NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Serangan Balik

Pagi datang tanpa peringatan. Bukan karena matahari terlalu terang melainkan karena Aruna bangun dengan rasa siap yang aneh. Tidak ada panik. Tidak ada ragu. Hanya kesadaran dingin bahwa hari ini bukan hari untuk bertahan.

Hari ini untuk menyerang. Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa detik, membiarkan pikirannya menyusun ulang semalam. Pesan ancaman. Pola akses. Kesimpulan yang tidak bisa lagi dihindari, permainan sudah masuk fase terbuka. Dan ia tidak akan menunggu giliran diserang.

Ponselnya bergetar.

Calvin:

Datang lebih awal. Kita mulai.

Tidak ada basa-basi. Tidak perlu.

Kantor masih setengah kosong ketika Aruna tiba. Lift terasa terlalu sunyi. Pantulan wajahnya di dinding logam terlihat lebih keras dari biasanya.

Ia menyadari sesuatu.

Takut masih ada.

Tapi tidak lagi memimpin.

Saat pintu ruang kendali terbuka, Calvin sudah berdiri di depan layar besar. Data bergerak seperti aliran darah digital hidup, konstan, dan penuh cerita.

“Kita punya waktu sebelum mereka sadar,” katanya tanpa menoleh.

Aruna meletakkan tasnya. “Apa langkah pertama?”

Calvin menunjuk grafik akses. “Kita tidak mencari pelaku lagi. Kita menciptakan jebakan.”

Aruna mengangkat alis. “Umpan?”

“Dokumen palsu,” jawabnya. “Terlihat penting. Terlihat sensitif. Dan mustahil diabaikan.”

Otak Aruna langsung bekerja. “Kalau mereka menggigit…”

“Kita tahu jalurnya,” lanjut Calvin.

Sunyi singkat.

Aruna mengangguk. “Lakukan.”

Dua jam berikutnya terasa seperti operasi bedah.

Setiap detail dokumen dirancang dengan presisi angka realistis, memo internal, catatan persetujuan palsu—semuanya cukup meyakinkan untuk menarik perhatian seseorang yang mengincar informasi strategis.

Aruna mengetik tanpa ragu. Tangannya stabil.

Ini bukan manipulasi. Ini perang. Saat file akhirnya diunggah ke server, Aruna bersandar sedikit.

“Sekarang?” tanyanya.

Calvin menatap jam. “Sekarang kita tunggu.”

Menunggu.

Bagian paling menyiksa dari strategi apa pun. Menit terasa lebih panjang. Setiap notifikasi membuat jantung berdetak sedikit lebih cepat. Tapi tidak ada yang terjadi.

Lima belas menit.

Tiga puluh.

Empat puluh lima.

Lalu

Ping.

Aruna dan Calvin menoleh bersamaan. Log akses menyala merah. Seseorang membuka dokumen.

Aruna memperbesar layar.

“Jalur internal,” katanya pelan.

Calvin mengerutkan dahi. “Tidak mungkin…”

Akses berpindah cepat. Terlalu cepat untuk pengguna biasa. Orang ini tahu cara menyembunyikan jejak tapi jebakan sudah aktif. Sistem mulai melacak balik. Alamat internal muncul.

Ruang administrasi lantai tujuh. Aruna merasakan adrenalin menyambar.

“Dia masih di dalam gedung,” katanya.

Calvin sudah bergerak. “Kita tangkap sekarang.”

Lantai tujuh terasa berbeda. Terlalu normal.

Beberapa staf bekerja seperti biasa, tidak sadar bahwa perburuan sedang berlangsung beberapa meter dari mereka.

Aruna menatap layar tablet kecil di tangannya. Titik akses masih aktif. Ruang arsip digital. Pintu setengah terbuka. Calvin memberi isyarat diam. Mereka masuk bersamaan.

Seorang pria berdiri di depan terminal, wajahnya membeku saat melihat mereka. Kursor di layar masih berkedip di dokumen jebakan.

Tertangkap.

Untuk satu detik, tidak ada yang bergerak.

Lalu pria itu mencoba mencabut kabel jaringan.

Terlambat.

Calvin sudah menahannya.

“Jangan,” katanya dingin.

Pria itu menelan ludah. “Saya… cuma—”

“Cuma apa?” potong Aruna.

Tatapan pria itu goyah. “Saya disuruh.”

Kalimat itu jatuh seperti batu.

Aruna mendekat satu langkah. “Siapa?”

Sunyi.

Keringat muncul di pelipis pria itu. “Aku… aku tidak bisa bilang…”

Calvin menekan bahunya sedikit lebih kuat. “Kamu sudah bilang cukup banyak.”

Pria itu gemetar.

Nama itu akhirnya keluar.

Dan saat terdengar, udara terasa lebih berat. Aruna tidak terkejut. Tapi tetap terasa seperti pukulan. Bukan orang luar. Bukan bayangan tak dikenal.

Seseorang dari lingkaran dalam. Seseorang yang punya akses… dan alasan. Aruna mundur setengah langkah. Potongan-potongan kejadian sebelumnya menyatu. Tekanan audit. Ancaman. Manipulasi.

Semua mengarah ke satu tujuan:

Menjatuhkan kendali dari dalam.

Calvin menatap Aruna. Tidak perlu kata-kata. Ini lebih besar dari yang mereka kira. Setelah pria itu diamankan, ruang kendali terasa berbeda.

Lebih sunyi.

Lebih tajam.

Aruna berdiri menatap layar kosong. Pikirannya berjalan cepat, menyusun konsekuensi.

“Ini belum selesai,” katanya pelan.

Calvin menyilangkan tangan. “Tidak. Tapi kita sekarang memegang bukti.”

“Dan musuh yang tahu kita sudah mendekat.”

Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kemenangan di sana. Hanya kesadaran bahwa perang baru saja berubah bentuk.

Aruna menghembuskan napas panjang. “Kalau dia sadar kita tahu…”

“Dia akan menyerang balik,” Calvin menyelesaikan.

Sunyi.

Lalu Aruna tersenyum tipis. Bukan senyum lega.

Senyum seseorang yang sudah siap menghadapi benturan berikutnya.

“Bagus,” katanya pelan.

Calvin mengangkat alis. “Sekarang dia harus keluar dari bayangan.”

Dan di situlah kekuatan berpindah. Bukan karena mereka menang. Tapi karena mereka memaksa permainan menjadi terbuka. Dan Aruna tahu satu hal dengan pasti. Saat kebenaran mulai terlihat,

Orang-orang yang hidup dari manipulasi akan panik.

Dan orang panik membuat kesalahan.

Ia menatap layar sekali lagi. “Besok,” katanya pelan, “kita dorong lebih jauh.”

Calvin mengangguk.

Kesepakatan tanpa keraguan.

Di luar, kota tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam gedung itu, perang diam-diam telah berubah arah.

Dan kali ini, Aruna bukan lagi target. Ia adalah pihak yang bergerak lebih dulu. Dan siapa pun yang berdiri di balik semua ini akan segera menyadari

Serangan balik sudah dimulai. Namun kemenangan kecil itu tidak membawa rasa lega.

Justru sebaliknya.

Aruna merasakan tekanan baru lebih padat, lebih sunyi. Seperti udara sebelum badai besar benar-benar pecah.

Di ruang kendali, layar kembali hidup dengan data baru. Sistem keamanan otomatis mulai menandai aktivitas tidak biasa sejak pria itu diamankan. Ada lonjakan akses yang gagal. Percobaan login dari jalur yang tidak dikenal.

“Mereka panik,” gumam Aruna.

Calvin tidak membantah. “Dan panik berarti mereka sedang mencoba menghapus sesuatu.”

Aruna langsung bergerak ke terminal utama. Jarinya menari cepat di keyboard, membuka jalur cadangan. Ia bisa merasakan detak jantungnya sinkron dengan setiap baris kode yang muncul.

“Server arsip,” katanya tegang. “Ada upaya penghapusan massal.”

Calvin mendekat. “Bisa dihentikan?”

“Bisa,” jawab Aruna. “Tapi kalau aku blok langsung, mereka tahu kita sudah mengunci sistem.”

Sunyi sepersekian detik.

Keputusan harus diambil sekarang.

“Biarkan berjalan,” kata Calvin akhirnya. “Pantau saja.”

Aruna mengangguk. Ia mengalihkan jalur penghapusan ke bayangan sistem menciptakan ilusi bahwa data sedang terhapus, padahal semuanya diamankan di server tersembunyi.

Detik berjalan lambat.

Progress bar di layar terus naik.

20%.

45%.

70%.

Keringat dingin terasa di tengkuk Aruna. Kalau mereka sadar terlalu cepat…

100%.

Layar berhenti.

Sunyi.

Lalu sistem menampilkan pesan sederhana:

Transfer selesai. Data diamankan.

Aruna menghembuskan napas panjang yang baru ia sadari telah ditahan.

“Mereka pikir berhasil,” katanya pelan.

Calvin menatap layar, lalu ke Aruna. Ada kekaguman yang tidak disembunyikan.

“Kamu baru saja mencuri balik permainan mereka.”

Aruna bersandar, otaknya masih berputar.

“Sekarang kita punya salinan lengkap… termasuk yang mereka coba hilangkan.”

Dan itu berarti satu hal, Bukti yang lebih besar dari sekadar manipulasi laporan. Jejak transaksi internal mulai muncul saat data dipindai otomatis. Nomor akun. Persetujuan tersembunyi. Jalur dana yang tidak pernah muncul di audit resmi.

Aruna merasakan perutnya mengencang. “Ini bukan cuma sabotase,” katanya lirih.

Calvin membaca layar, rahangnya mengeras. “Ini pencucian.”

Kata itu jatuh berat.

Skalanya jauh melampaui konflik jabatan. Ini menyentuh fondasi perusahaan dan siapa pun yang terlibat tidak akan menyerah begitu saja.

Aruna menatap pantulan dirinya di layar gelap. Ada ketegangan di sana tapi juga sesuatu yang lain.

Kejelasan.

“Kita sudah melewati titik aman,” katanya pelan.

Calvin mengangguk. “Sekarang hanya ada maju.”

Dan untuk pertama kalinya sejak permainan ini dimulai, Aruna tidak merasa ragu. Ketakutan masih ada. Risiko semakin nyata. Tapi kendali Ada di tangan mereka. Ia menegakkan bahu, menatap data yang kini menjadi senjata.

“Besok,” katanya tegas, “kita buka semuanya.”

Calvin tidak tersenyum.

Namun tatapannya mengatakan hal yang sama, Perang ini tidak lagi tersembunyi. Dan saat kebenaran muncul ke permukaan. Tidak semua orang akan siap menghadapinya. Tapi Aruna sudah siap. Dan kali ini ia tidak akan mundur.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!