NovelToon NovelToon
Owned By The Cold CEO

Owned By The Cold CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."

Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.

Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

...

...

Satu bulan berlalu sejak insiden tim medis gadungan yang dikirim Liam. Suasana di rumah kecil pinggiran Jakarta itu tampak tenang, bahkan terlalu tenang bagi Aris yang setiap hari mengawasi dari mobil Avanza hitamnya. Kalea terlihat sudah mulai "menerima" keadaan. Ia tidak lagi mengusir perawat yang datang membawa vitamin, ia mulai rutin belanja ke pasar bersama Surya, dan bahkan sesekali terlihat tersenyum saat berbincang dengan teman-teman kantornya di teras.

Laporan Aris kepada Liam di penjara pun berubah menjadi nada yang menenangkan. "Subjek mulai kooperatif. Kesehatan membaik. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Beliau mulai kembali aktif menulis."

Namun, di balik tembok rumah yang catnya mulai mengelupas itu, Kalea sedang menyusun bidak catur terakhirnya. Ia tahu, selama ia berada di Indonesia, ia akan selalu menjadi "properti" Liam Jionel, baik secara hukum maupun secara obsesi. Terlebih lagi, rahasia di dalam perutnya yang kini mulai memasuki bulan ketiga tidak mungkin disembunyikan lebih lama lagi. Garis-garis di alat tes yang ia simpan di dasar laci adalah alarm yang terus berdering di kepalanya: Lari sekarang, atau kau akan terikat selamanya.

"Semua sudah siap, Yah?" bisik Kalea malam itu.

Surya mengangguk, ia memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam tas ransel kecil. Tidak ada koper besar, tidak ada barang mewah. "Teman-temanmu di J-Media benar-benar luar biasa, Kal. Mereka berhasil mengurus beasiswa jalur khusus itu lewat koneksi jaringan jurnalis internasional."

Kalea tersenyum tipis. Aruna, Ghea, dan Ziva ternyata lebih dari sekadar teman gosip. Mereka adalah sekutu perang. Menggunakan identitas baru yang "dibersihkan" oleh bantuan rahasia dari Kenzo—yang ternyata diam-diam merasa bersalah atas tindakan Liam—Kalea berhasil mendapatkan visa studi ke London, Inggris.

"Kenzo membantu kita?" tanya Kalea tak percaya saat Aruna memberikan paspor barunya seminggu lalu.

"Dia bilang, ini satu-satunya cara supaya Liam nggak bener-bener jadi monster," jawab Aruna saat itu. "Kenzo tahu, kalau Liam keluar penjara dan nemuin lo hamil, dia bakal ngunci lo di mansion baru dan nggak bakal pernah lepasin lo lagi. Dia pengen lo punya pilihan hidup, Kal."

Hari yang ditentukan tiba. Jakarta sedang diguyur hujan badai, sebuah cuaca yang sempurna untuk menyamarkan jejak.

Aris yang berada di dalam mobil pengawas melihat sebuah mobil taksi berhenti di depan rumah Kalea pukul 04.00 subuh. Ia melihat Ghea dan Ziva turun, membawa kantong belanjaan besar, lalu masuk ke dalam rumah. Aris tidak curiga; ia pikir itu hanya acara menginap biasa antar sahabat.

Namun, di dalam rumah, Kalea sudah mengenakan trench coat longgar untuk menyembunyikan perutnya yang mulai sedikit membuncit. Ia memeluk Surya erat.

"Ayah yakin nggak mau ikut sekarang?"

"Ayah akan menyusul sebulan lagi lewat jalur darat ke Singapura baru terbang ke sana, Kal. Kalau kita pergi barengan sekarang, orang-orang Liam bakal langsung sadar ada yang nggak beres. Kamu pergi dulu. Fokus pada kuliahmu... dan anak itu," Surya mengusap kepala putrinya dengan sayang.

Kalea keluar melalui pintu belakang, melewati gang sempit yang becek, menuju sebuah mobil operasional kantor J-Media yang sudah menunggu di jalan besar. Sementara itu, Ghea dan Ziva tetap berada di dalam rumah, menyalakan lampu kamar Kalea dan sesekali berjalan melewati jendela agar bayangan mereka terlihat oleh Aris dari luar. Sebuah taktik pengalihan yang sempurna.

Lapas Kelas I Cipinang, Pukul 10.00 WIB.

Liam Jionel sedang duduk di perpustakaan penjara saat Aris masuk dengan wajah yang sangat pucat. Belum sempat Aris bicara, Liam sudah merasakan ada sesuatu yang salah. Detak jantungnya mendadak tidak beraturan.

"Ada apa?" tanya Liam, suaranya setajam silet.

"Nona Kalea... beliau..." Aris menelan ludah, suaranya bergetar hebat. "Beliau menghilang, Tuan."

Liam berdiri dengan sentakan yang membuat meja kayu berat di depannya bergeser. "Apa maksudmu menghilang?! Kalian mengawasinya 24 jam!"

"Taksi yang kami kira membawa teman-temannya ternyata hanya berisi supir yang dibayar. Nona Ghea dan Nona Ziva ada di dalam rumah, tapi Nona Kalea sudah tidak ada sejak subuh. Kami baru menyadarinya saat kurir makanan datang dan Nona Ghea yang keluar menerima pesanan," lapor Aris, tubuhnya gemetar menunggu ledakan amarah Liam.

Liam tidak berteriak. Ia justru terdiam, sebuah kesunyian yang jauh lebih mengerikan daripada ledakan kemarahan. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.

"Cek bandara. Sekarang!" desis Liam.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Kalea duduk di ruang tunggu keberangkatan internasional. Ia mengenakan kacamata hitam dan topi beret biru tua. Di tangannya, ia memegang paspor dengan nama "Elena Kalila". Nama barunya. Nama yang diambil dari nama ibunya.

Ia merasakan getaran halus di perutnya. Mual itu datang lagi, tapi kali ini ia tidak merasa takut. Ia mengusap perutnya perlahan.

"Kita akan mulai hidup baru, Sayang. Di tempat di mana namamu bukan bagian dari kontrak satu miliar," batinnya.

Saat pengumuman keberangkatan pesawat Emirates tujuan London terdengar, Kalea berdiri. Ia berjalan menuju gerbang keberangkatan dengan kepala tegak. Ia tahu, di belakang sana, mesin kekuasaan Jionel mungkin sedang bergerak gila-gilaan untuk mencegatnya. Namun ia sudah selangkah lebih maju.

Tepat saat ia menyerahkan boarding pass kepada petugas, ponsel di tasnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang ia kenali sebagai nomor selundupan Liam.

"Kau pikir kau bisa lari, Kalea? Langit di mana pun kau berada tetaplah langit yang sama yang kubeli untukmu. Aku akan menemukanmu."

Kalea menatap layar ponsel itu sejenak. Ia tidak gemetar. Ia justru tersenyum sinis, lalu mencabut kartu SIM-nya dan membuangnya ke tempat sampah di samping loket. Ia melangkah masuk ke garbarata, meninggalkan semua kegelapan Jakarta di belakangnya.

Dua jam kemudian, Liam Jionel mengamuk di dalam selnya. Ia membanting semua barang yang ada. Aris kembali membawa laporan terbaru yang menghancurkan sisa-sisa harapan Liam.

"Beliau sudah lepas landas dua jam lalu, Tuan. Tujuannya adalah London. Beliau terdaftar sebagai penerima beasiswa penuh dari International Journalism Fund," ucap Aris pelan.

Liam terduduk di lantai semen, napasnya memburu. Ia tertawa—sebuah tawa yang terdengar sangat gila dan hampa. "London... dia pergi ke London. Dia menggunakan kecerdasannya untuk mengalahkanku."

Liam menatap dinding selnya yang dingin. "Kau hebat, Kalea. Kau benar-benar merpati yang liar. Tapi kau lupa satu hal... aku adalah orang yang membangun sangkarmu. Dan aku tidak keberatan membakar London jika itu artinya aku bisa membawamu pulang."

Tiba-tiba, Kenzo masuk ke ruang kunjungan, menatap Liam dari balik kaca dengan tatapan penuh tantangan.

"Berhenti, Liam. Biarkan dia pergi," ucap Kenzo tegas.

"Kau membantunya, kan?" Liam menatap sahabatnya dengan mata merah penuh dendam.

"Gue membantunya karena gue pengen lo sadar, Liam. Cintamu itu racun. Kalau lo beneran sayang sama dia, biarkan dia sekolah. Biarkan dia jadi manusia lagi. Jangan jadiin dia nisan buat masa lalu lo," balas Kenzo.

Liam tidak menjawab. Ia hanya menatap Kenzo dengan kebencian yang mendalam. Di dalam otaknya, ia sudah menyusun rencana. Penjara ini hanya menahannya selama satu tahun lagi. Dan selama satu tahun itu, ia akan memastikan setiap gerak-gerik Kalea di London tetap berada di bawah radar intelijennya.

London, Musim Gugur.

Kalea keluar dari bandara Heathrow. Udara dingin musim gugur langsung menusuk kulitnya, namun ia merasa sangat segar. Ia menghirup udara London dalam-dalam. Tidak ada aroma sandalwood. Tidak ada aroma bensin terbakar. Hanya ada aroma tanah basah dan kebebasan.

Ia naik ke dalam taksi hitam khas London, menuju apartemen kecil di kawasan South Kensington yang sudah dipesan oleh pihak beasiswa. Di dalam taksi, ia membuka buku catatannya. Ia menuliskan satu kalimat di halaman pertama:

"Hari pertama menjadi Kalea yang utuh."

Ia menatap perutnya yang tertutup sweater tebal. "Kita akan baik-baik saja, Nak. Kamu akan lahir di sini, melihat dunia yang lebih luas dari sekadar ambisi seorang pria bernama Liam."

Kalea tidak tahu bahwa di sudut bandara, seorang pria berjas hujan abu-abu sedang memotretnya dari jauh dan mengirimkan fotonya ke sebuah nomor di Indonesia.

Di Jakarta, Liam Jionel menerima foto itu. Ia mencium layar ponselnya yang menampilkan wajah Kalea yang sedang tersenyum menatap langit London.

"Nikmatilah udara itu selagi bisa, Sayang," bisik Liam. "Satu tahun. Hanya satu tahun, dan aku akan datang menjemputmu... dan rahasia yang sedang kau sembunyikan di perutmu itu."

Liam menyadari sesuatu dari foto itu. Cara Kalea memegang perutnya, cara Kalea berjalan yang lebih berhati-hati... Insting predatornya akhirnya menangkap sinyal yang selama ini terlewatkan.

"Kau hamil, kan?" Liam tertawa kecil, sebuah suara yang sangat mengerikan. "Terima kasih atas hadiahnya, Kalea. Sekarang, aku punya alasan seribu kali lebih kuat untuk tidak pernah melepaskanmu selamanya."

Perang telah berpindah benua. Dari kemacetan Jakarta ke dinginnya London. Dan kali ini, taruhannya bukan lagi sekadar kontrak satu miliar, melainkan masa depan seorang anak yang lahir dari dendam dan obsesi yang tak kunjung padam. [

1
lia juliati
semoga hatinya selalu hangat oleh kalea
arilias
thor kpn cerita nya di lanjut?
arilias
masyaalloh cerita nya bagus bgt. awal awal bikin aku gregetan. dan sekarang cerita nya bikin aku penasaran sama bab selanjutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!