NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: KELAHIRAN SANG DEWI PERANG

​Fajar belum sepenuhnya menyingsing di cakrawala Jakarta, namun atmosfer di dalam jet pribadi keluarga Adiguna terasa lebih panas dari kawah gunung berapi. Gwen duduk di kursi utama, menatap layar hologram yang menampilkan pergerakan satelit The Hive di atas langit Asia. Di lehernya, liontin perak pemberian Elang kini bersanding dengan micro-SD merah berisi data Project Nemesis.

​Di depannya, Arthur Adiguna duduk di kursi roda elektroniknya dengan wajah yang sangat serius. "Gwen, Maximilian bukan sekadar kakekmu. Dia adalah arsitek kehancuran. Jika kau pergi ke Pelabuhan Merak, kau menyerahkan kunci terakhir padanya."

​"Ayah," Gwen memotong pelan namun tegas. Ia menatap ayahnya dengan sorot mata yang sudah tidak memiliki keraguan sedikit pun. "Jika aku tidak pergi, seluruh benua ini akan lumpuh. Ekonomi akan hancur, dan jutaan orang akan menderita. Ibu menciptakan teknologi ini untuk perdamaian, bukan untuk menjadi alat pemerasan."

​Pintu kabin jet terbuka. Elang melangkah masuk dengan langkah yang masih sedikit kaku. Kemeja hitamnya menutupi perban yang melilit dadanya, namun auranya jauh lebih tajam dari sebelumnya. Efek dari Cooling Agent biru itu ternyata memberikan semacam dorongan adrenalin pada sistem sarafnya.

​"Aku sudah menyiapkan tim elit Hendra di perimeter Pelabuhan Merak," ucap Elang. Ia berdiri di samping Gwen, tangannya secara naluriah menyentuh bahu wanita itu. "Tapi Maximilian tidak akan menunggu di darat. Kapal induk The Hive, 'The Leviathan', sudah terlihat di radar, bersembunyi di balik kabut Selat Sunda."

​Gwen berdiri, menatap Elang. "Kita akan menyerang langsung ke pusatnya, kan?"

​Elang tersenyum tipis—sebuah senyum predator. "Tentu saja. Kita tidak akan membiarkan dia menikmati teh paginya dengan tenang."

​Pelabuhan Merak, 05.30 WIB.

​Kabut tebal menyelimuti pelabuhan, memberikan nuansa mistis sekaligus mencekam. Sebuah kapal yacht hitam milik Adiguna Group membelah ombak menuju titik koordinat yang diberikan Maximilian. Di atas dek, Gwen berdiri sendirian, mengenakan jubah panjang hitam yang menyembunyikan pakaian tempur taktisnya.

​Dari balik kabut, muncul sebuah bayangan raksasa. 'The Leviathan'. Kapal induk itu tampak seperti benteng terapung yang mustahil ditembus. Helikopter-helikopter patroli berputar di atasnya seperti lalat yang haus darah.

​"Gwen Adiguna... selamat datang di akhir dari awal," suara Maximilian menggelegar melalui pengeras suara kapal induk.

​Sebuah jembatan mekanis terulur dari The Leviathan ke arah yacht Gwen. Gwen melangkah dengan tenang, setiap langkahnya bergema di atas logam dingin. Di ujung jembatan, Maximilian berdiri dengan tongkat emasnya, diapit oleh Ares dan puluhan pengawal bersenjata lengkap.

​"Di mana Elang?" tanya Maximilian, matanya menyisir yacht Gwen yang tampak kosong. "Kau tidak cukup bodoh untuk datang tanpa anjing penjagamu, kan?"

​"Elang sedang menjemput kematian untukmu, Kakek," jawab Gwen dingin. Ia mengeluarkan chip merah dari sakunya. "Ini yang kau inginkan? Ambil, dan hentikan aktivasi satelit itu sekarang juga."

​Ares maju untuk mengambil chip tersebut, namun Gwen menariknya kembali. "Tidak semudah itu, Paman. Aku ingin melihat Ayah aman dulu."

​"Ayahmu sudah aman di pulaumu, Gwen. Aku tidak butuh pria lumpuh," Maximilian tertawa. "Tapi kau... kau adalah mahkota dari sistem ini. Tanpa kau sebagai operator biometrik yang hidup, Nemesis hanyalah kode mati."

​Tiba-tiba, ledakan dahsyat mengguncang bagian bawah kapal induk.

​BOOM!

​Maximilian terhuyung. "Apa yang terjadi?!"

​"Laporan, Tuan Besar! Ada penyusup dari jalur pembuangan air! Mereka menggunakan diver propulsion vehicles!" teriak seorang pengawal lewat radio.

​Gwen tersenyum sinis. Jubah hitamnya ia lepaskan, menampakkan rompi anti-peluru dan dua pistol otomatis di pinggangnya. "Aku bilang kan? Elang sedang menjemput kematianmu."

​Di bagian dalam kapal induk, Elang bergerak seperti hantu maut. Ia tidak menggunakan senjata api agar tidak memicu alarm lebih awal. Dengan sepasang pisau karambit, ia melumpuhkan setiap penjaga yang menghalangi jalannya menuju ruang kendali satelit.

​"Hendra, status?" bisik Elang.

​"Aku sudah meretas sistem pintu geser. Kau punya waktu tiga menit sebelum mereka mengunci total sektor reaktor," jawab Hendra dari yacht yang ternyata adalah pusat komando berjalan.

​Elang sampai di depan pintu baja raksasa. Ia menanamkan peledak plastik di engselnya.

​BZZZT... BOOM!

​Pintu itu roboh. Elang merangsek masuk, namun ia disambut oleh rentetan peluru. Ia berguling di balik konsol komputer, membalas tembakan dengan presisi mematikan.

​Di ujung ruangan, Viper berdiri. Wajahnya penuh bekas luka baru, dan matanya merah karena amarah. "Kau tidak tahu kapan harus mati, hah?!"

​"Aku tidak bisa mati sebelum melihat kepalamu terpisah dari tubuhmu, Viper!" Elang menerjang.

​Pertarungan jarak dekat kembali pecah. Kali ini, Elang tidak menahan diri. Setiap serangan Viper ia tangkis dengan gerakan efisien, dan setiap serangan baliknya bertujuan untuk membunuh. Elang menggunakan kelebihan energi dari Cooling Agent untuk bergerak lebih cepat dari biasanya.

​Pisau karambit Elang menyayat paha Viper, lalu dengan gerakan berputar, ia menusukkan pisau lainnya ke bahu musuhnya. Viper meraung, mencoba menusuk perut Elang, namun Elang menangkap tangan Viper dan mematahkannya dengan satu entakan kuat.

​"Ini untuk keluargaku!" Elang menghantamkan lututnya ke wajah Viper, lalu melemparkannya ke arah layar monitor utama.

​Viper terkapar, tak berdaya di antara percikan listrik kabel yang putus. Elang segera memasang perangkat peretas Hendra ke server utama satelit.

​Kembali ke dek kapal, Maximilian tampak murka. "Bunuh dia! Sekarang!"

​Para pengawal melepaskan tembakan ke arah Gwen. Namun, Gwen bukan lagi gadis yang hanya bisa menangis. Ia berguling di balik peti kemas, menembak balik dengan akurasi yang mengejutkan. Ia menggunakan pengetahuan tentang struktur kapal yang ia pelajari semalam untuk menjebak para pengawal di area sempit.

​"Ares, lakukan sesuatu!" perintah Maximilian.

​Ares mencoba melarikan diri menuju helikopter pelarian, namun Gwen sudah membidiknya. "Paman, kau tidak akan pergi ke mana pun!"

​DOR!

​Peluru Gwen mengenai kaki Ares, membuatnya jatuh tersungkur di atas dek yang miring.

​Di saat yang sama, suara Elang terdengar melalui pengeras suara kapal induk—dia telah menguasai ruang kendali. "Gwen, sistem satelit sudah dalam kendaliku! Aku akan memulai prosedur penghancuran diri kapal ini! Kau harus keluar sekarang!"

​Gwen menatap Maximilian yang kini tampak sangat tua dan rapuh di tengah kekacauan. "Kakek, imperiummu sudah berakhir. Ibu dan Ayah menang."

​Maximilian menatap kapal induknya yang mulai terbakar. Ia tertawa gila. "Jika aku tenggelam, maka rahasia Adiguna akan ikut tenggelam bersamaku!"

​Maximilian mencoba menekan tombol detonator manual di tongkat emasnya, namun sebuah tembakan jitu dari kejauhan mengenai tangannya. Itu adalah tembakan sniper dari Hendra di atas yacht.

​Gwen berlari menuju tepi dek, di mana sebuah helikopter penyelamat yang dipiloti Arthur (dengan bantuan sistem auto-pilot khusus) mulai mendekat. Elang muncul dari pintu keluar darurat, tubuhnya penuh jelaga namun matanya bersinar saat melihat Gwen aman.

​"Ayo!" Elang menarik tangan Gwen.

​Mereka melompat ke arah helikopter tepat saat ledakan berantai menghancurkan The Leviathan. Kapal induk kebanggaan The Hive itu mulai tenggelam ke dasar Selat Sunda, membawa serta Maximilian dan ambisinya yang gila.

​Epilog: Satu Bulan Kemudian.

​Mansion Adiguna telah sepenuhnya diperbaiki. Taman yang dulunya menjadi medan perang kini kembali asri dengan bunga-bunga mawar merah yang mekar sempurna.

​Gwen berdiri di balkon, mengenakan gaun putih sederhana. Di sampingnya, Arthur Adiguna tersenyum, meski masih di atas kursi roda, ia tampak jauh lebih sehat. Adiguna Group kini telah dibersihkan dari seluruh pengaruh The Hive dan dialihkan menjadi yayasan teknologi kemanusiaan.

​Elang berjalan mendekat, mengenakan kemeja santai. Ia tidak lagi memakai lencana pengawal. Ia adalah mitra, kekasih, dan belahan jiwa Gwen.

​"Semua agen The Hive di Asia sudah ditangkap, Gwen. Dan chip di jantungku... Dokter Aris berhasil menonaktifkannya tanpa merusak sistem sarafku. Aku benar-benar bebas sekarang," ucap Elang sambil memeluk pinggang Gwen dari belakang.

​Gwen berbalik, menatap pria yang telah mempertaruhkan segalanya untuknya. "Lalu, apa rencana kita sekarang, Tuan Elang?"

​Elang mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya—sebuah cincin berlian yang berkilau di bawah sinar matahari pagi. "Aku ingin berhenti menjadi bayanganmu, Gwen. Aku ingin berjalan di sampingmu sebagai suamimu. Maukah kau menikah denganku?"

​Gwen tersenyum lebar, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Hanya jika kau berjanji untuk tidak pernah melompat dari gedung lagi tanpa seizinku."

​"Janji," Elang mencium Gwen dengan lembut, sebuah ciuman yang menandai berakhirnya badai dan dimulainya hidup baru mereka yang penuh kedamaian.

​Di kejauhan, di dasar laut Selat Sunda, sebuah lampu merah kecil di reruntuhan The Leviathan tiba-tiba berkedip sekali. Sebuah tanda bahwa mungkin, di suatu tempat di dunia, sisa-sisa The Hive masih mengawasi. Namun bagi Gwen dan Elang, mereka siap menghadapi apa pun selama mereka bersama.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!