NovelToon NovelToon
Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Bara'S Kitchen: Sepotong Kisah Di Setiap Gigitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Horor / Slice of Life / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: W. Prata

“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”

Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.

Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRIDGE - CH 12 : TAMU BERBAU MENYAN

H+1 pasca-Tragedi Black Forest Miring. Pukul 14.00 WIB.

Cuaca Kota X siang ini sedang tidak ramah. Panasnya nyengat sampai ke ubun-ubun, bikin aspal di depan ruko Bara's Kitchen terlihat seperti mengeluarkan fatamorgana.

Tapi di dalam ruko lantai satu, suasananya damai sejahtera. Kipas angin Cosmos menengok ke kiri dan ke kanan, mengusir hawa panas dengan tabah. Bara sedang duduk di kursi kerjanya, kakinya naik ke atas meja, tangannya memegang gelas plastik berisi kopi sachet yang es batunya sudah setengah mencair. Dia baru saja bangun tidur sepuluh menit yang lalu setelah hibernasi nyaris 24 jam non-stop di kasur mezzanine-nya. Badannya sudah tidak bau amis, kemeja flanelnya sudah diganti dengan kaos oblong hitam polos.

Di luar, terdengar suara Mang Ojak sedang menyikat Si Putih dengan penuh kasih sayang, bersenjatakan sabun colek dan selang air.

Semuanya normal. Terlalu normal, malah. Sampai akhirnya sebuah jeritan melengking memecah keheningan.

"MAS BARA! MAS BARAAAA!"

Lintang berlari turun dari tangga dapur lantai dua dengan kecepatan yang mengancam nyawa. Gadis berambut pink itu melompat ke anak tangga terakhir, mendarat dengan tidak estetik di depan meja Bara sambil menyodorkan layar HP-nya yang retak.

UHUK! Bara tersedak es kopi. "Apaan sih, Tang?! Ruko kebakaran?!"

"Bukan! Liat ini, Mas! Liat!" Lintang mengetuk-ngetuk layar HP-nya histeris. Matanya melotot seolah baru melihat alien turun dari UFO. "Video yang kemaren gue upload... tembus DUA JUTA VIEWS, Mas! DUA JUTA! Padahal baru sehari!"

Bara mengusap mulutnya dengan punggung tangan, lalu memicingkan mata melihat layar HP Lintang.

Benar saja. Video berdurasi satu menit yang menampilkan kekacauan acara lamaran Adrian dan atraksi terbang Bara itu meledak di TikTok. Angka likes-nya ratusan ribu. Kolom komentarnya jebol oleh netizen Indonesia yang haus keributan.

Bara membaca beberapa komentar teratas: @CintaFitri99: "Anjir, kokinya meluncur kayak pemain bola wkwkwk respect bang koki!"@SobatGhibah: "Spill nama calon lakinya! Berani-beraninya dia selingkuh dari anak Jenderal!"@KangKueKeliling: "Definisi nyawa taruhannya demi sepotong kue. Btw, kuenya miring tuh di awal."

"Liat, Mas! Engagement-nya gila banget!" Lintang jingkrak-jingkrak. "Followers akun Bara's Kitchen naik sepuluh ribu dalem semalem! Gila, kita viral, Mas! Kita bisa open endorsement teflon anti-lengket habis ini!"

"Tang," suara Bara mendadak berat dan dingin.

Lintang berhenti jingkrak-jingkrak. "I-iya, Mas?"

"Lo beneran nge-blur muka gue sama plat mobil Si Putih, kan?"

"Aman! Liat aja tuh, muka Mas Bara gue tutupin pake stiker emotikon pisang dari awal sampe akhir. Polisi Militer juga nggak bakal bisa ngelacak kita!" Lintang nyengir lebar.

Bara menghela napas panjang. Separuh lega, separuh kesal. Dia itu tipe orang (INFJ sejati) yang lebih suka bekerja di balik layar, mengurusi ragi dan takaran tepung daripada berurusan dengan sorotan publik. Tapi ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, dan video sudah masuk FYP.

"Bagus. Sekarang taruh HP lo, naik ke atas, timbang tepung terigu serba guna lima kilo sama gula pasir. Besok pagi kita ada pesanan brownies seratus box buat arisan kelurahan," perintah Bara datar. Kembali ke mode bos pelit.

"Yah, Mas... masa lagi viral disuruh nimbang tepung sih? Harusnya kita live streaming QnA gitu!" rajuk Lintang.

"Timbang tepung, Lintang. Atau share saham satu juta lo kemaren gue tarik lagi."

Kalimat sakti itu langsung membuat Lintang bungkam. Dia memutar bola matanya, mengambil apron kotornya dari cantelan, dan mulai melangkah gontai menuju tangga.

Namun, baru saja kaki Lintang menginjak anak tangga pertama...

KLINTING!

Lonceng kecil yang terpasang di atas rolling door ruko berbunyi nyaring, menandakan ada orang yang mendorong pintu kaca masuk ke dalam.

Bara tidak menoleh, matanya masih menatap layar laptopnya yang sedang membuka file Excel laporan keuangan. "Maaf, kita lagi close order buat pesanan custom hari in—"

Kata-kata Bara tertahan di tenggorokan.

Hawa di dalam ruko mendadak berubah aneh. Kipas angin Cosmos yang tadi menghembuskan udara segar tiba-tiba terasa seperti meniupkan angin dari kuburan. Suhu ruangan seolah turun beberapa derajat. Dan yang paling mencolok... ada bau yang sangat tajam menyengat penciuman Bara.

Bukan bau mentega. Bukan bau vanila. Itu bau menyan dan minyak srimpi.

Bara mengangkat kepalanya perlahan. Di depan meja kasirnya, berdiri seorang pria yang ukurannya sukses menghalangi cahaya matahari dari luar.

Pria itu tingginya mungkin nyaris 190 sentimeter, dengan bahu selebar lemari es dua pintu. Dia memakai jaket kulit hitam yang agak kekecilan, memperlihatkan lengannya yang sebesar batang pohon kelapa. Dari balik kerah jaketnya, mengintip tato naga melingkar yang tampak sangat mengancam. Kepalanya botak pelontos, dengan bekas luka melintang dari pelipis kiri hingga ke tulang pipi.

Di bibirnya terselip sebatang rokok kretek yang belum dinyalakan. Matanya menatap tajam ke arah Bara.

Lintang yang masih berdiri di anak tangga langsung membeku. Keringat dingin sebesar biji kedelai menetes di dahinya. Aura pria ini bukan aura orang mau beli donat tabur gula. Ini aura debt collector yang siap mematahkan tulang kering.

"I-Itu… Jin kah..." gumam Lintang gemetar.

Bara menelan ludah. Dia berdiri perlahan dari kursinya, menyembunyikan kalkulatornya ke dalam laci.

"Selamat siang, Bang," sapa Bara berusaha terdengar seramah mungkin, meski jantungnya mulai berdetak dengan ritme musik metal. "Ada yang bisa dibantu? Maaf, kalau nyari Mas Adrian, dia nggak tinggal di sini. Kita cuma supplier kue lamarannya doang kemarin."

Pria raksasa itu tidak menjawab. Dia melangkah maju perlahan. Sepatu bot kulitnya berderit beradu dengan lantai keramik ruko yang baru dipel.

BRAAAKKK!

Pria itu memukul meja etalase kaca dengan kepalan tangannya yang sebesar batu kali. Kaca etalase itu bergetar hebat, nyaris retak. Lintang memekik pelan dan merapatkan tubuhnya ke dinding.

Bara menahan napas. Tangannya perlahan meraba ke bawah meja, mencari pemukul kasti yang sengaja dia simpan untuk jaga-jaga.

"Gue bukan nyari Adrian," suara pria itu berat, serak, dan bergema, seolah dia berbicara dari dasar sumur. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Bara tepat di mata. Bau menyan dari jaketnya makin pekat. "Gue... nyari koki gila yang bisa nangkap kue sambil terbang."

Bara menegang. Sialan. Video TikTok Lintang benar-benar bawa petaka.

"Kalau soal video itu, itu cuma efek editing, Bang—"

"Gue butuh lu bikin sesuatu buat gue," potong pria itu tajam. Dia merogoh saku dalam jaket kulitnya.

Bara bersiap menghindar kalau-kalau pria itu mengeluarkan pistol atau pisau belati. Tapi ternyata, yang ditarik keluar adalah sebuah bungkusan koran yang diikat karet gelang.

Pria itu melempar bungkusan koran itu ke atas meja. Bruk. Suaranya berat. Karet gelangnya putus, dan isinya tumpah berhamburan.

Itu bukan senjata. Itu adalah tumpukan uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu yang lecek dan bau apak. Jumlahnya... sangat banyak. Mungkin sekitar sepuluh juta.

Mata Bara, yang tadinya dipenuhi ketakutan, mendadak berkedip. Mode Bos Pelit dan Kapitalis di otaknya langsung me-override rasa takutnya.

Bara mendehem, menetralkan suaranya, dan menyingkirkan tangannya dari pemukul kasti di bawah meja. "Sesuatu apa yang bisa saya buatkan untuk Abang... eh, maaf, dengan Abang siapa?"

"Orang-orang pasar manggil gue Bang Kobra," jawab pria itu sambil menyalakan rokok kreteknya dengan Zippo murahan. Dia menghembuskan asap ke udara. "Gue mau pesen roti."

Bara mengernyit. Preman pasar? Bau menyan? Uang gepokan lecek? Mesen roti?

"Roti manis, Bang? Atau tawar? Kita bisa bikin Roti Sobek isi daging cincang kalau—"

"Bukan roti sobek, Koki," sela Bang Kobra dengan nada tak sabar. "Gue mau Roti Buaya."

Bara terdiam. "Roti Buaya? Buat acara lamaran adat Betawi, Bang? Tapi ini Kota X. Jarang yang pesen—"

Bang Kobra kembali memukul meja, kali ini lebih pelan tapi cukup membuat Bara bungkam.

"Dengerin gue baik-baik," Bang Kobra mencondongkan wajahnya yang penuh bekas luka itu lebih dekat. Asap kreteknya menerpa wajah Bara. "Bukan buat lamaran. Gue minta Roti Buaya ukuran raksasa. Dua meter panjangnya. Harus kelihatan buas. Matanya harus merah menyala. Sisiknya harus tajem. Dan yang paling penting..."

Bang Kobra melirik ke arah luar ruko, seolah memastikan tidak ada yang menguping.

"...Di dalem perut buaya itu, kosongin. Jangan diisi cokelat atau selai. Biarin kopong. Gue punya isian sendiri yang bakal gue masukin nanti."

Bulu kuduk Bara meremang. Isian sendiri? Roti panjang dua meter? Bau menyan? Otak DKV Bara langsung menggambar skenario terburuk: Penyelundupan narkoba? Sesajen ilmu hitam? Atau buat nyembunyiin potongan tubuh?!

Bara memandang tumpukan uang di depannya, lalu memandang wajah menyeramkan Bang Kobra.

"Bang Kobra," suara Bara terdengar sangat hati-hati. "Dapur gue ini dapur bakery, bukan kebun binatang. Oven gue panjangnya cuma satu meter. Nggak muat masukin buaya dua meter."

"Itu urusan lo. Potong dua, kek. Sambung pake semen, kek. Terserah," geram Bang Kobra. Dia menunjuk tumpukan uang itu dengan ujung rokoknya. "Itu DP. Pelunasan sepuluh juta lagi besok pagi kalau rotinya kelar. Tapi kalau besok jam enam pagi rotinya nggak ada..."

Bang Kobra tersenyum miring, senyum yang lebih menakutkan daripada marah. "...Ruko lo yang bakal gue bikin rata sama aspal, dan lo yang bakal jadi isian roti buayanya."

Tanpa basa-basi lagi, Bang Kobra berbalik, melangkah keluar, dan menghilang di balik teriknya matahari Kota, meninggalkan bau menyan yang pekat di dalam Bara's Kitchen.

Bara berdiri mematung. Lintang yang sedari tadi menahan napas akhirnya bisa merosot lemas di anak tangga.

"Mas..." cicit Lintang, wajahnya seputih kapas. "Itu tadi... malaikat pencabut nyawa ya?"

Bara mengusap wajahnya kasar, menatap uang gepokan bau apak di atas mejanya. Dia sedang menghitung probabilitas antara menjadi kaya raya atau menjadi buronan polisi (atau tumbal pesugihan).

"Bukan, Tang," desah Bara pelan. "Itu tadi... dewa rezeki yang salah pergaulan."

Bara memunguti uang itu, memasukkannya ke laci, dan menguncinya rapat-rapat. Dia menatap Lintang dengan tatapan serius.

"Tang, ganti baju lo. Kita ke toko besi sekarang."

"Hah?! Toko besi ngapain, Mas?! Kan kita mau bikin roti, bukan ngebangun jembatan!"

"Oven kita nggak muat. Gue butuh plat aluminium tebal sama blowtorch las," jawab Bara sambil memakai jaketnya. "Kita bakal bikin Roti Buaya custom bongkar-pasang. Persetan sama logika masak. Ini urusan nyawa."

1
yumin kwan
kok jadi cerita horor sih.... padahal cerita keseharian dapur Bara sudah ok....
W. Prata: Wkwk sabar Kak Yumin! Ini demitnya cuma cameo bentar doang kok buat ngedorong Bara ngambil keputusan besar. Next bab udah otw balik ke kota buat ngurusin Bara's Kitchen lagi. Ditunggu kelanjutannya ya! thanks udah setia baca yaa...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!