Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2:Gerbang Yang Tertutup Dan Janji Yang Tak Terucap
Wanita itu berhenti sejenak saat mencapai gerbang besar Kerajaan Celestial. Gerbang itu terbuat dari batu hitam yang kokoh, dihiasi dengan ukiran es yang rumit dan berkilau di bawah sinar bulan yang redup. Di atasnya, tertulis tulisan dalam bahasa kuno yang sudah hampir terlupakan: "Siapa yang masuk, harus siap menghadapi dingin yang abadi, atau pergi dan tidak pernah kembali."
Dia membaca tulisan itu dengan hati yang berdebar. Dia tahu risiko yang dia ambil. Namun, dia tidak punya pilihan. Dia harus masuk. Dia harus bertemu dengan Raja Kaelen.
Wanita itu mengangkat tangannya, menyentuh permukaan gerbang yang dingin dan licin. Saat jari-jarinya menyentuh batu, dia merasakan getaran aneh yang mengalir melalui tubuhnya—seolah-olah gerbang itu sedang merasakan keberadaannya, sedang menilai apakah dia layak untuk masuk atau tidak.
Tiba-tiba, gerbang itu bergerak. Suara gemuruh yang keras terdengar saat batu-batu besar itu bergeser perlahan, membuka jalan ke dalam kerajaan. Wanita itu terkejut, namun dia tidak ragu. Dia melangkah maju, melewati gerbang, dan masuk ke dalam Kerajaan Celestial.
Di dalam, pemandangan yang menakjubkan namun juga menakutkan menyambutnya. Jalanan yang lebar terbuat dari es yang bening, memantulkan cahaya bulan dan menciptakan efek yang seperti berada di dalam dunia dongeng yang dingin. Di kedua sisi jalan, berdiri bangunan-bangunan yang terbuat dari batu dan es, dengan atap yang runcing dan jendela-jendela yang kecil. Tidak ada orang yang terlihat di jalanan. Semuanya tampak sepi dan sunyi, seolah-olah kerajaan ini adalah kota hantu yang beku.
Wanita itu terus berjalan, matanya memindai sekelilingnya dengan waspada. Dia tahu dia sedang diawasi. Dia bisa merasakan mata-mata yang mengikutinya dari bayang-bayang, dari balik jendela-jendela yang gelap. Namun, dia tidak berhenti. Dia terus maju, menuju istana yang menjulang tinggi di tengah kerajaan.
Sementara itu, di dalam istana, Kaelen berdiri di dekat jendela, menatap wanita itu yang sedang berjalan menuju istananya. Dia terkejut saat melihat gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Biasanya, gerbang itu hanya akan terbuka jika dia yang memerintahkannya, atau jika ada orang yang memiliki kekuatan yang cukup kuat untuk membukanya. Namun, wanita itu tampak seperti manusia biasa—tidak ada tanda-tanda kekuatan khusus yang terlihat dari dirinya.
"Siapa dia sebenarnya?" bisik Kaelen pada dirinya sendiri. "Bagaimana dia bisa membuka gerbang itu?"
Dia memutuskan untuk tidak menunggu lagi. Dia akan pergi menemui wanita itu, bertanya siapa dia dan mengapa dia datang ke sini.
Kaelen berjalan keluar dari ruang singgasana, langkahnya ringan namun penuh wibawa. Dia melewati koridor-koridor yang panjang dan dingin, melewati pelayan-pelayan yang membungkuk hormat saat dia lewat. Dia tidak memperhatikan mereka. Pikirannya hanya tertuju pada wanita itu yang sedang berjalan menuju istananya.
Saat Kaelen mencapai pintu utama istana, dia melihat wanita itu sudah berdiri di sana, napasnya terengah-engah dan tubuhnya gemetar karena dingin. Wanita itu menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, dan matanya bertemu dengan mata Kaelen yang biru dan dingin.
Untuk sejenak, keduanya hanya saling menatap, tidak ada yang berbicara. Wanita itu merasa terpesona oleh penampilan Kaelen—rambut putihnya yang indah, matanya yang biru dan bersinar, dan tubuhnya yang tegap dan berwibawa. Namun, dia juga merasa takut. Dia tahu siapa pria ini. Dia tahu dia adalah Raja Es yang legendaris, yang memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan segalanya dengan satu sentuhan.
Kaelen juga menatap wanita itu dengan perasaan yang campur aduk. Dia melihat wajah yang cantik namun lelah, mata yang cokelat dan penuh dengan harapan serta ketakutan, dan tubuh yang kecil namun kuat. Dia tidak tahu mengapa, tapi ada sesuatu pada wanita itu yang membuatnya merasa tenang—sesuatu yang membuatnya merasa seperti dia sudah mengenalnya sejak lama.
"Siapa kamu?" tanya Kaelen akhirnya, suaranya dingin dan tegas. "Mengapa kamu datang ke sini?"
Wanita itu menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Nama saya Lira," jawabnya, suaranya lembut namun tegas. "Saya datang ke sini karena saya butuh bantuan Anda, Yang Mulia Raja Kaelen."
Kaelen mengangkat alisnya. "Bantuan? Apa yang bisa saya bantu untukmu? Saya tidak tahu kamu, dan saya tidak memiliki hubungan apa pun dengan dunia luar."
"Saya tahu," kata Lira. "Saya tahu Anda telah terisolasi dari dunia luar selama bertahun-tahun. Tapi saya juga tahu bahwa Anda adalah satu-satunya orang yang bisa membantu saya. Ada sesuatu yang terjadi di dunia luar—sesuatu yang mengerikan yang mengancam kehidupan semua orang. Dan hanya Anda yang memiliki kekuatan untuk menghentikannya."
Kaelen terdiam. Dia tidak percaya pada apa yang dia dengar. Dunia luar sudah melupakan keberadaannya, dan dia juga sudah melupakan dunia luar. Mengapa ada orang yang datang ke sini untuk meminta bantuannya?
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Kaelen akhirnya. "Apa yang terjadi di dunia luar?"
Lira menjelaskan semuanya. Dia menceritakan tentang kekuatan gelap yang telah muncul di dunia luar, kekuatan yang menghancurkan segalanya di jalurnya, yang membunuh orang-orang tanpa ampun, dan yang membuat dunia menjadi tempat yang gelap dan menakutkan. Dia menceritakan tentang bagaimana orang-orang berdoa untuk bantuan, tentang bagaimana mereka mengingat legenda tentang Raja Es Celestial yang memiliki kekuatan yang tak terkalahkan, dan tentang bagaimana dia akhirnya memutuskan untuk datang ke sini untuk meminta bantuannya.
Kaelen mendengarkan dengan tenang, namun di dalam hatinya, dia merasa bingung dan ragu. Dia tidak tahu apakah dia harus percaya pada Lira atau tidak. Dia tidak tahu apakah dia harus meninggalkan kerajaannya yang aman dan tenang untuk pergi ke dunia luar yang berbahaya dan menakutkan.
"Kenapa saya harus membantu kamu?" tanya Kaelen akhirnya. "Apa yang saya dapatkan jika saya membantu kamu?"
Lira menatap matanya dengan tegas. "Anda akan mendapatkan kesempatan untuk mengubah segalanya, Yang Mulia. Anda akan mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan bahwa Anda bukan hanya Raja Es yang dingin dan tak terkalahkan, tapi juga seorang pemimpin yang peduli pada orang lain. Anda akan mendapatkan kesempatan untuk menemukan kembali makna hidup Anda—sesuatu yang mungkin sudah Anda lupakan selama bertahun-tahun."
Kaelen terdiam lagi. Kata-kata Lira menyentuh hatinya. Dia tahu Lira benar. Selama bertahun-tahun, dia hidup dengan rutinitas yang sama, tanpa harapan, tanpa cinta, tanpa tujuan. Dia hidup hanya karena dia harus hidup, bukan karena dia ingin hidup.
"Baiklah," kata Kaelen akhirnya, suaranya lembut namun tegas. "Saya akan membantu kamu. Tapi saya punya syarat."
Lira tersenyum lega. "Apa syaratnya, Yang Mulia? Saya akan melakukan apa saja."
"Kamu harus tinggal di sini bersama saya sampai kita siap untuk pergi," kata Kaelen. "Kamu harus belajar tentang kerajaan ini, tentang kekuatan saya, dan tentang apa yang akan kita hadapi. Dan kamu harus berjanji bahwa kamu akan selalu jujur kepada saya, dan bahwa kamu tidak akan menyembunyikan apa pun dari saya."
Lira mengangguk dengan tegas. "Saya berjanji, Yang Mulia. Saya akan selalu jujur kepada Anda, dan saya tidak akan menyembunyikan apa pun dari Anda."
Kaelen mengangguk. "Baiklah. Maka, mari kita masuk. Kamu butuh istirahat, dan kamu butuh makanan. Kita akan membicarakan lebih banyak hal besok."
Lira mengikuti Kaelen masuk ke dalam istana. Saat dia melangkah melewati pintu, dia merasa seolah-olah dia telah memasuki dunia yang baru—dunia yang dingin namun indah, dunia yang penuh dengan misteri dan rahasia, dan dunia yang pada akhirnya akan menjadi rumah baginya.
Dan di dalam hatinya, Lira merasa harapan yang baru. Dia tahu perjalanannya masih panjang dan penuh dengan rintangan, tapi dia juga tahu bahwa dia tidak sendirian lagi. Dia memiliki Kaelen di sisinya, dan itu sudah cukup untuk membuatnya merasa kuat dan berani.
Sementara itu, Kaelen menatap Lira yang berjalan di sampingnya.