NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:115
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEREDAM RASA

Setelah guncangan hebat di kamar mandi, Yasmin akhirnya berhasil menuntaskan urusan bersih-bersihnya dengan bantuan Mbok Sari yang begitu telaten. Uap hangat dari pancuran air tadi perlahan meluruhkan ketegangan di otot-ototnya, meski debar jantungnya setiap kali teringat dekapan Arya masih belum sepenuhnya reda.

Wajahnya yang semula cemong oleh debu jalanan kini tampak bersih dan segar, menampakkan gurat kecantikan alami yang selama ini tersembunyi di balik kerasnya hidup sebagai pelayan restoran.

​Arya, yang sejak tadi menunggu dengan gelisah di balik pintu kamar mandi, langsung tersentak dari lamunannya. Tubuh tegapnya menegang saat sosok Yasmin akhirnya muncul dari balik pintu yang perlahan terbuka. Ia terpaku, seolah baru saja disadarkan oleh pemandangan yang tak pernah ia duga sebelumnya.

​Yasmin berdiri di sana, mengenakan gaun yang kini melekat sempurna di tubuhnya. Gaun itu memiliki potongan lengan puffy yang manis dan rok bertingkat yang menjuntai lembut hingga ke bawah lutut, memberikan kesan anggun sekaligus rapuh. Warna putih bersih dengan aksen bunga-bunga biru yang cerah itu membuat kulit pucat Yasmin tampak lebih berseri di bawah pendar lampu kamar yang hangat, melenyapkan kesan kusam akibat debu dan trauma jalanan tadi.

​Sementara, rambut hitamnya yang panjang, kini sudah tersisir rapi dan menebarkan aroma sampo bunga lili yang lembut, terurai menutupi sebagian luka memar di bahunya yang masih terasa berdenyut.

​Arya tak bisa melepaskan pandangannya. Matanya menyapu setiap detil penampilan Yasmin, dari ujung gaun yang melambai pelan hingga rona merah yang perlahan menjalar di pipi gadis itu.

"Sudah selesai, Den." Kata Mbok Sari memecah setengah lamunannya. "Kalau begitu... simbok pergi dulu."

Arya mengangguk, menuntun langkah wanita tua itu berlalu menutup pintu kamar itu rapat.

Kini, hanya ada mereka berdua.

Ya.

Mata Arya kembali menatap pemandangan indah di depannya. Sorot matanya yang biasa tajam dan profesional seoran dokter, kini melunak, dipenuhi ketenangan yang jarang sekali ia rasakan.

​"Mas... Mas Arya..." Yasmin bersuara lirih, suaranya bergetar hebat. Ia menunduk dalam, tangannya meremas pelan kain gaun satin yang halus itu, mencoba menyembunyikan kegugupan yang menderu di dadanya. "Maaf... kalau... kalau baju ini tidak pantas saya pakai."

​Arya menelan saliva dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia ingin mengatakan betapa cantiknya Yasmin malam ini, betapa gaun itu seolah diciptakan khusus untuknya, namun kata-kata itu tertahan di ujung lidah, terhalang oleh ego dan kecanggungan yang masih melingkupi hatinya.

​"Pantas..." gumam Arya akhirnya, suaranya sangat berat dan serak, hampir tak terdengar. Ia berdehem keras, mencoba menguasai dirinya kembali. "Gaun itu... punya Mbak Freya. Sementara kamu pakai saja. Besok aku belikan baju untukmu."

​"Sini," Sambung Arya mengisyaratkan Yasmin untuk duduk di tepi ranjang yang empuk. "Luka di lututmu harus diobati lagi. Mbok Sari sudah siapkan kotak P3K."

​Yasmin mengangguk kaku, gerakannya masih patah-patah saking gugupnya. Ia melangkah pincang menuju ranjang, sementara Arya mulai beranjak dari tepi ranjang dan berdiri mematung, menatap Yasmin dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah campuran antara rasa kasihan, rasa bersalah, dan sesuatu yang lain yang belum berani ia akui pada dirinya sendiri.

​Begitu Yasmin duduk di tepi ranjang dengan gerakan kaku, Arya tanpa ragu langsung bersimpuh di hadapannya. Gerakannya persis seperti saat pertama kali ia mengobatinya di taman kota—tegas namun penuh kehati-hatian.

Yasmin menelan saliva. Matanya berbinar menahan sesuatu yang nyaris jatuh membasahi wajah saat melihat posisi Arya yang merendah di bawah kakinya, sungguh menciptakan suasana yang begitu intim sekaligus mengharukan, seolah pria terpandang itu tidak keberatan menanggalkan harga dirinya demi mengobati luka seorang gadis asing.

​Jemari Arya yang panjang dan bersih mulai bergerak menyentuh lutut Yasmin. Dengan konsentrasi penuh seorang dokter, ia mulai membuka perban basah yang tadi sempat terkena guyuran air shower. Kain kasa yang sudah kusam dan dingin itu perlahan terkelupas dari kulit pucat Yasmin, menyingkap luka lecet yang masih kemerahan dan sedikit bengkak.

​Yasmin menahan napas, tubuhnya sedikit menegang saat udara dingin menyentuh lukanya yang terbuka. Hingga, ia bisa merasakan hangatnya hembusan napas Arya di kulit kakinya, sebuah sensasi yang membuat dadanya sesak oleh debar jantung yang kian tak beraturan.

​"Tahan sebentar, ini akan sedikit perih," bisik Arya tanpa mendongak. Suaranya rendah, bergetar pelan di antara keheningan kamar.

​Arya lalu meraih kapas yang telah dibasahi cairan antiseptik. Ia menekan luka itu dengan gerakan yang sangat lembut, seolah ia sedang menangani sesuatu yang paling rapuh di dunia. Dan, setiap kali Yasmin meringis kecil, rahang Arya tampak mengeras, ada rasa bersalah yang tersirat di sana karena telah membiarkan gadis ini mengalami kesulitan hidupnya sendiri.

​Di bawah pendar lampu kamar, Yasmin menatap puncak kepala Arya. Rambut hitam pria itu masih terasa lembap, beberapa tetes air sisa guyuran tadi masih menggantung di ujung rambutnya. Ia merasa dunianya seakan berhenti berputar—hanya ada dia, Arya, dan aroma obat yang bercampur dengan keharuman maskulin yang menenangkan.

Shower. Batin Yasmin. "Ma-Mas...?"

​"Hm?" sahut Arya pendek.

​Suaranya rendah, nyaris seperti gumaman berat yang bergema di antara mereka. Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya, seolah tak ingin merusak sedikit pun konsentrasinya saat membersihkan luka itu.

​"Mas Arya... tahu... saat aku tadi berteriak di kamar mandi?" tanya Yasmin lirih. Suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan kamar yang kini terasa mencekik.

​Arya mengangguk pelan, jemarinya masih sibuk merapikan sisa kasa yang tidak terpakai. "Aku dari tadi ada di balik pintu kamar ini," jawabnya tanpa sedikit pun keraguan.

​Yasmin tersentak, tubuhnya menegang seketika. "Se-sejak kapan?"

Arya kemudian mengoleskan salep dingin ke atas luka tersebut. Jemarinya yang biasanya dingin saat memegang alat bedah, kini terasa begitu hangat saat bersentuhan dengan kulit kaki Yasmin. ​"Sejak kamu mengambil handuk," sahutnya dingin, datar, namun sarat akan penekanan yang membuat jantung Yasmin seolah berhenti berdetak.

​Darah di kakinya serasa pindah dan berdesir hebat ke wajah Yasmin. Sejak mengambil handuk? Itu artinya, Arya berada di balik pintu saat ia menangis sesenggukan di balik kain lavender itu. Arya mendengar semua keluh kesah dan bisikan rapuhnya di depan cermin besar tadi. Rasa malu yang luar biasa kini membakar dadanya, membuatnya merasa telanjang di hadapan pria yang baru dikenalnya itu.

​"Mas..." Yasmin mencoba mengalihkan rasa kikuknya, suaranya parau. "Masalah Ibu dan kakakmu... mereka sangat marah karena kehadiranku. Aku merasa—"

​"Sudah selesai," potong Arya cepat. "Tidak perlu lagi mengenakan perban. Biarkan kulitnya mengering alami. Satu dua hari lukanya akan sembuh."

​Pria itu lalu beranjak dari posisi bersimpuhnya, berdiri tegak hingga bayangannya yang tinggi jatuh menaungi tubuh mungil Yasmin. Ia menyambar kotak P3K itu dengan gerakan tegas, seolah ingin segera mengakhiri percakapan yang emosional ini.

​"Istirahatlah. Masalah mereka... nanti mereka akan menerimamu. Hanya butuh adaptasi saja," lanjut Arya dengan nada bicara yang tidak ingin dibantah. Baginya, perdebatan dengan Maura dan Freya di lantai bawah hanyalah kerikil kecil dibandingkan luka yang ia lihat di mata Yasmin malam ini.

​Tanpa menunggu balasan, Arya berbalik arah. Langkah kakinya yang berat terdengar menjauh menuju pintu kamar. Begitu sampai di ambang pintu, ia sempat berhenti sejenak, namun tetap tidak menoleh.

​Klik.

​Suara pintu yang menutup rapat itu menjadi titik akhir dari ketegangan malam ini. Yasmin kini benar-benar sendiri di tengah kemewahan yang terasa hambar. Ia menatap lututnya yang kini hanya diselimuti oleh salep berwarna transparan—hasil sentuhan tangan Arya yang tadi begitu hangat namun kini terasa sangat jauh.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!