NovelToon NovelToon
Beyond The Sidelines

Beyond The Sidelines

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:721
Nilai: 5
Nama Author: Mega L

Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng yang Terbuka

Matahari siang itu bersinar cukup terik, namun suasana di dalam kelas terasa jauh lebih panas bagi Tika dan Tije. Seiring berjalannya waktu, hubungan antara Vilov dan Adinda memang semakin intens. Keduanya kini sering berkirim pesan, mulai dari membahas taktik di lapangan hingga hal-hal pribadi yang membuat mereka semakin akrab. Namun, di balik kedekatan baru itu, sebuah rahasia besar tentang Putra mulai terendus ke permukaan—sebuah fakta yang akan mengguncang segalanya.

​Tika dan Tije, sebagai sahabat yang paling tahu sejarah kedekatan Vilov dan Putra, kini duduk bersila di dalam kelas dengan wajah yang memerah padam. Bukan karena cuaca yang sangat panas, melainkan karena apa yang baru saja mereka temukan di layar ponsel.

​"Gila sih ini... Ini benar-benar keterlaluan," ucap Tije dengan suara tertahan, seolah ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.

​Tika yang sedang makan jajanan sekolah itu langsung menoleh dengan dahi berkerut. "Apaan sih, Je? Muka lu kok kayak habis liat hantu gitu?" tanya Tika penasaran.

​Tije menarik napas dalam-dalam, tangannya sedikit gemetar saat menggulir layar ponselnya. "Ternyata Putra pacaran, weh! Dia punya pacar, anak hockey juga tapi dari luar kota. Dan yang paling parah... dia ngejalin hubungan itu pas dia masih deket-deketnya sama Vilov kemarin!" ucap Tije dengan nada yang meledak-ledak.

​"Ah, serius lu? Jangan asal tuduh, ntar jadi fitnah," sanggah Tika, meskipun raut wajahnya mulai menunjukkan kecemasan.

​Tanpa banyak bicara, Tije langsung menyodorkan ponselnya ke depan wajah Tika. Di sana, terpampang sebuah profil media sosial milik seorang wanita dari klub hockey kota tetangga. Tije menunjukkan sebuah postingan lama, di mana wanita itu mengunggah foto berdua dengan Putra. Foto itu tampak sangat mesra, namun yang paling menyakitkan adalah tanggal unggahannya: tanggal di mana Putra masih memberikan harapan-harapan manis pada Vilov, saat mereka masih sering pulang bersama dan bertukar pesan hingga larut malam.

​"Gila... gila... ini bener-bener gila sih!" seru Tika yang kini ikut melotot. Ia tidak menyangka bahwa Putra, sosok yang selama ini terlihat kalem, sopan, dan tidak banyak tingkah, ternyata adalah seorang pemain cinta yang sangat lihai. "Gue nggak nyangka si Putra yang kelihatannya alim gitu ternyata busuk di dalem."

​Di saat yang bersamaan, dari arah kantin, Vilov berjalan santai sambil membawa beberapa kantong jajanan. Ia tampak jauh lebih segar hari itu, belum tahu bahwa sebuah badai informasi sedang menunggunya di tribun.

​"Woy! Malah pada bengong, nih jajanan datang!" teriak Vilov dari kejauhan dengan nada ceria.

​Begitu Vilov sampai di hadapan mereka, suasana ceria itu langsung sirna. Tika dan Tije saling lirik dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Vil... Vil... lu harus liat ini sendiri. Sumpah, gila banget. Tapi lu harus janji jangan emosi ya. Untung banget lu udah ngejauh dari tuh cowok sebelum keadaan makin parah," ucap Tika sambil langsung merampas ponsel dari tangan Tije dan memberikannya kepada Vilov.

​Vilov menerima ponsel itu dengan bingung. Namun, begitu matanya menangkap gambar di layar, gerakannya membeku. Ia melihat foto Putra dengan wanita lain, melihat kemesraan mereka, dan yang paling menusuk hatinya adalah saat ia melihat timestamp atau tanggal postingan tersebut. Tanggal itu adalah hari di mana Putra pernah membawakan bunga kecil untuk Vilov setelah pertandingan persahabatan.

​"Dia... dia pacaran saat itu?" suara Vilov terdengar lirih, hampir berbisik. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Bukan karena ia masih cinta, tapi karena ia merasa betapa rendahnya ia tidak dihargai saat itu. Ia merasa seperti objek eksperimen oleh Putra.

​Namun, pikiran Vilov segera beralih. Jika Putra tega melakukan ini padanya, bagaimana dengan Adinda? "Apa dia masih pacaran sampai sekarang?" ucap Vilov. Ia memikirkan perasaan Adinda yang saat ini sedang gencar-gencarnya didekati oleh Putra. Adinda tidak boleh menjadi korban selanjutnya.

​"Nggak tahu deh, Vil. Coba lu tanya Adinda, deh. Feeling gue Adinda mungkin lebih kenal sama cewek ini dibanding kita, soalnya kan mereka sering tanding antar kota," usul Tije.

​Vilov langsung merogoh saku seragamnya, mengambil ponselnya sendiri dengan gerakan terburu-buru. Amarah mulai menguasai dirinya. Ia ingin segera mengetik pesan panjang lebar untuk Adinda, memperingatkan temannya itu, dan membongkar semua kebusukan Putra saat itu juga.

​Namun, tepat saat jari jemarinya akan menekan tombol 'kirim', ia mendadak terhenti. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang. Ia menghapus kembali semua ketikan panjang itu.

​"Enggak... jangan lewat pesan," pikir Vilov dalam hati. Masalah seserius ini tidak bisa hanya disampaikan lewat teks yang rentan disalahpahami. Ia harus melihat reaksi Adinda secara langsung dan memastikan temannya itu tidak hancur.

​"Je, kirimin gambar tadi ke gue sekarang juga," ucap Vilov dengan nada suara yang kini terdengar jauh lebih tegas dan dingin.

​"Oke, bentar gue screenshot dulu semua bukti-buktinya," jawab Tije sigap. Beberapa saat kemudian, ponsel Vilov bergetar menandakan gambar-gambar itu sudah masuk ke galerinya.

​Vilov menatap tajam ke arah kaca, di mana di ujung sana ia melihat bayangan Putra yang saat itu masih intens memberi kabar dengannya , seolah tidak punya dosa. Vilov mengepalkan tangannya. Baginya, ini bukan lagi tentang rasa sakit hatinya, melainkan tentang melindungi orang lain dari jebakan pria yang sama.

​"Gue bakal cari waktu buat ngomong empat mata sama Adinda," ucap Vilov pelan namun penuh penekanan. "Permainan Putra harus selesai di sini."

​Tika dan Tije hanya bisa mengangguk setuju. Mereka tahu, Vilov yang sekarang bukan lagi Vilov yang mudah galau karena diabaikan. Vilov yang sekarang adalah seseorang yang siap membongkar kebenaran, sekeras apa pun kebenaran itu nantinya.

Tika yang duduk di sebelahnya memperhatikan perubahan raut wajah Vilov yang semula ceria menjadi sangat serius. "Vil, lu beneran nggak apa-apa kan? Gue jadi nggak enak ngasih tau ini ke lu sekarang," ucap Tika dengan nada khawatir, takut jika sahabatnya itu kembali terpuruk dalam kesedihan.

​Vilov menggeleng pelan, ia mematikan layar ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku. "Gue nggak apa-apa, Tik. Malahan gue bersyukur. Sekarang gue punya bukti nyata bahwa insting gue selama ini nggak salah. Gue bukan cuma korban perasaan, tapi gue korban dari manipulasi cowok yang nggak punya hati," jawab Vilov dengan suara yang sangat tenang, ketenangan yang justru membuat Tika dan Tije merasa kagum.

Gue nggak mau gegabah," bisik Vilov pada kedua temannya. "Kalau gue langsung chat atau kirim gambar ini sekarang, Putra pasti bakal punya seribu alasan buat ngeles. Gue butuh waktu yang pas buat ngajak Adinda bicara pas latihan bener-bener bubar nanti. Gue mau mastiin dia nggak jatuh ke lubang yang sama kayak gue."

​Tije menepuk bahu Vilov dengan mantap, memberikan dukungan moral yang sangat dibutuhkan sahabatnya itu. "Gue dukung lu, Vil. Sumpah, gue benci banget liat cowok manipulatif kayak gitu. Kalau butuh apa-apa, atau butuh kita buat jagain situasi biar si Putra nggak ganggu pas kalian ngobrol nanti, bilang aja ke kita. Kita bakal jadi benteng buat lu."

​Vilov mengangguk pelan, tatapannya kosong namun tajam, seolah sedang menyusun skenario percakapan di kepalanya. Di dalam saku seragamnya, ponsel itu terasa berat—bukan karena fisiknya, melainkan karena beban informasi yang tersimpan di dalamnya. Gambar-gambar tangkapan layar itu seolah membakar saku celananya, menuntut untuk segera ditunjukkan kepada temannya itu. Namun, Vilov tahu bahwa kemarahan yang meledak-ledak hanya akan membuat Putra memiliki celah untuk memutarbalikkan fakta. Ia harus bersikap dingin, sistematis, dan tak terbantahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!