Maya, gadis manis yang harus mengganti identitas dan namanya setelah kecelakaan besar nyaris merenggut nyawanya.
Ia bangkit dari kematian setelah diselamatkan oleh seorang dokter yang mengangkatnya sebagai anak. Ia bersumpah untuk membalaskan dendamnya. Ia bersumpah membalaskan dendam atas kematian ayah dan juga adiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona.sv95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maya masih hidup?
Beberapa hari kemudian.
"Emmmhh," sebuah lenguhan lirih terdengar dari arah ranjang kamar ICU.
Gadis yang ditemukan Thomas sebelumnya yang tidak lain adalah Maya, kini mulai membuka matanya setelah hampir 3 hari tak sadarkan diri.
Kalimat pertama yang Maya ucapkan, adalah nama ayah dan juga nama adiknya Vello.
"A-ayah! Ve-Vello!" suara Maya terdengar begitu lirih, terus memanggil nama adiknya.
Lalu Maya mulai memperhatikan keadaan ruangan sekelilingnya yang bernuansa serba putih, dengan mata yang masih terasa berat dan kepala yang berdenyut nyeri.
Perawat yang bertugas memeriksa keadaan Maya, tersenyum sumringah saat melihat pasien yang hampir tidak selamat itu mulai siuman.
"Akhirnya, anda sadar."
Dengan tergesa, perawat memanggil dokter.
"Dokter, lihat. Gadis ini akhirnya sadar, dia sudah keluar dari lorong kematian," ujar perawat tampak bahagia.
Dokter memeriksa keadaan Maya, lalu setelahnya ia meminta perawat untuk menghubungi nyonya Louis yang menjadi penanggung jawabnya.
*
Tak lama, mobil nyonya Louis sudah tiba di depan Rumah Sakit setelah mendapatkan kabar bahagia dari dokter. Dengan tergesa ia menuju ruangan dokter andalannya, dan segera menanyakan keadaan pasien yang ia bawa.
"Bagaimana keadaan gadis itu?" tanya Nyonya Louis pada dokter yang menangani Maya, begitu tiba di depan ruangannya.
"Kondisinya belum terlalu membaik, tapi tidak separah sebelumnya yang sulit untuk sadar. Tampaknya dia mengalami trauma yang berat akibat kejadian yang menimpanya. Karena seperti dugaan kita sebelumnya nyonya, dia memang korban pelecehan dan juga korban penganiayaan! Selaput daranya pecah, tubuhnya mengalami syok berat."
"Astaga!! Malang sekali nasibnya,"lirih Nyonya Louis. "Lalu bagaimana dia sekarang? Apa sudah bisa di temui orang luar?"
"Saya rasa jika dia wanita masih sedikit aman, tapi saya tidak bisa menjamin jika dia seorang pria nyonya. Saya khawatir, jika yang menghampirinya seorang pria itu akan memicu ketakutan dalam dirinya!" ungkap dokter tersebut.
"Baiklah. Mungkin untuk saat ini, saya sendiri yang akan menemuinya. Jika di rasa semua membaik, baru saya akan mengajak Thomas untuk melihatnya!"
"Seperti itu akan lebih baik nyonya. Anda bisa masuk sekarang kedalam ruangan gadis itu, saya permisi!"
"Baik dokter, terima kasih sudah banyak membantu!"
"Sudah tugas saya nyonya, saya permisi!" pamit dokter tersebut, kemudian melangkah meninggalkan Nyonya Louis sendiri.
Setelah kepergian dokter, nyonya Louis segera masuk kedalam ruangan Maya dan melihat kondisi Maya saat ini.
Melihat ada orang asing masuk kedalam kamarnya, seketika membuat Maya was-was dan terlihat ketakutan.
Nyonya Louis yang mengerti keadaan Maya saat ini, mencoba menenangkannya dengan perlahan mendekatinya.
"Tenanglah Nona, saya bukan orang jahat. Kau tidak perlu takut!" ucap Ny. Louis lembut.
"Ti-tidak, ja-jang-ngan me-men-de-kat!" suara Maya yang terdengar lemah dan tergagap berusaha mencegah Ny. Louis mendekat kearahnya.
"Demi Tuhan nona, saya tidak akan menyakiti anda. Justru saya ingin melihat keadaan anda saat ini!" ucapnya berusaha menenangkan Maya.
Kondisi tubuh Maya yang masih lemah, membuatnya pasrah membiarkan Ny. Louis semakin mendekatinya.
"Saya tidak akan menyakiti anda. Jadi, tenanglah. Sekarang anda berada di tempat yang aman, hm!" Ny. Louis tersenyum dengan tangan yang terangkat dan perlahan mengusap puncak kepala Maya.
Mendapati perlakuan lembut di kepalanya, membuat Maya sedikit tenang dan tidak lagi menampakkan sorot ketakutan di matanya.
"Tenanglah. Selama ada aku, tidak akan ada yang bisa menyakitimu!" lirihnya, dengan tangan yang terus mengusap kepala Maya, hingga perlahan membuatnya tertidur.
Senyum merekah terbit di bibir Ny. Louis. Hatinya sedikit menghangat saat Maya mau menerima kehadirannya dan mengurangi rasa takutnya.
"Aku akan membantumu keluar dari rasa trauma ini, Nak. Seandainya saja putriku masih hidup, mungkin saat ini dia sudah seusia dirimu!"
Mendapati Maya yang sudah tertidur pulas, Ny. Louis perlahan mencium kening Maya, lalu beranjak keluar ruangan untuk menemui Thomas yang mungkin sedang menunggunya di luar.
*
"Bagaimana keadaanya, Nyonya?"
"Kenapa kau selalu memanggilku Nyonya Thom? Tidak bisakah kau memanggilku Mommy?"keluh Ny. Louis dengan wajah yang masam. "Haish sudah lah, kau membuat moodku memburuk!"
Thomas menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Maafkan saya,Nyo- Eh Mommy. Bagaimana keadaan gadis itu?"
Mendengar panggilan dari Thomas, membuat senyum Amora (Ny. Louis) merekah.
"Keadaan gadis itu belum terlalu stabil. Dia mengalami trauma yang berat akibat kejadian yang menimpanya. Bahkan saat pertama melihatku, dia tampak ketakutan. Dokter bilang, dia memang mengalami pelecehan dan penganiayaan hebat sehingga membuatnya trauma begitu dalam!" ungkap Amora Louis.
"Ya tuhan!" Thomas mengusap wajahnya pelan, menggunakan kedua telapak tangannya.
"Lalu, apakah dia masih harus berada di ruang ICU atau sudah bisa di pindah ke ruang perawatan?"
"Sepertinya dia sudah bisa di pindah ruangan. Tapi, kita tunggu dulu keputusan dari dokter!" ucap Amora.
Thomas hanya mengangguk dan memilih menunggu keputusan dari dokter tentang gadis yang di tolongnya.
Dua jam kemudian, Maya akhirnya di pindahkan kedalam ruang perawatan karena kondisinya sudah cukup stabil.
Pengaruh obat yang diberikan dokter, membuat Maya kembali terlelap saat dipindahkan ruangan.
Setelah kembali tertidur beberapa jam, Maya mulai kembali membuka matanya dan melihat keadaan sekitar.
Amora yang melihat pergerakan diatas ranjang Maya, dengan segera menghampirinya dan mulai menanyakan kondisinya dengan perlahan.
"Kau sudah sadar, sayang? Bagaimana keadaanmu hm?" sapa Amora.
"A-aku, berada dimana?" suara Maya terdengar lirih dan parau.
"Kau masih berada di rumah sakit saat ini. Kalau kau masih merasa belum kuat bicara, istirahatlah. Jangan pikirkan apapun, kau aman disini!"
Amora kembali meyakinkan Maya, kalau dirinya berada di tempat yang aman. Mata Maya bergerak liar, dengan nafas yang memburu. Wajahnya menyiratkan ketakutan yang amat sangat, membuat Amora dengan sigap mengusap puncak kepalanya berharap mengurangi ketakutannya.
"Tenanglah, Nak. Tidak ada siapapun yang bisa menyakitimu disini,hmm!" Amora berbisik lembut, dengan tangan yang terus mengusap puncak kepalanya.
Perlahan ketegangan yang terdapat di wajah Maya, mulai mengendur dan perlahan kembali tenang.
Amora tersenyum saat apa yang dilakukannya, kembali bisa membuat Maya kembali tenang.
"Istirhatlah agar tubuhmu cepat pulih. Jangan pikirkan apapun saat ini. Aku akan menjagamu, selama kau beristirahat!"
Maya mengangguk perlahan, lalu mulai memejamkan matanya kembali. Nafasnya yang semula terdengar memburu, sedikit demi sedikit mulai mereda dan perlahan menjadi tenang dan kembali terlelap.
"Dia benar-benar mengalami trauma yang berat!" ucap Thomas, yang baru bisa mendekat ke arah ranjang setelah melihat Maya tenang.
"Ya, dia benar-benar mengalami trauma. Kita harus berusaha membantunya untuk keluar dari rasa traumanya saat ini. Jika terus di biarkan, aku khawatir dia akan mengalami hal yang lebih parah dari ini!" ungkap Amora.
"Tentu. Setelah dia berhasil keluar dari traumanya, baru kita bisa mencari tahu apa yang telah terjadi padanya!"
"Kau benar Thom. Sebaiknya sekarang kau pulanglah dulu, biarkan aku yang menunggui gadis ini disini. Setelah dia mulai membaik dan mulai bisa berinteraksi dengan tenang, baru kau datang kesini untuk melihatnya!"
"Baik nyonya!"
Seketika ucapan Thomas mendapatkan tatapan yang begitu tajam dari Amora.
Thomas yang menyadari kesalahannya, segera meralat ucapan yang baru saja di lontarkannya.
"Baik, Mom. Aku pulang dulu!"pamit Thomas.
"Hmm. Pergilah!"
Setelah mendapatkan izin dari Amora, Thomas segera keluar dari ruangan Maya dan bergegas meninggalkan rumah sakit untuk kembali ke rumahnya.