya Adistira, seorang pelayan hotel Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal di Mahendra Group
Clarissa pulang dan membanting pintu rumah dengan keras,
dia berteriak histeris.
memeluk siska wijaya.
"Mah... aku lelah! Aku sudah melakukan semua yang Mama suruh, aku sudah pura-pura anggun selama bertahun-tahun,
tapi Arkan tetap tidak melirikku! Sekarang dia justru semakin menjauh karena wanita miskin itu ada di kota ini!"
tangis Clarissa.
Siska tersentak,
"Apa? Wanita miskin? Maksudmu... Zevanya?"
"Iya, Mah! Bahkan Arkan menawarkan wanita itu pekerjaan di perusahaannya! Dan Arkan memberikan kartu namanya secara langsung di depanku!"
Clarissa berteriak histeris,
Hendra wijaya, mendengar kegaduhan dari ruang tengah,
Segera menghampiri clarissa dengan wajah kesal.
"Clarissa! Ayah sudah bilang berkali-kali padamu, tapi kamu tidak pernah mau dengar! Sekarang kamu rasakan sendiri akibatnya.
Sudah berapa banyak pria kaya yang Ayah kenalkan, tapi kamu menolak demi mengejar Arkananta? Lupakan dia, Clarissa!"
Siska menatap tajam ke arah suaminya.
" Hendra! Jangan membuat anak kita semakin sedih! Ayo, clarissa, kita ke kamar saja,"
ucap Siska sambil menarik tangan clarissa menjauh dari Hendra.
di kamar,
Siska membelai rambut Clarissa dengan penuh kasih,
"Dengarkan Mama, Clarissa. Jika wanita itu berani ada di kantor Arkan, segera hubungi Mama.
Kita akan buat hidupnya seperti di neraka sampai dia tidak betah dan pergi dengan sendirinya,"
ucap Siska wijaya dengan nada dingin.
Clarissa perlahan berhenti menangis,
ia menghapus air matanya dan menatap ibunya dengan penuh harapan jahat.
"Mama benar. Terima kasih, Mah. Mama memang yang terbaik di dunia"
Ucap Clarissa sambil memeluk siska,
Pagi harinya,
suasana di kontrakan Zevanya terasa hangat dan penuh kesibukan.
Zevanya mengelus lembut pipi kecil arsen yang masih terlelap.
"Sayang... Arsen, ayo bangun, Nak. Kamu kan mau mulai sekolah baru hari ini,"
ucap zevanya dengan suara lembut.
Arsen menggeliat kecil,
mengusap matanya yang masih mengantuk dan tersenyum pada ibunya,
"Iya, Mah..."
jawab arsen dengan suara serak.
zevanya membantu Arsen bersiap,
Sambil memegang kedua bahu Arsen,
menatap mata putranya dalam-dalam.
"Sayang, dengarkan Mama ya. Nanti kalau Mama belum pulang kerja, kamu di rumah saja. Jangan pergi ke mana-mana, oke?
semua mainan kamu ada di atas meja dan Makanan sudah Mama siapkan di kulkas,"
pesan Zevanya.
Arsen mengangguk patuh,
mendengar setiap kata ibunya.
"Kalau kamu bosen sendiri, kamu bisa ke rumah ibu sebelah rumah kita ya. Mama sudah menitipkan kamu di sana.
Sekolah ga jauh dari rumahkan kamu bisa pulang sendiri? Jangan nakal dan jangan main jauh-jauh ya, Kamu janji?"
"Iya, Mah. Arsen bisa pulang sendiri dan janji tidak akan main jauh-jauh,"
jawab Arsen.
Zevanya menghela napas dan mencium kening arsen.
Ada rasa berat di hatinya walau Arsen sudah bisa di tinggal sendiran,
namun ini adalah satu-satunya jalan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik.
Zevanya berangkat ke gedung Mahendra Group yang menjulang tinggi.
Jantungnya berdegup kencang,
seolah ingin melangkah keluar kembali.
Ia menarik napas panjang,
mencoba mengumpulkan keberaniannya sebelum melangkah masuk ke area lobi yang megah itu.
Di meja resepsionis,
suaranya sedikit bergetar dengan keraguan.
"Permisi, Mbak. Saya ingin bertemu dengan Tuan Arkananta Mahendra. Saya sudah ada janji dengan beliau."
Belum sempat resepsionis itu menjawab,
Arkan yang baru saja turun dari lift langsung melihat zevanya.
Wajah arkan yang biasanya dingin seketika berubah cerah.
"Zevanya? Akhirnya dia datang,"
batin Arkan dengan perasaan senang.
Arkan melangkah menghampiri nya.
"Zevanya?"
"Tuan Arkan,"
jawab Zevanya.
Saat Arkan mendekat,
Zevanya kembali menghirup aroma maskulin aroma yang kini terasa begitu nyata,
dan sama dengan pria yang menidurinya di hotel enam tahun lalu.
"Apa kamu menerima tawaran kerja dariku?"
tanya Arkan.
Zevanya mengangguk.
"iya, Tuan."
"Bagus. Mari, ikut ke ruangan ku."
Ucap arkan dengan senyum lebar.
Di dalam ruangan arkan yang mewah,
Arkan menawarkan zevanya posisi sebagai Admin Pemasaran.
Zevanya tersenyum tulus,
merasa sangat bersyukur.
Namun, suasana hangat itu berubah menjadi tegang saat Arkan terdiam.
Aroma mawar dari tubuh Zevanya memenuhi ruangan,
membuat arkan teringat tentang wanita malam di hotel enam tahun lalu.
"Zevanya... boleh saya menanyakan sesuatu padamu?"
tanya Arkan,
"Apa itu, Tuan?"
"Siapa... ayah dari anakmu itu?"
Zevanya tersentak,
raut wajahnya berubah kaku.
"Kenapa Tuan bertanya hal yang bersifat privasi seperti itu?"
"Maaf, Zevanya. Tidak apa-apa jika kamu tidak mau memberitahunya. Saya hanya... bertanya."
Ucap arkan kecewa.
Belum sempat suasana mencair,
tiba tiba pintu ruangan terbuka.
Clarissa berdiri di sana dengan penuh amarah.
"Arkan! Jadi kamu benar-benar mempekerjakan wanita miskin ini di sini?!"
Teriak clarissa.
"Siapa yang memberimu izin masuk ke ruanganku tanpa permisi, Clarissa?"
sahut Arkan.
"Wanita ini tidak pantas ada di sini!"
teriak Clarissa,
clarissa menarik tangan Zevanya.
"Sini kamu! Pergi dari kantor ini!"
"Lepaskan saya, Nona!"
Zevanya melawan dengan tegas.
"Hentikan, Clarissa!"
bentak Arkan.
arkan menarik tangan Zevanya menjauh.
"Ayo, Zevanya. Saya antar ke ruanganmu. Kamu bisa mulai bekerja sekarang."
Clarissa berteriak histeris,
"ARKAN!!!"
wajahnya memerah kesal.
"Arkan! Aku akan laporkan ini pada ayahmu!"
"Terserah,"
jawab Arkan acuh dan mengajak Zevanya keluar.
Di lorong kantor,
Clarissa segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi siska wijaya.
"Mah! Wanita miskin itu benar-benar ada di sini! Dia sudah mulai bekerja di kantor Arkan!"
Di seberang telepon,
Siska Wijaya tersentak.
"Cari masalah sekali wanita itu. Tunggu di sana, Sayang. Mama sendiri yang akan memberinya pelajaran."
Sementara arkan menunjukkan ruangan kerja baru zevanya,
Arkan juga mengajak Zevanya berkeliling kantor.
dan memperkenalkan Zevanya di hadapan seluruh staf.
"Perkenalkan, ini Zevanya. Dia akan bergabung sebagai Admin Pemasaran di sini. Saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik dengannya."
"Baik, Tuan!"
jawab seluruh karyawan,
Setelah itu Zevanya langsung menuju ruangannya untuk memulai bekerja,
Di luar sana,
Siska Wijaya telah tiba di kantor arkan dengan amarah,
Ia menghampiri Clarissa yang sudah menunggu.
"Di mana wanita itu, Sayang?"
tanya Siska.
"Dia ada di ruangannya, Mah. Ayo kita beri dia pelajaran!"
sahut Clarissa.
Tanpa mengetuk pintu,
mereka masuk ke ruangan Zevanya.
"ZEVANYA!"
teriak Siska wijaya,
membuat Zevanya berdiri dari kursinya.
"Ada apa ini?"
tanya Zevanya berusaha tenang.
"Berhenti berpura-pura!"
Siska wijaya maju selangkah,
tatapannya melotot ke arah zevanya.
"Apa tujuanmu mendekati Arkan, calon suami anak saya? Jangan coba-coba mengelak, Clarissa sudah menceritakan semuanya!"
Zevanya terdiam sejenak.
"Jadi, wanita tua ini ibunya Clarissa,"
batin zevanya,
zevanya menarik napas panjang,
"Nona Clarissa hanya salah paham, Saya di sini untuk bekerja, tidak lebih dari itu."
Siska tertawa sinis.
"Oh, jadi kamu di sini karena bekerja berarti kamu butuh uang? Baiklah, saya akan berikan uang dengan jumlah besar!
Berapa pun yang kamu pinta! Asalkan kamu pergi dari sini dan menjauh dari Arkan"
Clarissa ikut bicara.
"Dengarkan itu! Jangan sok jual mahal, wanita miskin. Ambil uang Mama ku dan pergi dari kantor ini!"
Zevanya berdiri,
matanya menatap tajam ke arah ibu dan anak itu tanpa rasa takut.
"Maaf, saya tidak bisa menerima uang itu,"
"Berani sekali kamu menolak?!"
bentak Clarissa.
"Saya terbiasa bekerja keras sendiri untuk mendapatkan uang."
jawab Zevanya.
"Uang tidak akan pernah bisa membeli harga diri saya. Cara instan seperti ini hanya bersifat sementara, dan saya tidak tertarik.
Sekarang, jika tidak ada keperluan lagi, mohon keluar dari sini. Karna Saya harus lanjut bekerja."
ucap zevanya dengan tegas.
Clarissa ingin marah dan menampar zevanya,
namun Siska wijaya segera menarik lengannya.
Siska melihat ke arah lorong ruangan dengan perasaan cemas,
takut Arkan tiba-tiba muncul.
"Sudahlah, Sayang. Kita pergi sekarang sebelum Arkan melihat kita di sini,"
bisik Siska sambil menarik tangan Clarissa keluar ruangan.
"Jangan senang dulu, Zevanya. Ini baru permulaan."
ucap clarissa sebelum pergi.