Empat tahun lalu, Flaire Nathasha menghilang setelah melahirkan secara rahasia, meninggalkan Jaydane Shelby dengan luka pengkhianatan dan seorang putra balita bernama Jorden. Jaydane, sang penguasa bisnis sekaligus mafia, membesarkan Jorden dengan kebencian mendalam, mengira Flaire membuang anak mereka demi kebebasan dan karier.
Kini, Flaire kembali ke Jerman sebagai CEO Fernandez yang memukau dengan julukan "Queen of Lens". Kecantikannya yang tak tertandingi membuat Aurora, tunangan Jaydane, merasa terancam dan mulai menggali identitas ibu kandung Jorden yang misterius.
Jaydane yang dibutakan dendam mulai menghancurkan bisnis Flaire untuk memaksanya berlutut. Namun, di balik lensa kontak yang selalu menutupi warna mata aslinya, Flaire menyimpan luka trauma masa lalu difakta bahwa ia adalah korban pengasingan paksa keluarganya dan sama sekali tidak tahu bahwa bayinya masih hidup di tangan pria yang kini mencoba menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon caxhaaesthetic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKHIR DARI SANG RATU PALSU
KRAK.
Bunyi patahan tulang leher yang tajam mengakhiri napas sang mantan model. Jaydane melepaskan cengkeramannya, membiarkan tubuh Aurora merosot jatuh ke lantai seperti boneka rusak.
Jaydane berbalik, menatap Seraphina yang kini gemetar hebat di sel seberang. Seraphina mundur hingga punggungnya menempel di dinding. Ia baru saja melihat pria yang ia cintai membunuh rekan selnya dengan tangan kosong tanpa kedipan mata.
"Sekarang giliranmu, Seraphina," ucap Jaydane dingin sambil membuka sarung tangannya.
"Tapi kau berguna untuk satu hal. Kau akan menjadi saksi bagi ayahmu di Italia... tentang apa yang terjadi jika ada yang berani menyebut nama Flaire dengan nada menghina."
Jaydane keluar dari area penjara, meninggalkan Seraphina yang berteriak histeris dalam kegelapan.
Saat ia kembali ke lantai atas, ia menemukan Flaire berdiri di lobi dengan jubah tidurnya, wajahnya tampak bingung dan masih mengantuk karena baru saja dipindahkan dari pesawat.
"Jay? Kenapa kita kembali ke Berlin? Di mana Jorden?" tanya Flaire cemas.
Jaydane segera menghapus aura maut dari wajahnya. Ia mendekat dan memeluk Flaire erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya yang harum. "Ada sedikit masalah bisnis yang harus kuselesaikan dengan cepat, Little Bird. Jorden aman di kamarnya. Semuanya sudah selesai."
Flaire tidak tahu bahwa beberapa meter di bawah kakinya, seorang wanita baru saja meregang nyawa demi melindungi rahasia besarnya.
***
Berlin mendadak sibuk. Atas perintah absolut Jaydane, katedral tertua di kota itu dipesan secara eksklusif. Desainer papan atas dari Paris diterbangkan malam itu juga untuk menjahit gaun pengantin yang harus selesai dalam waktu kurang dari 48 jam.
Jaydane tidak ingin mengambil risiko; ia harus mengikat Flaire secara hukum sebelum rumor tentang identitas ibu kandung Jorden merembes ke permukaan.
Namun, di dalam kamar kerja Jaydane, suasana justru memanas bukan karena gairah, melainkan karena perdebatan sengit.
"Jay, ini terlalu cepat! Aku bahkan belum genap dua puluh tahun!" seru Flaire dengan wajah memerah. Ia berdiri di depan meja kerja Jaydane, menatap suaminya yang sedang tenang menandatangani dokumen pendaftaran pernikahan.
"Usiamu sudah cukup menurut hukum, Flaire. Dan kau sudah memiliki seorang putra berusia empat tahun. Apa lagi yang kau tunggu?" jawab Jaydane tanpa menoleh, suaranya tenang namun otoriter.
"Aku... aku merasa belum siap secara mental! Aku baru saja kembali ke hidupmu, baru saja menemukan anakku, dan sekarang kau ingin aku menjadi Nyonya Shelby di depan seluruh dunia? Bagaimana jika aku gagal? Bagaimana jika aku tidak pantas?" Flaire mulai mondar-mandir, jarinya meremas ujung pakaiannya dengan cemas.
Jaydane meletakkan penanya. Ia berdiri, sosoknya yang tinggi besar membayangi Flaire, membuatnya berhenti melangkah. Jaydane mendekat, memerangkap Flaire di antara tubuhnya dan dinding.
"Belum siap?" Jaydane mengulang kata-kata itu dengan nada rendah yang berbahaya. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di depan bibir Flaire yang gemetar.
"Kenapa belum siap, Little Bird? Apa kau mau menunggu sampai your sweet pussy itu lebar seperti goa karena ulahku setiap malam, baru kau mau menikah?"
Mata Flaire membelalak sempurna. Wajahnya yang semula pucat karena cemas seketika meledak menjadi merah padam hingga ke telinga. Ia tidak menyangka Jaydane akan se-vulgar itu di tengah perdebatan serius mereka.
"JAYDANE SHELBY! Jaga bicaramu!" Flaire memukul dada bidang Jaydane dengan kepalan tangan mungilnya, meski itu sama sekali tidak melukai sang Mafia. "Kau... kau benar-benar mesum! Tidak sopan!"
Jaydane justru menangkap kedua tangan Flaire dan menguncinya di atas kepala wanita itu. Ia menyeringai nakal, tatapannya turun ke arah tubuh Flaire yang masih menyimpan jejak-jejak percintaan mereka di Karibia.