NovelToon NovelToon
Hutang Yang Harus Kubayar

Hutang Yang Harus Kubayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:789
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05

"Baik, hasilnya sudah cukup bagus, tapi masih ada yang kurang." Seru sang fotografer seraya melihat beberapa hasil fotonya.

"Tuan, saya minta anda lebih dekat lagi dengan istri anda. Kalau bisa anda peluk istri anda." Ujar pria itu, kembali mengarahkan lensa kamera ke pasangan yang ada di depannya.

Baik Arya maupun Nadia terdiam, wajah mereka merona. Keduanya tidak menyangka jika sang fotografer begitu banyak memotret mereka.

"Oke, sekarang cium kening istri anda." Sang fotografer kembali mengarahkan.

Arya menuruti arahan pria itu, ia mencium kening Nadia dengan canggung.

"Nona, balas pelukan suami anda. Tempelkan kening kalian satu sama lain." Lagi, arahan itu terlontar supaya Arya dan Nadia tampak lebih mesra. Tentu saja keduanya gugup karena memang sama-sama tidak pernah sedekat ini dengan lawan jenis.

Nadia membeku sepersekian detik. Memang sedari tadi tangannya hanya berdiam di samping badan.

"Nona," Rio ikut bersuara, mengingatkan karena beberapa saat berlalu tapi Nadia tidak bergerak sedikitpun.

"Ya ampun, kenapa kalian terlihat kaku sekali?" Sang fotografer tampak tidak sabaran. Ia mendekat ke arah keduanya dan segera mengalungkan kedua tangan Nadia ke belakang leher Arya.

"Lihat, begini tampak lebih baik. Kemudian tempelkan kening kalian. Seperti ini!"

Mata Arya terbelalak saat kepalanya di arahkan secara paksa menempel ke kening Nadia oleh pria yang berprofesi sebagai fotografer itu. Selama ini tidak ada yang berani memegang kepalanya.

"Nah, seperti ini. Tahan sebentar, aku akan memotretnya."

Pria itu kembali ke posisinya, mulai membidikkan kameranya ke arah Arya dan Nadia.

Cengkraman tangan Arya di pinggang ramping Nadia semakin erat. Dadanya bergemuruh, ada gejolak gejolak yang tidak bisa dia kendalikan. Pemikiran liar menghampiri pikirannya.

"Hei?! " Arya menatap Nadia dengan wajah bertanya-tanya ketika sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipinya. Rasa panas dan perih seketika terasa. Ini kedua kalinya wanita itu menampar wajah tampannya.

Kenapa gadis itu menamparnya? Bukanlah sebelumnya mereka bermesraan?

Nadia mendorong dada bidang Arya sebelum akhir mundur beberapa langkah. Gadis itu berbalik, meninggalkan ruang pemotretan dengan langkah pasti. Gaun panjangnya ia angkat tinggi-tinggi, mengantisipasi kakinya tersandung oleh gaunnya sendiri.

"Ada apa dengan dia?" Gumam Arga. Matanya terus mengekor pada punggung Nadia yang semakin menjauh.

Arya mengelus pipinya, dia tamparan sudah ia rasakan hari ini. Pertama, saat ia mengatai wanita itu dengan sebutan tidak pantas. Tamparan kedua,, entahlah ia sendiri tidak tau pasti apa penyebabnya.

"Tuan," panggil Rio, mendekat kemudian menyerahkan kompresan dingin untuk tuannya.

Arya mengerutkan kening, menatap asisten pribadinya, seolah menuntut penjelasan akan apa yang sebenarnya terjadi barusan. Dia sungguh tidak mengerti kenapa Nadia menamparnya kemudian pergi begitu saja?

"Dia gadis yang polos, tuan. Apa yang kamu pikirkan tentangnya?" Sang fotografer berkata dengan nada cukup keras, seolah tau apa yang di pikirkan kliennya itu.

"Aku akan mengirim hasilnya besok. Terimakasih sudah memanggil ku, tuan." Lanjutnya kemudian pergi sebelum Arya menilik hasil jepretannya.

Kini hanya ada Arya dan asistennya di saja, hening tak ada suara apapun. Hanya deru pendingin ruangan yang mendominasi ruangan. Arya mengambil kompresan yang Rio berikan tadi dan menempelkannya ke pipi untuk meredam perih yang masih terasa. Ia beranjak melangkah menuju salah satu kursi di ruangan tersebut.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" Arya tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia masih tidak mengerti akan situasi yang terjadi.

"Sepertinya imajinasi liar anda kembali bekerja setelah melihat tubuh nona."

Arya seketika menoleh." Apa maksudmu? Imajinasi apa?" Ia masih tidak mengerti jawaban yang di lontarkan asistennya.

"Saat pemotretan, anda terus mematung lebih dari lima menit. Dengan tangan yang semakin mencengkram kuat pinggang nona, dan....mata anda tuan. Mata anda terus melihat ke arah..maaf dada nona Nadia." Rio berdeham, ia cukup malu untuk menjelaskan.

Arya menelan ludahnya, jadi yang terjadi tadi hanya imajinasinya saja? Saat dia merengkuh tubuh ramping itu, saat dia menyentuh bibir ranum itu, saat dia....itu hanya dalam pikirannya saja?

"Nona berusaha untuk melepas tangan anda, tapi anda semakin erat memeluknya." Rio masih menjelaskan apa yang terjadi, membuat wajah Arya memerah.

"Dan sepertinya anda mengatakan sesuatu pada nona. Tapi entah apa yang anda katakan padanya sehingga membuatnya marah dan menampar anda," ujarnya mengakhiri penjelasan.

"Ya ampun!" Arya mengusap wajahnya, ia malu dengan apa yang ia lakukan sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa mengimajinasikan hal lir hanya dengan melihat Nadia dari dekat?

"Jadi aku tidak melakukan apapun padanya?"

Rio menggeleng pelan. " Tidak tuan, anda hanya menempelkan kening anda dan memeluknya saja."

"Bahkan menciumnya saja tidak?"

Rio menggeleng lagi. Ia melihat ekspresi tidak puas dari wajah tuannya.

"Apakah dia sempat memanggil namaku?"

Untuk kesekian kalinya Rio menggeleng. "Tidak tuan."

Arya memejamkan matanya seraya memijat pangkal hidungnya. Jadi itu benar-benar hanya imajinasinya saja? Bahkan gadis itu tidak memanggil namanya sama sekali. Dia benar-benar malu. Kenapa dia harus berimajinasi hal yang seperti itu pada gadis yang baru dia temui hari ini? Apakah karena dia kekurangan kasih sayang seorang wanita?

"Apa yang harus saja lakukan, tuan?"

Arya menatap asistennya. " Antarkan dia pulang. Saya tidak ingin bertemu dengannya."

Untuk sementara ia tidak ingin melihat Nadia, demi menjaga kewarasannya yang masih tersisa. Ia tidak ingin kewarasannya hilang jika terus melihat istrinya itu.

"Apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengannya nanti?"

.....

Nadia melangkah keluar dari ruang ganti dengan langkah yang berat, napasnya terasa sesak meski wajahnya berusaha tetap tenang. Di sudut ruangan, Rio berdiri membelakangi, seolah menunggunya dengan sabar dan dingin. Tatapannya yang tak menoleh ke belakang membuat Nadia merasakan beban yang lebih dari sekadar kehadiran pria itu.

Rio kemudian menghampirinya dan menyodorkan sebuah ponsel dan tas kecil ke tangan Nadia. "Ini, Bu," suaranya datar tapi penuh arti. "Tuan menyuruh saya mengantarkan Ibu pulang ." Nadia hanya mengangguk pelan, matanya masih kosong menatap benda-benda di tangannya seolah itu adalah sisa-sisa kenyataan yang sulit diterima.

Otaknya berputar liar, mencoba merangkai kembali potongan-potongan hari yang begitu kejam. Ayahnya yang ia sayangi sekaligus sumber luka dalam hidupnya telah tiada. Dan sekarang, takdir membawanya ke perjanjian kontrak yang membelit dirinya dengan pria yang menjadi dalang kematian sang ayah. Nafasnya tersengal, tapi Nadia menahan diri agar tak terjatuh dalam lubang keputusasaan.

Matanya menatap lurus ke depan, menahan gelombang emosi yang mencoba meledak. Dalam diam, dia bertarung antara kebencian yang menggerogoti dan rasa kehilangan yang menggunung. Rio masih berdiri di sana, tanpa sepatah kata, seolah tahu bahwa kata-kata pun takkan mampu mengobati luka yang baru saja menganga di hati Nadia.

"Nona, apakah anda baik-baik saja?"

Nadia tidak menjawab, ia hanya menatapnya sekilas sebelum akhirnya kedua tangannya menutup seluruh wajahnya. Ia salah tingkah karena tidak nyaman berada di satu ruangan dengan Nadia namun tidak ada percakapan apapun.

"Nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rio lagi, sebagai asisten pribadi Arya dia bisa melaksanakan apapun perintah dengan baik. Tapi untuk membujuk wanita? Bahkan dia tidak mempunyai pengalaman sama sekali.

"Jika tidak saya menunggu di luar." Ujarnya lagi setelah tidak ada jawaban dari sang nona.

Langkahnya berhenti begitu Nadia bertanya sesuatu.

"Dimana makam ayah saya?" tanya Nadia lirih.

Hati Rio mencelos, selama ia bekerja dengan Tuan Arya dirinya di kenal sebagai asisten yang kejam. Namun, mendengar bagaimana nonanya bertanya mengenai peristirahatan terakhir ayahnya membuatnya sedikit sesak. Wajar, ia juga manusia yang masih memiliki belas kasih.

"Maaf?" Rio pura-pura tidak mendengar. Ia menimang-nimang, haruskah dia memberitahu gadis itu? Sedangkan Arya tidak melarang atau menyuruhnya untuk memberitahu gadis itu.

"Ayah,,dimana makam ayah..." Tanya Nadia lagi dengan suara yang terdengar parau karena menangis.

Rio panik melihat nona nya menangis, ia bingung bagaimana cara menenangkan wanita itu.

"Ayah.." tangisan Nadia semakin histeris, bahkan saat ini dia sudah merendahkan tubuhnya dan memeluk lututnya dengan tangan. Seolah semua rasa sakit tengah dia rasakan, tangannya terulur menyentuh kalung yang ada di lehernya. Benda itu adalah kenangan terakhir dari ayahnya. Kepergian kedua orang tuanya seolah menghilangkan sebagian nyawanya.

Rio menengadahkan wajahnya, mencegah bulir bening lolos dari pelupuk matanya. Terlalu memalukan pria yang dikenal kejam seperti dirinya menangis di depan wanita yang baru ia temui.

Rio mendekat dan menepuk pundak Nadia, berharap tangisan wanita itu sedikit mereda. " Nona, ayah anda sudah dimakamkan dengan layak. Mari, saya antarkan anda kesana."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!