Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..
Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekhawatiran orang tua Seno
"Kamu sudah bertemu Seno?" Tanya salah satu pria yang berada di tongkrongan yang hanya ada empat orang itu.
"Tidak, orang tuanya bilang dia sedang tidak sehat." Jawab satunya.
"Tidak sehat bagaimana? Sudah seminggu ini dia tidak datang ke tongkrongan," sahut pria kedua. Pandangannya lurus menatap aspal jalanan yang sepi.
"Kalian dengar tidak? Kemarin malam Ustadz Sakari dipanggil ke sana. Seno, dia teriak-teriak seperti orang tidak waras."
Pria yang bertanya pertama kali terdiam sejenak, lalu mendekatkan kursinya.
"Dengar darimana?" Tanya salah pria ketiga.
"Tami yang bilang, suara Seno terdengar sampai rumahnya." Ujar pria itu menyebut nama sepupunya.
"Jangan-jangan... Seno..." Namun pria dua itu tidak melanjutkan ucapannya. Dia sempat berpikir jika mungkin itu berkaitan dengan kematian Aning.
Yang lain, tentu saja mengerti arah pembicaraan yang terputus itu.
"Sudah! jangan bicara sembarangan," gumam pria keempat sambil menyulut rokoknya.
"Seno cuma sakit biasa. Jangan sangkut pautkan dengan yang sudah mati." Ujarnya lagi.
"Tapi... Kematian Sapri dan Herman.."
"Jangan bicara sembarangan! Kematian Sapri dan Herman tidak ada kaitannya dengan kematian perempuan itu!" Ujar pria keempat.
"Jangan sangkut pautkan lagi!" bentak pria keempat. Lain yang pun menjadi diam, tak berani lagi berbicara mengungkit kejadian itu.
Di tempat lain, di kediaman Pak Sugeng, Seno duduk meringkuk di sudut ruangan, memeluk lututnya hingga persendiannya terasa kaku. Matanya kini tampak mengerikan, lingkaran hitam tebal mengelilingi kelopak matanya yang sembap karena tak pernah benar-benar terlelap selama berhari-hari. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, meski hanya sedetik, sosok itu sudah menunggu di balik kelopak matanya. Bahkan, saat dia tertidur pun sosok itu mengejarnya hingga ke dalam mimpinya.
Sosok itu mengejarnya dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Seno akan terbangun dengan napas tersengal, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dan rasa sakit yang menusuk di bagian leher seolah-olah ada tangan tak kasatmata yang baru saja melepaskan cekikannya dari leher Seno.
"Pergi... Kumohon pergi..." rintih Seno dengan suara yang nyaris hilang.
Ucapan itu terus berulang kali dia ucapkan.
"Bagaimana ini Pak, Seno belum ada juga perubahannya." Ujar Bu Ranti pada suaminya dengan rasa khawatirnya yang berat.
"Bapak juga tidak tahu Bu. Nanti kita coba bicara lagi dengan Pak ustadz. Siapa tahu dia punya jalan keluarnya." Pak Sugeng mengusap wajahnya yang kuyu, dia juga tidak tahu sakit apa yang sedang di derita oleh anak bujangnya itu.
Pak Sugeng terdiam lama, matanya menatap nanar ke arah pintu kamar Seno yang masih tertutup rapat.
"Apa Bapak tidak merasa aneh?" Bu Ranti berbisik.
"Seno... dia seperti ketakutan pada sesuatu yang tidak bisa kita lihat.
Pak Sugeng menghela napas berat. Karena dia sendiri tidak bisa memastikan apa yang terjadi dengan Seno sebenarnya.
"Bu, besok pagi-pagi sekali, Bapak akan ke rumah Ustadz Sakari lagi. Kita tidak bisa diam saja melihat Seno perlahan-lahan kehilangan akal sehatnya," ujar Pak Sugeng mantap.
Tepat setelah kalimat itu terucap, terdengar suara gubrak! yang keras dari dalam kamar Seno. Seperti lemari kayu besar yang tumbang menghantam lantai. Pasangan suami istri itu tersentak berdiri. Tanpa pikir panjang, Pak Sugeng berlari dan mencoba mendobrak pintu kamar anaknya.
"Seno! Buka pintunya, Le! Seno!" teriak Pak Sugeng sambil menghantamkan bahunya ke pintu.
Dan, saat pintu kamar itu terbuka. Terlihat lemari yang terbuat dari kayu jati sudah menimpah tubuh Seno.
"Le! Seno!!!" Teriak Bu Ranti yang berlari menghampiri Seno, begitu pun dengan Pak Sugeng.
"Cepat, Pak! Angkat!" teriak Bu Ranti histeris melihat tubuh Seno yang tertindih lemari kayu tua itu. Dengan sisa tenaga yang ada, Pak Sugeng dan Bu Ranti mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk mengangkat beban berat tersebut. Otot-otot lengan Pak Sugeng menegang hingga bergetar hebat saat lemari itu perlahan terangkat.
Begitu lemari berhasil digeser, Bu Ranti langsung menarik tubuh Seno ke dalam pelukannya. Seno tampak lunglai, napasnya tersengal-sengal dengan wajah yang pucat pasi.
"Ya Allah, Le... ini Ibu," bisik Bu Ranti sambil terisak. Pak Sugeng terduduk lemas di lantai, napasnya memburu, matanya menatap nanar pada lemari yang jatuh.
"Bu, sepertinya kita harus bawa Seno ke orang pintar." Ujar Pak Sugeng akhirnya memutuskan. Beberapa hari ini dia memang punya pemikiran itu. Tapi, dia menahan diri. Karena dia mengira mungkin Seno hanya sakit biasa saja.
"Bagaimana dengan Pak ustadz?" Tanya Bu Ranti, bukankah suaminya itu berniat besok pagi akan memanggil Ustadz Sakari kerumah mereka.
"Nanti saja Bu, sebaiknya kita bawa saja dulu Seno keorang pintar." Ujar Pak Sugeng. Pak Sugeng mengusap wajahnya yang kuyu dengan telapak tangan yang masih bergetar sisa mengangkat lemari tadi. Keputusannya sudah bulat.
Saat, mengangkat lemari tadi, Pak Sugeng melihat sesuatu. Seperti rambut, namun saat dia mencoba melihat dengan lebih jelas, rambut itu sudah hilang.
"Bapak merasa ini bukan sekadar gangguan jin biasa, Bu," bisik Pak Sugeng, suaranya berat dan penuh keraguan.
"Pak Ustadz memang orang alim, tapi urusan seperti ini, tidak ada salahnya jika kita mencoba pengobatan lain. Bapak kenal seseorang di desa seberang, Mbah Sanur, kata orang-orang, dia itu sakti mandraguna."
Bu Ranti terdiam, matanya menatap nanar ke arah Seno yang mulai meracau dalam tidurnya. Hatinya bimbang. Sebagai orang beriman, dia tidak ingin mendatangi orang seperti itu, tapi melihat kondisi putranya yang kian kritis, rasa takut kehilangan anak satu-satunya mengalahkan segalanya.
"Ya sudah, Pak, kalau itu memang jalan terbaik untuk keselamatan Seno. Ibu ikut saja. Ibu sudah tidak tahan melihatnya menderita seperti ini," Kata Bu Ranti dengan suara parau, pasrah pada keadaan. Air matanya jatuh melihat anak satu-satunya menjadi seperti itu. baginya, nyawa putranya kini di atas segalanya.
Pak Sugeng mengangguk mantap.
"Besok pagi-pagi sekali Bapak berangkat ke rumah Mbah Sanur. Ibu di rumah saja, jangan lepas pengawasan dari Seno. Jangan biarkan dia sendirian, sedetik pun."