"Jeny? Siapa Jeny? " tanya Gilang dengan kening berkerut.
"Itu, si Karateka cantik kampus kita. Yakin nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu?"
Alis Gilang terangkat sebelah, mencoba menerka perempuan mana yang di maksud Aris, sahabatnya.
"Kamu lagi ngejar dia kan? Jangan mengelak, ada saksi mata yang lihat kamu jalan bareng dia kemarin siang di gang belakang kampus, " ejek Aris lagi terkekeh.
"Oh, cewek itu namanya Jeny? Siapa yang ngejar dia? Kenal juga nggak, " sungut Gilang.
Gilang Putra Candra, mahasiswa semester 4 andalan Universitas Gama dalam setiap lomba karya tulis nasional tak sengaja bertemu dengan Jeny Mau Riska Atlit Karate-Do sabuk hitam yang juga mahasiswi semester 4 Universitas Gama di gang belakang kampus.
Pertemuan tak sengaja itu, perlahan menjadi rumor di kalangan mahasiswa angkatan mereka.
Akankah rumor itu menjadi awal rahasia mereka?
Ikuti kisah mereka dalam RAHASIA DUA BINTANG KAMPUS
Kisah ini hanya fiktif. Kesamaan nama, lokasi hanya kebetulan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji
Jeny terduduk lelah di teras. Meski begitu, ada rasa kepuasan membuncah di hatinya. Baru kali ini ia benar-benar tidak merasa ragu untuk melawan.
Selama ini rumor hanya ia tanggapi seperlunya. Tuduhan pencuri yang menghebohkan waktu lalu, dia juga tak banyak bicara. Tapi kali ini, semua memang sudah kelewat batas.
Untung saja rekan-rekannya yang dulu sempat terpengaruhi rumor sampai memboikotnya sekarang berbalik mendukung. Bahkan mereka rela tak masuk kelas demi berdiri di depan gedung aula pertemuan memegang poster dukungan untuknya.
Jeny menatap foto dan video yang di kirim dojo. Kali ini dojo mereka makin solid. Ternyata kasus ini menyatukan mereka dan menunjukkan pada mahasiswa lain kalau karate-do Universitas Gama tidak bisa diremehkan.
Rahmi menghampiri Jeny yang masih duduk di teras menatap layar ponselnya.
"Bagaimana Jen? "
"Lancar, Nek. Coba lihat, teman-teman karateka mendukung Jeny."
Jeny menunjukkan layar ponselnya yang masih menyala. Rahmi tersenyum penuh haru dan rasa bangga.
"Kamu hebat, Jeny. Kalau mamamu tahu soal ini, dia juga pasti bangga."
"Iya, Nek. Tapi, Jeny nggak mau mama kepikiran di sana. Jadi, cukup rahasiakan aja ya, Nek. "
Jeny menatap Rahmi dengan mata memohon. Rahmi akhirnya mengangguk setuju.
"Gilang sudah menelpon mu? "
Jeny menggeleng, "Kata Erwin dia ada jadwal presentasi Jurnalnya, Nek. Biarkan saja, Jeny tidak mau mengganggunya."
"Ya sudah, makan dulu. Nenek siapkan makanan kesukaan mu."
Jeny membelalak, "Ini perayaan, Nek? Nenek seperti tahu saja aku akan berhasil, " goda Jeny.
"Nenek tahu, yang kamu perjuangkan itu kebenaran. Kebenaran pasti akan menemukan jalannya."
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Menikmati makan siang bersama merayakan keberhasilan Jeny menuntut keadilan untuk dirinya.
***
Ayu duduk santai di sofa ruang kerja suaminya di Fakultas Ekonomi. Halim tengah sibuk menerima telpon dari ketua yayasan sejak beberapa menit yang lalu.
"Baik, Pak. Saya mengerti. Siap, Saya ikut arahan. Terima kasih, Pak Burhan."
"Kenapa, Pa? Tumben ketua yayasan langsung hubungi Papa. Biasanya lewat pak Hatta."
"Pak Burhan, minta Papa jadi PjS selama pak Hatta di periksa."
Ayu tercengang, matanya membola tak percaya.
"Papa yakin? "
Halim mengangguk, tapi tak ada senyum kebahagiaan di sana. Pikirnya itu beban berat, meski Hatta sudah mempersiapkan dirinya untuk mengisi posisi itu kalau Hatta pensiun nanti.
"Kenapa Papa terlihat nggak suka dengan keputusan itu? " tanya Ayu penasaran.
Ia bangkit dari sofa dan duduk di kursi depan meja kerja Halim. Tubuhnya sedikit mencodong menatap suaminya lekat.
"Bukan tak suka, cuma jalannya ke kursi itu yang Papa khawatirkan. Menggantikan pak Hatta yang terjerat kasus, pasti dia akan minta bantuan ku untuk mendukungnya."
Tak lama ponselnya berdering. Benar saja dugaannya, pak Hatta menelponnya sekarang. Halim menata Ayu dengan cemas.
"Halo, Selamat siang Pak Hatta, " jawabnya.
"Pak Halim, Saya sudah banyak membantu Anda. Sekarang saatnya anda membalas budi itu. " Suara Hatta terdengar parau dan putus asa.
" Pak Hatta, saya bisa berbuat apa dengan situasi ini. Bukti laporan Jeny sangat kuat, yayasan sudah memeriksanya bahkan sampai ke Dojonya untuk memeriksa kevalidan Video CCTV. Orang suruhan Putra sulung anda memang terlihat jelas di video itu."
"Terserah Anda, Pak. Setidaknya bujuk Jeny untuk menyelesaikan dengan jalur kekeluargaan. Saya siap keluar uang banyak untuk membayar ganti rugi. Tak masalah Mona tak melanjutkan kuliahnya di sana dan pindah ke kampus lain, tapi setidaknya jangan ganggu posisi saya. Saya ingin pensiun dengan tenang tidak dengan cara seperti ini."
Halim memijat pelipisnya yang menegang, Ayu tak kalah cemas melihat ekspresi itu.
"Saya akan usahakan, Pak Hatta. Tapi... saya tak berani menjamin cara ini berhasil. Jeny cukup sering mendapat perlakuan buruk dari Mona itu memang sudah keterlaluan. Bahkan ada akun anonim yang mengirim rekaman suara Bapak menyuruh untuk membatalkan berkas usulan calon mahasiswa pertukaran yang lain dan hanya menyetujui berkas Mona."
"Apa?? Rekaman?? Kenapa aku tidak tahu soal itu?? "
"Baru saja pak di terima ketua yayasan. Bahkan banyak laporan tambahan. Korban-korban bulying lain yang dilakukan Mona mulai speak up ke grup-grup chat kampus. Situasinya memang berat pak Hatta."
"Halim.. aku sudah membantumu menyelesaikan kasus Galang sepuluh tahun lalu, apa aku harus membongkarnya sekarang ? "
"Pak Hatta, kenapa Anda begini? Bukannya Anda sepakat menghancurkan semua bukti saat itu? "
"Yah, saya tidak bodoh. Tentu saja saya harus mengantisipasi kejadian seperi ini. Pokoknya Saya percayakan pada Anda Halim. Maksimalkan posisi itu untuk membalas budi. Saya tunggu kabar baik darimu."
TUTUTUTUT
Halim menghela nafas berat dan panjang.
***
Denting jam terasa nyaring di malam yang sunyi. Sinar bulan merangsek masuk melalui sela-sela jendela. Malam itu tak turun hujan, tapi anginnya cukup kuat menyelinap masuk lewat celah jendela.
Jeny duduk di sisi ranjang dengan ponsel di telinga kanannya. Sudah lima belas menit ia bicara lewat telpon.
"Kamu tenang saja, aku dapat kabar besok dia di . Meski aku ikut malu, tapi itu memang pantas ia terima."
"Entah bagaimana nanti, setidaknya saat ini aku lega, Lang. Terima kasih ya, sudah meyakinkan papamu."
"Itu bukan apa-apa. Oh ya Hari ini, presentasi jurnalisku tentang Inclusion and Social Caste disetujui oleh para examiner. Nilainya memuaskan, Jen! Mereka bilang riset ini sangat mendalam. Profesor-profesor di sini memberiku jalur percepatan. Aku optimis, aku nggak perlu nunggu setahun. Mungkin dalam tiga atau empat bulan, aku sudah bisa sidang akhir dan pulang."
Jeny tertegun. "Tiga bulan? Cepat sekali..."
"Kenapa? Kamu nggak senang aku pulang cepat?" goda Gilang.
"Bukan begitu... cuma..."
Jeny menggigit bibirnya, wajahnya mendadak panas. "Aku belum siap."
"Belum siap buat apa?"
"Belum siap... ketemu kamu lagi. Rasanya aneh. Selama ini kita cuma lewat suara, lewat pesan. Kalau nanti kamu di depanku, aku takut aku malah mendadak lupa cara bicara," aku Jeny jujur, suaranya mengecil.
Gilang terdiam sejenak. Nuansa di antara mereka berubah dari diskusi serius menjadi sesuatu yang jauh lebih intim dan lembut. Suara angin Finlandia terdengar samar di latar belakang telepon.
"Jen," panggil Gilang pelan.
"Aku mau pulang cepat bukan cuma karena urusan ijazah. Ada hal yang mau aku bicarakan langsung, di depanmu, sambil menatap matamu. Hal yang nggak bisa disampaikan lewat sinyal internasional atau layar ponsel."
Jeny merasa jantungnya berpacu. "Soal apa?"
Gilang menghela napas panjang.
"Aku mau berhenti jadi rahasia, Jen. Aku mau berdiri di sampingmu tanpa perlu sembunyi dari Papaku atau siapa pun. Kamu mau kan, nunggu aku sedikit lagi?"
Jeny memejamkan mata. Rasa rindu yang selama ini ia tekan sekuat tenaga seolah meledak di dadanya. Perasaan yang awalnya ia kira hanya persahabatan, kini telah mengakar begitu dalam.
"Tentu, Lang. Aku pasti tunggu kamu."
Tawa semangat terdengar di seberang telpon, Jeny ikut tersenyum.
"Oke, Aku tutup dulu ya, aku harus segera ke perpustakaan buat selesaikan bab terakhir. See you soon."
"Iya, Lang. See you."
Setelah telepon tertutup, Jeny tetap mematung. Rasa penasaran tentang apa yang akan dikatakan Gilang secara langsung membuatnya gelisah sekaligus bahagia. Jeny merasa kasta sosialnya bukan lagi sebuah tembok, melainkan hanya sebuah tantangan yang siap ia lompati.