NovelToon NovelToon
STREET FIGHTER

STREET FIGHTER

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Fajar menyingsing di atas Sungai Mahakam yang berkabut, namun suasana di dermaga desa tidaklah tenang. Andi tidak menunggu serangan fisik; ia tahu musuh seperti Arga Bara bertarung dengan dua cara: regulasi di atas meja dan intimidasi di lapangan.

"Rian, pasang kamera pemantau bertenaga surya di sepanjang jalur kabel," perintah Andi singkat. "Bayu, sinkronkan data sensor kita dengan satelit. Saya mau bukti real-time bahwa keberadaan turbin kita tidak mengubah kedalaman sungai lebih dari satu sentimeter pun."

Andin mendekat membawa laptopnya, wajahnya tampak tegang. "Andi, mereka mulai bermain kotor di media sosial. Ada narasi yang beredar bahwa proyek kita merusak jalur migrasi ikan pesisir. Mereka menggunakan foto-foto lama dari proyek bendungan di tempat lain untuk memfitnah kita."

Andi menarik napas panjang. Ia teringat taktik yang sama yang digunakan Pery Permata sepuluh tahun lalu. "Kirimkan video testimoni para tetua adat semalam. Biarkan dunia melihat Irawan dan anak-anak desa belajar di bawah lampu. Kebenaran tidak butuh filter, Ndin. Ia hanya butuh panggung."

Pukul sepuluh pagi, sebuah helikopter dengan logo Arga Bara mendarat di area tambang yang tak jauh dari desa. Tak lama kemudian, sebuah rombongan besar datang menggunakan mobil-mobil kabin ganda. Januar kembali, kali ini didampingi oleh seorang pria paruh baya dengan setelan safari mahal yang tampak angkuh—sang Manajer Wilayah Arga Bara, Hendra.

"Pak Andi, kita tidak perlu memperumit masalah," ujar Hendra sambil melangkah melewati garis batas desa tanpa izin. "Kami punya izin operasional yang ditandatangani gubernur. Sungai ini adalah fasilitas publik yang kami sewa untuk kepentingan negara. Lepaskan turbin itu sekarang, atau kami akan membongkarnya paksa dengan ekskavator dari sisi tambang."

Andi berdiri diam di depan jembatan kecil yang menghubungkan dermaga ke pusat kontrol listrik. Di belakangnya, puluhan warga Dayak berdiri tegak, tak bersuara, namun mata mereka menyimpan api yang sulit dipadamkan.

"Kepentingan negara yang mana, Pak Hendra?" tanya Andi tenang. "Negara yang mana yang lebih mendahulukan tongkang batu bara daripada hak rakyatnya untuk mendapat terang? Jika Anda membawa ekskavator, silakan. Tapi pastikan Anda juga membawa surat perintah pengosongan desa, karena kami tidak akan bergeser satu inci pun dari atas mesin ini."

Hendra tertawa sinis. "Anda pikir sentimen rakyat kecil bisa mengalahkan hukum korporasi?"

"Ini bukan soal sentimen," potong Ibu Diana yang tiba-tiba muncul dari balik Rumah Betang, memegang dokumen legal yang baru saja dicetak dari faks satelit. "Ini soal kontrak. Pery Permata baru saja menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian ESDM. Proyek 'Cahaya Bahari' ini resmi menjadi Pilot Project Strategis Nasional. Jika Anda menyentuh turbin ini, Anda menyentuh aset yang dilindungi negara."

Wajah Hendra memucat. Ia melirik Januar yang tampak bingung. Kekuatan lobi Pery Permata jauh di atas jangkauan sebuah perusahaan tambang wilayah.

"Anda mengkhianati rekan sesama pengusaha, Diana?" desis Hendra.

"Saya hanya memilih untuk tidak tenggelam bersama Anda di masa lalu, Hendra," jawab Diana tegas.

Saat rombongan Arga Bara mundur dengan penuh amarah, warga desa bersorak. Namun Andi tidak ikut bersorak. Ia tahu ini hanyalah satu ronde dari pertarungan panjang yang akan memakan waktu bertahun-tahun.

Malamnya, Andi duduk bersama Irawan di atas rakit bambu. Mereka memperhatikan pendar hijau dari lampu indikator turbin di bawah air.

"Pak Andi," panggil Irawan pelan. "Kenapa mereka begitu takut pada lampu kecil kami?"

Andi menepuk bahu pemuda itu. "Mereka tidak takut pada lampunya, Irawan. Mereka takut pada apa yang kamu lakukan saat kamu bisa melihat di dalam gelap. Karena saat orang sudah mulai bisa membaca dan belajar, mereka tidak akan bisa lagi dibohongi oleh janji-janji kosong."

Andi menatap cakrawala hutan yang gelap. Di sana, di antara pepohonan purba, cahaya-cahaya kecil mulai bermunculan dari rumah-rumah warga. Sang Cobra telah membawa api, dan kali ini, ia akan memastikan api itu tidak akan pernah padam oleh badai mana pun.

Malam itu, kesunyian hutan Kalimantan terasa berbeda. Tidak ada raung mesin speedboat, hanya suara serangga malam yang saling bersahutan. Namun, Andi tidak bisa memejamkan mata. Insting lamanya sebagai "Sang Cobra" yang tumbuh di kerasnya pelabuhan Jakarta berdenyut kencang. Ada sesuatu yang terlalu tenang dalam mundurnya rombongan Arga Bara siang tadi.

"Andin, bangunkan Rian dan Bayu. Suruh mereka periksa sensor getaran di hulu sungai," bisik Andi sambil meraih senter kepalanya.

Andin yang baru saja terlelap langsung terjaga. "Ada apa, Andi?"

"Arus sungai terasa sedikit melambat. Tidak wajar untuk jam segini," jawab Andi singkat sambil melangkah keluar menuju dermaga.

Benar saja. Di bawah cahaya senter, Andi melihat permukaan air sungai dipenuhi oleh serpihan ranting dan lumpur yang lebih pekat dari biasanya. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara debum alat berat dari arah wilayah konsesi tambang yang berada di hulu.

Rian berlari menghampiri dengan tablet di tangannya. "Bang! Sensor sonar kita mendeteksi ada material padat dalam jumlah besar yang hanyut menuju turbin. Sepertinya mereka sengaja membuang urukan tanah atau limbah kupasan lahan ke sungai!"

"Sabotase halus," desis Andi. "Mereka tidak merusak turbin secara langsung, tapi mereka ingin menimbunnya dengan sedimen agar macet. Jika turbin itu berhenti berputar karena lumpur, mereka punya alasan untuk bilang teknologi kita gagal dan merusak aliran sungai."

Tanpa komando, Irawan dan belasan pemuda desa keluar dari Rumah Betang. Mereka membawa galah bambu dan jaring kawat. "Kami tahu apa yang mereka lakukan, Pak Andi! Mereka sengaja melepas tanggul penahan lumpur di hulu!"

"Irawan, bawa perahu kayu. Kita harus pasang penghalang darurat sebelum lumpur itu sampai ke baling-baling!" perintah Andi.

Di tengah kegelapan total yang hanya diterangi lampu senter, Andi terjun ke air yang dingin dan mulai berlumpur. Bersama para pemuda desa, ia menarik kawat baja untuk membentangkan "jaring penahan" di depan instalasi turbin. Tangannya lecet tergesek kawat, dan kakinya berkali-kali terperosok ke dalam dasar sungai yang licin, namun ia tidak berhenti.

"Tarik lebih kencang!" teriak Andi di tengah gemericik air.

Ibu Diana berdiri di tepi dermaga, menyaksikan pemandangan itu dengan napas tertahan. Ia melihat seorang mantan aktivis pelabuhan, para teknisi muda, dan warga pedalaman bersatu melawan sabotase korporasi raksasa. Ia meraih ponselnya dan mulai merekam semuanya—setiap tetes keringat, setiap lumpur yang mengotori wajah mereka, dan setiap usaha licik yang datang dari arah tambang.

Menjelang subuh, arus lumpur itu tertahan di jaring darurat. Turbin tetap berputar, meski suaranya sedikit lebih berat. Lampu-lampu di desa sempat berkedip, namun tidak padam.

Andi naik ke daratan dengan tubuh penuh lumpur merah. Ia tampak sangat lelah, tapi matanya menyala.

"Diana," panggil Andi, suaranya parau. "Kirim video itu ke Jakarta sekarang. Bukan ke media sosial, tapi langsung ke meja Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri ESDM. Beri judul: 'Bagaimana Batu Bara Mencoba Memadamkan Cahaya Rakyat'."

Diana mengangguk mantap. "Sudah terkirim, Andi. Dan saya juga menyertakan data koordinat pembuangan limbah mereka. Arga Bara baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam sejarah mereka."

Pagi itu, saat matahari mulai menembus kabut, sebuah pesan balasan masuk ke ponsel satelit Andin.

"Andi... pusat bereaksi," ujar Andin dengan suara bergetar. "Tim investigasi gabungan berangkat pagi ini dengan pesawat khusus. Mereka membawa perintah pembekuan sementara izin tambang Arga Bara untuk investigasi kerusakan lingkungan."

Andi duduk di tepi dermaga, membasuh wajahnya dengan air sungai yang mulai kembali jernih. Irawan datang membawakannya kopi panas dalam gelas plastik.

"Kita menang lagi, Pak?" tanya Irawan polos.

Andi menyesap kopinya, menatap turbin yang kembali bersiul di bawah air. "Hari ini kita menang, Irawan. Tapi ingat, musuh yang sebenarnya bukan cuma mereka yang punya tambang. Musuh kita adalah rasa takut. Selama kalian tidak takut menjaga sungai ini, cahaya ini tidak akan pernah padam."

Di bawah langit Borneo yang mulai membiru, Sang Cobra menyadari bahwa misinya kini bukan lagi sekadar memasang alat. Ia sedang menanam keberanian di urat nadi Nusantara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!