Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Julian Yang Mulai Posesif
Ares terpaku, dunianya seakan berhenti berputar dalam satu tarikan napas yang tertahan. Berkali-kali ia mengerjapkan mata, mencoba mengenyahkan bayangan yang ia anggap sebagai manifestasi dari rasa lelah atau sekadar tipuan cahaya. Namun, sosok mungil di hadapannya tetap nyata. Gadis kecil itu—Michel berdiri dengan binar mata yang begitu polos tapi juga familiar, memantulkan refleksi dirinya sendiri dalam versi yang jauh lebih murni dan rapuh.
Namun, tepat ketika ia ingin merengkuh keajaiban itu, sebuah kenyataan pahit menghantam kesadarannya layaknya tamparan keras yang menyisakan perih. Gadis kecil yang membawa seluruh garis wajahnya itu bukanlah miliknya, melainkan putri dari Julian—sang pewaris keluarga Lergan.
Belum sempat Ares menata keterkejutan nya, napasnya kembali tercekat saat seorang bocah laki-laki datang berlari kencang menghampiri Michel. Ia adalah Mikael, saudara kembar gadis itu. Detik itu juga, jantung Ares seakan berhenti berdetak. Jika Michel adalah versi wanitanya, maka Mikael adalah mesin waktu yang membawa Ares kembali ke masa kecilnya sendiri—setiap lekuk rahang, sorot mata, hingga helaian rambutnya adalah fotokopi identik dari potret masa kecil Ares.
Mata Ares membelalak sempurna, tak mampu lagi menyembunyikan badai keterkejutan yang berkecamuk di dalam dirinya. Di sisi lain, Claire hanya bisa berdiri mematung dengan tatapan penuh kebingungan yang nyata.
Sejak tadi, ia mungkin tidak pernah menyadari detail itu, namun sekarang, saat ketiganya berdiri dalam satu garis pandang yang sama, kebenaran itu terpampang begitu telanjang. Jika mereka berdiri berdampingan, tak ada satu pun jiwa di dunia ini yang akan menyangkal bahwa mereka adalah kesatuan darah--- seorang ayah dan kedua anak kandungnya.
Suara Ares tercekat, telunjuknya gemetar menunjuk Mikael. "Kau... bagaimana mungkin..."
Mikael berhenti mendadak, menatap Ares dengan tatapan datar namun penuh selidik.
Ares beralih menatap Claire dengan intensitas yang mengintimidasi. "Nona Claire... tolong jawab dengan jujur. Apakah mereka... apakah mereka benar-benar anakmu dan Julian?"
Claire tampak linglung, matanya bolak-balik menatap Ares, Mikael, dan Michel yang berdiri berjajar. Pikirannya kacau karena naskah 'Drama Antagonis' yang ia jalani terasa makin ngawur. "Seharusnya... begitu!"
Ares mengerutkan alis, nada suaranya meninggi karena frustrasi. "Jawaban macam apa itu?! Ya atau tidak, Nona!"
Claire tersentak, mencoba mengembalikan wibawanya sebagai karakter utama. "Maksudku... tentu saja! Mereka lahir dari rahimku, tentu saja mereka anakku dan Julian!"
Michel tiba-tiba melompat ke depan, berkacak pinggang dengan wajah merah padam karena kesal. "HEH OM JIPLAK! KAU MENCULI MUKA ABANG KU CEENAK HATIMU! CAKIT KALI LASA NA HATI MICHEL INI!"
Ares tersentak mundur karena serangan verbal bocah kecil itu. "Apa...?"
Michel makin menggebu-gebu. "CUDAH MUKA KAEL JELEK, KAU CULI LAGI! LUGIII DONG! BEGINI CAJA, BAGAIMANA JIKA KITA BELBISNIS!"
Ares benar-benar kehilangan kata-kata, otaknya yang biasa digunakan untuk strategi bisnis kini mendadak kosong. "Bisnis? Maksudmu?"
Michel tersenyum licik, jarinya membentuk simbol uang. "Belbisnis! Kau pakailah muka Abang ku itu, tapi pel jam na celatus lebuu... lumayan buat beli cileng bajigul! Bagaimana? Deal?"
Mikael menatap adiknya dengan tatapan maut, suaranya dingin tapi ketus. "Nggak ada harganya aku di matamu, Michel? Kau jual mukaku seharga seratus ribu?"
Michel berbalik menatap Mikael dengan mata melotot. "HEH! MACIH MENDING MICEL JUAL CELATUS, DALI PADA CELEBU! BELCYUKUL ABANG!"
Ares bergumam sendiri, menyentuh rahangnya yang tegas dengan perasaan terhina. "Wajah tampanku... yang dipuja ribuan wanita... mereka kira mukaku semurah itu? Seratus ribu?"
Claire memijat keningnya yang mulai berdenyut nyeri. Ia menatap ke langit-langit, berbicara pada dirinya sendiri. " Punya anak dua kok nggak ada yang bener ya... Ini yang jadi peran anaknya boleh diganti nggak sih?"
Ares masih mematung, namun setelah melihat interaksi konyol kedua bocah itu, sebuah senyum tipis—nyaris tak terlihat—muncul di sudut bibirnya. Ada rasa hangat yang aneh yang muncul di dadanya.
Claire menyaksikan senyum Ares, ia justru makin waspada. Di dalam hatinya ia membatin. " Kenapa dia malah senyum? Ini teka-teki apalagi? Kalau mereka benar anak Julian, kenapa cetakannya bisa copas Ares begini? Sepertinya jalan drama ini lebih rumit dari yang aku bayangkan.. masih ada teka - teki yang belum terpecahkan... dan aku akan mencari tahunya."
•
•
Langkah kaki Julian terhenti seketika, tertahan oleh pemandangan ganjil yang tersaji di depan matanya. Claire berdiri di sana, bersama Mikael dan Michel.
Namun, bukan kehadiran anak-anaknya yang membuat degup jantung Julian berpacu tidak keruan, melainkan sosok Ares yang berdiri dengan jarak yang secara naluriah dianggap Julian terlalu intim, terlalu berbahaya. Mata Julian menyipit melihat itu, ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Seolah dia tidak suka melihat Claire berada di jarak yang terlalu dekat dengan seorang pria.
Ia yang dahulu tidak peduli, kini mendapati dirinya terjerat dalam rasa ingin tahu yang obsesif, menatap Claire bukan lagi sebagai ibu dari anak-anaknya, melainkan sebagai seorang wanita yang misterinya mulai menariknya ke dalam pusaran ketertarikan yang tak terelakkan.
Julian melangkah lebar, sepatunya membentur lantai marmer dengan irama yang menuntut jawaban. Matanya menyipit, menangkap siluet empat orang di sudut remang koridor itu.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" suara Julian berat, memecah kesunyian yang mencekam.
Claire memutar bola matanya malas, sebuah gestur acuh yang belakangan ini sering membuat Julian jengkel sekaligus penasaran. "Cuma mengobrol saja," jawabnya singkat, tanpa beban.
Julian tidak menjawab. Tatapannya beralih pada Ares yang berdiri dengan jarak yang menurut Julian, terlalu intim dengan istrinya. Ada percikan emosi asing yang membakar dada Julian-- sesuatu yang seharusnya tidak ada, mengingat pernikahan ini hanyalah pernikahan di atas kertas tanpa adanya perasaan.
Namun, pengamatan Julian terganggu oleh tarikan kecil di jasnya.
"Daddy... coba lihat?" Michel mendongak, jemari kecilnya menunjuk tepat ke wajah Ares. "Muka na Om ini milip cekali dengan Abang."
Julian tertegun. Ia memindahkan pandangannya dari Ares ke Mikael, putra sulungnya, lalu kembali lagi ke Ares. Jantungnya berdegup tidak keruan. Struktur rahang itu, lengkung alisnya...
"Bagaimana bisa?" bisik Julian, suaranya tercekat.
Claire hanya mengangkat bahu, wajahnya tetap datar seolah pemandangan di depannya hanyalah angin lalu. "Dunia ini sempit, Julian. Atau mungkin selera Tuhan sedang malas saat menciptakan wajah mereka."
Ares sendiri tampak masih bingung. Matanya yang tajam menatap Mikael dengan binar keterkejutan yang sulit disembunyikan. Jika benar Claire adalah wanita yang menghabiskan malam bersamanya. Jika benar kedua anak kembar yang ada di depan nya adalah anak nya. Kenapa Claire bisa ada disini? Masuk ke dalam status Nyonya Julian Lergan? Keheningan di antara mereka terasa begitu tebal hingga bisa diiris dengan pisau.
"Mungkin hanya kebetulan," cetus Julian cepat, mencoba mengusir kecurigaan gila yang mulai merayap di kepalanya. "Ayo, kita kembali ke dalam. Disini terlalu panas." Julian melirik sinis Ares, menunjukkan ketidaksukaan nya.
Julian meraih pergelangan tangan Claire—lebih erat dan posesif dari biasanya. Perubahan sikap Claire beberapa hari ini, dari wanita penggoda menjadi sosok misterius yang dingin, perlahan-lahan mulai menarik Julian ke dalam labirin yang tidak ia pahami.
Saat Julian menyeret Claire menjauh, kedua anak itu masih terpaku di depan Ares. Mikael hanya mendengus dingin, sangat mirip dengan sikap ibunya saat ini, sementara Michel memberikan peringatan terakhirnya.
"Om, janan lupa, pel jam celatus lebuu," kata Michel dengan wajah serius sebelum menyusul langkah orang tuanya.
Mikael kembali mendengus, menarik kerah baju adiknya agar berjalan lebih cepat, meninggalkan Ares sendirian di dalam kegelapan dengan sejuta tanda tanya yang tak terjawab.
Saat mereka memasuki aula yang bising dengan denting suara obrolan dari dalam, seorang pelayan berjalan terburu-buru. Dalam sebuah gerakan yang tampak seperti kecelakaan namun terasa terlalu presisi, segelas anggur merah tumpah tepat di gaun mahal milik Claire.
Wajah pelayan pucat pasi, tubuhnya gemetar. "N-Nyonya... maafkan saya! Saya tidak sengaja, saya akan segera membersihkannya!"
Julian mengerutkan kening, siap untuk meluapkan amarahnya pada kelalaian pelayan tersebut. Namun, ia merasakan tangan Claire yang berada di genggamannya justru mengendur dan rileks.
Claire tidak berteriak. Ia justru menatap noda merah yang merembes di kain gaun nya dengan senyum sinis yang mendinginkan suasana.
Batin Claire berbisik tajam. "Jadi akhirnya, dramanya akan segera dimulai. Mari kita lihat sejauh mana kalian ingin bermain-main denganku."
Claire berbicara tenang pada pelayan. "Tidak apa-apa. Lagipula, warna merah ini jauh lebih cocok dengan suasana malam ini daripada warna biru yang membosankan."
Julian menatap istrinya dengan dahi berkerut. Perubahan sikap Claire yang tenang namun mematikan ini membuatnya merasa bahwa wanita di sampingnya bukan lagi Claire yang ia kenal—dan entah kenapa, hal itu membuatnya semakin tidak bisa melepaskan pandangannya.
"Mari, Nyonya, saya antar ke ruang ganti untuk membersihkan diri," tawar pelayan itu dengan suara bergetar.
Claire melirik Julian, melepaskan tangannya dari genggaman pria itu dengan halus namun tegas. "Aku akan membersihkan kotoran ini dulu, Julian. Tunggu aku di dalam... jika kau punya kesabaran."
Claire berlalu, meninggalkan Julian yang berdiri terpaku dengan perasaan tidak enak yang semakin menguat.
Di balik pilar marmer yang gelap, tiga pasang mata mengawasi dengan kepuasan yang tertahan.
Glenna berbisik puas. "Ikan sudah memakan umpannya."
Ana tersenyum sinis. "Setelah ini, Julian tidak akan mau lagi melihat wajah wanita itu."
Yunda mengangguk antusias. "Mari kita pastikan pertunjukan ini berakhir dengan tepuk tangan yang meriah."
•
•
•
BERSAMBUNG