NovelToon NovelToon
Apocalypse Regression: Harem In The Zombie World

Apocalypse Regression: Harem In The Zombie World

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Anime
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
​Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
​Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
​Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ambang Kehancuran {1}

Langkah-langkah kaki yang berat dan terseok-seok bergema di sepanjang lorong beton menuju pintu masuk rahasia bunker. Sekitar lima belas siswa SMA Kita berjalan dalam barisan yang rapat, napas mereka memburu dan uap dingin keluar dari mulut mereka yang membiru. Di depan mereka, Yuuichi berjalan dengan ketenangan yang mengintimidasi, katananya sudah kembali ke sarungnya namun hawa dingin masih memancar tipis dari jubah taktisnya.

Sakura dan Akari mengawal di barisan belakang, memastikan tidak ada zombie yang mengikuti mereka dari supermarket. Begitu mereka mencapai pintu baja berat yang terselubung reruntuhan apartemen, Yuuichi menempelkan telapak tangannya pada pemindai biometrik yang tersembunyi.

Klik. Desisss.

Pintu hidrolik terbuka, menyingkap koridor dengan pencahayaan LED putih yang benderang dan bersih. Pemandangan ini membuat para siswa terkesiap. Bagi mereka yang baru saja menghabiskan hari-hari di supermarket yang kotor dan berbau kematian, bunker ini tampak seperti surga teknologi yang mustahil.

"Masuk. Jangan menyentuh apa pun," perintah Yuuichi dingin.

Mereka melangkah masuk ke ruang dekompresi. Chika Kudou sudah menunggu di sana dengan pakaian medis lengkap, didampingi oleh Elisa Amagi yang mengamati para pendatang baru itu dengan tatapan klinis yang tidak ramah.

"Selamat datang kembali, Yuuichi-kun," ucap Chika, matanya melembut saat melihat para siswanya. Namun, ia segera beralih ke mode profesional. "Semuanya, tolong berbaris. Kami harus memeriksa suhu tubuh dan tanda-tanda gigitan. Jika kalian ingin tetap di sini, kalian harus melewati protokol ini."

Takeshi, sang kapten sepak bola yang biasanya gagah, kini tampak layu. Ia menatap Yuuichi dengan ragu. "Shiro... tempat apa ini? Bagaimana kau bisa punya semua ini?"

Yuuichi tidak menoleh. Ia berjalan menuju meja kendali dan mengambil sebuah botol air mineral, lalu meneguknya perlahan. "Ini adalah tempat yang akan membuatmu tetap hidup, Takeshi. Tapi di sini tidak ada tumpangan gratis. Setiap kalori yang kau makan harus kau bayar dengan kerja keras."

Di antara kerumunan siswa yang ketakutan, seorang gadis berkacamata dengan rambut hitam dikuncir kuda, Miho Nishimura, tidak tampak gemetar. Sebaliknya, matanya terus bergerak, mengamati setiap detail bunker—mulai dari merk sensor gerak di langit-langit hingga pola retakan es yang ditinggalkan Yuuichi di lantai. Ia memegang sebuah buku catatan kecil dengan sangat erat, jemarinya terus bergerak seolah sedang menulis kode di udara.

"Analisis Subjek: Miho Nishimura. Status Mental: Hiper-Observan. Deteksi Peningkatan Gelombang Otak: Kecepatan Pemrosesan Data di atas rata-rata manusia. Kakak, gadis ini tidak melihatmu sebagai pahlawan, dia melihatmu sebagai 'Anomali Statistik'."

Yuuichi merasakan tatapan Miho dan membalasnya dengan pandangan tajam. Miho tidak memalingkan wajah; ia justru membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot.

"Yuuichi Shiro," suara Miho terdengar tenang di tengah kebisingan siswa lain yang sedang diperiksa Chika. "Menurut kalkulasi logistik standar, supermarket itu seharusnya sudah jatuh tiga jam yang lalu. Dan berdasarkan kecepatan larimu saat membawa kami tadi, massa ototmu seharusnya mengalami kelelahan panas jika kau hanya manusia biasa. Tapi suhu tubuhmu justru turun drastis."

Yuuichi berhenti melangkah. Keheningan mendadak menyelimuti ruangan. Sakura dan Akari menoleh ke arah Miho dengan ekspresi terkejut.

"Lalu?" tanya Yuuichi pendek.

"Lalu, kau bergerak dengan pola yang terlalu efisien. Seolah kau sudah tahu persis di mana setiap zombie akan muncul sebelum mereka benar-benar keluar dari bayangan," Miho melangkah maju satu tindak, menurunkan suaranya agar hanya Yuuichi yang mendengar. "Itu bukan sekadar insting, bukan? Itu adalah pengalaman yang diulang. Kau bertindak seolah dunia ini adalah rekaman video yang sedang kau putar kembali."

Mata merah Yuuichi berkilat. Sedikit energi es hitam merayap di lantai menuju kaki Miho, namun gadis itu tetap bergeming.

"Kau terlalu pintar untuk kebaikanmu sendiri, Miho," ucap Yuuichi dengan nada yang berbahaya namun datar.

"Aku hanya pengamat data," balas Miho. "Dan datanya mengatakan bahwa kau adalah satu-satunya variabel yang bisa memastikan kelangsungan hidup spesies kita. Aku ingin menawarkan jasaku. Aku bisa mengelola inventaris dan prediksi seranganmu dengan akurasi 98%."

Yuuichi menatapnya lama, mencoba mengukur apakah gadis ini akan menjadi aset atau ancaman. Di garis waktu sebelumnya, Miho Nishimura adalah salah satu korban pertama yang tewas di sekolah karena ia terlalu sibuk menganalisis virus daripada melarikan diri. Kali ini, tindakannya menyelamatkan Miho telah menciptakan variabel baru yang sangat kuat.

"Elisa," panggil Yuuichi.

Elisa Amagi mendekat, menyilangkan lengan di bawah dadanya yang menonjol. "Ya?"

"Bawa gadis berkacamata ini ke Lab 2. Tes kapasitas intelektualnya. Jika dia benar-benar bisa menghitung secepat bicaranya, berikan dia akses ke modul pemetaan," perintah Yuuichi.

"Dan sisanya?" tanya Chika sambil menunjuk Takeshi dan belasan siswa lainnya yang sudah selesai diperiksa.

Yuuichi menatap Takeshi yang tampak kebingungan. "Beri mereka makan secukupnya, lalu berikan mereka sekop dan palu. Modul Barak Pengungsi harus selesai dibangun di Sektor B dalam enam jam. Siapa pun yang berhenti bekerja sebelum selesai, akan tidur di luar gerbang malam ini."

Takeshi hendak memprotes, namun Sakura meletakkan tangannya di gagang pedangnya dengan tatapan peringatan. "Lakukan saja, Takeshi. Ini bukan lagi sekolah. Ini adalah perjuangan untuk bertahan hidup."

Satu per satu, para siswa itu mulai bergerak mengikuti instruksi, dipandu oleh Akari yang bertugas sebagai pengawas lapangan. Di bunker yang kini mulai terasa sempit, Yuuichi berdiri di tengah kekacauan yang terorganisir itu. Ia bisa merasakan Base miliknya mulai tumbuh, bukan hanya dari segi fisik, tapi juga dari segi pengaruh.

"Pemberitahuan: Modul Inisiasi Berhasil. Reputasi Pemimpin meningkat +10%. Peringatan: Miho Nishimura mulai menyusun 'Teori Regressor' dalam catatannya. Disarankan untuk memantau aktivitasnya secara ketat, Kakak."

"Biarkan saja, Miu," batin Yuuichi. "Di dunia yang gila ini, orang pintar adalah orang yang paling mudah dikendalikan jika kau memberinya misteri untuk dipecahkan."

Yuuichi berjalan menuju kamarnya sendiri, meninggalkan keramaian itu. Ia butuh waktu untuk merenungkan langkah selanjutnya. Dengan bertambahnya jumlah orang, markas ini akan menjadi target yang lebih besar bagi Chimera. Dan ia tahu, Jenderal Kagawa tidak akan membiarkan investasinya membangun kerajaan sendiri di bawah hidungnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!