NovelToon NovelToon
JANDA SATU ANAK

JANDA SATU ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Rania adalah seorang janda muda dengan satu anak. Meski hidupnya tidak mudah, kecantikannya yang mempesona dan sifatnya yang lembut membuat banyak pria terpikat padanya.
Di tengah usahanya membesarkan anaknya sendirian, dua pria muda tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Arga, pria brondong yang ceria dan berani, selalu terang-terangan menggoda dan mendekati Rania. Sementara itu ada Damar, pria muda yang dingin, tampan, dan diam-diam selalu memperhatikan Rania dari jauh.
Dua pria.
Satu wanita.
Siapa yang akhirnya akan memenangkan hati janda cantik itu?
Di antara masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan godaan cinta dari dua pria yang lebih muda…
Akankah Rania membuka kembali pintu hatinya?
Atau justru cinta baru itu akan mengubah hidupnya selamanya? ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasar Malam dan Perasaan yang Sulit Disembunyikan

Sejak pagi, Rafa sudah terlihat sangat bersemangat.

Anak kecil itu bahkan bangun lebih cepat dari biasanya.

“Bunda! Kita jadi pergi ke pasar malam kan?”

Rania yang sedang menyiapkan sarapan di dapur hanya bisa tersenyum kecil.

“Iya, jadi.”

Rafa langsung melompat senang.

Pasar malam memang selalu menjadi hal yang paling ditunggu anak-anak di kampung mereka.

Ada lampu warna-warni, banyak permainan, dan tentu saja makanan yang menggoda.

Namun bagi Rania, ada satu hal lain yang membuatnya sedikit gugup.

Arga dan Damar.

Mereka berdua juga akan ikut.

Entah bagaimana suasana malam nanti.

Rania sendiri belum bisa membayangkannya.

Malam akhirnya tiba.

Lapangan kecil di ujung Gang Mawar berubah menjadi sangat ramai.

Lampu-lampu warna-warni digantung di sepanjang jalan.

Suara musik dari wahana permainan bercampur dengan tawa anak-anak.

Aroma jagung bakar dan gorengan memenuhi udara.

Rafa langsung memegang tangan Rania dengan semangat.

“Bunda! Banyak sekali!”

Rania tersenyum melihat wajah bahagia anaknya.

“Pelan-pelan, nanti kamu jatuh.”

Namun belum lama mereka berjalan, sebuah suara familiar terdengar.

“Rafa!”

Arga datang dengan jaket hitam dan senyum lebarnya.

Ia membawa dua balon besar berbentuk robot.

“Ini untuk jagoan kecil.”

Rafa langsung melonjak senang.

“Balon!”

Rania menggeleng kecil.

“Kamu terlalu memanjakan dia.”

Arga hanya tertawa.

“Anak kecil memang harus dimanjakan.”

Namun belum sempat mereka berjalan lebih jauh, seseorang berdiri di depan mereka.

Damar.

Seperti biasa, penampilannya rapi dan tenang.

Ia membawa sebuah kantong kecil.

Rafa langsung berkata dengan semangat.

“Om Damar!”

Damar tersenyum tipis dan memberikan kantong itu.

“Permen kapas.”

Mata Rafa langsung berbinar.

“Wah!”

Arga melirik kantong itu dan terkekeh.

“Serius? Permen kapas?”

Damar menatapnya santai.

“Anak kecil menyukainya.”

Arga mengangkat bahu.

“Benar juga.”

Rania hanya bisa menghela napas pelan.

Malam ini benar-benar akan panjang.

Mereka berjalan bersama di antara keramaian pasar malam.

Rafa berjalan di depan sambil memegang balon dan permen kapas.

Arga dan Damar berjalan di kiri kanan Rania.

Situasi yang membuat beberapa orang melirik penasaran.

Seorang janda cantik…

Ditemani dua pria tampan.

Bisikan kecil mulai terdengar dari beberapa pengunjung.

Namun Rania mencoba mengabaikannya.

Yang penting Rafa bahagia.

“Bunda! Aku mau naik itu!”

Rafa menunjuk sebuah permainan kuda-kudaan yang berputar.

Arga langsung berkata cepat.

“Ayo!”

Ia mengangkat Rafa dengan mudah dan membawanya ke wahana itu.

Damar juga ikut berjalan di belakang mereka.

Setelah Rafa duduk di salah satu kuda mainan, mesin permainan mulai berputar.

Rafa tertawa keras.

Melihat itu, Rania tidak bisa menahan senyumnya.

Arga berdiri di sampingnya.

“Kamu terlihat lebih santai malam ini.”

Rania menoleh.

“Mungkin karena Rafa senang.”

Arga menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata pelan.

“Aku juga senang melihat kamu tersenyum.”

Rania langsung sedikit gugup.

Namun sebelum ia sempat menjawab, Damar berdiri di sisi lain mereka.

Tatapannya tertuju pada Arga.

“Kamu memang pandai berbicara.”

Arga tersenyum santai.

“Terima kasih.”

Damar menatap Rania.

“Setelah ini Rafa mungkin ingin mencoba permainan lain.”

Arga langsung berkata.

“Ada permainan tembak-tembakan di sana. Aku bisa memenangkan hadiah.”

Damar mengangkat alis sedikit.

“Benarkah?”

Arga menyeringai.

“Lihat saja.”

Beberapa menit kemudian mereka berada di sebuah stan permainan tembak-tembakan.

Banyak boneka tergantung sebagai hadiah.

Rafa menunjuk sebuah boneka panda besar.

“Aku mau yang itu!”

Arga langsung mengambil senapan mainan.

“Tunggu di sini. Aku akan mendapatkannya.”

Ia mulai menembak target satu per satu.

Namun ternyata tidak semudah yang ia kira.

Beberapa tembakan meleset.

Rafa sedikit cemberut.

Arga menggaruk kepala.

“Eh… hampir.”

Damar yang berdiri di belakang mereka akhirnya maju.

“Boleh aku mencoba?”

Arga menyerahkan senapan dengan santai.

“Tentu.”

Damar mengangkat senapan itu dengan tenang.

Tembakan pertama.

Tepat sasaran.

Tembakan kedua.

Jatuh lagi.

Tembakan ketiga.

Target terakhir jatuh.

Penjaga stan langsung memberikan boneka panda besar.

Rafa bersorak.

“Om Damar hebat!”

Damar memberikan boneka itu pada Rafa.

Arga tertawa kecil.

“Oke… aku kalah di yang itu.”

Rania juga sedikit terkejut.

“Sejak kapan kamu pandai menembak?”

Damar menjawab singkat.

“Dulu pernah belajar.”

Arga menatapnya dengan senyum menantang.

“Lain kali kita harus bertanding sesuatu yang lain.”

Damar hanya menjawab tenang.

“Boleh.”

Malam semakin larut.

Lampu-lampu pasar malam semakin terang.

Rafa mulai terlihat sedikit lelah.

Ia akhirnya duduk di bangku sambil memeluk boneka panda.

Rania duduk di sampingnya.

Arga dan Damar berdiri tidak jauh dari mereka.

Angin malam berhembus pelan.

Suasana terasa lebih tenang dibanding sebelumnya.

Tiba-tiba Rafa menguap kecil.

Rania mengusap kepalanya.

“Sudah mengantuk ya?”

Rafa mengangguk.

Arga langsung berkata.

“Biar aku gendong dia.”

Namun sebelum ia melangkah, Damar sudah lebih dulu mengangkat Rafa dengan hati-hati.

Rafa yang setengah mengantuk langsung bersandar di bahunya.

Arga hanya bisa menghela napas kecil.

“Cepat sekali.”

Damar berkata pelan.

“Anak kecil tidak boleh terlalu lama di luar.”

Mereka mulai berjalan pulang.

Rania berjalan di tengah mereka lagi.

Namun kali ini suasananya berbeda.

Lebih tenang.

Lebih hangat.

Saat mereka sampai di depan rumah, Rafa sudah benar-benar tertidur di bahu Damar.

Rania membuka pintu.

“Terima kasih sudah menemani kami.”

Arga tersenyum.

“Malam ini menyenangkan.”

Damar juga mengangguk.

“Jaga dirimu.”

Setelah Rafa dibaringkan di tempat tidur, Rania kembali ke teras.

Arga dan Damar masih berdiri di sana.

Lampu teras menerangi wajah mereka.

Arga berkata pelan.

“Mbak Rania.”

“Iya?”

Arga menatapnya dengan serius.

“Aku tidak bercanda dengan perasaanku.”

Rania terdiam.

Lalu Damar berkata dengan suara yang sama tenangnya.

“Aku juga.”

Dua pria.

Dua pernyataan yang sama jelasnya.

Rania merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.

Malam ini…

Perasaan yang selama ini tersembunyi akhirnya mulai terucap.

Dan ia tahu…

Hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!