Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Suatu pagi yang cerah di awal bulan September, Brian masih tertidur pulas, tenggelam dalam dunia mimpinya. Kenyamanan itu berakhir seketika ketika rasa sakit tiba-tiba menjalar di telinganya.
"Argh!" teriak Brian kesakitan.
Ia membuka mata dengan panik dan mendapati Amayah berdiri di samping ranjang, kedua tangannya bertolak pinggang dengan ekspresi kesal. Brian bangkit setengah sadar lalu duduk di kasurnya.
"Mengapa kau mencubit telingaku?!" tanya Brian kesal, suaranya masih berat karena baru bangun tidur.
"Karena kau susah dibangunkan. Seharusnya kau sudah bangun jam segini," balas Amayah tak kalah kesalnya.
"Tidak masalah, kan? Lagipula masih hari libur," ujar Brian santai.
"Libur?" Amayah menyipitkan mata. "Hari ini sudah mulai masuk sekolah. Kita akan menempuh pendidikan di jenjang sekolah menengah, tahu. Dan kau masih bermalas-malasan."
Brian meraih ponselnya dan mengecek tanggal. Beberapa detik kemudian, ia terdiam.
"Sial, libur terasa begitu cepat," gumamnya datar.
"Makanya kegiatanmu harus lebih produktif. Setiap hari hanya diam di kamar sambil bermain gim. Wajar saja waktu terasa berlalu begitu cepat," cerocos Amayah.
"Iya, iya, Bu," sindir Brian.
"Aku bukan ibumu," balas Amayah singkat.
Amayah lalu membuka jendela kamar, membiarkan sinar matahari dan udara pagi masuk. Namun, begitu ia membelakangi ranjang, Brian justru kembali merebahkan diri dengan santai.
"Biarkan aku tidur lima menit lagi," katanya malas.
"Tidak ada lima menit! Kau bisa melanjutkan tidurmu di sekolah nanti!" sahut Amayah tegas.
Tak punya pilihan lain, Brian akhirnya menuruti. Ia beranjak ke kamar mandi, lalu bersiap dan berpakaian.
Saat hendak menyantap sarapan, perhatian Brian justru tertuju pada celemek yang baru saja dilepas Amayah.
"Itu bukannya celemek dari hadiah ulang tahun yang aku berikan padamu tahun lalu?" tanyanya santai.
Mendengarnya, Amayah langsung tersipu. "Ya. Bukan berarti aku menyukainya, ya. Hanya saja aku memang… aku hanya ingin memakainya!"
Ia segera memalingkan wajah. "Tapi jahat sekali. Kau baru menyadarinya sekarang, padahal aku sering menggunakannya setiap hari," lanjutnya dengan nada kesal.
"Iya, iya, aku salah…" Brian mengalah tanpa perlawanan.
Namun, Amayah yang tampak marah itu justru terlihat sedikit gugup. Ia terdiam, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia memberanikan diri.
"Aku memang menyuka—"
Namun ucapannya terhenti. Brian ternyata sudah pergi ke toilet sejak beberapa detik lalu tanpa ia sadari.
Amayah terdiam. Wajahnya memanas. Ia segera menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Astaga…" gumamnya pelan, menahan malu.
---
Hari ini adalah hari dimulainya semester baru. Brian melangkah santai memasuki sekolah barunya, meskipun nama sekolah itu sebenarnya tidak berubah—yaitu "SMA Empire Heights", sekolah lanjutan opsional bagi para murid lulusan SMP Empire Heights.
Lokasinya pun masih sama, berada di dalam kompleks Empire Heights yang luasnya tampak mencengangkan jika dilihat dari udara. Dengan langkah malas khasnya, Brian melewati gerbang sekolah tanpa rasa antusias sedikit pun.
Namun, ketenangan itu buyar ketika tiba-tiba seseorang merangkulnya dengan sangat erat dari samping.
"Ugh—lepaskan!" keluh Brian kesal, tubuhnya sedikit terangkat karena tenaga orang itu.
"Hehehe, akhirnya bertemu juga dengan si raja pemalas," ejek John sambil tertawa kecil.
John kini tampak jauh berbeda dibanding tahun lalu. Tubuhnya lebih tinggi, bahunya bidang, dan otot-ototnya terlihat jelas—hasil latihan olahraga yang ia tekuni belakangan ini.
"Jangan menyentuhku, dasar maniak otot," balas Brian sebal.
"Bagaimana? Sudah siap sekolah di sini?" tanya John santai.
"Tidak. Sama sekali tidak," jawab Brian datar. "Satu-satunya hal yang aku siapkan hanyalah tempat duduk ternyaman untuk tidur."
John menggelengkan kepala. "Kau memang pantas disebut raja pemalas. Bahkan hampir semua murid menjuluki kau seperti itu."
"Jangan banyak bicara," potong Brian singkat.
Keduanya kemudian berjalan menuju aula pusat, titik utama seluruh jenjang di Empire Heights. Di sana terpampang papan mading besar berisi pembagian kelas para murid baru.
"Kenapa kau penasaran sekali?" tanya Brian kesal ketika John menyeretnya ke depan papan. "Sudah jelas kita akan satu kelas."
"Aku cuma ingin tahu saja siapa teman sekelas kita nanti," jawab John santai.
Mereka mulai menyusuri daftar nama satu per satu. Di antara deretan itu, tertera sebuah nama yang cukup familiar bagi Brian—Amayah.
Amayah, yang sejak SMP selalu berjuang di kelas D, kini berhasil satu kelas dengannya. Usahanya selama ini rupanya tidak sia-sia.
"Tuh, kan. Sekarang kau jadi tahu," ujar John sambil menyengir, jelas berniat menggoda.
Brian langsung berbalik badan. "Aku juga akan tahu begitu sudah berada di kelas," balasnya dingin.
Ia melangkah menuju pintu keluar aula, dan John pun segera menyusul.
Namun, langkah mereka terhenti ketika perhatian mereka tertarik pada seorang wanita yang baru saja masuk dari arah pintu utama.
Rambut cokelat panjang wanita itu tergerai, sedikit terbawa oleh hembusan angin pagi. Matanya berwarna biru cerah, memantulkan cahaya lembut. Ia berjalan dengan keanggunan sederhana.
Sweter turtleneck putih bersih yang dikenakannya tampak selembut awan. Di atasnya, sebuah pinafore dress berbahan korduroi hitam menjuntai hingga betis. Selain itu, ia mengenakan anting berbentuk hati di kedua telinganya, serta kalung berwarna silver yang menyerupai kupu-kupu. Gaya yang cukup minimalis itu dilengkapi kaus kaki abu-abu pendek dan sepatu platform hitam, sementara sebuah tas kulit berwarna cokelat tan tergantung di lengannya.
Brian dan John tidak berkata apa-apa. Mereka hanya melirik sekilas, lalu kembali bersikap biasa. John sudah memiliki pacar, sementara Brian memang tidak tertarik pada urusan wanita—kombinasi yang terasa sempurna.
Namun, tidak demikian dengan wanita itu.
Ia justru menoleh ke arah mereka, lebih tepatnya menatap Brian. Matanya membelalak, alisnya terangkat, dan langkahnya sempat terhenti.
"Dia…" gumamnya pelan.
---
Di kelas, Brian akhirnya mendapatkan tempat duduk yang ia inginkan—pojok belakang dekat jendela. Tempat ternyamannya sejak dulu. Ia bahkan rela meminta William secara khusus agar memberinya bangku itu.
Sementara itu, John duduk tepat di depannya, tubuhnya yang besar hampir sepenuhnya menghalangi pandangan Brian ke arah papan tulis.
"Apa kau tidak masalah kalau aku menghalangi pandanganmu?" tanya John dengan nada khawatir.
"Tidak masalah," jawab Brian santai. "Guru jadi akan lebih sulit melihatku ketika tidur."
"Kau ini memang raja pemalas," ejek John sambil menggelengkan kepala.
Brian hanya mendengus pelan. Pandangannya lalu beralih ke bangku depan, dekat pintu masuk kelas. Amayah duduk di sana, tampak sibuk sendiri dengan ponselnya tanpa berbincang dengan siapa pun.
Menyadari arah pandang Brian, John menyeringai jahil. "Sayang sekali kau tidak duduk dekat dengannya, ya."
"Siapa yang ingin duduk dekat dengannya? Berhenti mengada-ada," balas Brian kesal.
Merasa malas meladeni, Brian akhirnya merebahkan kepala di atas meja. Ia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya yang belum cukup—sesuai ‘izin’ tak langsung dari Amayah pagi tadi.
Beberapa saat kemudian, Brian terbangun mendadak karena rasa sakit menusuk di perutnya, seolah-olah ditusuk pisau.
"Argh!" teriaknya refleks.
Seluruh kelas langsung menoleh ke arahnya. Brian membeku sesaat, lalu berusaha menenangkan diri meski wajahnya terasa panas karena malu.
Dari samping kanan, terdengar suara tawa kecil. Seorang gadis yang sempat ia temui di aula menutup mulutnya sambil menahan tawa, bahkan sampai mengusap air mata di sudut matanya.
Brian menoleh dengan ekspresi datar. "Ada apa?" tanyanya.
"Maaf, maaf… maaf karena aku membangunkanmu dengan kasar," bisik gadis itu masih tertawa kecil.
Brian semakin bingung.
"Ah, karena sebentar lagi giliran kita," lanjutnya sambil tersenyum santai.
Barulah Brian menyadari keadaan sekitar. Satu per satu murid sedang maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri. Dan yang lebih mengejutkan—guru yang berdiri di depan kelas adalah William.
Brian menatapnya tajam, firasat buruk langsung muncul.
"T-terima kasih karena telah membangunkanku," ucap Brian datar.
"Sama-sama," balas gadis itu ramah.
Brian terdiam. Senyum gadis itu terasa berbeda—cerah dan tulus. Sudah lama ia tidak melihat senyum seperti itu.
Gadis itu pun berdiri dan memperkenalkan diri. "Namaku Lena Maveiira. Aku lahir di Finlandia dan sebelumnya bersekolah di Prancis. Salam kenal!"
Beberapa murid langsung bersorak kecil.
"Wah, orang Eropa! Kamu pernah ke Menara Eiffel?"
"Sering," jawab Lena santai tanpa kehilangan senyumnya.
"Aku penasaran sekali!"
Kelas pun menjadi riuh. William menepuk tangannya, membuat suasana kembali hening.
"Karena kamu murid pindahan, jika butuh bantuan, kamu bisa meminta tolong teman sekelas atau datang ke ruang saya," ujar William tenang namun tegas.
"Baik!" jawab Lena ceria.
"Selanjutnya."
Brian berdiri dari bangkunya. Tatapan murid-murid sekilas mengarah padanya, lalu segera berpaling—seolah keberadaannya tak menarik perhatian sama sekali.
"Namaku Brian Narendra. Sebelumnya bersekolah di SMP Empire Heights," ucapnya singkat dan datar. Ia langsung duduk kembali.
"Baiklah, kita akan mulai perwalian," ujar William.
Brian menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan perasaan tidak nyaman. Ia tahu, di mata banyak orang, dirinya masih dianggap pengganggu—murid yang akan kembali mendominasi peringkat satu dan menyulitkan yang lain.
Tatapannya melayang keluar jendela. Namun lamunannya terhenti ketika suara Lena kembali terdengar.
"Jadi namamu Brian Narendra, ya?" tanyanya santai.
Brian melirik sekilas. "Ya."
Lena tersenyum manis, seolah senang mengetahui namanya.
Brian bingung harus bereaksi bagaimana. Akhirnya, ia kembali merebahkan kepala dan mencoba tidur.
Beberapa menit kemudian, rasa sakit yang sama kembali menyadarkannya.
"Argh… ada apa lagi?" gerutunya kesal.
"Maaf… aku hanya kebingungan," ucap Lena dengan suara pelan.
Brian menoleh. Seluruh murid sudah membuka buku paket. Seorang guru matematika telah mulai mengajar. Hanya mereka berdua yang belum membuka apa pun.
"Aku tidak membawa buku paket," bisik Lena lirih.
"Mengapa?"
"Aku kelupaan…" jawabnya sambil menunduk.
Melihat ekspresi itu, Brian menghela napas kecil. "Baiklah, akan kupinjamkan."
"Benarkah?" Lena spontan menarik mejanya hingga menyatu dengan meja Brian, lalu memindahkan kursinya dan duduk di sampingnya.
Brian terkejut, namun membiarkannya.
"Terima kasih banyak!" ucap Lena dengan senyum tulus, matanya terpejam sebentar.
"Ini hanya hal sepele," jawab Brian datar sambil memalingkan pandangan.
Lena terdiam sesaat, lalu mengumpulkan keberanian.
"Itu… apakah kamu ingat denganku?" tanyanya ragu.
"Hah?"
Brian menatapnya serius, berusaha mengingat. "Tidak."
Lena tampak kecewa. "Sungguh?"
"Ya," jawab Brian singkat.
Namun Lena kembali tersenyum kecil. "Sebenarnya, aku ingin berterima kasih tentang kejadian di libur musim panas lalu…"
"Kejadian apa?"
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Liburan musim panas lalu, Lena berjalan santai menyusuri jalanan kota New York bersama anjing peliharaannya. Ia baru saja pindah ke kota itu, sehingga segala sesuatu masih terasa asing namun menarik baginya.
Namun, Lena sama sekali tidak menyangka bahwa anjing peliharaannya yang biasanya kalem mendadak bertingkah aneh. Tanpa peringatan, anjing itu tiba-tiba menarik tali dan berlari kencang, seolah kehilangan kendali.
"Tunggu!" seru Lena panik.
Tanpa sengaja, pegangan tali terlepas dari tangannya. Lena langsung berlari mengejar dengan segenap tenaga, tetapi kecepatan anjingnya jauh melampaui dirinya.
Keadaan berubah gawat.
Anjing itu berlari ke arah jalan raya dan hendak menyeberang tanpa menyadari sebuah truk besar yang melaju mendekat.
"Jangan pergi ke sana, Röver!" teriak Lena dalam bahasa Finlandia.
Kaki Lena mendadak lemas. Ia tersandung dan terjatuh ke aspal.
"Tidak…" bisiknya putus asa.
Di matanya, kematian anjing kesayangannya terasa semakin dekat.
Namun, di saat genting itu, seorang pria berambut hitam tiba-tiba muncul. Dengan gerakan sigap, ia berlari menerobos jalan, memeluk tubuh anjing itu erat-erat, lalu menjatuhkan dirinya ke tanah demi menyelamatkannya.
Truk itu melintas dengan bunyi rem yang memekakkan telinga.
Lena yang semula terdiam dalam kepanikan segera bangkit dan berlari menghampiri mereka. Tanpa ragu, ia memeluk anjingnya yang gemetar.
"Röver!" serunya sambil menangis haru.
Setelah memastikan anjingnya baik-baik saja, pandangan Lena beralih pada pria yang telah menolong mereka—Brian.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Lena cemas.
Saat itu barulah ia menyadari luka di lutut dan siku Brian, yang tampak cukup parah.
"Gawat, aku harus mengobatimu!" ucap Lena panik.
"Tidak perlu," jawab Brian singkat.
Tanpa menunggu reaksi Lena, Brian langsung berlari menjauh dari tempat itu.
"Hei, tunggu!" teriak Lena kebingungan.
Namun Brian sama sekali tidak menoleh. Ia menghilang begitu saja, meninggalkan Lena dengan perasaan heran dan tak terjawab.
---
"Ah… aku baru ingat," gumam Brian dengan ekspresi datarnya.
"Kenapa kamu pergi begitu saja? Padahal aku ingin mengobati lukamu," ujar Lena khawatir.
"Aku sedang ada urusan yang tidak boleh ditunda. Maaf karena mengabaikanmu," kata Brian singkat, terdengar sedikit menyesal.
Lena justru tersenyum manis. "Tidak apa-apa. Aku justru sangat berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkan anjing peliharaan kesayanganku," ucapnya ramah.
Ia lalu mendekat dan berbisik dengan nada ceria. "Aku juga senang karena kamu baik-baik saja. Ternyata kita satu kelas!"
Brian terdiam. Senyuman Lena yang cerah membuatnya terpukau—senyuman yang entah mengapa mengingatkannya pada seseorang.
Namun, tanpa disadari Lena, para siswa di sekitar mereka mulai memperhatikan. Tatapan iri dan tidak suka bermunculan.
John merasa risih melihat perhatian berlebihan yang tertuju pada Brian. Sementara itu, Amayah tampak menahan rasa cemburu saat melihat Brian berdiri dekat dengan Lena.
Brian sendiri merasa tidak nyaman. Ia memilih kembali ke tempat duduknya dan memutuskan untuk tidur. Lena hanya bisa memandang bingung, tidak mengerti mengapa suasana di sekitarnya tiba-tiba berubah.
---
Sebelum jam istirahat tiba, Brian pergi ke toilet. Ia membasuh wajahnya lalu menatap pantulan dirinya di cermin.
"Sial… kebanyakan makan pedas sampai perutku sakit. Nanti akan kuhakimi Amayah," gumamnya datar.
Ia terdiam, menatap refleksi dirinya lebih lama.
"Kalau kupikir-pikir, wanita bernama Lena itu mungkin akan menjadi ancaman terbesarku saat ini," batinnya.
"Kepopulerannya bisa memicu konflik jika dia terlalu dekat denganku. Setelah kejadian tadi, banyak murid pasti mulai memperhatikan kami, terlebih hampir semua murid di sekolah ini kenal siapa diriku," lanjutnya.
"Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum itu terja—"
Ucapan Brian terhenti.
Tiba-tiba, seorang anak perempuan berlari kencang dan tanpa sengaja menabraknya dengan keras.
"Ah—!"
Sebelum gadis itu terjatuh, Brian refleks menangkap kedua tangannya dengan erat.
Ia berhasil menahannya. "Kau baik-baik saja?"
Brian memperhatikan gadis itu sejenak, terutama di bagian rambut peraknya. "Rambutnya berantakan…" pikirnya singkat.
"M-Maaf…" ucap gadis itu gemetar.
Saat ia memberanikan diri mengangkat wajah dan menatap Brian, pipinya langsung memerah. Rasa malu semakin menjadi ketika ia menyadari tangan Brian yang hangat masih menggenggam tangannya erat.
Bersambung.
semangat terus bang!!!