"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebencian Raline
Sekolah tampak sudah mulai ramai dengan para siswa yang siap menimba ilmu seperti biasa. Ada yang sudah datang sejak pagi. Ada juga yang baru saja datang karena tak suka terlalu lama menunggu jam pelajaran tiba.
Motor-motor dengan berbagai jenis merek dan gaya, terlihat berjejer rapi di area parkir. Mulai dari motor matic, hingga motor sport milik para siswa terlihat berdiri sejajar. Begitu juga dengan beberapa sepeda yang terparkir di tempat lainnya, yang bisa membedakan tingkat ekonomi para siswa di sekolah tersebut.
Motor sport merah memasuki area parkir dan berhenti di sana. Pemuda dengan seragam sekolah rapinya turun. Melepas helm dan merapikan rambut yang sedikit berantakan akibat helm yang ia kenakan.
Kaisar.
Sosok pemuda berwajah tampan dengan perawakan tinggi dan tegap. Adalah salah satu pemuda paling populer di sekolah.
Selain karena ia tampan. Ia juga cukup pintar dan selalu menduduki peringkat kedua di kelasnya.
Kaisar melangkah meninggalkan area parkir. Langkahnya pelan, seolah sama sekali tidak merasa harus buru-buru masuk ke kelas.
Wajah tampannya terlihat sedikit ternoda oleh luka memar di pipi bagian kiri serta hidung yang terlihat masih merah. Bekas pukulan Pak Umar semalam benar-benar meninggalkan bekas di wajahnya. Bekasnya tidak seberapa parah, tapi cukup kentara bagi siapapun yang melihat.
Kaisar berusaha tidak peduli meski siswa lain memperhatikan dirinya yang memasuki gedung sekolah. Ia cuek, demi terus bisa terlihat baik-baik saja.
"Woyyy!"
Suara itu menghentikan langkahnya.
Beberapa pemuda menghampiri dengan senyum merekah. Mereka adalah sahabat Kaisar, sekaligus dua diantaranya termasuk dalam tim basket sekolah.
"Kai, gue kira lo gak bakal masuk sekolah," ujar Aris sembari merangkul bahu sahabatnya.
"Lo kagak bisa dihubungi. Kenapa sih?" tanya Irfan.
"Palingan sibuk pacaran dia mah," sahut Edwin.
Beda dengan tiga temannya, Faiz justru langsung menyadari sesuatu di wajah Kaisar.
"Eh, muka lo kenapa, Bro?" tanyanya, menatap memar di pipi Kaisar dengan saksama.
Mendengar pertanyaan Faiz, tatapan tiga temannya langsung terfokus pada wajah sahabat mereka.
Kaisar terdiam sepersekian detik.
Refleks, ia mengalihkan pandangannya. Rahangnya mengeras, seolah berusaha menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.
"Apaan sih?" jawabnya santai, pura-pura tidak mengerti.
Faiz mengernyit. Ia tidak mudah dibohongi.
"Itu," katanya sambil menunjuk pipi kiri Kaisar. "Memar."
Aris langsung mendekat, menatap lebih jelas.
"Anjir, iya. Ini bekas pukulan."
Irfan ikut menyipitkan mata.
"Siapa yang mukul lo? Apa jangan-jangan semalam lo gak mau diajak pergi gara-gara lagi ada masalah sama orang?"
Edwin, yang biasanya paling santai, kini ikut serius.
"Iya. Apa lo berantem tanpa kita?"
Kaisar menghela napas pelan. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan datang dari teman-temannya. Tidak mungkin luka seperti itu bisa disembunyikan sepenuhnya.
"Gapapa," jawabnya singkat. "Cuma jatuh doang."
Faiz langsung mendecih pelan.
"Jatuh dari mana? Itu keliatan banget bekas ditinju orang. Lo kira kita bego?"
Aris menepuk bahu Kaisar pelan. Ia terlihat sangat ingin tahu dengan niat ingin balas dendam yang besar dalam hati.
"Serius, Kai. Siapa?" tanyanya, tangannya mengepal.
Kaisar tidak menjawab.
Ia sendiri bingung harus menjawab apa. Teman-temannya bahkan tak tahu apa yang sedang dihadapinya saat ini. Yang jelas ia tak mau mereka tahu tentang masalahnya dengan Raline.
Empat pemuda itu menunggu jawaban Kaisar. Mereka siap membalas perbuatan orang itu jika Kaisar memberitahu mereka siapa orangnya. Begitulah gejolak emosi para remaja seusia mereka.
Beberapa detik hening.
Kaisar menatap lantai koridor, lalu kembali mengangkat wajahnya. Ekspresinya datar. Terlalu datar.
"Udah, gak usah dibahas. Gue gapapa kok."
Nada suaranya tenang. Tapi justru itu yang membuat teman-temannya semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres.
Irfan menyilangkan tangan di dada.
"Jangan-jangan si Emir lagi," ucapnya. "Atau si Buaya?"
"Wah, kalo beneran mereka, liat aja. Gue gak bakal tinggal diem. Kita harus ketemu mereka dan bales ini," sahut Aris sambil memukul-mukul telapak tangannya sendiri dengan bogemnya.
"Bukan," jawab Kaisar. "Gak ada hubungannya sama mereka."
Keempat temannya langsung menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Tidak ada yang benar-benar percaya pada jawabannya.
Faiz menyipitkan mata.
"Terus, siapa? Apa lo punya musuh baru?"
Kaisar menggeleng cepat.
"Beneran gak ada. Gue beneran cuma jatuh. Yaelah, gak percaya amat."
Edwin langsung mendengus.
"Gimana mau percaya," katanya. "Orang jatuh bentukannya gak gini lukanya, anjir. Yakali sampe pipi memar gini."
Aris mengangguk, ikut menimpali.
"Mana mungkin pas jatuh pipi lo yang kena duluan. Emang jalan lo kayak gimana?"
Kaisar terdiam sejenak.
Ia tahu mereka tidak bodoh.
Tapi ia juga tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
Ia tidak mungkin bilang bahwa luka ini didapatnya dari pria yang meminta tanggung jawab untuk putrinya yang telah ia hamili.
Semua itu terlalu memalukan untuk diceritakan. Bisa-bisa mereka mengejek dan menjauhinya.
Siapa juga yang mau berteman dengan orang sepertinya, bukan?
Ia lalu merangkul Aris dan Irfan yang berdiri paling dekat.
"Udah, gak usah bahas yang gak perlu," katanya, berusaha terdengar santai. "Gue gapapa. Ini gak ada masalah sama siapapun kok. Suer deh."
Aris mendecih pelan.
"Halah, bohong lo. Awas aja."
"Nggak, ini beneran. Gue pasti kasih tau kalian kalo ada masalah."
Faiz menatapnya tajam.
"Janji lo?"
"Iya," jawab Kaisar. "Janji gue."
Meski masih ragu, akhirnya mereka tidak memaksa lagi.
Mereka pun melanjutkan langkah menuju tangga, menuju lantai tiga, di mana kelas mereka berada.
Suasana sekolah semakin ramai. Suara tawa dan obrolan siswa lain memenuhi koridor.
Setiap siswa memiliki kegiatannya sendiri sebelum bel masuk berbunyi. Kebanyakan dari mereka mengisi waktu dengan mengobrol, dan lainnya ada yang belajar untuk mengasah otak mereka.
Kaisar dan teman-temannya yang kini menaiki tangga di lantai dua, mendadak berhenti melangkah saat secara tak sengaja berpapasan dengan Raline yang akan turun ke lantai satu.
Rupanya gadis itu sudah kembali masuk sekolah setelah beberapa hari absen.
Gadis itu berjalan dari arah berlawanan, menuruni tangga dengan langkah tenang tanpa benar-benar menyadari Kaisar di hadapannya. Wajahnya terlihat dingin. Tidak ada senyum. Tidak ada ekspresi ceria yang biasa membingkai wajahnya. Ia benar-benar redup.
Ketika akhirnya pandangan mereka bertemu secara tak sengaja, Raline langsung memalingkan wajahnya. Tampak enggan melihat wajah tampan lelaki yang pernah memberi kehangatan padanya.
Ia benar-benar bersikap dingin pada Kaisar.
Seolah Kaisar adalah seseorang yang tidak ingin ia lihat lagi di dunia ini.
Jantung Kaisar terasa seperti ditusuk sesuatu yang tidak terlihat, menyadari Raline begitu membencinya sekarang.
Ia terpaku di tempat, memperhatikan gadis itu berjalan melewatinya tanpa sepatah kata pun.
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya