Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2 Lamaran
Happy reading
Hari yang dinanti tiba. Damar menepati janji. Ia datang bersama kedua orang tuanya, kerabat dekat, dan seorang tokoh agama.
Kedatangan Damar malam ini bukan untuk menemui Hawa, melainkan untuk menjemput takdir atas niat yang telah lama ia simpan. Melamar putri Janu Abimanyu. Hawa Salsabila Ramadhani atau mungkin... Hanum Salsabila Prameswari--kakak Hawa.
Jantung Hawa berdegup kencang saat Bi Ijah memberi tahu perihal kedatangan Damar beserta rombongan. Ia buru-buru berganti pakaian dan berdandan sebisanya.
"Ck, nggak bagus." Hawa berdecak pelan, melepas dress peach yang baru saja dikenakan, menggantinya dengan dress berwarna baby blue. Kemudian berputar perlahan, mematut diri di depan cermin.
Ada keraguan saat menilai penampilannya sendiri karena terbiasa mengenakan celana jeans dan atasan berupa kemeja.
Setelah deretan dress di lemarinya dicoba satu per satu, pilihan Hawa akhirnya jatuh pada maxi dress berwarna putih bersih.
Dress yang dikenakan saat ini tidak hanya membalut tubuhnya dengan sempurna, tetapi juga memancarkan kesan feminin dan manis.
Hawa menarik napas panjang, menormalkan degup jantung sebelum membawa kakinya terayun.
Percakapan serius yang mengudara di ruang utama membuat langkah Hawa tertahan. Alih-alih membaur, ia justru memilih bersembunyi di balik dinding, menahan napas sambil menyimak setiap kata yang terlontar antara keluarga Damar, kedua orang tuanya, dan Hanum.
"Jadi, Nak Damar sudah mantap untuk menjadikan Hanum sebagai pendamping hidup?" Kalimat itu jatuh pelan dari bibir Janu. Namun bagi Hawa, seperti bunyi guntur yang menggelegar.
Hawa meraup udara dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan. Coba menenangkan diri. Berharap yang didengarnya itu salah.
"Iya, Om." Damar mengangguk mantap. Tidak ada keraguan yang tersirat dari sikap maupun ucap.
Dua kata yang tercetus dari bibirnya bagai ribuan tombak yang menghujam jantung.
Tubuh Hawa bergetar, air mata jatuh tanpa suara.
Sakit. Bahkan... teramat sangat sakit, hingga tak bisa diutarakan dengan rangkaian kata.
"Allah," bisik Hawa lirih sambil menekan dadanya yang terasa sesak. Berusaha menguatkan hati, menerima kenyataan pahit yang tidak pernah terbayangkan olehnya.
Kamu bodoh, Hawa. Sangat bodoh. Bisa-bisanya berpikir... Damar mencintaimu. Nyatanya, yang dilamar Damar bukan kamu kan? Tapi Kak Hanum.
Batin Hawa mencaci. Merutuki dirinya yang terlalu bodoh mengartikan perhatian Damar selama ini.
Bukan cinta, hanya sebatas kasih sayang seorang sahabat.
Tawa memenuhi ruang utama, mengiringi percakapan dua keluarga yang tengah berembug memilih tanggal pernikahan Damar dan Hanum.
Tidak ada yang menyebut nama Hawa, terlebih memintanya bergabung di sana. Mereka terlupa, ada anggota keluarga yang belum duduk bersama. Atau mungkin... sengaja.
Dunia Hawa seakan runtuh.
Mimpi indahnya luruh.
Pupus sudah keinginannya untuk merangkai kisah cinta terindah bersama lelaki yang berhasil menempati ruang rasa.
Damar yang selalu menjadi pemeran protagonis, kini mengambil peran antagonis di hidup Hawa. Begitu juga keluarganya.
Hawa merasa terasing dan dicampakkan oleh orang-orang yang dikasihi.
"Non, nggak ikut nimbrung?" sapa Ijah sambil menepuk pelan bahu Hawa.
Hawa menggeleng pelan. Menyeka air mata, lalu perlahan memutar tubuhnya.
"Aku lagi nggak enak badan, Bi," ujarnya beralasan.
"Bibi buatkan teh hangat ya?" Ijah menatap khawatir.
"Nggak usah, Bi. Aku mau ke minimarket. Beli obat."
"Bibi temani..."
"Bibi di sini aja. Aku nggak lama kok. Lagian, masih ada tamu yang harus dijamu."
"Beneran, Non Hawa nggak pa-pa ke minimarket sendiri?"
"Iya, Bi." Hawa mengulas senyum, lantas segera berlalu dari hadapan Ijah. Menyeret paksa kakinya yang terasa lunglai.
Menepi, hanya itu yang diinginkan Hawa saat ini.
Meski ia tidak bercerita, tapi raut wajahnya terbaca oleh Ijah--asisten rumah tangga yang merawatnya sejak kecil.
"Oya, Hawa di mana, Om? Kenapa, dia tidak ikut duduk di sini?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Damar, tepat setelah tanggal pernikahannya dengan Hanum disepakati oleh kedua keluarga.
Atmosfer yang menyelimuti seisi ruang seketika berubah.
Hening turun. Namun hanya sesaat.
Janu mengerutkan dahi. Batinnya merutuki diri karena terlupa memanggil Hawa untuk turut duduk bersama.
"Ya Allah, Yah... Bunda benar-benar lupa memanggil Hawa," bisik Gistara penuh rasa sesal.
Sama seperti bundanya, Hanum pun dihinggapi rasa sesal.
Harusnya tadi, ia menghampiri Hawa terlebih dulu sebelum menemui para tamu.
"Om..." Damar kembali mengeluarkan suara. Menuntut jawaban yang belum juga diberikan.
"Hawa... mungkin sedang mengerjakan skripsinya di kamar. Biar Bi Ijah yang memanggilnya," tutur Janu tenang.
"Bagaimana... kalau Hanum saja yang memanggil Hawa, Yah?" Hanum menyahut.
Janu mengangguk pelan, menyematkan senyum tipis di bibir, mempersilahkan Hanum untuk memanggil Hawa.
Tanpa membuang waktu, Hanum segera membawa tubuhnya beranjak dari sofa dengan sikap yang anggun dan sopan. Berjalan dengan langkah teratur menuju kamar Hawa yang berada di dekat taman belakang.
"Dek, kamu sudah tidur belum?" tanyanya sembari mengetuk pintu kamar.
Tidak ada jawaban.
Hanum berinisiatif mendorong pintu itu, memastikan Hawa sudah tidur atau mungkin masih berkutat dengan skripsinya.
Rupanya pintu terkunci.
Ia meyakini Hawa sudah terlelap. Adiknya itu pasti kelelahan setelah bergelut dengan revisi skripsi kedokterannya yang menguras energi.
Hanum menghela napas, memutar tumit, lalu membawa ayunan kaki kembali ke ruang utama.
Ijah hanya menyapa ketika Hanum berjalan melewatinya. Ia tidak bertanya, apalagi memberi tahu bahwa Hawa sedang tidak berada di dalam kamar.
Wanita paruh baya itu paham apa yang tengah dirasa Hawa saat ini, sebab hanya pada dia lah Hawa mengutarakan perasaannya terhadap Damar.
.
.
Hawa berjalan tak tentu arah membawa lara dan air mata.
Kakinya terayun pelan, melewati jalanan sepi.
Bibir bungkam. Namun batinnya tak henti merutuki diri.
"Allah, kenapa sesakit ini?" monolognya lirih sambil memeras kelopak mata dan memegangi dada yang semakin terasa sesak.
Tidak ada makhluk yang mendengar, apalagi peduli dengan rasa sakit yang tengah mendera.
Langkah Hawa terhenti begitu kakinya menginjak rumput Taman Bakung.
Sepi
Sunyi
Tidak ada satu orang pun yang berada di taman itu. Hanya ada hewan malam--jangkrik dan kunang-kunang.
Perlahan, Hawa mendaratkan tubuhnya di gazebo, menyandarkan kepala pada tiang, menatap hampa rupa rembulan.
Air matanya kembali mengalir. Luruh menimpa bumi.
"Dam, kenapa kamu tega ngelakuin ini? Mestinya... kamu nggak usah terlalu baik dan perhatian sama aku."
Atensi Hawa beralih pada cincin pemberian Damar. Ia menatap getir. Logam berwarna silver itu masih melingkar sempurna dan terlihat cantik, sangat kontras dengan hatinya yang kini sedang hancur berantakan.
"Salahku di mana? Apa sinyal cinta yang sering kamu tunjukkan cuma halusinasiku?"
Hawa tak kuasa menahan isak.
Ia duduk meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri yang bergetar, luapkan segala rasa yang menyiksa jiwa.
Bayu berhembus pelan mengiringi ayunan kaki seorang Adam bermata teduh.
Dia... Dzaki Ramadan Bagaskara. Teman-teman kampus memanggilnya 'Rama'.
"Hawa," sapanya, selembut angin yang berusaha menenangkan badai.
Di hadapannya, Hawa adalah semesta yang sedang luruh. Ia ingin sekali menawarkan sentosa lewat dekapan, namun tangannya terkunci oleh etika. Ia tahu benar, memuliakan Hawa berarti menjaga jarak; karena wanita itu bukan mahram yang boleh ia sentuh semaunya.
🌹🌹🌹
Bersambung
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
upps..belum apa² dah komen