Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Serangan Balik
Pagi datang tanpa peringatan. Bukan karena matahari terlalu terang melainkan karena Aruna bangun dengan rasa siap yang aneh. Tidak ada panik. Tidak ada ragu. Hanya kesadaran dingin bahwa hari ini bukan hari untuk bertahan.
Hari ini untuk menyerang. Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa detik, membiarkan pikirannya menyusun ulang semalam. Pesan ancaman. Pola akses. Kesimpulan yang tidak bisa lagi dihindari, permainan sudah masuk fase terbuka. Dan ia tidak akan menunggu giliran diserang.
Ponselnya bergetar.
Calvin:
Datang lebih awal. Kita mulai.
Tidak ada basa-basi. Tidak perlu.
Kantor masih setengah kosong ketika Aruna tiba. Lift terasa terlalu sunyi. Pantulan wajahnya di dinding logam terlihat lebih keras dari biasanya.
Ia menyadari sesuatu.
Takut masih ada.
Tapi tidak lagi memimpin.
Saat pintu ruang kendali terbuka, Calvin sudah berdiri di depan layar besar. Data bergerak seperti aliran darah digital hidup, konstan, dan penuh cerita.
“Kita punya waktu sebelum mereka sadar,” katanya tanpa menoleh.
Aruna meletakkan tasnya. “Apa langkah pertama?”
Calvin menunjuk grafik akses. “Kita tidak mencari pelaku lagi. Kita menciptakan jebakan.”
Aruna mengangkat alis. “Umpan?”
“Dokumen palsu,” jawabnya. “Terlihat penting. Terlihat sensitif. Dan mustahil diabaikan.”
Otak Aruna langsung bekerja. “Kalau mereka menggigit…”
“Kita tahu jalurnya,” lanjut Calvin.
Sunyi singkat.
Aruna mengangguk. “Lakukan.”
Dua jam berikutnya terasa seperti operasi bedah.
Setiap detail dokumen dirancang dengan presisi angka realistis, memo internal, catatan persetujuan palsu—semuanya cukup meyakinkan untuk menarik perhatian seseorang yang mengincar informasi strategis.
Aruna mengetik tanpa ragu. Tangannya stabil.
Ini bukan manipulasi. Ini perang. Saat file akhirnya diunggah ke server, Aruna bersandar sedikit.
“Sekarang?” tanyanya.
Calvin menatap jam. “Sekarang kita tunggu.”
Menunggu.
Bagian paling menyiksa dari strategi apa pun. Menit terasa lebih panjang. Setiap notifikasi membuat jantung berdetak sedikit lebih cepat. Tapi tidak ada yang terjadi.
Lima belas menit.
Tiga puluh.
Empat puluh lima.
Lalu
Ping.
Aruna dan Calvin menoleh bersamaan. Log akses menyala merah. Seseorang membuka dokumen.
Aruna memperbesar layar.
“Jalur internal,” katanya pelan.
Calvin mengerutkan dahi. “Tidak mungkin…”
Akses berpindah cepat. Terlalu cepat untuk pengguna biasa. Orang ini tahu cara menyembunyikan jejak tapi jebakan sudah aktif. Sistem mulai melacak balik. Alamat internal muncul.
Ruang administrasi lantai tujuh. Aruna merasakan adrenalin menyambar.
“Dia masih di dalam gedung,” katanya.
Calvin sudah bergerak. “Kita tangkap sekarang.”
Lantai tujuh terasa berbeda. Terlalu normal.
Beberapa staf bekerja seperti biasa, tidak sadar bahwa perburuan sedang berlangsung beberapa meter dari mereka.
Aruna menatap layar tablet kecil di tangannya. Titik akses masih aktif. Ruang arsip digital. Pintu setengah terbuka. Calvin memberi isyarat diam. Mereka masuk bersamaan.
Seorang pria berdiri di depan terminal, wajahnya membeku saat melihat mereka. Kursor di layar masih berkedip di dokumen jebakan.
Tertangkap.
Untuk satu detik, tidak ada yang bergerak.
Lalu pria itu mencoba mencabut kabel jaringan.
Terlambat.
Calvin sudah menahannya.
“Jangan,” katanya dingin.
Pria itu menelan ludah. “Saya… cuma—”
“Cuma apa?” potong Aruna.
Tatapan pria itu goyah. “Saya disuruh.”
Kalimat itu jatuh seperti batu.
Aruna mendekat satu langkah. “Siapa?”
Sunyi.
Keringat muncul di pelipis pria itu. “Aku… aku tidak bisa bilang…”
Calvin menekan bahunya sedikit lebih kuat. “Kamu sudah bilang cukup banyak.”
Pria itu gemetar.
Nama itu akhirnya keluar.
Dan saat terdengar, udara terasa lebih berat. Aruna tidak terkejut. Tapi tetap terasa seperti pukulan. Bukan orang luar. Bukan bayangan tak dikenal.
Seseorang dari lingkaran dalam. Seseorang yang punya akses… dan alasan. Aruna mundur setengah langkah. Potongan-potongan kejadian sebelumnya menyatu. Tekanan audit. Ancaman. Manipulasi.
Semua mengarah ke satu tujuan:
Menjatuhkan kendali dari dalam.
Calvin menatap Aruna. Tidak perlu kata-kata. Ini lebih besar dari yang mereka kira. Setelah pria itu diamankan, ruang kendali terasa berbeda.
Lebih sunyi.
Lebih tajam.
Aruna berdiri menatap layar kosong. Pikirannya berjalan cepat, menyusun konsekuensi.
“Ini belum selesai,” katanya pelan.
Calvin menyilangkan tangan. “Tidak. Tapi kita sekarang memegang bukti.”
“Dan musuh yang tahu kita sudah mendekat.”
Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kemenangan di sana. Hanya kesadaran bahwa perang baru saja berubah bentuk.
Aruna menghembuskan napas panjang. “Kalau dia sadar kita tahu…”
“Dia akan menyerang balik,” Calvin menyelesaikan.
Sunyi.
Lalu Aruna tersenyum tipis. Bukan senyum lega.
Senyum seseorang yang sudah siap menghadapi benturan berikutnya.
“Bagus,” katanya pelan.
Calvin mengangkat alis. “Sekarang dia harus keluar dari bayangan.”
Dan di situlah kekuatan berpindah. Bukan karena mereka menang. Tapi karena mereka memaksa permainan menjadi terbuka. Dan Aruna tahu satu hal dengan pasti. Saat kebenaran mulai terlihat,
Orang-orang yang hidup dari manipulasi akan panik.
Dan orang panik membuat kesalahan.
Ia menatap layar sekali lagi. “Besok,” katanya pelan, “kita dorong lebih jauh.”
Calvin mengangguk.
Kesepakatan tanpa keraguan.
Di luar, kota tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam gedung itu, perang diam-diam telah berubah arah.
Dan kali ini, Aruna bukan lagi target. Ia adalah pihak yang bergerak lebih dulu. Dan siapa pun yang berdiri di balik semua ini akan segera menyadari
Serangan balik sudah dimulai. Namun kemenangan kecil itu tidak membawa rasa lega.
Justru sebaliknya.
Aruna merasakan tekanan baru lebih padat, lebih sunyi. Seperti udara sebelum badai besar benar-benar pecah.
Di ruang kendali, layar kembali hidup dengan data baru. Sistem keamanan otomatis mulai menandai aktivitas tidak biasa sejak pria itu diamankan. Ada lonjakan akses yang gagal. Percobaan login dari jalur yang tidak dikenal.
“Mereka panik,” gumam Aruna.
Calvin tidak membantah. “Dan panik berarti mereka sedang mencoba menghapus sesuatu.”
Aruna langsung bergerak ke terminal utama. Jarinya menari cepat di keyboard, membuka jalur cadangan. Ia bisa merasakan detak jantungnya sinkron dengan setiap baris kode yang muncul.
“Server arsip,” katanya tegang. “Ada upaya penghapusan massal.”
Calvin mendekat. “Bisa dihentikan?”
“Bisa,” jawab Aruna. “Tapi kalau aku blok langsung, mereka tahu kita sudah mengunci sistem.”
Sunyi sepersekian detik.
Keputusan harus diambil sekarang.
“Biarkan berjalan,” kata Calvin akhirnya. “Pantau saja.”
Aruna mengangguk. Ia mengalihkan jalur penghapusan ke bayangan sistem menciptakan ilusi bahwa data sedang terhapus, padahal semuanya diamankan di server tersembunyi.
Detik berjalan lambat.
Progress bar di layar terus naik.
20%.
45%.
70%.
Keringat dingin terasa di tengkuk Aruna. Kalau mereka sadar terlalu cepat…
100%.
Layar berhenti.
Sunyi.
Lalu sistem menampilkan pesan sederhana:
Transfer selesai. Data diamankan.
Aruna menghembuskan napas panjang yang baru ia sadari telah ditahan.
“Mereka pikir berhasil,” katanya pelan.
Calvin menatap layar, lalu ke Aruna. Ada kekaguman yang tidak disembunyikan.
“Kamu baru saja mencuri balik permainan mereka.”
Aruna bersandar, otaknya masih berputar.
“Sekarang kita punya salinan lengkap… termasuk yang mereka coba hilangkan.”
Dan itu berarti satu hal, Bukti yang lebih besar dari sekadar manipulasi laporan. Jejak transaksi internal mulai muncul saat data dipindai otomatis. Nomor akun. Persetujuan tersembunyi. Jalur dana yang tidak pernah muncul di audit resmi.
Aruna merasakan perutnya mengencang. “Ini bukan cuma sabotase,” katanya lirih.
Calvin membaca layar, rahangnya mengeras. “Ini pencucian.”
Kata itu jatuh berat.
Skalanya jauh melampaui konflik jabatan. Ini menyentuh fondasi perusahaan dan siapa pun yang terlibat tidak akan menyerah begitu saja.
Aruna menatap pantulan dirinya di layar gelap. Ada ketegangan di sana tapi juga sesuatu yang lain.
Kejelasan.
“Kita sudah melewati titik aman,” katanya pelan.
Calvin mengangguk. “Sekarang hanya ada maju.”
Dan untuk pertama kalinya sejak permainan ini dimulai, Aruna tidak merasa ragu. Ketakutan masih ada. Risiko semakin nyata. Tapi kendali Ada di tangan mereka. Ia menegakkan bahu, menatap data yang kini menjadi senjata.
“Besok,” katanya tegas, “kita buka semuanya.”
Calvin tidak tersenyum.
Namun tatapannya mengatakan hal yang sama, Perang ini tidak lagi tersembunyi. Dan saat kebenaran muncul ke permukaan. Tidak semua orang akan siap menghadapinya. Tapi Aruna sudah siap. Dan kali ini ia tidak akan mundur.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/